
Sore ini mas Teguh mengirimkan pesan padaku, tidak bisa menjemput. Seneng banget aku membacanya. Lebih baik naik ojek online atau angkot, dari pada dijemput dia.
"Serius kamu tidak dijemput, Ar?" tanya Mila saat aku berkemas.
"Iya. Katanya sih begitu" sahutku santai.
"Ikut aku saja yuk" ajak Mila. Aku menatap Mila.
"Kemana?"
"Nongkrong!" sahut Mila sambil tersenyum.
Waduh, aku seumur-umur tidak pernah nongkrong. Apalagi sepulang kerja begini.
"Ayolah. Sekali-kali. Mumpung satpam kamu tidak menjemput. Jangan jadi orang rumahan mulu. Nikmati hidup." Mila memaksaku.
Iya juga. Kapan lagi aku bisa hang out.
"Oke deh. Tapi pulangnya jangan malam-malam ya?" sahutku. Karena aku punya tanggungan anak dan suami di rumah.
Mila mengangguk. Lalu aku memberi kabar pada bi Yati. Aku berbohong kalau aku harus menemani bos meeting di suatu tempat. Mana ada resepsionis menemani bos meeting. Tapi biarlah, toh bi Yati tidak akan paham.
Mila menarik tanganku untuk mengikutinya ke parkiran mobil. Ternyata Mila membawa mobil sendiri. Aku pikir dia naik motor seperti biasanya.
"Mobil siapa, Mil?" tanyaku saat Mila sudah melajukan mobilnya.
"Mobilku lah. Heran ya kenapa aku bisa punya mobil?" Mila tertawa.
Ya jelas heran, aku kan tahu berapa gaji seorang resepsionis. Paling cukup buat makan sehari-hari dan membeli kebutuhan pribadi.
"Kamu dapat warisan atau dapat lotre ya?" tanyaku asal.
Mila tertawa lagi. Sambil geleng-geleng kepala.
"Kerja, Ar. Side job" sahut Mila.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. Rupanya dia punya side job juga. Pantesan dia bisa punya mobil sendiri.
"Baguslah. Mumpung kamu masih muda, belum punya tanggungan anak dan suami" sahutku.
Aku membayangkan kalau aku masih seperti Mila, pasti aku akan bertanya tentang side jobnya Mila. Siapa tahu aku berminat.
Kami sampai di sebuah cafe yang cukup besar. Mila memarkirkan mobilnya di halaman cafe itu. Banyak juga mobil dan motor yang diparkirkan di sana.
Sepertinya pengunjung cafe itu banyak, walaupun bukan hari libur atau weekend.
__ADS_1
"Ayo turun" ajak Mila. Lalu aku turun dari mobilnya dan mengikuti Mila masuk.
Mila berjalan ke arah sofa yang melingkar panjang dan banyak laki-laki dan perempuan di sana.
Kelihatannya mereka berpasang-pasangan. Dari cara duduk mereka yang saling berangkulan.
Ada dua orang lelaki yang tak berpasangan. Lalu Mila mendekati salah satunya. Dan mereka berciuman lalu saling memeluk, tanpa ada rasa risi pada pengunjung lain.
"Beib, kenalin ini teman kerjaku. Aryani" ucap Mila pada lelaki itu. Mungkin itu pacarnya Mila.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Tapi lelaki itu malah mengulurkan tangannya padaku. Terpaksa aku menerima uluran tangannya.
Dia malah menggenggam tanganku erat dan lama. Baru memperkenalkan dirinya.
"Aku Lucky. Teman kencannya Mila" ucapnya. Matanya menatap tajam ke arahku.
Aku tersenyum lalu membuang pandanganku ke arah lain. Yang lain tersenyum padaku.
Lalu Mila memperkenalkan mereka satu per satu padaku. Rupanya Mila mengenali mereka semua.
"Duduk sini, Ar" ajak Mila. Memberikan satu bagian sofa yang kosong.
Lelaki bernama Lucky itu duduk di sebelahku persis. Bahkan dia mepet-mepet ke badanku.
Dia lebih pendiam dari yang lain. Tadi Mila memperkenalkannya. Namanya Edwin.
"Maaf" ucapku saat badanku mengenai badan Edwin.
"Gak masalah" sahutnya dengan mimik muka datar.
