
Setelah peristiwa 'jengkol' itu, hubunganku dengan Yola semakin akrab. Hampir setiap hari kita ngobrol. Kalau bukan dia yang main ke rumahku, aku yang datang ke rumahnya.
Sebenarnya dia lebih tua beberapa tahun dari aku, tapi dia menolak ketika aku panggil dengan sebutan mba, kakak bahkan ibu.
Dia bilang biar lebih akrab, panggil nama aja. Aku menurut aja. Mungkin biar gak kelihatan lebih tua juga kali. Biarlah, itu urusan dia. Lagi pula aku gak rugi kok, kalau manggil namanya aja.
Kami sering bertukar makanan. Jadi kadang menu di meja makan, tumpang tindih. Aku udah masak apa, dia nambahin apa. Gak apa-apa deh, biar banyak pilihannya.
Awalnya suamiku heran, dikiranya aku masak terlalu banyak. Sebab kita cuma berdua aja, sayang kalau gak kemakan. Setelah aku jelaskan, dia hanya senyam senyum aja.
Jadi inget dulu, pas dia kasih kotak makanan ke suamiku. Aku malah memberikannya pada satpam komplek. Saat itu aku masih berfikiran negatif pada dia. Ternyata dia orangnya asik juga, tak seperti yang aku kira. Walaupun kalau pakai baju selalu minimalis, dan sedikit genit.
Yola sering menceritakan tentang kehidupan pribadinya. Biasanya aku hanya jadi pendengar yang baik aja. Mau komen juga, takut salah.
Saat aku main ke rumahnya, dia menceritakan tentang orang yang ada di foto berpigura besar, yang sedang aku tatap. Itu foto dia dengan suaminya.
Oh, ternyata dia masih punya suami, batinku. Dia bilang, suaminya kerja di kapal asing. Dan hanya pulang enam bulan sekali. Sementara mereka belum di karuniai anak.
Yola juga bercerita, sebenarnya dia sudah pernah hamil. Tapi kandungannya lemah. Dan dia harus kehilangan janinnya, di empat bulan kehamilannya. Kasihan sekali dia.
Dia juga bilang, seandainya dia tidak kehilangan janinnya, pasti dia tidak akan kesepian.
Di komplek perumahan ini, rata-rata penghuninya pekerja. Mereka tidak pernah punya waktu untuk bercengkrama dengan tetangga. Yang biasa keluar belanja di tukang sayur keliling, kebanyakan ART.
Walaupun kadang ada juga ART yang penampilannya seperti nyonya rumah. Mungkin memang begitu gayanya, atau mengikuti gaya majikannya.
Kalau soal pakaiannya yang minim bahan, dia juga menjelaskan kepadaku. Karena suaminya bekerja di kapal asing, dan lebih banyak berada di luar negeri. Suaminya sering membelikan pakaian-pakaian dari sana. Yang rata-rata super seksi.
Dan semua pakaian seksi yang dia pakai, di belikan oleh suaminya. Kenapa dia selalu memakai pakaian itu, karena dia sangat menghargai pemberian suaminya. Walaupun untuk orang kita, pakaian yang dikenakannya terlihat berlebihan, tapi kalau suaminya mengijinkan, bahkan malah selalu membelikannya, kenapa tidak. Begitu pikirannya.
Okelah kalau begitu. Asal jangan pamer paha dan dada aja di depan suamiku, batinku. Namanya juga laki-laki, bisa khilaf kalau lama-lama di suguhi begituan.
__ADS_1
Tapi di balik pakaian seksi dan omongannya yang kadang terkesan vulgar, ternyata Yola orang yang baik. Dia sangat perhatian padaku.
Dia tau kalau aku dan suami adalah pasangan pengantin baru. Dan dia banyak memberi masukan kepadaku. Tentang bagaimana cara membahagiakan suami. Maklumlah, dia kan lebih berpengalaman.
Walaupun dia dan suaminya berjauhan, tapi dia selalu bisa membahagiakan suaminya. Selalu bisa memuaskan suaminya. Aku mengerutkan dahi mendengar hal satu ini. Bagaimana bisa membuat suami puas, kalau berjauhan?
Dia hanya menjawab dengan tertawa dan kerlingan mata nakal. Katanya, suatu saat juga aku bakal tau caranya. Hmm, bikin penasaran aja.
