
Kami yang terkena prank dua manusia yang kami cintai ini, benar-benar membuat kami kesal. Tak ayal, tas kami pun melayang ke tubuh-tubuh mereka.
Bertubi-tubi kami memukulkan tas, saking keselnya. Dan mereka tertawa terbahak-bahak. Merasa menang.
Sampai seorang perawat yang melintas disana mengingatkan kami. Karena tawa suami-suami kami sangat keras.
Akhirnya, kami pun memutuskan untuk keluar dari gedung rumah sakit itu.
Gagal deh acara surprise party, yang telah kami rencanakan, buat menyambut kepulangan suami Yola. Sia-sia, kemarin kami berbelanja sampai kakiku pegal semua.
Mas Deni, suami Yola, mengajak kami makan di sebuah restauran yang sudah mereka booking terlebih dahulu.
Kita pergi kesana dengan mobil mas Arka.
Sesampainya di restauran itu, kami di sambut oleh seorang pelayan. Pelayan itu mengantarkan kami ke sebuah ruangan.
Ruangan itu tidak terlalu besar. Ketika pintu di buka, suasana gelap. Seperti ruangan yang tak pernah di gunakan.
Dalam hati aku mikir, lha kita masuk ke restauran mewah, berharap akan dapat pelayanan istimewa. Malah kita di suruh masuk ke ruangan gelap yang kelihatan menyeramkan.
Aku menggenggam tangan mas Arka. Aku takut kalau ada sesuatu yang tiba-tiba muncul, dari ruangan itu.
Begitu juga Yola. Dia memegangi tangan suaminya erat.
Kami masih berdiri di depan pintu masuk. Tak ada yang berani untuk masuk lebih dulu. Tiba-tiba suami Yola menghardik si pelayan.
"Hey, pelayan! Kamu mau menyekap kami disini? Yang benar aja. Masa kami mau kamu masukan ke ruangan menakutkan kayak gini!" bentak mas Deni, pada pelayan itu.
Sang pelayan menunduk tak berani menatap wajah mas Deni, yang kelihatan sudah marah. Aku makin mengeratkan genggaman tanganku, pada mas Arka.
"Maaf pak, eh tuan. Ini perintah dari manager saya" jawab si pelayan ketakutan.
"Mana manager kamu! Suruh ketemu saya!" ucap mas Deni masih dengan suara kencang.
"Di...dia ada di ruangan itu pak" jawab si pelayan, makin ketakutan. Sambil tangannya menunjuk ke arah dalam ruangan gelap itu.
__ADS_1
Mas Deni memajukan sedikit badannya. Dia kelihatan berusaha melihat ke bagian dalam. Sementara Yola, berusaha menarik suaminya, agar tak memasuki ruangan itu.
Aku pun mundur beberapa langkah. Bersembunyi di belakang tubuh suamiku. Tanganku mendekap pinggangnya.
Tiba-tiba mas Deni menarik keras tangan Yola. Memaksa Yola memasuki ruangan itu. Yola pun berteriak keras.
"Beb, aku takut!" teriak Yola, sambil memeluk suaminya dari samping.
Tapi mas Deni tetap memaksa Yola, bahkan setengah menyeretnya. Yola yang tak siap pun, badannya terdorong ke depan.
Aku semakin mengeratkan pelukanku. Mas Arka memegangi tanganku. Menepuk-nepuknya pelan.
Aku benar-benar merasa ketakutan. Aku ingin mengajak mas Arka pergi dari situ, tapi kasihan Yola, yang sudah ada di dalam ruangan itu.
Aku berdoa dalam hati, semoga tidak terjadi apapun pada Yola. Aku hampir menangis.
"Mas, takut" ucapku lirih.
"Tenang aja sayang. Ada mas disini" ucap mas Arka, sambil terus menepuk-nepuk tanganku, yang masih melingkar di pinggangnya.
"Aaakkhh....!" teriak Yola. Dan tiba-tiba, lampu ruangan itu di nyalakan.
Beberapa orang berpakaian pelayan, menyambut kedatangan kami, dengan mengucapkan selamat datang, sambil membungkukkan badannya. Kemudian mereka berlalu keluar dari ruangan itu.