"Kamu mau pesan minuman apa, Ar?" tanya Mila. Badannya terus bergoyang mengikuti irama musik yang terdengar dari beberapa sound sistem.
"Soft drink saja, Mil" jawabku yang tidak tahu mesti memesan apa. Sebab tidak ada daftar menu yang disodorkan padaku.
"Biar aku saja yang memesankan" ucap Lucky yang tangannya terus digenggam Mila sambil menggoyangkan badannya.
"Oke. Aku seperti biasanya saja, Beib" Mila menyahut.
Dan lelaki bernama Lucky itu pergi memesankan minuman untukku dan Mila.
Edwin mengajak aku ngobrol diantara suara musik yang cukup keras. Untungnya dia ada di sebelahku, jadi aku tak perlu teriak-teriak untuk menjawab pertanyaannya.
"Ar, enjoy saja. Jangan tegang gitu. Nikmati suasana" ucap Mila yang kemudian berdiri.
Mila berjalan ke arah beberapa orang yang sedang berjoged mengikuti irama musik. Tempat ini lebih mirip diskotik daripada cafe.
__ADS_1
Karena di bagian tengahnya ada tempat untuk berjoged dengan lampu-lampu berkelap kelip aneka warna.
Aku agak pusing memandang lampu-lampu yang berputar-putar itu. Apalagi suara musik semakin kencang saat beberapa orang mulai ikut melantai, termasuk Mila.
"Kita pindah ke sana saja, yuk. Di sini bising." Edwin menunjuk ke bangku pojok yang agak jauh dari arena joged.
Aku menurut saja, karena aku juga merasa tidak nyaman. Aku mengikuti langkah Edwin. Lalu duduk di sofa bersisihan dengan Edwin.
"Eh, kalian malah di sini." Lucky menghampiri kami sambil memberikan sebuah gelas berisi minuman padaku.
"Ini pesananmu, Ar. Minumlah" ucap Lucky. Lalu dia pergi lagi bergabung dengan teman-temannya yang lain di meja yang tadi.
Mila masih asik berjoged. Bahkan dia seperti menemukan pasangan baru. Mereka asik berjoged sambil sesekali saling memeluk.
Aku memperhatikan Lucky. Katanya dia teman kencan Mila, kenapa dia tidak marah saat Mila bersama lelaki lain?
Atau mereka memang hanya sekedar teman kencan saja? Entahlah.
Aku mengobrol lagi dengan Edwin. Dia bercerita kalau dia bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dia juga menanyakan pekerjaanku.
Lucky menghampiri kami. Dia melihat ke gelasku yang masih utuh.
"Kok enggak di minum? Katanya mau soft drink?" tanya Lucky.
Aku tersenyum, lalu meminum sedikit. Rasanya aneh. Tidak seperti soft drink yang sering aku minum.
Edwin memperhatikanku. Lalu mengambil gelasku setelah Lucky pergi karena dipanggil oleh temannya.
"Kenapa? Kamu tidak pernah minum minuman beralkohol?" tanya Edwin.
Aku terkejut mendengarnya. Bukankah aku hanya memesan soft drink? Kenapa jadi minuman beralkohol? Pantas saja rasanya aneh.
"Jangan heran. Ini juga soft drink. Tapi dicampur minuman beralkohol. Kalau kamu tidak suka, biar untukku saja" ucap Edwin. Lalu meminumnya hingga tandas.
Edwin memanggil seorang waitres yang melintas di dekat meja kami, lalu dia memesankan minuman lagi buat aku.
"Cola biasa saja" ucap Edwin pada waitres itu. Baik juga Edwin, mau memesankan lagi untukku.
"Jangan minum yang beralkohol kalau belum terbiasa. Tenggorokanmu akan panas. Dan kalau terlalu banyak, kamu bisa mabuk" ucap Edwin.
Tapi aku lihat, matanya merah. Beda dengan sebelum dia meminum minumanku. Apa kadar alkoholnya tinggi?
Edwin mengajak aku bicara lagi. Kali ini aku mencium aroma menyengat dari mulutnya.
Mungkin benar, Edwin sudah mulai mabuk. Bicaranya juga sudah mulai melantur. Dan tiba-tiba dia tergeletak di sofa sambil meracau tidak jelas.Untung saja bukan aku yang meminumnya.
__ADS_1