
Malam ini Doni menungguiku di rumah sakit. Tadinya Sarah juga Roni mau ikutan nginep di sini. Tapi peraturan rumah sakit hanya memperbolehkan penunggu pasien satu orang.
Akhirnya Doni yang menunggu. Aku sih sudah menolaknya. Kasihan kalau dia terlalu capek. Besok kan dia mesti kerja.
"Aku kan bisa tidur di sofa" ucap Doni. Dia hanya pamit keluar sebentar untuk mencari kopi.
"Nanti aku mau lembur kerjaan. Aku cari kopi dulu sebentar ya? Kamu mau dibeliin apaan?" tanya Doni.
"Enggak usah, Don. Kamu cari buat kamu sendiri aja."
Doni keluar dari kamarku. Tadinya aku pikir paling lama Doni pergi setengah jam. Karena di rumah sakit ini juga ada booth yang menjual kopi.
Tapi ternyata sampai satu jam lebih Doni belum muncul. Apa dia nyari kopinya sampai jauh?
Dari kaca yang ada di tengah daun pintu, aku melihat sekelebat bayangan. Aku pikir itu Doni meski aku tak melihatnya dengan jelas.
Beberapa saat aku tunggu, tapi tak kunjung masuk. Siapa yang tadi melintasi kamarku.
Kata Doni kamarku berada paling ujung. Berarti tidak akan ada orang lain yang lewat. Kecuali yang mau ke kamarku.
Selain ketiga orang temanku, paling juga perawat. Tapi tadi sepertinya bukan perawat. Karena pakaiannya hitam.
Hah...! Aku baru ingat kalau Doni tidak pakai baju hitam. Dia pakai kemeja warna biru laut.
Aku ambil hapeku. Aku mau menelpon Doni untuk menanyakan keberadaannya.
Sial! Hape Doni ternyata tertinggal di atas sofa. Aku jadi parno dan mulai berhalusinasi.
Bukan. Aku bukan berhalusinasi. Tapi teringat kembali bayangan yang berkelebat tadi. Dan itu, mirip sekali dengan sosok yang memukul mas Teguh hingga akhirnya tewas.
Hiii! Aku bergidig ngeri. Siapa sosok itu? Bagaimana kalau dia tiba-tiba masuk ke kamarku?
Aku sedikit beringsut dari posisiku. Aku meraih bel untuk memanggil perawat.
Akh. Kenapa belnya mati? Bukankah tadi pagi waktu Lusi mengajarkan aku cara memanggil perawat, bel ini masih berbunyi?
Aku sudah mulai panik. Aku pandangi seisi ruangan. Apa yang bisa aku lakukan untuk mencari pertolongan?
Tak ada yang bisa aku lakukan, kecuali...memecahkan gelas yang ada di atas meja yang ada di dekatku.
Aku beringsut mendekati meja. Lalu aku mulai mengangkat tanganku, dan...
Praang! Gelas pecah dengan suara nyaring dan pecahannya berhamburan.
Pintu kamarku terbuka. Doni masuk dengan setengah berlari.
"Ada apa, Ar?" tanya Doni melihat pecahan gelas berhamburan.
"A...aku mau ambil minum tadi. Tapi malah menyenggolnya." Alasan yang tepat dan masuk akal.
__ADS_1
"Oh, ya sudah. Nanti kalau mau minum lagi dan tidak ada orang, pencet belnya. Biar perawat yang akan membantumu."
"Belnya macet, Don." Aku memperlihatkan ke arah Doni.
Lalu Doni memencet belnya.
"Tuh bunyi. Kamu kurang kenceng mencetnya kali."
Aku mengambilnya lagi dari Doni dan coba memencetnya. Bunyi.
Aneh, tadi berkali-kali aku pencet tidak bunyi.
Tak lama seorang perawat datang.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu dengan ramah.
"Ini, Sus. Bisa tolong bantu membersihkan pecahan gelasnya? Tadi tidak sengaja kesenggol" sahut Doni.
"Oh, sebentar ya Pak. Saya panggilkan bagian cleaning service." Lalu perawat itu keluar dari kamarku.
"Kamu beli kopi di mana tadi, Don?"
"Di bawah. Kenapa? Lama ya?" tanya Doni.
"Iya. Lama banget" sahutku.
"Saya bersihkan dulu ya, Pak" ucap cleaning service itu dengan sopan pada Doni.