Aku masih tak percaya dengan semua yang terjadi. Aku masih bersembunyi di belakang tubuh mas Arka. Tanganku pun masih melingkar di pinggangnya.
Sementara Yola yang kelihatan sangat terkejut dengan semua ini, apalagi posisinya ada di dalam ruangan yang tadinya sangat gelap dan menakutkan, membuatnya menangis sesenggukan.
Mas Deni lalu memeluknya erat. Sambil menepuk-nepuk punggung Yola, pelan.
"Lho kok nangis beb, bukannya ini pesta kejutan yang akan kamu buatkan, untuk menyambut kepulanganku?" tanya mas Deni, masih memeluk Yola.
Aku yang mendengarnya terkejut. Begitu juga Yola. Kenapa mas Deni bisa tau, kalau kami akan memberinya sebuah pesta kejutan?
Pasti pelakunya mas Arka. Siapa lagi kalau bukan suamiku yang ngadu ke mas Deni?
__ADS_1
"Arkaaaa....!" teriak Yola dari dalam ruangan.
Aku dan mas Arka yang masih berada di luar pintu masuk, terkejut mendengar teriakan Yola. Spontan aku cubit pinggang mas Arka, yang tadi aku peluk.
"Auww...sakit sayang" mas Arka mengaduh. Lalu dia membawaku masuk ke dalam ruangan itu.
"Kamu kalah cepat beb. Dua kosong" ledek mas Deni pada Yola, sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kalian curang! Dan kamu, Arka, kamu penghianat!" teriak Yola pada mas Arka. Dan tas Yola pun melayang ke tubuh mas Arka, berkali-kali.
Aku yang memilih aman, berlari menjauh dari mas Arka. Daripada kena hantaman tasnya Yola. Kami pun tertawa bersama-sama.
Selesai dengan dua adegan yang membuat spot jantung, aku dan Yola saling berpelukan. Ada rasa bahagia karena bisa berkumpul dengan suaminya Yola. Tapi ada juga rasa kecewa.
Kecewa karena kita kalah cepat dengan mereka. Salahku juga, yang terlalu lugu. Menceritakan semua rencana Yola padanya.
Karena aku tak pernah menduga, kalau mas Arka akan membocorkannya pada mas Deni.
Malah mereka yang membuat pesta kejutan untuk kami. Benar-benar cerdik mereka.
Kami pun segera mengambil posisi duduk masing-masing. Yola terlihat sangat merindukan suaminya. Dia duduk di pangkuan suaminya. Mas Deni pun menciumi istrinya terus menerus. Dan Yola pun gak mau kalah. Mereka asik bercumbu.
Aku yang tidak terbiasa melihat adegan seperti itu, live, merasa agak canggung. Walaupun kalau di rumah, yang aku dan mas Arka lakukan lebih dari itu.
"Kayaknya kita mesti pulang aja nih sayang. Ada yang lagi kangen-kangenan. Ntar kita malah jadi obat nyamuk" ucap mas Arka, padaku.
Mas Deni yang merasa tersindir, melemparkan sendok makan yang ada di atas piring, ke arah mas Arka. Untung segera di tangkap oleh mas Arka. Kalau enggak, bakalan berantakan makanan yang ada di atas meja, kena lemparan sendok itu.
"Gue kangen banget ama bini tauk! Elu enak, tiap hari ketemu bini terus" ucap mas Deni. Lalu mereka tertawa bersama lagi.
Yola yang merasa gak enak, segera turun dari pangkuan suaminya. Sambil tersenyum malu-malu. Aku pun tersenyum ke arah Yola.
Segitu kangennya kah Yola, pada suaminya? Sampai-sampai mereka gak mempedulikan tempat. Pada main sosor aja. Tanyaku dalam hati.
Acara makan pun kita mulai. Beberapa pelayan mulai sibuk datang melayani kami. Aku jadi merasa kayak ratu yang lagi makan. Apa-apa di layani. Padahal kalau di rumah, aku yang jadi pelayan buat suamiku.
__ADS_1