
Pukul delapan Doni baru datang. Dia menyapaku dan Mila di meja resepsionis.
"Selamat pagi, Pak" sapaku dan Mila berbarengan sambil berdiri dan sedikit membungkukan badan.
"Pagi juga. Aryani, ikut ke ruangan saya" perintah Doni kepadaku.
"Baik, Pak" sahutku. Lalu aku memutari meja resepsionis dan mengikuti langkah Doni menuju ke ruangannya.
Doni membuka pintu ruangannya dan menyuruhku duduk di sofa yang ada di ruangannya itu. Dia pun duduk di sebelahku.
"Jam berapa kamu datang?" tanya Doni.
"Jam enam tadi, Pak" jawabku, masih memanggilnya bapak, karena pikirku ini masih di jam kerja.
"Tidak usah panggil Pak, kan hanya kita berdua di sini" sahut Doni. Aku tersenyum. Rupanya Doni masih selalu menganggap aku temannya walau pun statusku sekarang adalah bawahannya.
"Oh, iya. Maaf Don, aku pikir kamu kan atasanku" sahutku tidak enak.
"Iya, tapi saat kita hanya berdua tidak usah formil" ucap Doni. Aku mengangguk setuju. Karena memang kalau hanya berdua, aku agak risi memanggilnya dengan sebutan Pak.
"Kamu sudah mendapat pengarahan dari pak Budi?" tanya Doni.
"Sudah tadi, Don. Dia sudah datang dari pagi tadi." Aku menjelaskan tanpa mengatakan kalau pak Budi terus pergi lagi setelah memberi pengarahan padaku.
"Oke. Semoga kamu betah kerja di sini. Semua berkasmu sudah masuk ke bagian HRD. Aku bisa meminta nomor ponselmu?" ucap Doni.
Aku mengangguk lalu memberikan nomor ponselku yang langsung disave di ponselnya.
"Terima kasih, Ar. Kamu bisa kembali ke tempatmu. Nanti aku hubungi lagi" ucap Doni.
Lalu dia berjalan menuju kursinya. Aku pun pamit keluar dari ruangannya.
Aku kembali ke meja resepsionis. Mila masih ada di sana.
"Ada masalah?" tanya Mila menatapku.
"Tidak ada" sahutku datar.
Lalu kami pun beraktifitas masing-masing, sambil sesekali ngobrol.
Jam istirahat kami akan bergantian untuk makan siang. Doni mengirimkan satu pesan chat kepadaku.
(Jam berapa kamu istirahat?) tanya Doni di chatnya.
(Satu jam lagi. Gantian dengan Mila. Dia tadi minta duluan) jawabku.
(Oke. Nanti kamu ke ruanganku saja. Sudah aku pesankan makan siang. Kamu makan siang di ruanganku saja)
Aku mengerutkan dahi. Enak banget, makan siang di ruangan bos yang nyaman.
(Oke. Aku nanti ke sana kalau Mila sudah kembali) jawabku pada akhirnya.
__ADS_1
Doni tak membalas, hanya membacanya saja. Aku letakan kembali ponselku.
Satu jam kemudian, Mila kembali. Dia kelihatan terburu-buru.
"Ada apa, Mil?" tanyaku.
"Ah, tidak ada apa-apa" jawabnya. Lalu aku pamit untuk ke ruangan Doni.
Tanpa curiga apa-apa, Mila mengangguk. Aku pun menuju ruangan Doni.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk!" Suara Doni menyuruhku masuk. Aku membuka pintu, lalu masuk dan Doni yang sudah duduk di sofa menyuruhku duduk di sebelahnya.
"Itu makan siangnya. Kita makan bareng, ya" ucap Doni.
Aku pun mengangguk lalu membuka bungkusan makanan yang Doni pesan.
Aku menyiapkan satu untuknya dan satu untukku. Kami mulai makan sambil bercerita.
Doni bercerita kalau setelah lulus SMA dulu dia melanjutkan kuliah di kota lain.
Dia juga meminta maaf, karena waktu itu ponselnya hilang. Hingga dia tidak bisa lagi berkomunikasi denganku.
"Apa kamu langsung menikah? Aku baca di CV kamu, statusmu sudah menikah?" tanya Doni.
"Tidak juga. Aku sempat bekerja juga di sebuah toko selluler" jawabku santai sambil menikmati makananku.
"Kamu sudah memiliki anak?" Aku mengangguk, karena mulutku masih penuh dengan makanan.
"Satu. Baru beberapa bulan" sahutku setelah aku menelan makananku.
"Owh. Masih bayi. Kenapa kamu tinggal bekerja? Lalu dengan siapa dia di rumah?" tanya Doni sambil menatapku.
