
Tengah malam aku terbangun suara hujan masih terdengar. Sepertinya belum juga reda.
Aku mendapati tubuh polosku berada di pelukan Doni. Ya ampun, apa yang telah kami lakukan tadi?
Aku berusaha melepaskan pelukan Doni. Perlahan aku singkirkan tangan Doni.
"Mau kemana?" tanya Doni yang rupanya terbangun.
"Ke kamar mandi" sahutku agar Doni melepaskan pelukannya.
Aku bergeser sedikit agar bisa bangun. Aku ambil selimut yang menutupi tubuh kami tadi.
Tubuh Doni pun masih polos. Aku memalingkan mukaku. Sementara Doni ganti memeluk guling. Tanpa merasa malu kalau dia belum memakai bajunya.
Aku berjalan ke kamar mandi. Air begitu dingin. Aku nyalakan saja shower air hangatnya.
Aku basuh seluruh tubuhku. Mandi tengah malam.
Setelah selesai, aku raih handuk yang ada di rak dan dilipat dengan rapi.
Dengan hanya melilitkannya di tubuhku, aku keluar dari kamar mandi. Aku juga membawa keluar selimut yang tadi aku pakai.
Aku lihat Doni masih meringkuk memeluk guling. Aku selimuti tubuh Doni.
"Tidur lagi saja. Masih malam, kan?" ucap Doni.
Ternyata dia tau kalau aku selimuti.
"Iya" sahutku, lalu aku memunguti pakaianku untuk aku pakai.
"Ngapain pakai baju. Enak juga begini. Anget meluk kamu di dalam selimut" ucap Doni.
Aku tak menghiraukannya. Tapi Doni malah menarik tanganku, hingga aku terjatuh di atas tubuhnya.
Dengan sekali tarik, handuk yang aku kenakan terlepas. Aku langsung masuk ke dalam selimut lagi.
Dan Doni kembali menghangatkanku, bahkan memanaskan.
Aku yang telah lama merindukan kehangatan di ranjang, seperti orang yang kesetanan.
Tak aku pikirkan dosa yang akan menantiku di sana. Tak aku pikirkan suami dan anakku di rumah.
Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku mencari kepuasanku yang lama tak pernah aku rasakan lagi.
Dan kini aku dapatkan dari Doni. Mantan pacar pertamaku sekaligus bosku di tempatku bekerja.
Doni mampu membangkitkan lagi gairahku. Hingga aku mencapai pelepasanku untuk kesekian kalinya.
Aku memeluk tubuh Doni. Dan menyusup ke dada bidangnya, hingga aku tertidur kembali.
Sinar matahari pagi masuk lewat korden yang disibakan oleh Doni. Aku mengerjapkan mataku.
Aku lihat Doni sudah memakai boxernya lagi. Tubuhnya terlihat sudah segar dengan rambut basah.
Aku menatap tubuhku sendiri yang masih polos dibalik selimut.
"Masih mau tidur, Ar" tanya Doni mendekatiku.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku dari tadi?" tanyaku balik.
"Tidurmu lelap sekali." Doni duduk di pinggir ranjang. Lalu dengan lembut mengecup keningku. Aku memejamkan mataku.
"Terima kasih ya" ucap Doni.
"Untuk apa?" tanyaku tak mengerti.
"Karena semalam telah membuatku bahagia."
Aku menatap wajah Doni.
"Kamu menikmatinya?" tanya Doni.
Aku mengangguk.
"Kamu bahagia?"
Aku kembali mengangguk.
Doni mengacak rambutku yang masih berantakan.
"Bangun. Mandi. Sarah dan Roni sedang mencari sarapan untuk kita" ucap Doni.
Ya ampun. Aku bahkan lupa kalau di vila ini juga ada Sarah dan Roni.
Aku bergegas ke kamar mandi, dengan membawa selimut untuk menutupi tubuhku.
"Aku tunggu di luar!" seru Doni dari luar kamar mandi.
Aku mengulangi mandi basahku. Untung ada shower air panas, jadi aku tak akan menggigil karena kedinginan.
Seperti semalam, aku keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di tubuhku. Tapi pagi ini sudah tak ada Doni di kamar.
Pakaianku sudah dibereskan oleh Doni, dan disampirkan di sofa.
