
Yola mendapat kabar dari suaminya, kalau dalam beberapa hari ini, suaminya akan pulang.
Yola kelihatan sangat bahagia. Dia ingin memberikan pesta kejutan untuk suaminya. Aku jadi berfikir, ini orang hobinya bikin orang lain terkejut aja.
Persiapan pun segera di lakukan. Aku pun ikut terlibat dalam persiapan itu. Seru juga idenya Yola. Sesuatu yang tak pernah aku pikirkan dari dulu.
Maklum, kehidupan orang tuaku yang serba pas-pasan, membuat kami tak pernah memikirkan segala macam pesta-pestaan.
Yang kami tau, hanya sebatas syukuran. Itu juga hanya untuk acara-acara tertentu saja. Sangat sederhana. Yang penting berbagi sedikit rejeki kepada tetangga. Ya, karena penghasilan kami juga cuma sedikit.
Di sekolahku yang terkenal sekolah favorit pun, aku tak pernah mengenal istilah pesta. Hang out. Atau apalah istilah anak-anak gaul.
Aku lebih suka tidur di rumah atau belajar. Kalaupun kepingin jalan-jalan, paling banter ke taman kota. Yang gratis dan gak perlu banyak ongkos.
Pernah sih sekali, aku di ajak Doni, yang waktu itu masih jadi cinta monyetku. Ke acara ulang tahunnya teman sekelasku. Yang di adakan di sebuah cafe besar.
Walaupun dia sekelas denganku, tapi aku tidak di undangnya. Kelihatannya hanya aku satu-satunya teman yang tak di undang.
Aku bisa sampai disana karena di ajak Doni. Dia teman sebangkunya Doni. Kalau tidak di ajak Doni, mana mungkin aku bisa masuk ke kalangan mereka.
Dan aku pun memang malas untuk berbaur dengan mereka. Malas dengan gaya hidup mereka. Malas dengan pergaulan mereka.
Aku ada di sekolah itu hanya untuk belajar. Bukan untuk bergaul dengan mereka.
Di cafe itu pun aku cuma diam saja. Aku minta Doni mencarikan aku tempat duduk yang agak mojok. Biar gak terlalu sering dilalui teman-temanku. Pusing kepalaku melihat mereka yang mondar-mandir gak jelas.
Sampai malam mereka masih saja berkumpul, ketawa ketiwi, berjoget, bahkan banyak yang minum minuman keras, sampai mabuk.
Waktu itu ada seorang teman laki-laki mendekatiku. Dia memberikan satu sloki minuman buatku. Karena aku tak tau minuman apa itu, aku terima saja.
Dia memintaku untuk segera meminumnya. Sebelum meminumnya, aku mencium aromanya terlebih dahulu. Aku memang punya kebiasaan, mencium dulu aroma makanan atau minuman, sebelum aku memakannya.
Dan ternyata kebiasaanku itu sangat menolongku. Saat aku mencium aromanya, perutku terasa mual. Aroma alkohol yang sangat menyengat.
Aku berusaha mengembalikan minuman itu pada temanku, tapi dia terus memaksaku. Katanya biar kompak sama yang lainnya.
Untung Doni melihatnya. Doni langsung menghampiriku. Dan mengambil gelas sloki di tanganku. Dengan paksa, Doni mengembalikan gelas sloki itu ke tangan temanku.
__ADS_1
Dan setelah itu, Doni mengajakku pulang. Syukurlah, aku pun sudah ingin pulang dari tadi. Cuma aku tak bisa melihat Doni, yang sedang berbaur dengan teman-teman lain.
Hari ini, aku dan Yola pergi ke supermarket. Belanja untuk masak besar. Sesuai rencana dua hari lagi suaminya akan pulang.
Jadi hari ini kami belanja. Seharian kami akan mencari barang-barang keperluan surprise party nya.
Besok kami mempersiapkan tempatnya. Menghias rumah Yola ala-ala gothic. Itu yang jadi tema acara surprise party nya.
Lalu malamnya Yola akan lembur untuk memasak. Karena pagi-pagi suaminya sudah akan sampai rumah.
Seharian muter-muter membuat kakiku kram. Walaupun kehamilanku belum terlalu besar, tapi berat badanku yang semakin bertambah, membuatku jadi cepat capek. Berat rasanya badanku.
Setelah sampai rumah Yola, aku segera pamit pulang ke rumahku sendiri. Aku mau istirahat.
Malam harinya, kakiku masih sangat terasa pegal. Tumitku rasanya mau copot. Padahal aku tidak memakai heels. Hanya sepatu kets biasa.
Mas Arka yang melihatku kesakitan, segera membantu memijit tumitku.
