
Setelah melewati pemeriksaan panjang dan lama di rumah sakit, dokter menyatakan mas Arka Stroke. Mas Arka masih harus melewati masa yang lebih panjang dan lama lagi untuk pengobatannya.
Aku dan ibu sudah tak sanggup lagi kalau harus terus merawatnya di rumah sakit. Apalagi dengan kandunganku yang semakin membesar. Aku menyerah.
Akhirnya kami memutuskan merawat mas Arka di rumah. Berobat jalan. Karena sudah bermacam cara dilakukan dokter, tapi kondisi mas Arka tak kunjung membaik.
Ibu juga sudah terlihat sangat lelah. Dan mengingat usia ibu yang tak muda lagi, pastinya tak bisa terlalu di forsir.
Sudah banyak biaya yang harus kami keluarkan untuk pengobatannya. Aku sudah banyak menguras tabungan yang sedianya untuk persiapan kelahiran anakku nanti. Bahkan ibu juga sudah banyak ikut berpartisipasi.
Hari ini adalah hari kepulangan mas Arka ke rumah. Kami akan merawatnya dengan baik walaupun dengan fasilitas seadanya.
Hampir setiap hari ibu menginap di rumahku. Membantuku merawat mas Arka. Karena aku tak mungkin merawatnya sendiri.
Untuk memandikan dan sekedar mengganti diapersnya, aku jelas tak bisa sendiri. Karena harus mengangkatnya. Kandunganku yang semakin membesar tak akan kuat.
Ini hari pertama kami memandikan mas Arka tanpa bantuan perawat. Cukup menyulitkan. Kami membawanya ke kamar mandi dengan kursi rodanya. Setelah itu tugasku melepaskan semua pakaian mas Arka dan membersihkannya.
Karena ibu agak tak enak hati kalau harus melucuti pakaian mas Arka. Bagaimanapun mas Arka sudah dewasa, bukan lagi anak kecil. Dan ada aku juga sebagai istrinya.
Karena memang sangat kesulitan, kami memutuskan ùntuk menyewa seorang perawat laki-laki untuk membantu kami.
Kami mempekerjakan perawat itu dengan gaji yang lumayan besar. Karena tugasnya tidak mudah. Selain memandikan, mengganti diapersnya, membersihkan kotorannya juga mengontrol kesehatan mas Arka.
Biaya yang kami keluarkan tidak sedikit. Selain untuk menggaji perawat itu, juga membeli obat-obatan yang tak murah.
Ibu menginginkan obat yang terbaik untuk mas Arka, dengan harapan agar mas Arka cepat sembuh. Belum lagi makanannya. Karena mas Arka sendiri belum bisa memakan makanan biasa.
Mas Arka belum bisa mengunyah makanan yang terlalu keras. Syaraf-syarafnya belum bekerja dengan sempurna. Bahkan seperti mati.
__ADS_1
Dengan telaten Bima, nama perawat itu, menyuapi mas Arka. Membantu meminumkan obatnya, yang harus di haluskan dulu, karena mas Arka belum bisa menelan.
Kadang aku atau ibu yang menyuapinya. Sambil kita ajak berkomunikasi. Berharap semoga mas Arka bisa mendengar omongan kami. Dan bereaksi.
Tapi kenyataannya tidak. Mas Arka sama sekali tak bisa bereaksi apapun. Dia hanya bisa duduk di kursi rodanya. Posisinya pun belum bisa tegap. Sebentar-sebentar kami harus membetulkan posisinya.
Tangannya pun masih terkulai lemas. Pandangan matanya kosong. Mulutnya agak miring ke kiri. Sangat mengenaskan.
Tak ada lagi suamiku yang gagah. Langkah yang tegap. Ganteng. Senyum yang sangat menawan.
Yang ada hanya seorang laki-laki yang terkulai lemas, dengan tatapan mata kosong. Tak bisa diajak berkomunikasi.
Aku dan ibu kadang sampai menangis melihat kondisi mas Arka. Sangat mengenaskan.
Di rumah, kami sering memberinya terapi-terapi kecil. Salah satunya terapi menggenggam. Untuk melatih otot-otot telapak tangan. Kami membelikan bola kecil bergerigi.
