SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 43 TAK INGIN LAGI


__ADS_3

Aku mendekat ke mas Arka. Aku hapus airmatanya.


"Maafkan...aku...Mas" bisikku pelan di telinganya dengan terisak. Aku merasa sangat berdosa. Aku merasa sangat bodoh.


Bima berjalan keluar. Dia menutup pintu kamarku, dan berlalu. Aku menghela nafasku.


Aku pejamkan mataku, kenapa ini semua aku lakukan? Begitu bodohnya aku. Begitu hinanya aku. Aku terduduk di tepi tempat tidurku. Aku menangis sesenggukan. Menangis sampai aku lelah. Aku rebahkan tubuhku dan terlelap.


Sore harinya, aku di bangunkan ibu mertuaku. Entah sejak kapan ibu datang. Tau-tau dia sudah ada di kamarku. Aku membuka mataku. Beranjak dari tidurku.


"Ibu kapan datangnya?" tanyaku. Lalu aku meraih tangan ibu dan menciumnya.


"Barusan aja" jawab ibu. Lalu ibu memperhatikan mas Arka.


"Bagaimana kondisi Arka, Ar?" tanya ibu.


Aku menjelaskan kondisi mas Arka. Memperlihatkan hasil fisioterapi tadi di rumah sakit. Walaupun aku tau kalau ibu juga kurang faham, dengan isi tulisan di kertas dari rumah sakit tadi. Setidaknya aku memberi laporan lengkap.


Tapi tanpa menceritakan kejadian tadi. Saat mas Arka menangis. Saat aku dan Bima...


Ah, sudahlah. Aku juga ingin melupakan kejadian tadi. Walaupun masih membebaniku.


Aku dan ibu keluar kamar. Sudah sore, saatnya mas Arka di bersihkan. Tanpa aku perintah, melihatku dan ibu keluar dari kamar, Bima langsung masuk ke kamarku.


Dia pasti akan melakukan tugasnya. Aku dan ibu memilih duduk di ruang tengah. Kami berbincang tentang kesehatan ibu.


Ibu mengatakan, akhir-akhir ini kesehatannya kurang baik. Aku maklum, mungkin ibu terlalu capek.


Capek memikirkan anak satu-satunya hanya terbaring lemah tak berdaya. Sementara bapak sudah baru saja pergi untuk selama-lamanya.


Tak lama, Bima mendorong kursi roda. Mas Arka sudah kelihatan lebih segar. Walau masih belum bisa bergerak.


Ibu meminta Bima mendekatkan kursi roda itu. Ibu menggenggam tangan mas Arka. Sambil mengajaknya bercerita.


Bima pamit masuk ke kamarnya. Aku menatapnya sekilas. Mata kami bertemu sesaat. Lalu kami saling membuang pandangan.


Ibu terus saja mengajak mas Arka bercerita. Walaupun ibu tau, mas Arka tak pernah bisa menanggapi. Tapi memang pesan dari dokter, ajak terus pasien bercerita. Untuk merangsang syaraf-syaraf di otaknya.

__ADS_1


Aku terharu melihat pemandangan itu. Suamiku yang tak bisa merespon apapun.


Selepas maghrib ibu pamit pulang. Bima aku suruh mengantarkan ibu, manggunakan mobil mas Arka.


Jam delapan malam, Bima baru kembali. Dia bilang tadi ibu minta di antarkan ke supermarket dulu.


Aku mengangguk. Setelah Bima menyerahkan kunci mobil, aku menyuruhnya membawa mas Arka ke kamarku, dan memindahkannya ke tempat tidur.


Aku masih duduk di ruang tengah. Menikmati acara televisi. Walaupun pikiranku lagi gak konsen. Dan aku cuma mengganti-ganti chanelnya aja.


Sampai malam, aku masih saja duduk di ruang tengah. Bi Yati aku suruh memijit kakiku. Akhir-akhir ini, kakiku terasa sering pegal. Mungkin karena berat badanku semakin bertambah.


Aku berbagi cerita kepada bi Yati. Tentang hidupku. Tentang nasib yang sepertinya tidak berfihak padaku. Baru saja menikmati hidup nyaman dengan suami, tiba-tiba di kasih cobaan yang dahsyat.


Bi Yati menyuruhku untuk bersabar. Semua sudah ada jalannya. Takdir tak selamanya indah. Takdirpun tak selamanya pahit.


