
Aku duduk di meja makan. Bi Yati membuatkan susu ibu hamil dan roti bakar isi coklat buat aku.
Aku merenung, memikirkan sikap Bima terhadapku. Ada apa dengan dia? Gak mungkin kan dia menyukaiku?
Aku istri orang. Dan lagi hamil besar juga. Apa tak ada perempuan lain di luar sana, yang single. Yang mungkin lebih cantik daripada aku.
Bima memang wajahnya standar aja. Tapi tubuhnya atletis. Matanya setajam elang. Kulitnya yang tak terlalu putih, menambah kesan macho.
Hhmm...kenapa aku jadi membayangkan dia? Bayangan dia ******* bibirku, menari-nari di kepalaku. Ah. Gila! Ya, aku udah gila!
Aku menggelengkan kepala, menepis semua bayangan-bayangan itu. Tapi bagaimana mungkin aku bisa membuang jauh-jauh pikiran itu, sementara dia tinggal di sini. Satu atap denganku.
Dan kami hampir dua puluh empat jam bersama. Kecuali hari minggu, biasanya pagi setelah membereskan pekerjaannya, dia pamit pergi. Sore menjelang mas Arka mandi, dia sudah datang lagi.
Bi Yati mengantarkan susu dan rotiku. Aku meminumnya perlahan. Dan memakan rotiku. Sejak hamil, aku suka banget makan roti bakar isi coklat. Setiap pagi bi Yati selalu membuatkannya untukku.
"Bu, persediaan di dapur banyak yang habis. Selai coklat dan susu ibu juga tinggal sedikit" ucap bi Yati. Aku menengok ke arahnya. Lalu mengangguk.
"Iya bi, nanti siang aku belanjain. Catat aja semuanya" jawabku. Lalu mengunyah lagi rotiku.
Tak lama, Bima datang. Dia mendorong kursi roda mas Arka. Diparkirkan di sebelah aku duduk. Aku membelai kepala mas Arka, lalu mengecupnya lama.
Ingin rasanya aku mengucapkan kata maaf, atas kejadian kemarin dengan Bima. Hingga membuatnya mengeluarkan air mata.
Bi Yati menyiapkan makanan untuk mas Arka, sementara Bima menyiapkan obatnya. Aku masih duduk di kursiku. Satu tanganku menggenggam erat tangan mas Arka.
Bi Yati menyerahkan makanan mas Arka ke Bima. Lalu dengan telaten Bima menyuapinya. Aku memperhatikannya dengan seksama. Walaupun aku sudah bisa menyuapi mas Arka, tapi aku kurang telaten. Sering tumpah-tumpah.
"Biasanya kamu akan menjemur mas Arka dulu, Bim. Kenapa sekarang makan dulu?" tanyaku pada Bima.
"Cuaca agak mendung, Bu. Mungkin agak siang mataharinya baru muncul. Jadi mending makan dulu. Nanti kalau sudah ada panas, baru berjemur" sahut Bima sopan.
__ADS_1
Itu salah satu hal yang membuatku menyukai Bima. Dia sangat sopan dan profesional. Apalagi di depan orang lain, termasuk di depan bi Yati, dia sama sekali tidak mencurigakan.
Seakan semua berjalan normal. Tak pernah ada kejadian apapun.
Biasanya hampir satu jam menyuapi mas Arka. Sambil menunggu mas Arka selesai makan, aku masuk ke kamarku. Mandi, terus menemani mas Arka berjemur sebentar.
Selesai mandi, aku keluar kamar dengan pakaian hamil yang kelihatan agak seksi. Kemarin aku membelinya online.
Melihat bentuk tubuhku yang sangat kentara, mata Bima sedikit melotot. Tapi karena ada bi Yati, dia segera mengalihkan pandangannya.Aku hanya tersenyum melihatnya.
Pakaian ini bahannya adem, nyaman banget dipakainya. Aku juga gak mengira pas di pakai, aku terlihat seksi. Udah terlanjur dipakai, malas menggantinya lagi.
Aku menunggu mas Arka makan di ruang tengah. Sambil menyalakan televisi. Iseng aja, daripada sepi.
Selesai makan dan minum obat, Bima membawa mas Arka ke halaman depan. Tempat biasa mas Arka berjemur. Aku menyusulnya.
