SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 74 BELAJAR MENYUSUI


__ADS_3

Hari ini aku dan bayiku diperbolehkan pulang. Karena kondisiku dan bayiku baik-baik saja, maka tak perlu terlalu lama di Rumah Sakit.


"Ibu sama bayinya boleh pulang hari ini. Kondisi semuanya baik dan sehat ya, Bu. Nanti dua minggu lagi, ibu ke sini lagi untuk kontrol ibu dan bayi. Termasuk juga untuk imunisasi bayinya. Kalau ibu mau di tempat lain juga tidak apa-apa. Asal jangan sampai lupa" ucap seorang dokter kandungan yang visit ke ruanganku pagi ini.


Dia telah memeriksa semuanya. Dan aku dinyatakan baik-baik saja. Bayiku juga sehat.


Mas Teguh sudah selesai mengurus administrasinya. Sebelumnya aku sudah bilang ke mas Teguh, kalau aku memiliki jaminan kesehatan.


Tapi mas Teguh menolaknya. Katanya dia takut pelayanannya tidak maksimal. Mas Teguh pun mendaftarkan aku sebagai pasien umum. Malah kami di pilihkan ruangan vip.


Kata mas Teguh, harta warisan yang ditinggalkan mertuaku tak akan habis hanya untuk membayar biaya persalinan cucunya.


Aku menurut saja. Toh mas Teguh yang menguruskan semuanya.


Setibanya di rumah, aku masih takut berjalan. Walau pun dokter sudah bilang aman buat berjalan, asal pelan-pelan.


Bahkan di Rumah Sakit pun aku sudah bisa berjalan ke kamar mandi sendiri. Tapi untuk berjalan masuk ke rumah mertuaku yang lumayan besar aku masih takut.


"Kalau takut, biar aku gendong ya?" Mas Teguh menawariku. Aku ragu-ragu, tapi karena takut, terpaksa aku mengiyakannya.Sementara anakku dibawa oleh bi Yati ke kamarku.


Mas Teguh pun menggendongku ala bridal style. Aku memeluk leher mas Teguh. Hembusan nafasnya terasa sekali di wajahku.


Aku memejamkan mataku. Selain aku takut terjatuh, aku juga sebenarnya malu.


Kami bahkan melewati mas Arka yang duduk di kursi rodanya di ruang tamu. Aku sempat membuka mataku saat melewati mas Arka.


Ada sedikit rasa berdosa. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku, Mas. Bisik hatiku.


Mas Teguh meletakan aku di tempat tidur. Sementara anakku ada di boks bayi yang telah disiapkan oleh mas Teguh dan bi Yati.


"Terima kasih, Mas. Bisa bawa mas Arka ke sini?" ucapku saat mas Teguh sudah meletakan aku di tempat tidur.


Mas Teguh mengangguk lalu keluar kamar untuk membawa mas Arka ke kamarku. Aku sangat merindukannya.


Dua hari tak bertemu, rasanya aku merasa sangat bersalah. Meninggalkannya sendirian di rumah.


Mas Teguh mendorong kursi roda mas Arka. Lalu mendekatkannya padaku.


Aku gapai tangan mas Arka. Lalu menciumnya takzim. Aku tatap wajahnya yang tanpa ekspresi.


"Mas, anakmu sudah lahir. Laki-laki. Ganteng kayak kamu, Mas. Dia sangat sehat. Apa kamu ingin melihatnya?" tanyaku.


Tak ada reaksi apa pun dari mas Arka. Lalu tanpa aku minta, mas Teguh mengangkat anakku dari boks nya dan mendekatkan pada mas Arka.


"Ka, ini anakmu. Dia ganteng kayak kamu" ucap mas Teguh.

__ADS_1


Aku mendekatkan tangan mas Arka yang masih di genggamanku ke anakku. Biar mas Arka merasakan memegang anaknya.


Tak ada reaksi apa pun dari mas Arka. Dia ibarat patung yang hanya diam. Aku melekatkan tangan mas Arka di tubuh anakku agak lama.


Dan aku lihat, mata mas Arka mulai berkabut. Lalu setitik air keluar dari sudut matanya. Dia bereaksi. Dia menangis.


Aku pun ikut meneteskan air mataku. Tak bisa aku bendung lagi.


Kesedihan yang teramat dalam. Ketika anakku terlahir pun, mas Arka masih belum bisa berbuat apa-apa. Lalu bagaimana nanti aku menjalani hidupku dan anakku, kalau mas Arka tetap tak bisa apa-apa?


Tiba-tiba anakku ikut menangis.


"Kamu susui dulu anakmu, Dek. Mungkin dia haus" ucap mas Teguh. Lalu meletakan anakku di sebelah kananku.


