SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 87 SARAPAN KOMPLIT UNTUK DONI


__ADS_3

"Aku masih membutuhkannya" sahutku pelan.


"Oh, masih membutuhkan" gumam Doni pelan juga. Sepertinya dia salah mengerti maksudku.


"Aku masih membutuhkannya untuk mengurus suamiku. Dia juga yang menjalankan usaha almarhum mertuaku."


Aku mencoba menjelaskan.


"Suami kamu benar-benar tak bisa apa-apa?" tanya Doni.


"Lebih mirip mayat hidup." Mataku menatap ke depan. Membayangkan kembali kondisi mas Arka yang tak juga membaik. Sudah berbulan-bulan lamanya.


"Hush! Ngaco aja kalau ngomong."


"Aku gak ngaco. Memang begitu kenyataannya. Berbulan-bulan, Don. Bahkan dia tidak bisa menggerakan badannya. Hanya mengangkat tangannya sebentar lalu akan jatuh lagi." Aku seperti terpancing.


"Miris sekali." sahut Doni.


Aku menghapus setitik air yang tiba-tiba muncul di sudut mataku.


"Maaf, Ar. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih". Doni menyesal telah membicarakan tentang suamiku.


"Tidak apa-apa, Don. Aku saja yang baperan." Aku mencoba tersenyum dan melupakan sejenak suamiku.


"Udah mau sampe, kan?" tanya Doni mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Tuh depan sana ada belokan. Rumah nomor dua sebelah kanan" jawabku.


"Kamu gak ada niat untuk kembali ke rumah orang tuamu atau rumah suami kamu?" tanya Doni.


"Belum, Don. Sementara aku di sini dulu. Sudah sampai. Aku turun dulu, ya?" pamitku bersiap turun.


Doni meraih tanganku. Menggenggam dan meremasnya perlahan. Matanya menatapku intens.


Aku hanya menatap sekilas. Lalu membuang pandanganku ke depan.


"Aku turun, Don. Terima kasih untuk semuanya." Aku berusaha melepaskan tangan Doni.


Aku melangkah perlahan ke dalam rumah. Mas Teguh sudah berdiri di pintu masuk.


"Dari mana kamu?" tanya mas Teguh, seperti orang tua menanyakan anaknya yang baru pulang kelayapan.


"Meeting!" sahutku ketus. Aku hendak masuk tapi mas Teguh masih menghalangi langkahku.


"Tuh, bosmu masih menunggumu!" mas Teguh menunjuk ke arah Doni tadi memarkirkan mobilnya, dengan mengangkat wajahnya.


Aku menoleh sebentar. Doni masih di sana.


"Aku mau masuk!"


Mas Teguh memberi jalan.


"Meeting dimana?" tanya mas Teguh mengikuti langkahku.


"Bukan urusanmu!"


"Akan jadi urusanku selama kamu tinggal di sini!" sahut mas Teguh. Spontan aku menoleh mendengarnya.


"Sejak kapan ada aturan seperti itu di rumah mertuaku?" tanyaku ketus.

__ADS_1


"Sejak kamu tinggal di sini. Dan Arka jadi tanggunganku."


"Oh, jadi kamu merasa telah menanggung semua ini. Lalu kamu bisa mengatur hidupku?" Aku makin meradang.


"Ar, bukan begitu maksudku? Aku hanya ingin melindungi kalian!"


Aku tak mau lagi mendengar ocehan mas Teguh. Aku bergegas masuk ke kamarku.


Mas Teguh mengikutiku dan berusaha ikut masuk ke kamarku.


"Melindungi bukan berarti kamu bisa masuk kamarku sesukamu!" Mas Teguh menunduk sebentar.


"Maaf." Lalu dia pergi. Aku membanting pintu kamarku. Melampiaskan rasa kesalku.


Aku melihat dari jendela kamarku yang mengarah ke jalanan, mobil Doni baru saja melaju.


Aku tidur tanpa membersihkan make up-ku dulu. Badanku capek. Otakku lelah.


Suara adzan subuh, membangunkan aku. Baru aku mandi dan membersihkan semua sisa make-up.


Selesai sholat subuh, aku mencari anakku. Semalam karena terlalu capek dan perlakuan mas Teguh, aku tak sempat melihat anak dan suamiku.


"Masih tidur, Bu" ucap bi Yati.


"Tidak rewel kan, Bi?" Bi Yati menggeleng.


Anakku memang tak pernah merepotkan. Aku ke kamar suamiku. Mas Arka baru selesai dimandikan.


"Aku mau ajak Arka jalan-jalan. Kamu mau ikut?" tanya mas Teguh. Dia sudah bersikap biasa lagi. Tidak ketus seperti semalam.


