
Malam itu juga mas Teguh mengantarkan aku ke rumahku. Aku akan mengambil barang-barang keperluanku, selama aku tinggal di rumah mertuaku nanti.
Jalanan sudah agak lengang karena memang sudah malam. Tadinya mas Teguh maunya mengantarku besok saja, tapi aku tetap bersikeras untuk mengambil barang-barangku malam ini.
Entah mengapa, perasaanku ingin sekali pulang melihat rumahku. Aku berusaha mengingat apa tadi siang aku sudah mengunci pintunya. Seingatku sih sudah.
Sepanjang perjalanan kami hanya ngobrol santai saja. Mas Teguh lebih banyak bertanya soal penyakit mas Arka.
"Lalu selama ini kamu mengurusnya sendiri?" tanya mas Teguh. Aku mengangguk.
"Apa kamu gak kerepotan?" tanyanya lagi.
Ya jelas repot banget. Aku juga menceritakan, saat tak ada siapa pun di rumah, terpaksa berhari-hari kami tidur di lantai. Karena aku tak kuat mengangkat mas Arka naik ke tempat tidur.
"Apa kalian gak masuk angin?" tanya mas Teguh.
Aku hanya tertawa. "Kalau udah kepepet gitu, angin aja gak mau masuk, Mas."
"Bisa aja kamu. Kenapa kamu gak mendatangi rumah Ibu?" tanya mas Teguh.
Lalu aku menceritakan soal kehilangan uang dari hasil penjualan mobil mas Arka. Soal Bima yang tiba-tiba menghilang. Bahkan sampai aku menjual lemari cuma buat membeli makanan.
"Kamu menyimpan fotonya Bima? Atau identitasnya?" tanya mas Teguh.
Aku menggeleng. Kalau pun aku menyimpan fotonya, ada di ponselku yang ikut raib.
"Oh iya, Dek. Kamu kayaknya belum makan kan?" tanya mas Teguh. Aku mencoba mengingat-ingatnya. Ah, entahlah. Aku juga lupa sudah makan apa belum.
Tapi yang aku rasakan sekarang perutku terasa lapar. Mungkin memang aku belum sempat makan.
"Gak tau, Mas. Lupa" jawabku asal.
"Makan kok lupa. Ya udah, ayo kita cari makan dulu. Kasihan tuh dedeknya nanti kelaparan di dalam" ucap mas Teguh sambil menunjuk ke perutku.
Kami mencari rumah makan yang masih buka. Karena sudah jam sembilan lebih, jadi banyak yang sudah tutup.
"Mau makan apa, Dek?" tanya mas Teguh.
"Apa aja deh, Mas. Udah malam gak bisa pilih-pilih makanan" jawabku.
"Tuh masih ada yang buka. Warung tenda mau?" tanya mas Teguh. Aku mengangguk. Aku lebih suka makan di warung tenda daripada di restauran. Asalkan tempatnya bersih.
"Oke. Bagaimana kalau kita makan seafood aja? Itu baik lho buat ibu hamil" ujar mas Teguh. Aku menurut saja. Yang penting kenyang.
Kami memasuki warung tenda itu. Berbagai menu seafood di tawarkan kepada kami. Aku memilih makan kepiting dan cumi bakar. Ternyata mas Teguh juga memilih menu yang sama.
"Kok bisa samaan pilihannya?" tanya mas Teguh. Aku mengedikan bahuku. Paling juga cuma kebetulan aja.
__ADS_1
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan yang tak berapa jauh lagi. Gerbang komplek perumahanku sudah mulai kelihatan.
"Sudah dekat, Mas. Depan itu sudah sampai. Tinggal masuk gerbang komplek" ucapku.
"Iya, aku udah tau kok, Dek. Dulu sebelum Arka menikah dengan kamu, aku sudah pernah main ke sana" ucap mas Teguh.
Aku tersenyum menahan malu. Aku kira mas Teguh belum tau.
Mobil mas Teguh memasuki gerbang komplek. Aku melongokan kepalaku agar satpam yang berjaga membukakan portal untuk kami.
Saat satpam mengenaliku, dia menyetop mobil kami. Mas Teguh menghentikan mobilnya.
"Ada apa, Pak?" tanyaku.
"Apa Ibu Aryani baru pulang?" tanya pak Satpam.
"Iya, kenapa Pak?" tanyaku lagi.
"Tadi sore mas Bima juga datang sebentar. Tapi terus pergi lagi, Bu" jawab pak Satpam.
Bima? Aku mengerutkan dahiku. Mau apa dia?
