SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 49 MENJUAL MOBIL SUAMIKU


__ADS_3

Aku merebahkan tubuhku di sebelah mas Arka. Aku perhatikan mata mas Arka sudah terpejam. Syukurlah kalau dia sudah tertidur. Karena aku pun juga sudah sangat capek.


Hingga satu jam kedepan, aku masih belum bisa memejamkan mataku. Aku memikirkan Bima. Bagaimana kalau dia tak kembali lagi ke sini? Siapa yang akan membantuku mengurus mas Arka.


Menjelang sore baru aku merasa mata ini benar-benar tak bisa terbuka lagi. Aku pun terlelap.


Hampir jam enam sore, aku baru terbangun. Aku membuka mataku. Aku lihat di sampingku, mas Arka sudah terbangun.


Aku bangkit dari tempat tidur. Kenapa Bima belum juga datang? Aku coba cek ponselku. Tak ada pesan masuk. Kemana dia?


Aku berjalan keluar kamar. Aku akan menyalakan lampu-lampu, karena sudah mulai gelap.


Saat aku menyalakan lampu teras, aku lihat ada orang yang sedang duduk di sana. Aku mengintip dari balik hordeng. Bima.


Kenapa dia tidak mengetuk pintu. Atau aku yang tak mendengarnya, saking lelapnya tidurku?


Aku membuka pintu depan. Bima spontan menoleh.


"Sejak kapan kamu di situ?" tanyaku.


"Dua jam yang lalu" jawabnya singkat.


"Kenapa kamu gak mengetuk pintu?" tanyaku lagi.


"Sudah berkali-kali. Tapi tak ada yang membukakannya" jawab Bima lagi.


"Kamu kan bisa hubungi nomorku. Kamu masih menyimpan nomorku, kan?" tanyaku lagi memojokannya.


"Maaf, aku gak mau mengganggumu" jawab Bima. Aku menghela nafasku.


"Masuk" ucapku lalu aku berjalan masuk. Bima mengikutiku dari belakang.


"Bi Yati sementara di rumah ibu. Bi Sumi lagi cuti. Jadi nanti tugasmu bertambah. Membantuku membersihkan rumah" ucapku setelah aku duduk di ruang tengah.


Bima hanya mengangguk. Lalu permisi masuk ke kamarnya, meletakan tasnya.


Tak lama Bima pun keluar lagi dari kamarnya. Dia menatapku sekilas.

__ADS_1


"Bapak sudah dimandikan?" tanya Bima dengan sopan. Mungkin dia sudah menyadari kesalahannya.


Aku menceritakan kejadian tadi siang, saat mas Arka BAB. Bima menyimak ceritaku, tanpa banyak komentar. Ya, dia sudah berubah.


Aku masih duduk di sofa ruang tengah. Bima permisi masuk ke kamarku. Tak lama dia membawa mas Arka keluar dari kamar.


Bima memarkirkan kursi roda mas Arka di dekatku duduk. Lalu dia ke dapur, menyiapkan makan malam untuk mas Arka.


Semarah-marahnya Bima, dia tetap profesional dalam pekerjaannya. Itu yang bikin aku salut dengannya.


Dia tidak melampiaskan kemarahannya pada mas Arka yang tak bisa apa-apa. Dia tetap sabar dan telaten merawat mas Arka.


Bima mendekati kursi roda mas Arka, lalu menyuapinya. Karena sudah masuk waktu maghrib, aku permisi masuk ke kamarku, untuk menjalankan kewajibanku.


Selesai sholat maghrib, aku membuka buku keuanganku. Aku mulai menghitung pengeluaranku. Dan sisa uang yang ada di rekening mas Arka. Menipis!


Aku memegang dahiku. Darimana lagi aku akan mendapatkan uang? Sementara mas Arka belum juga sembuh. Dan sebulan lagi aku akan melahirkan.


Aku mondar-mandir di dalam kamarku. Apa aku jual saja rumah peninggalan kedua orang tuaku?


Tapi untuk menjual rumah, prosesnya pasti lama. Sedangkan aku butuh uang segera. Aku memutar otak ku.


Aku mencoba menghubungi ibu mertuaku. Semoga ibu setuju, atau paling tidak ibu akan memberikan solusi untuk ku.


Setelah telfonku tersambung, aku ceritakan tentang keadaan keuanganku. Aku mendengar ibu menarik nafasnya.