Selesai memakainya, aku mengeringkan rambutku dengan handuk yang tadi aku pakai.
Aku ingat, belum kasih kabar ke orang rumah kalau aku tidak pulang.
Aku mencari poselku yang aku silent. Lowbath. Mana aku lupa bawa charger. Akhirnya aku masukin lagi ke tasku.
Aku melangkah keluar dari kamar. Di ruang makan yang berada tak jauh dari kamar yang aku pakai, Doni, Sarah dan Roni sudah duduk menikmati teh hangat di cangkir masing-masing.
"Kayak pengantin baru saja, jam segini baru bangun" ucap Sarah menggodaku.
"Mandi basah pula." Roni menimpali, membuat aku semakin malu. Dan mereka semua tertawa.
Aku duduk di kursi sebelah Doni. Karena hanya itu yang tersisa. Di atas meja sudah ada secangkir teh hangat.
Pisang goreng dan beberapa jajanan pasar juga sudah ada di atas meja.
"Kamu yang membelinya semua ini, Sar?" tanyaku.
"Iya dong. Habis subuh kami jalan-jalan ke pasar tradisional dekat sini. Nemu deh makanan ini" jawab Sarah.
"Oh, dekat ya pasarnya?" tanyaku.
__ADS_1
"Iya. Makanya jangan keasikan tidur. Jadi gak ikut jalan-jalan, kan?" sahut Sarah. Kena lagi deh aku di bully.
"Kabutnya masih tebal. Dingin banget" ucap Roni.
Aku jadi nyesel bangun kesiangan, tidak bisa menikmati pemandangan yang pasti sangat indah.
"Gak apa-apa. Kapan-kapan kita nginap di sini lagi." Doni ikut nimbrung.
"Tapi jangan digempur semalaman Don, nanti kesiangan lagi bangunnya" sahut Roni sambil tertawa.
Mukaku terasa semakin merah, malu bukan kepalang.
"Habis dingin sih hawanya, jadi butuh pemanasan terus deh" sahut Doni.
Aku mencubit pinggang Doni. Bukannya membelaku malah semakin ngompor-ngomporin.
Pagi ini benar-benar aku di bully abis-abisan oleh pasangan Roni dan Sarah yang akhirnya jadi sahabatku.
"Nanti kita sarapannya di jalan saja" ucap Doni.
"Kamu bawa charger, Don?" tanyaku.
"Ada, di mobil. Nanti saja sekalian jalan pulang" sahut Doni lalu kami masuk ke kamar masing-masing untuk bersiap pulang.
"Gak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Doni setelah aku memberesi sprei tempat tidur.
"Udah. Beres semua barang-barangku" sahutku, lalu meraih tasku.
Doni meraih tanganku dan mengecup keningku dengan lembut.
"Aku sayang kamu, Ar."
"Terima kasih, Don."
Aku memeluk tubuh Doni sebentar sebelum kami keluar dari kamar. Kalau kelamaan bisa dipastikan, Sarah dan Roni akan membully-ku lagi meski kami naik mobil yang berbeda.
"Ron, nanti kita sarapan di rumah makan ujung jalan sana. Setelah pasar" ucap Doni pada Roni.
"Oke, siap Don."
Lalu Doni berpamitan pada pak Yono penjaga vila.
Aku naik ke mobil Doni. Mengechas ponselku yang mati entah sejak jam berapa.
Bisa aku pastikan banyak pesan terkirim dan panggilan tak terjawab dari mas Teguh.
"Nanti setelah sarapan, kamu aku antar pulang ke rumah saja. Hari ini kamu aku liburkan. Aku juga akan ada urusan lagi dengan Roni" ucap Doni.
"Iya." sahutku sambil mengaktifkan ponselku.
"Pasti satpam kamu sudah ngirim ribuan pesan whatsapp" ucap Doni sambil terus menyetir. Aku hanya nyengir.
Ponselku sudah on. Tak ada pesan masuk apapun atau pun panggilan masuk.
Aku cek lagi dataku, aktif. Cek kuota juga masih banyak. Tumben sekali mas Teguh tidak menghubungiku.
Doni melirikku sejenak. Dia seperti mengerti apa yang aku pikirkan.
__ADS_1
"Mungkin dia lelah" ucap Doni.