Doni berjalan berjingkat menuju sofa. Lalu membuka kopinya.
Hmm. Aroma kopinya sangat wangi dan menggodaku untuk ikut meminumnya. Tapi bagaimana caranya?
Aku belum bisa mengangkat kepalaku. Leherku masih terasa sakit. Kalau minum pakai sedotan berarti harus menunggu sampai dingin. Pasti rasanya sudah tidak enak.
"Sudah, Pak. Tapi Bapak jangan lepas alas kaki, ya? Takutnya masih ada pecahan gelas yang tidak kesapu. Saya permisi dulu."
"Eh, Mbak. Ini buat kamu." Doni memberikan uang lima puluh ribuan kepada cleaning service itu.
"Tidak usah, Pak. Terima kasih." Dia menolaknya lalu membuka pintu kamarku.
Doni mengejarnya. Lalu memaksanya menerima uang Doni.
"Tidak baik menolak rejeki." Lalu Doni menutup pintu kamar, hingga si cleaning service tidak bisa menolak pemberian dari Doni lagi.
"Jujur banget orang itu ya, Don?"
"Iya. Dia sangat patuh pada peraturan rumah sakit yang melarang menerima tip dari pasien atau keluarganya." Doni lalu duduk di sofa dan mulai membuka laptopnya.
Aku memperhatikannya dari tempat tidurku. Doni yang kadang gila kerja persis seperti mas Arka, suamiku.
__ADS_1
Aku jadi merindukannya. Dimana dia sekarang? Apa kondisinya baik-baik saja? Siapa yang akan mengurusnya?
Lalu anakku? Dengan siapa dia sekarang? Di mana bi Yati? Ah, kenapa semua jadi menghilang?
Dan petugas dari kepolisian yang berjanji akan membantuku mencari anakku baru besok datang ke sini.
Tak terasa air mataku keluar. Mungkin semua terjadi akibat kesalahanku.
Kesalahanku yang tak mau mengurus mereka dengan baik. Mereka keluargaku, tapi malah aku abaikan.
Aku sibuk dengan diriku sendiri. Dengan keinginanku. Dan dengan Doni.
Maafkan aku mas Arka. Aku telah menghianatimu. Aku bukan istri yang baik buatmu.
"Kamu menangis?" Doni tiba-tiba sudah ada di dekatku.
"Eh, Don. Enggak kok." Aku menghapus air mataku.
Doni membantuku menghapusnya dengan jemarinya.
"Kenapa?" tanya Doni dengan lembut sambil membelai pipiku.
Aku memejamkan mataku lagi. Menikmati sentuhan tangan Doni.
"Aku kangen anakku, Don. Dimana dia sekarang?"
"Besok aku coba mencarikan informasi tentang anakmu. Oh iya. Kalau suami kamu, ada di ruang rawat dua kamar dari sini. Kamu mau melihatnya besok?" tanya Doni.
Aku menatap wajah Doni. Apa aku tidak salah dengar?
"Kalau kamu mau lihat suami kamu, besok aku bisa mengantarkanmu. Aku tadi lama saat beli kopi. Karena aku dapat informasi dari perawat kalau suami kamu ada di dekat sini juga. Sayangnya aku tidak bawa hape. Kalau aku bawa hape, aku kan bisa memotretnya."
"Terima kasih, Don. Aku pikir kamu tidak peduli dengan suamiku" ucapku perlahan.
"Bagaimana pun dia masih suami kamu, Ar. Kamu masih mempertahankannya, kan?"
"Don. Aku kan sudah pernah bilang padamu. Aku tidak mungkin meninggalkannya dalam kondisinya yang seperti itu." Aku menghela nafasku.
"Tolong pahami perasaanku, Don."
"Iya. Aku paham kok, Ar. Aku sendiri belum bisa menceraikan istriku. Meski dia tidak bisa dibilang istri karena hanya menuntut haknya saja, tanpa memenuhi kewajibannya."
"Apa kamu masih mencintainya, Don?"
Doni hanya menggeleng. Lalu pamit ke kamar mandi. Mungkin Doni tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang istrinya.
Aku melihat jam di hapeku. Jam dua belas malam. Aku menatap lagi ke arah pintu karena aku merasa ada yang melintas lagi di sana.
Aku mengerjapkan mataku. Apa aku salah lihat? Kenapa sosok itu mondar-mandir di balik pintu kamarku. Siapa dia?
__ADS_1