Aku bisa merasakan aroma mas Teguh saat tubuhnya melewatiku. Aku menatapnya. Mas Teguh pun menatapku.


Lalu dia mendorong kursi roda mas Arka menjauh dariku yang hendak menyusui anakku.


Aku agak kesusahan menyusui anakku. Karena belum terbiasa. Tapi terus aku coba. Karena aku tak mungkin membiarkan anakku kehausan.


"Bi Yati!" Panggilku dari dalam kamarku.


Tergopoh-gopoh bi Yati menghampiriku.


"Tolong bantu aku ya, Bi. Ini malah belepotan" ujarku.


Lalu bi Yati membantuku untuk duduk. Dan membantu meletakan anakku di pangkuanku.


Bi Yati juga menjaga anakku agar tak terjatuh dari pangkuanku.


"Tidak sakit kan, Bu? Lebih enak posisi begini. Nanti kalau sudah terbiasa, baru bisa posisi berbaring" ujar bi Yati. Aku menurutinya saja. Bi Yati kan lebih berpengalaman.


Selesai menyusui, bi Yati membantu meletakan anakku lagi di boks-nya. Sedang aku kembali berbaring.


"Mau saya pijiti, Bu? Biar pegal-pegalnya berkurang."


Aku menggangguk setuju. Memang badanku masih terasa sangat pegal.


Bi Yati memijitiku mulai dari ujung kakiku, hingga ke tangan. Saking enaknya di pijit, tak terasa aku tertidur.


Aku terbangun saat mendengar suara anakku menangis. Mas Teguh sudah berada di pintu kamarku.


"Boleh aku bantu mengangkat anakmu?" tanya mas Teguh.


Aku mengiyakan. Dan mas Teguh dengan sigap mengangkat anakku. Dia terlihat lihai menggendong bayi, seperti sudah terbiasa.

__ADS_1


"Mas, kamu kok pintar sekali menggendong bayi?" tanyaku karena penasaran.


"Masa sih? Kayaknya biasa saja." jawab mas Teguh.


Katanya hanya naluri saja. Karena mas Teguh sendiri belum sempat menggendong anaknya sendiri. Keburu anaknya meninggal bersama dengan istrinya usai melahirkan.


"Mau kamu kasih nama siapa, anakmu?" tanya mas Teguh.


Ah, aku malah lupa memikirkan nama untuk anakku. Banyak sekali hal-hal penting yang tak sempat aku pikirkan.


Karena selama kehamilanku terlalu banyak peristiwa menyedihkan yang terjadi.


"Aku belum tau, Mas. Mestinya mas Arka yang memberikan nama untuk anaknya" ucapku pelan.


Anakku mulai menangis. Sepertinya dia haus lagi. Mas Teguh meletakan anakku di pangkuanku.


"Aku keluar dulu. Kamu bisa kan menyusuinya sendiri?" tanya mas Teguh.


Sebenarnya aku bisa. Tapi aku masih takut kalau anakku jatuh. Sedangkan aku masih takut juga untuk bangkit dari tempat tidurku, karena masih terasa perih jahitannya.


"Bisa tolong panggilkan bi Yati?" ucapku.


"Bi Yati sedang ke pasar. Dia akan membuat selamatan kecil katanya. Buat anakmu" sahut mas Teguh.


Aku menelan ludahku. Aku benar-benar masih takut. Mas Teguh menatapku. Aku juga menatapnya.


"Maaf, Mas Teguh bisa membantuku?" tanyaku ragu-ragu.


"Kamu tidak malu kalau aku melihatnya?" tanya balik mas Teguh. Aku terpaksa menggelengkan kepala.


Lalu mas Teguh membantu memegangi anakku yang ada di pangkuanku. Sementara aku menegeluarkan ****** susuku.


Aku menundukan wajahku. Malu banget. Tapi aku terpaksa melakukannya.


Mulut anakku yang masih sangat kecil, agak menyulitkanku memasukan putingku. Apalagi anakku juga sedang menangis. Aku semakin kebingungan.


Lalu mas Teguh membantu memegangi...****** susuku agar bisa masuk ke mulut mungil anakku. Jantungku terasa berhenti berdetak.


"Maaf..." ucap mas Teguh pelan sambil menundukan wajahnya.


"Kamu harus belajar sendiri, Dek. Kalau tak ada orang, nanti kamu yang repot sendiri" ucap mas Teguh. Aku mengangguk malu.


Mas Teguh masih berjongkok di depanku memegangi anakku agar tak terjatuh. Aku menutupi sebagian payudaraku dengan bajuku.


Aku berharap semoga tidak lepas lagi dari mulut anakku. Masa putingku harus di pegang lagi oleh mas Teguh?

__ADS_1


__ADS_2