Bi Yati juga banyak bercerita tentang keluarganya. Dia seorang janda. Suaminya meninggal karena sakit menahun.


Sakit suaminya tak pernah di obati. Karena harga obatnya mahal. Sementara dulu dia tak punya kartu jaminan kesehatan.


Bi Yati yang harus banting tulang mencari nafkah. Untuk menghidupi mereka. Kadang-kadang aja, ada tetangga atau saudara yang membantu.


Tapi kebutuhan hidup mereka tak bisa mengandalkan pemberian orang. Bi Yati bekerja apa saja. Yang penting keluarganya bisa makan.


Setelah hampir tiga tahun suaminya sakit, akhirnya Tuhan memanggilnya. Suaminya berpulang untuk selama-lamanya.


Hidup bi Yati terus berjalan. Seiring dengan kebutuhan hidup mereka. Sampai suatu saat, ada saudara yang ingin mengadopsi anaknya. Walau berat hati, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya bi Yati merelakan.


Satu persatu anaknya di bawa oleh saudara-saudaranya. Sampai sekarang akhirnya bi Yati hanya tinggal sendiri.


Karena rumah hanya mengontrak, bi Yati memilih bekerja sebagai ART. Itu pun dia maunya yang menginap. Agar dia tak perlu lagi menginap.


"Kalau kangen sama anak-anak, bagaimana bi?" tanyaku.


Kan bisa video call. Begitu jawab bi Yati. Atau kalau ada kesempatan, bi Yati akan mengunjungi mereka satu persatu. Karena saudara-saudara yang mengadopsi anak-anaknya, mengijinkan bi Yati berkunjung kapanpun.


Aku merenung, ternyata masih banyak di luar sana yang hidupnya lebih sulit dari aku.

__ADS_1


Dulu, hidup keluargaku pas-pasan. Tapi aku memiliki orang tua yang sangat menyayangi aku.


Sekarang di saat suamiku sakit, aku tak perlu bersusah payah seperti bi Yati. Ekonomi kami jauh lebih baik darinya.


Kami ngobrol sampai larut malam. Karena aku lihat bi Yati sudah mengantuk, aku suruh dia istirahat.


Aku kembali dengan pikiranku yang melayang entah kemana. Memikirkan suamiku. Memikirkan bagaimana nanti kalau aku melahirkan. Dan memikirkan kejadian siang tadi. Bersama Bima.


Aku menghela nafasku. Aku merasa berdosa pada suamiku. Tapi aku juga tak bisa menahan hasratku. Mataku terasa sudah sangat mengantuk. Aku merasa tak kuat lagi berjalan. Dan akupun terlelap di sofa.


Sinar matahari pagi menembus hordeng kamarku. Sinarnya langsung mengenai wajahku. Aku mengerjapkan mataku.


Aku terdiam sejenak. Mengingat sesuatu. Bukannya semalam aku tertidur di ruang tengah? Kenapa aku bisa ada di kamarku? Siapa yang memindahkan aku?


Tanyaku pada diriku sendiri.


Kulihat di sebelahku, mas Arka terbaring lemah. Tapi matanya terbuka. Artinya dia udah bangun.


Tiba-tiba pintu kamarku di ketuk beberapa kali dan terbuka. Bima masuk ke kamarku. Dia tersenyum kepadaku.


"Maaf semalam aku yang memindahkanmu. Karena pasti sangat gak nyaman tidur di sofa" ucap Bima.


Aku? Kamu? Sejak kapan Bima menyebut 'aku' dan 'kamu'?


"Iya. Gak apa-apa" jawabku singkat. Padahal dalam hatiku berfikir, dia memindahkan aku berarti dia membopongku?


Kenapa aku tak merasakannya? Terus apa saja yang dia lakukan semalam? Otakku yang baru saja bangun tidur, terasa buntu.


Aku berjalan ke kamar mandi. Sementara Bima memulai aktifitasnya. Mengurusi mas Arka.


Meskipun ada sesuatu yang terjadi antara aku dan Bima, tapi dia selalu profesional dalam merawat mas Arka.


Aku berniat tak lama-lama dikamar mandi. Karena pasti akan dipakai untuk memandikan mas Arka.


Aku membuka pintu kamar mandi, Bima sudah berdiri di depanku. Mata kami bertatapan. Ah, tidak. Aku tak ingin mengulanginya.


Aku melangkah melewati Bima. Dan berjalan keluar kamarku.

__ADS_1


__ADS_2