Tak ada reaksi sama sekali dari mas Arka. Tangannya hanya terkulai. Kadang aku rindu dengan belaiannya. Tapi jangankan membelai, mengangkat tangannyapun gak mampu.
Kakinya pun tak bisa menapak dengan baik. Telapak kakinya jadi menekuk. Jari-jari kakinya tak bisa lurus.
Aku sering membantu kakinya saat di rendam dengan air hangat yang di campur garam. Walaupun kadang airnya menurutku terlalu panas, tapi tak ada reaksi apapun dari mas Arka.
Kami ingin sekali ada reaksi walaupun sekedar penolakan kecil, tapi tetap tak ada. Kakinya menurut aja meski terkena panas dari air rendaman itu.
Bima sangat telaten dan sabar melatihnya. Bisa berjam-jam dia hanya untuk melatih kaki mas Arka bisa lurus kembali. Walaupun hasilnya masih nihil.
Aku kadang tak kuasa melihatnya. Dan memilih untuk kembali ke kamarku. Miris sekali melihatnya.
Setiap pagi, Bima mendorong kursi roda mas Arka ke halaman depan untuk mendapatkan sinar matahari pagi. Dokter menyarankannya seperti itu. Jemur di panas matahari pagi, untuk merangsang otot-ototnya.
__ADS_1
Bisa dua jam mas Arka di jemur di atas kursi rodanya. Dengan sesekali di betulkan posisi duduknya. Karena hanya beberapa menit saja mas Arka mampu pada posisi tegap. Beberapa menit kemudian, badannya akan melorot dengan sendirinya.
Setelah berjemur, mas Arka harus makan dan meminum obatnya. Makan bukan lagi saat yang menyenangkan. Karena sangat sulit memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Mulut mas Arka seperti mengunci. Harus sedikit dipaksa untuk membukanya. Memasukan makanannya yang sangat lembek, bahkan aku melihatnya seperti jus. Karena memang makanan itu di blender dulu.
Itupun harus perlahan. Karena kalau enggak, makanan itu akan keluar lagi. Obatpun harus di haluskan dulu biar bisa diminumnya.
Untung ada Bima, kalau enggak, aku pasti gak akan sanggup. Walaupun kadang aku mencobanya. Menyuapi mas Arka dengan penuh kesabaran.
Urusan memandikan mas Arka jadi pekerjaan Bima. Itu kenapa aku dan ibu mencari perawat laki-laki. Sebab gak mungkinkan kalau perawat perempuan memandikan suamiku.
Aku juga rasanya gak ikhlas kalau tubuh suamiku di lihat bahkan disentuh oleh perempuan lain. Walaupun dia seorang perawat.
Sewaktu di rumah sakitpun, aku meminta perawat laki-laki yang memandikan mas Arka. Untung pihak rumah sakit memang memberi kebebasan memilih.
Untuk urusan BAB, itu yang lebih menyulitkan lagi. Dan aku rasa itu yang paling menjijikan. Walaupun mas Arka di pakaikan diapers, tapi membersihkan kotorannya, kadang membuatku pingin muntah.
Pernah suatu kali, Bima ijin pulang sebentar. Tak lama aku membaui sesuatu yang tak enak dari tubuhnya. Saat aku intip diapersnya ternyata mas Arka BAB.
Kan gak mungkin kalau untuk membersihkannya mesti menunggu Bima datang. Dengan dibantu bi Yati, aku memindahkan mas Arka ke tempat tidur kecil yang ada di kamarku.
Aku memang sengaja membeli tempat tidur kecil seukuran brankar rumah sakit, untuk keperluan mengganti diapers atau pakaian mas Arka.
Kalau tidur, mas Arka masih satu ranjang denganku. Aku masih selalu mendekapnya jika tidur. Rasanya seperti memeluk guling hidup. Tak ada reaksi apapun.
Bima aku ijinkan tidur di rumah kami. Dia menempati kamar kerja mas Arka. Di kamar itu memang sudah ada satu tempat tidur ukuran standart. Jadi aku gak perlu membeli tempat tidur baru.
Untung ada Bima. Seorang perawat yang sangat cekatan dan telaten. Kalau tidak, entahlah. Pasti mas Arka gak keurus dengan baik.
__ADS_1