Setelah agak enakan, gantian dia yang minta di pijit. Wah, ini sih kelihatannya modus.
Aku pun memijit punggung mas Arka, dengan mendudukinya. Dan, tau sendiri lah kalau sudah pada posisi ini. Pasti akan minta lanjut kemana-mana pijitannya.
Membayangkannya aja aku udah merinding. Apalagi nanti kalau sudah jadi.
Sedang asik kami memilah-milah bahan untuk hiasan, ada yang mengetuk pintu. Kami saling berpandangan. Kemudian Yola bangkit dari duduknya, dan segera membuka pintu.
Ternyata orang yang mengaku dari rumah sakit. Dia mengatakan kalau pak Deni kecelakaan, dan sekarang ada di rumah sakit.
Kami sangat terkejut mendengarnya. Dengan cepat Yola mencoba menghubungi nomor telfon suaminya. Tapi nomornya tidak aktif.
Lalu Yola meminta alamat rumah sakit yang di maksud oleh orang itu. Yola mengatakan, kalau dia akan kesana sendiri. Kelihatannya Yola takut ini adalah modus penipuan. Karena sesuai jadwal kepulangan suaminya, besok pagi baru sampai di rumah.
Tapi Yola juga gak bisa membiarkan begitu saja kabar dari orang itu. Siapa tau memang itu benar suaminya.
Akhirnya, Yola mengajakku mendatangi rumah sakit itu dengan mobilnya. Mengikuti orang yang tadi memberitahukan kabar itu.
Kalau di lihat dari nama rumah sakitnya sih, itu bukan rumah sakit fiktif. Memang ada rumah sakit itu. Walaupun letaknya agak jauh dari komplek perumahan kami.
__ADS_1
Makanya Yola, tidak begitu saja mengabaikan berita itu. Dia mencoba mencari tau kebenarannya. Tapi kami tetap waspada.
Aku pun memberi kabar pada mas Arka. Bahwa kami sedang otw ke rumah sakit, karena mendapat kabar dari seseorang, kalau mas Deni, suami Yola kecelakaan.
Mas Arka hanya menjawab, ok. Dalam hatiku kesal juga. Aku udah panjang lebar mengetik, jawabannya singkat banget.
Udahlah, aku gak mikirin itu. Yang penting aku udah ngasih tau. Kalau aku pergi sama Yola.
Atau mungkin mas Arka sedang banyak kerjaan, jadi gak sempet mengetik panjang lebar. Positif thinking aja.
Yola memacu mobilnya agak pelan, karena mengikuti orang tadi yang naik motor, di depan kita. Yola sampai kesal karena pelannya orang itu membawa motornya.
Gak mikir kalau kita sedang cemas, panik. Ini malah nyantai. Berkali-kali Yola membunyikan klaksonnya keras-keras. Tapi orang itu cuek bebek.
Akhirnya Yola memilih mendahului orang itu. Toh, kita sudah tau nama dan alamat rumah sakitnya. Nanti tinggal nanya soal pasien kecelakaan yang masuk barusan.
Sampai di area rumah sakit, kami segera mencari tempat parkir. Keluar dari mobil, dan berjalan ke arah security. Menanyakan dimana letak IGD nya.
Kalau pasien baru, korban kecelakaan pastinya masuk IGD dulu dong, begitu pikiran kami.
Sampai di IGD, kami ketemu lagi dengan orang yang tadi memberikan kabar ke rumah Yola. Lho, bukannya tadi kita menyalipnya di jalan. Aku dan Yola saling berpandangan.
Tak urung, kami tetap menghampiri orang itu, dan menanyakan dimana suami Yola di tangani.
Dia menunjuk ke suatu arah. Sebuah ruangan tunggu. Kami di suruh menunggu di sana.
Dalam hatiku, ini orang bolot amat sih. Ditanya dimana suami Yola di tangani, malah jawabnya suruh nunggu duduk disana.
Kami pun sepakat menuju ke sana dulu. Nanti setelah sampai di sana kita pikirkan lagi, apa yang harus kita lakukan.
Sesampainya di sana. Kami berdua sama-sama terkejut. Terdiam. Terpaku.
Karena di pojok ruang tunggu itu, ada dua laki-laki, sedang ngobrol tanpa rasa berdosa.
Dan dua manusia yang mengerjai kami itu adalah mas Deni, suami Yola dan mas Arka, suamiku.
Hadeh, kami yang sedang membuat kejutan untuk menyambut kedatangan suami Yola. Malah kita yang dapat prank dari mereka.
__ADS_1
Mereka pun tertawa puas. Melihat kekesalan kami.