"Dia tidak bilang apa-apa, Pak?" tanyaku agak cemas.
"Tidak, Bu. Maaf saya tak bisa mengikutinya, karena tadi juga pas ada tamu lain, Bu" jawab pak Satpam.
"Bima yang kamu pernah merawat Arka?" tanya mas Teguh.
"Iya. Ayo cepetan, Mas. Aku kok khawatir" jawabku.
"Tenang. Jangan berfikiran negatif dulu" ujar mas Teguh.
Sesampainya di depan rumahku, aku segera turun dari mobil. Diikuti mas Teguh.
Mas Teguh meminta kunci rumah yang aku pegang. Lalu membuka pintu rumahku.
Tak ada yang mencurigakan. Semua masih rapi. Masih baik-baik saja.
Aku menyalakan lampu-lampu rumah. Aku periksa seisi rumah. Tak ada yang berkurang. Karena aku tak lagi punya barang berharga.
"Mas, coba kita periksa kamar yang dulu dipakai oleh Bima" ujarku. Lalu aku dan mas Teguh masuk ke kamar itu.
Pintu lemari yang biasanya tertutup rapat, terlihat terbuka. Lalu aku membukanya.
Pakaian Bima sudah tak ada lagi. Berarti Bima masuk ke rumah ini. Aku agak sedikit merinding. Takut. Pastilah.
"Bagaimana?" tanya mas Teguh.
__ADS_1
"Dulu dia meninggalkan beberapa pakaiannya di lemari ini. Berarti dia masuk ke sini dan mengambil semua pakaiannya" jawabku.
"Apa kamu memberikan kunci cadangan padanya?" tanya mas Teguh. Aku menggeleng.
"Berarti dia menggandakan kuncinya. Makanya dia bisa masuk. Untung kamu sedang tak di rumah. Aku jadi khawatir, kalau dia akan kembali. Bisa jadi dia akan melukaimu atau Arka, kalau dia tak mendapatkan apa yang dia inginkan" ucap mas Teguh panjang lebar.
Aku semakin ketakutan. Bima, sosok yang aku anggap baik, ramah dan sopan, ternyata punya niat yang tak baik padaku.
Aku mengajak mas Teguh ke kamarku. Aku ingin memeriksa kamarku. Mas Teguh mengangguk dan mengikutiku.
Sampai di kamarku, aku membuka lemari pakaianku yang aku kunci. Tapi aku lupa menyimpan kuncinya, jadi siapa pun yang masuk ke kamar ini, bisa membukanya.
"Apa yang akan kamu cari, Dek?" tanya mas Teguh.
"Aku menyimpan surat tanah rumah ini di laci, Mas" jawabku. Dan aku langsung lemas ketika membuka laci lemari dan tak mendapati surat tanah itu.
"Kenapa, Dek?" tanya mas Teguh dengan tatapan khawatir.
"Suratnya tak ada, Mas" jawabku pelan.
"Kamu yakin menyimpannya di sini?" tanya mas Teguh.
"Iya. Aku yakin, Mas" jawabku. Aku tak bisa lagi membendung air mataku.
"Coba kamu cari di tempat lain. Siapa tau kamu lupa" ucap mas Teguh.
Aku mencoba mencarinya lagi di tempat lain. Tapi tak ketemu. Karena aku yakin, aku menyimpannya di laci.
Dan satu lagi kebodohanku, aku lupa menyimpan kunci lemarinya. Ah, kenapa aku selalu ceroboh?
Kecerobohan yang akhirnya merugikan aku. Aku kehilangan segalanya hanya karena kecerobohanku.
Aku menangis terisak. Mas Teguh mencoba menenangkan aku.
"Jangan menangis, Dek. Nanti aku bantu mencari solusinya" ucap mas Teguh.
"Atau kita laoorkan ke Polisi saja, Mas?" tanyaku.
"Kita tidak punya cukup bukti. Dan yang paling penting, kamu tidak memiliki jejak digitalnya. Gak ada foto atau identitas lain yang bisa kita pakai" ujar mas Teguh.
"Tapi coba nanti, aku tanyakan ke temanku yang kerja di kepolisian. Siapa tau dia bisa membantu." lanjut mas Teguh.
"Lalu bagaimana kalau surat tanah ini disalah gunakan oleh dia?" tanyaku.
"Tak semudah itu, Dek. Jual rumah itu tak seperti jual kacang goreng. Semua ada prosedurnya. Kecuali..." mas Teguh tak melanjutkan kalimatnya.
"Kecuali dia merekayasa semuanya" jawab mas Teguh.
__ADS_1