"Tidak. Aku kan mau kerja." Aku berbalik dan menyiapkan sarapan untukku dan suamiku nanti.


Aku melihat mas Teguh mendorong kursi roda mas Arka. Mas Teguh memang sangat perhatian pada suamiku. Dia merasa bertanggung jawab untuk mengurusnya.


Kadang sikapnya menyebalkan. Seolah aku adalah istrinya yang harus melayaninya di meja makan.


Jam enam, mas Teguh belum juga pulang. Aku pamit pada bi Yati dan anakku untuk berangkat. Aku memesan taksi online.


Biar saja aku berangkat kepagian. Mending nunggu disana daripada harus diantar mas Teguh. Toh hanya menunggu sebentar sampai shifku mulai jam tujuh.


Saat mobil online menjemputku, mas Teguh terlihat buru-buru mendorong kursi roda suamiku. Aku pun buru-buru naik ke mobil pesananku.


Aman. Akhirnya aku bisa berangkat sendiri. Aku melihat dari dalam mobil, wajah mas Teguh cemberut menahan kesal.


"Pagi sekali, Bu?" tanya security.


"Iya, Pak." Aku menuju sofa di loby. Sambil menunggu shifku.


Aku membuka ponselku. Ada pesan dari Doni dan mas Teguh.


Doni (Berangkat jam berapa?)


Mas Teguh (Kenapa tidak menunggu?)


Aku membalas pesan Doni (Aku sudah di loby)


Aku juga membalas pesan mas Teguh (Maaf, aku ada urusan pagi-pagi)


Mas Teguh membalas (Kenapa tadi tidak bilang?)

__ADS_1


Aku mulai kesal, tapi aku tahan (Maaf, lupa)


Doni membalas pesanku (Bisa ke kamarku?)


Daripada nunggu di loby, aku iyakan saja permintaan Doni.


Aku berjalan ke arah lift. Menuju ke kamar Doni.


Belum sempat aku mengetuk pintu, Doni sudah membukakan pintu untukku.


"Masuk." Doni terlihat sudah rapi. Rajin juga dia, padahal jam kerjanya dimulai jam delapan nanti.


Aku melangkah masuk ke kamar Doni. Kalau mas Teguh tau, bakalan ngoceh. Karena aku berangkat pagi-pagi malah masuk ke kamar laki-laki.


Buat aku, Doni orang yang baik. Aku tak perlu khawatir dia akan berbuat macam-macam. Misalkan iya pun...entahlah.


"Sudah sarapan?" tanya Doni setelah duduk di sebelahku. Aku duduk di sebuah sofa panjang.


Di kamar Doni ada sebuah sofa panjang. Mungkin karena biasa dipakai Doni sebagai kamar pribadi.


"Sudah, tadi pagi" sahutku.


"Kamu belum sarapan, kan?" tebakku. Doni nyengir.


"Pesan sarapan saja, Don. Aku temani makannya. Mumpung masih jam segini." Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku.


"Oke." Lalu Doni memesan ke bagian pantry, seperti biasanya.


Tak butuh waktu lama, sarapan buat Doni datang. Nasi goreng dengan telor ceplok.


Aku menatanya di meja. Dan membuatkan secangkir white coffe untukku dan Doni.


Doni makan dengan lahap. Seperti orang kelaparan.


"Kamu lapar, Don?" Aku tersenyum, senang melihatnya makan.


"Iya. Enak nasi gorengnya. Apalagi makannya ditemenin kamu." Aku jadi kege-eran.


"Bisa aja kamu, Don" sahutku malu-malu.


"Beneran, Ar. Beda rasanya makan sendiri sama makan ditemenin. Rasa masakannya jadi istimewa." Doni mulai ngegombal.


"Udah, ah. Hampir jam tujuh. Aku mau turun."


Doni melihat jam tangannya.


"Masih sepuluh menit lagi. Ar, boleh enggak aku minta sesuatu sama kamu?"


Aku menatap Doni. Wajahnya berubah serius.


"Apa?" tanyaku perlahan.


"Aku...ingin mencium kamu. Sebentar saja."


Aku menelan ludahku. Malah aku jadi grogi dengan permintaan Doni yang aneh.


Aku belum mengiyakan, tangan Doni sudah meraih daguku. Dan...Cup.


Bibir Doni mendarat mulus di bibirku. Tidak lama. Cuma sebentar seperti yang Doni bilang tadi.

__ADS_1


"Terima kasih, Ar. Sarapanku sudah komplit." ucap Doni sambil mengerling nakal.


Aku cubit perut Doni. Dia pikir aku menu empat sehat lima sempurna?


__ADS_2