
Keesokan harinya, mas Arka berniat mengantarkanku ke rumah sakit. Rupanya dia sudah browsing sendiri, rumah sakit mana yang menyediakan pelayanan untuk pasien HIV/AIDS.
Aku merasa trenyuh. Mas Arka begitu sangat mengharapkan aku dan sepertinya benar-benar bisa menerima keadaanku.
Aku pun menelpon Mila. Biar dia juga mau ikut sekalian.
"Memang ada hubungan apa dengan Mila? Apa kalian..." Mas Arka tak melanjutkan omongannya. Jangan-jangan dia mencurigai yang tidak-tidak.
"Selama ini, Mila punya pergaulan yang kurang sehat, Mas. Dengan adanya kasus Maya yang terinfeksi HIV, dia jadi ikut ketakutan," sahutku.
"Maya? Siapa dia?" tanya mas Arka. Aku sampai lupa kalau mas Arka tak mengenal Maya.
"Dia istri Doni," jawabku pelan. Bukan sakit hati pada Maya, tapi justru aku kasihan pada Maya.
Kematian Doni semakin membuat Maya drop. Dan akhirnya dia menyusul Doni.
"Oh. Kirain kalian punya hubungan yang rumit," sahut mas Arka dengan santainya.
"Enggak, Mas." Aku merasa jengah dengan pertanyaan mas Arka.
"Memangnya Maya terinfeksi dari mana?" tanya mas Arka.
"Dia pernah depresi setelah keguguran. Lalu dia lari ke narkoba. Sepertinya dia terinfeksi dari situ." Aku mengatakan seperti yang pernah dikatakan Doni padaku.
"Dan Doni terinfeksi juga, lalu menularkannya padamu." Ucapan mas Arka seperti menghakimiku.
Kenapa perkataan mas Arka malah terdengar sinis? Katanya dia ingin kembali padaku dan mau menerima kondisiku seburuk apapun nantinya.
Kenapa sekarang malah banyak pertanyaan yang seperti memojokanku?
Kalau memang dia tak mau menerimaku lagi, aku pun tak memaksa. Aku terima apapun konsekuensi dari perbuatanku.
Dan aku pun tidak mau hidup dengan orang yang hanya setengah hati menerimaku.
Atau jangan-jangan, mas Arka akan menjebakku? Dia ingin tahu hasil cek darahku. Dan seandainya aku positif, dia akan membalaskan sakit hatinya kepadaku?
Aku jadi punya pikiran negatif padanya. Dan yang pasti jadi ragu.
Tak lama, Mila datang. Dia juga sudah sangat siap dengan hasil cek nanti, katanya.
"Ayo. Naik mobilku," ajak Mila.
Mas Arka kembali terlihat bersemangat. Tak nampak lagi sikap menghakiminya. Entah itu hanya berpura-pura atau memang dia sudah bisa menerima alasanku.
Di perjalanan, aku menghubungi Sarah kalau kami akan ke rumah sakit. Jadi dia tak perlu lagi menghubungi temannya yang dokter.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, jantungku berdegup dengan sangat cepat. Bahkan keringat dinginku mulai keluar.
Ya, aku tegang. Bahkan sangat tegang karena bakal menerima berita yang mungkin tidak enak.
"Enggak usah tegang, Ar. Santai aja. Aku juga enjoy kok. Kalau memang aku dinyatakan positif, ya mau dikata apa. Mungkin memang udah takdirku," ucap Mila dengan enteng.
Ya, karena Mila masih sendiri. Dia tak punya resiko kehilangan keluarga.
Kalau kedua orang tuanya, meski awalnya bakal marah, tapi lama kelamaan mereka pasti akan memaafkan Mila. Dan mau menerima keadaan Mila.
Sedang aku, bukan cuma bakal kehilangan suami. Pasti aku akan dijauhkan juga pada anakku.
Belum lagi sanksi sosial yang harus aku terima. Tak akan ada lagi orang yang mau dekat denganku.
Orang tua tidak punya. Keluarga juga tak ada. Aku menelan ludahku sendiri.
"Iya, Ar. Tenang aja. Ada aku di sisi kamu," ucap mas Arka.