Aku lihat, mas Arka sudah ada di tempat biasanya. Matahari memang malu-malu munculnya, tapi lumayanlah buat berjemur, malah jadi tak terlalu panas.
Aku duduk di kursi teras. Sambil terus mengawasi mas Arka. Semoga mas Arka segera sembuh, Ya Allah. Doaku selalu.
"Kamu cantik, Ar. Kamu sangat seksi" ucap Bima. Aku sangat terkejut mendengar dia memanggilku dengan namaku saja. Bukan Ibu seperti biasanya. Dan apa maksud perkataannya?
Aku menatapnya tak mengerti. Dia semakin tajam menatapku. Bahkan sangat tajam. Aku malah jadi salah tingkah.
Bima tiba-tiba mengenggam tanganku. Lalu di ciumnya tanganku. Spontan aku menarik tanganku.
Ini di teras rumah, bagaimana kalau ada orang yang melihat? Aku pasti di tuduh berselingkuh dengan perawat suamiku.
Mas Arka memang tidak bisa melihatnya. Karena Bima menghadapkan mas Arka ke jalan. Entah apa maksudnya. Padahal biasanya mas Arka menghadap ke samping.
"Jaga sikap kamu, Bim!" ucapku ketus. Bima menunduk, tak lama dia beranjak berdiri. Dan meninggalkan aku. Dia masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Apa dia tersinggung dengan ucapanku? Atau suaraku terlalu kasar? Tapi biarlah. Biar dia bisa lebih sopan lagi padaku. Bagaimanapun aku adalah istri dari orang yang membayarnya. Walau mas Arka sakit, tapi semua uang yang aku pakai, adalah uang mas Arka.
Nanti dia juga balik lagi kalau waktunya mas Arka berjemur selesai. Karena aku tau kalau Bima sangat profesional.
Dan benar saja, satu jam kemudian Bima balik lagi. Wajahnya sudah seperti biasa. Gak di tekuk kayak saat masuk tadi.
Dia membawa masuk mas Arka. Melewatiku tanpa memandangku. Aku hanya tersenyum. Kayak anak kecil aja, ngambekan. Aku pun mengikuti mereka masuk.
Rupanya Bima tadi menyiapkan air rendaman kaki untuk mas Arka. Aku mendekatinya, dan menemani mas Arka yang sedang di rendam kakinya.
"Bim, nanti jam sepuluhan antar aku ke supermarket ya?" ucapku. Bima hanya menganggukan kepala. Masih belum mau menatapku.
Aku mengambil ponselku yang aku letakan di meja tengah, lalu mengambil gambar mas Arka yang sedang merendam kaki. Bima memalingkan mukanya ke arah berlawanan. Kayaknya dia takut sama kamera. Aku tertawa dalam hati.
"Aku mau ke kamar dulu, Bim. Kalau udah siap, panggil aku" ucapku. Lalu aku berjalan menuju kamarku. Aku mau istirahat sebentar.
Aku merebahkan tubuhku. Sambil membuka-buka galery ponselku. Banyak foto-fotoku dan mas Arka di sana. Juga foto-foto saat kami ke Jogja.
Mas Arka begitu gagah di foto-foto itu. Pose-pose mesra kami bikin aku merindukan sosok suamiku yang dulu.
Yola. Aku menatap foto sahabatku. Cukup lama juga aku tak komunikasi dengannya. Terakhir saat dia mengirimi uang untukku. Aku jadi kangen sama Yola.
Baru saja aku memejamkan mataku, pintu kamarku di ketuk. Aku beranjak dan berjalan membukakan pintu.
Ternyata Bima, yang akan membawa masuk mas Arka. Bima masuk, masih tanpa menyapaku. Ngambeknya belum ilang. Lalu memindahkan mas Arka ke tempat tidurku.
Setelah selesai dengan tugasnya, dia masih berdiri di samping tempat tidurku.
"Kita berangkat sekarang?" tanyaku pada Bima. Dia menatapku lekat. Dari ujung kepala sampai ujung kakiku. Spontan akupun melihat penampilanku. Ada yang salah apa enggak. Aku kembali menatapnya.
"Ada yang salah denganku?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Gak ada pakaian yang lain?" Bima malah balik bertanya. Aku mengernyitkan dahiku.
"Aku gak suka laki-laki lain melihat bentuk tubuhmu." Glek! Aku menelan ludahku. Siapa dia? Apa haknya melarangku?