Pagi ini aku tidak keluar untuk belanja. Setelah suamiku berangkat kerja, badanku kayak meriang. Lemas, tulang-tulang berasa mau lepas. Dan sedikit mual.
Aku gak bilang pada suamiku. Biar dia tidak khawatir. Kasihan, nanti malah menganggu konsentrasinya bekerja.
Aku hanya berbaring di sofa ruang tengah, sambil menonton televisi aja. Soal makanan untuk suamiku makan malam, nanti aku bisa pesan online.
Tak lama, pintu rumahku ada yang mengetuk. Dengan malas, aku membukakannya. Ternyata Yola yang datang.
Dia menanyakan kenapa aku tidak belanja. Aku jawab apa adanya. Lalu dengan sigap dia memijit sedikit badanku.
Sambil memijitiku, dia bercerita. Dulu saat awal dia hamil, juga merasakan hal yang sama denganku. Badan terasa pegal, lemas dan mual.
Lalu dia menanyakan kapan terakhir aku menstruasi. Aku bilang, aku gak mengingatnya. Karena memang dari dulu sebelum menikah, menstruasiku gak teratur.
Dia menyarankan padaku, karena sekarang aku sudah menikah, sebaiknya mulai di ingat kapan terakhir menstruasi. Untuk berjaga-jaga, siapa tau aku ternyata hamil.
Boleh juga sarannya. Aku mengiyakan. Sambil mengingat-ingat tanggal terakhir aku menstruasi.
Setelah aku merasa agak enakan, dia pamit pulang. Dia mau memasak. Walaupun dia hanya tinggal sendirian, tapi sudah menjadi kebiasaannya memasak untuk makannya sendiri.
Suaminya juga selalu mengajarkannya begitu. Katanya biar ada kegiatan di rumah. Yola juga berjanji akan mengirimi aku hasil masakannya nanti. Untuk makan siangku.
Setelah Yola pulang, aku mengunci pintu rumah, dan memilih tidur.
__ADS_1
Siangnya, seperti yang tadi Yola janjikan, dia datang lagi, dengan membawa hasil masakannya. Dia juga menemani aku makan, sambil kita bicara banyak hal.
Entah mengapa, aku sangat menyukai masakannya. Padahal menurutku, rasanya biasa saja.
Menurut suamiku, yang pernah mencicipinya, juga biasa saja. Malah lebih enak rasa masakanku.
Tapi kok kali ini, menurutku rasanya sangat luar biasa. Aku jadi makan banyak. Melebihi batas porsiku.
Sore harinya, aku memesan makaanan lewat aplikasi online, untuk makan malam suamiku. Aku bilang ke suamiku, kalau tadi aku agak gak enak badan. Jadi gak sempat memasakannya.
Keesokan harinya, aku belanja di tukang sayur langganan. Masih bareng Yola dan beberapa tetangga lain.
Aku bingung mau masak apa. Yola memberi saran, untuk membuatkan sup daging aja untuk suamiku.
Sambil berbisik di telingaku, biar suamiku lebih hot di ranjang. Aku pun menurut sambil tersenyum malu.
Selesai aku memasak sup daging, aku malah gak pingin memakannya. Rasanya malah mual, melihat masakanku sendiri. Aroma dari daging itu, membuat perutku bergejolak.
Akhirnya aku simpan saja masakanku di lemari dapur. Biar nanti aku panaskan lagi kalau suamiku mau makan.
Aku ingat, tadi Yola belanja ikan segar. Katanya mau di masak pismol. Extra pedas juga.
Tiba-tiba aku jadi kepingin masakannya. Tapi kalau mau minta, rasanya kok gak sopan banget.
Lalu aku mencoba membuka aplikasi online. Mencari yang jual ikan pismol. Tapi aku malah tidak berminat sama sekali. Aku tetap menginginkan masakan Yola.
Saking kepinginnya, dengan menahan malu, aku datang ke rumah Yola. Kebetulan dia sedang makan siang. Dan dia menawariku sekalian makan.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan. Puas rasanya aku bisa makan masakan Yola, yang sangat aku inginkan.
Selesai makan, aku bilang pada Yola tentang aku yang begitu menginginkan masakannya.
__ADS_1
Yola tertawa terbahak-bahak. Lalu dia bilang, jangan-jangan kamu lagi ngidam. Ngidam makan masakanku.