Terdengar sangat manis. Tidak seperti berbagai pertanyaan yang tadi dilontarkan sebelum Mila datang.
Aku hanya mengangguk. Lalu mengikuti langkah mas Arka yang sepertinya sudah tahu, ruangan mana yang akan kita datangi.
Hingga sampailah di sebuah bangunan bagian dari rumah sakit yang terpisah. Lumayan jauh dari bangunan utama.
Kami sampai di bagian pendaftaran. Mas Arka yang pertama kali maju.
Lalu aku dan Mila di suruh maju juga untuk mengisi formulir pendaftaran.
"Siapa yang akan diperiksa?" tanya perawat yang berjaga, tadi saat mas Arka maju.
"Teman-teman saya, Sus," jawab mas Arka menunjuk ke arah kami.
Sebenarnya ada rasa yang cukup menusuk di hati saat aku juga di akuinya sebagai temannya.
Apa mas Arka malu mengakui kalau aku adalah istrinya? Hampir saja air mataku tumpah, kalau saja mas Arka tidak segera memanggil kami untuk maju.
"Maaf, aku bilang kalian teman-temanku. Aku tak mau banyak pertanyaan kalau aku mengakui kamu sebagai istriku," ucap mas Arka pelan.
Aku mengangguk sedih. Tapi aku berusaha tegar. Aku tak mau memikirkan itu dulu. Aku akan fokus pada persoalanku sendiri.
"Kalian sudah menikah?" tanya perawat itu padaku dan Mila.
Aku menoleh pada mas Arka. Aku tak mau salah menjawab.
Mas Arka mengangguk. Sepertinya memberi tanda agar aku menjawab iya.
__ADS_1
"Belum, Sus," jawab Mila.
"Kamu?" tanya perawat setengah baya itu.
"Sudah." Aku menundukan wajahku.
Perawat itu menganggukan kepalanya. Lalu membiarkan aku dan Mila mengisi bio data kami.
"Setelah selesai mengisi, serahkan kembali padaku," ucapnya. Lalu dia memanggil pasien yang harus masuk ke ruangan lain.
Sepertinya di sini tak banyak perawat yang berjaga. Hingga perawat yang bernama Lastri itu merangkap pekerjaan sebagai bagian pendaftaran dan antrian pasien.
Aku mengisi formulirku dengan data yang sebenarnya. Tak ada yang aku manipulasi. Demikian juga dengan Mila.
Setelah selesai kami serahkan pada perawat tadi.
"Silakan menunggu di sana." Dia menunjuk bangku panjang yang agak jauh.
Entah apa maksudnya. Dia lalu masuk ke sebuah ruangan membawa berkasku dan berkas Mila.
"Kamu deg-degan enggak sih, Mil?" tanyaku.
"Iya pastinya. Tapi dibikin enjoy aja, Ar. Jangan tegang begitu," jawab Mila.
Mas Arka berjalan mendekat.
"Mas, bisa tolong belikan aku minuman enggak? Aku haus banget, lupa tadi enggak bawa minum sendiri," pinta Mila.
"Boleh," sahut mas Arka.
Lalu Mila memberikan uang pada mas Arka. Dia tahu kalau suamiku pengangguran.
Mas Arka berjalan menjauh dari kami. Aku curiga, sepertinya Mila sengaja ingin bicara tak mau di dengar oleh mas Arka. Dia tidak benar-benar haus.
"Ar. Semalam Sarah cerita padaku soal anakmu yang akan dibawa kabur ke Australi. Bener enggak?" tanya Mila. Aku memang belum sempat menceritakan kejadian kemarin pada Mila.
"Iya, Mil." Lalu aku menceritakan pada Mila dari awal kami mendapat laporan polisi sampai akhirnya Yola dan Deni ditangkap.
"Jadi anak dan suami kamu mau dijual di luar negeri?" tanya Mila.
"Sepertinya. Mas Arka tak pernah mengira, karena Deni kan sepupunya," jawabku.
"Kasihan banget itu orang. Punya saudara enggak ada yang beres," ucap Mila.
"Iya, Mil. Punya istri lebih enggak beres lagi." Aku mengomentari diriku sendiri sebelum Mila yang berkomentar.
__ADS_1