"Ya sudah, Ar. Kalau memang itu mau kamu, jual aja. Suatu saat kalau Arka sudah sehat, dia bisa membelinya lagi" ucap ibu di seberang sana.


Mungkin ibu juga sedang tak ada uang. Makanya ibu setuju dengan ideku.


Selama ini, ibu selalu membantu keuanganku. Baik itu untuk pengobatan mas Arka ataupun untuk kebutuhan sehari-hari.


Setelah cukup berbasa-basi, aku menutup panggilanku. Aku membongkar laci lemari. Mencari di mana mas Arka menyimpan BPKB mobilnya, dan faktur pembeliannya. Karena setahuku mas Arka membelinya cash di dealer.


Aku sudah membongkar isi lemari, tapi tak menemukannya. Disimpan di mana ya? Atau mungkin di laci meja kerjanya yang ada di kamar yang ditempati Bima?


Aku berjalan keluar kamar. Mendekati Bima yang sedang meminumkan obat untuk mas Arka.

__ADS_1


"Bim, aku mau masuk ke kamarmu sebentar. Ada yang akan aku cari" ucapku. Walaupun kamar itu bagian dari rumahku ini, tapi alangkah tidak sopannya kalau aku langsung masuk tanpa permisi.


"Silakan" ujar Bima dengan sopan. Aku melangkah masuk ke kamar Bima. Aku buka laci meja kerja mas Arka yang terkunci.


Aku menemukannya di laci paling bawah. Lega rasanya. Sekarang aku tinggal mikir, gimana caranya menjual mobil itu. Dan browsing di internet tentang harga jualnya.


Aku keluar dari kamar Bima. Aku duduk tak jauh dari Bima yang masih sibuk meminumkan air putih pada mas Arka.


Aku meletakan BPKB dan faktur pembelian mobil itu, di atas meja. Bima meliriknya sekilas. Lalu kembali lagi pada kegiatannya.


"Bim, kamu bisa menolongku menjualkan mobil mas Arka?" pintaku pada Bima.


Bima menatapku lekat. Aku menganggukan kepalaku. Lalu aku menceritakan tentang kondisi keuanganku saat ini. Dan juga ibu mertuaku yang sudah setuju dengan rencanaku.


Bima mengambil surat-surat itu dan membacanya. Aku mendekati mas Arka. Aku genggam tangannya.


"Mas, aku minta ijin, aku akan menjual mobil mas Arka. Uang kita sudah menipis mas. Sebentar lagi juga anak kita akan lahir. Aku butuh banyak biaya, Mas" ucapku pada mas Arka.


Tiba-tiba aku merasakan tanganku yang menggenggam tangan mas Arka, bergerak sedikit. Cuma sebentar. Tapi aku bisa merasakannya.


Aku menatap tangan itu. Aku coba menggerakannya lagi. Tapi tak bisa.


"Mas, tanganmu bergerak. Ayo mas, gerakan lagi. Kamu pasti bisa, Mas." Aku terus menggerakan tangan mas Arka.


"Jangan dipaksa. Itu hanya gerakan reflek aja. Mungkin dia mendengar omonganmu tadi. Dan dia mencoba meresponnya" ujar Bima. Aku menatap bola mata mas Arka. Aku lihat matanya yang kosong, berkaca-kaca.


Berarti benar, mas Arka bisa mendengar perkataanku. Dan dia meresponnya walau cuma sedikit. Sangat sedikit.


"Mas, kamu dengar omonganku kan, Mas? Tolong gerakan lagi tanganmu kalau kamu mendengarnya, Mas" ujarku sambil air mataku mengalir ke pipi. Aku bahagia karena kelihatannya mulai ada perubahan. Walaupun sedikit. Sangat sedikit.


"Mau dijual berapa mobilnya?" tanya Bima. Aku menjawab, lihat dulu harga mobil bekas di internet.


Lalu Bima terlihat sedang searching di ponselnya. Tak lama Bima manggut-manggut.


"Gimana, udah ketemu harga jualnya?" tanyaku. Bima lalu membacakannya untuk ku. Aku menyimaknya dengan baik.


"Oke, besok pagi coba kamu tawarkan, Bim. Kamu tau kan kalau aku sedang butuh banyak biaya?" Bima mengangguk.

__ADS_1


Ya Allah semoga mobil mas Arka cepat terjual. Karena saatnya aku melahirkan tinggal sebentar lagi.


Tak apalah kalau sementara gak punya mobil. Masih banyak taksi online. Aku membesarkan hatiku sendiri.


__ADS_2