"Ada pembantu yang menjaga anak dan suamiku" jawabku tanpa aku saring.
"Menjaga suamimu?" Doni mengerutkan dahinya.
Karena tadi aku keceplosan menjawab, akhirnya aku ceritakan tentang kondisi suamiku.
Tadinya aku tidak ingin teman-temanku tau kondisi rumah tanggaku, termasuk Doni.
Biar saja mereka taunya mas Teguh adalah suamiku. Karena aku malas menjawab pertanyaan yang pastinya akan melebar kemana-mana.Dan aku juga tidak suka dikasihani orang lain.
"Owh, maaf. Kasihan sekali kamu, Ar" ucap Doni.
Benarkan? Orang yang mendengar cerita tentang suamiku pasti akan merasa kasihan padaku. Dan aku sangat tidak suka.
__ADS_1
"Biasa saja, Don. Alhamdulillah masih ada kakak sepupunya yang mau merawatnya" sahutku.
"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Doni lagi.
"Di rumah mertuaku. Mereka sudah meninggal semua. Rumah suamiku di komplek perumahan Indah, aku tinggal. Soalnya nanti tidak ada yang membantu merawat suamiku" sahutku.
Doni mengangguk mengerti. Lalu dia menceritakan tentang kehidupannya tanpa aku minta dan bertanya.
"Aku pun menikah, sebelum aku selesai kuliah." Doni memulai kisahnya. Aku mendengarkan tanpa bertanya apa pun.
"Dia, maaf, hamil karena kami sama-sama khilaf. Dan akhirnya kami dinikahkan oleh keluarganya. Orang tuaku sangat tidak setuju meski mereka tau kesalahanku menghamili anak orang" lanjut Doni.
Aku terkejut mendengar cerita Doni. Karena yang aku tau, Doni bukan type laki-laki brengsek yang suka berbuat di luar aturan.
Dulu saat kami berpacaran pun, hanya sekali Doni menciumku. Padahal banyak kesempatan jika Doni brengsek.
Karena di rumah nenekku, sepi. Nenek sering pergi pengajian atau ke rumah kerabatnya.
Aku menatap Doni, dan Doni pun melanjutkan ceritanya.
"Aku terpaksa menikahinya walau tanpa restu kedua orang tuaku. Lalu mereka menghentikan biaya kuliahku." Doni menghela nafasnya. Aku mengambilkan minum untuknya.
"Orang tuaku memberi pilihan padaku, menikah atau kembali pada mereka. Aku memilih tetap menikah karena aku harus bertanggung jawab dengan perbuatanku" lanjut Doni.
"Maaf Don, kenapa mereka tidak setuju? Padahal kalian sudah terlanjur akan memiliki anak?" tanyaku.
"Orang tuaku mengenal keluarga istriku. Dan mereka tau kalau keluarga istriku adalah keluarga yang...brengsek" sahut Doni lirih.
Aku tak berani bertanya soal kebrengsekan keluarga mertuanya. Karena itu sudah bukan ranahku.
"Aku tetap pada kemauanku dan orang tuaku pun tetap pada keputusannya. Lalu mereka menghentikan biaya kuliahku, termasuk biaya hidupku." Doni menatapku. Lalu melanjutkan ceritanya lagi.
"Aku akhirnya melanjutkan kuliah dengan biaya dari keluarga istriku. Tapi aku juga bekerja paruh waktu, karena aku tidak mau membebankan hidupku sepenuhnya pada mereka."
"Di usia kandungan istriku empat bulan, dia terjatuh dari tangga rumah orang tuanya dan mengalami keguguran. Sampai sekarang dia belum bisa hamil lagi, karena menurut dokter, kandungannya lemah."
"Setelah aku selesai kuliah, aku mulai bekerja di hotel ini. Hotel milik temanku. Karena dia tidak mau melanjutkan kepemimpinan di sini, dia mempercayakannya padaku." Doni menyudahi kisahnya.
"Lalu pernikahanmu?" tanyaku.
"Kami hidup terpisah. Aku menyewa sebuah rumah, agar bisa hidup mandiri. Tapi sayangnya dia tidak mau tinggal bersamaku" jawab Doni.
"Kenapa?" tanyaku.
"Panjang ceritanya, Ar. Kapan-kapan aku sambung lagi. Sekarang kembalilah ke tempatmu."
Doni menyuruhku kembali ke tempatku karena sudah hampir satu jam aku berada di ruangannya. Dan makan siang kami pun telah selesai.
Aku membereskan bekas makan siang kami, sebelum keluar dari ruangannya.
"Aku kembali dulu, Don" pamitku. Doni menganggukan kepalanya. Wajahnya terlihat sedih.
__ADS_1
Ternyata kisah hidup Doni lebih menyedihkan dari kisahku.