SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 33 PENDARAHAN


__ADS_3

Setelah kami menyelesaikan proses administrasinya, jenazah bapak bisa di bawa pulang. Ibu menolak saat seorang dokter menawari mengantar pulang, dengan mobilnya.


Ibu ingin terus menemani bapak di saat-saat terakhir ini. Ibu akan ikut dalam mobil ambulan yang membawa jenazah bapak.


Sedangkan aku akan di antar oleh dokter itu. Kelihatannya dia merasa kasihan melihatku yang terus meringis, menahan sakit kram di perutku. Bi Sumi menemani aku.


Sesampainya di rumah ibu, aku lihat sudah banyak orang di halaman rumah ibu. Mereka sedang mempersiapkan tempat.


Aku dan bi Sumi turun dari mobil dokter itu. Setelah kami mengucapkan terima kasih, dokter itupun melajukan mobilnya lagi.


Sementara mobil ambulan sedang menurunkan jenazah bapak. Ibu sudah lebih dulu turun. Aku menghampiri ibu dan memeluknya. Kami kembali menangis bersama.


Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ada panggilan dari mas Arka. Aku segera mengangkatnya. Dia menanyakan tentang isi pesanku.


Aku tak sanggup menjawabnya, sementara ibu masih terus saja menangis di pelukanku. Aku lepaskan pelukan ibu sejenak, lalu aku merubah panggilan telfon ke mode video call.


Mas Arka langsung mematikan panggilannya. Mungkin dia akan segera pulang, pikirku.


Aku membimbing ibu masuk ke dalam rumah. Ibu masih terus saja menangis. Aku dudukan ibu di sebuah kursi yang sudah di rubah posisinya oleh para warga.


Sementara jenazah bapak di letakan di atas dipan kecil, di tengah-tengah ruang tamu, yang cukup luas ini.


Dari tadi aku mengabaikan sakit perutku. Aku berusaha menahannya. Karena aku harus kuat menemani ibu. Sementara mas Arka belum juga datang.


Pak RT mendatangi kami, dia menanyakan kapan jenazah bapak akan di mandikan. Ibu menjawab, nanti menunggu mas Arka datang.


Tapi hingga satu jam berlalu, mas Arka tak juga muncul. Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, tapi tak ada jawaban. Akhirnya jenazah bapak dimandikan tanpa mas Arka.


Setelah di sucikan, jenazah bapak mulai di kafankan. Aku tak kuasa melihatnya. Aku hanya duduk di kursi saja. Sambil masih menahan kram di perutku.


Setelah selesai mengkafankan bapak, barulah mas Arka datang. Dia langsung memeluk jenazah bapak yang terbujur kaku. Dan menangis disana.


Aku dan ibu mendekatinya. Mencoba menenangkan mas Arka. Walaupun kami sendiri juga sangat sedih kehilangan bapak.

__ADS_1


Mas Arka berbalik dan memeluk ibu. Mereka menangis bersama. Berkali-kali mas Arka meminta maaf pada ibu, karena tidak bisa menemani bapak di saat-saat terakhirnya.


Lalu berganti memeluk aku, yang berdiri di sebelah ibu. Dia juga meminta maaf padaku. Karena tadi pagi udah memarahiku. Dan karenanya mas Arka malas mengaktifkan ponselnya.


Akibatnya, dia tidak bisa menemani bapak. Dia katakan itu semua sambil memelukku erat. Dan menangis sesenggukan.


Aku mengusap-usap punggungnya, agar mas Arka bisa lebih tenang.


"Maafkan aku juga mas" jawabku. Walaupun aku masih belum tau, salahku dimana. Tapi mengalah akan lebih baik untuk saat ini.


Aku lepaskan pelukan mas Arka. Aku memegangi perutku lagi.


"Kenapa perutmu sayang?" tanya mas Arka. Kelihatan khawatir.


"Hanya sedikit kram, Mas," jawabku. Lalu mas Arka memapahku untuk duduk kembali. Dia pun ikut duduk di sebelahku, sambil merangkulku dari samping.


Aku senang mas Arka bisa baik lagi padaku. Tidak seperti tadi pagi. Wajahnya seperti monster.


Para pelayat mulai berdatangan. Ibu dan bi Sumi sibuk menerima ucapan belasungkawa dari mereka. Banyak juga yang mendatangi aku dan mas Arka.


Yola kelihatan sangat terkejut mendengar kabar dariku. Begitu pula mas Deni, yang rupanya sedang bersama Yola.


Lalu mas Deni langsung menelfonku. Dia ingin bicara dengan Arka. Aku berikan telfonku pada mas Arka.


Aku memberi tanda pada mas Arka, kalau aku mau ke kamar mandi. Aku merasa ada sesuatu yang lengket di area v ku.


Sesampainya di kamar mandi, aku buka celana dalamku. Dan ternyata ada bercak darah di sana. Aku panik. Apa yang harus aku lakukan?


Sementara ini di rumah ibu. Aku tak membawa ****** ***** untuk ganti, ataupun pembalut.


Aku semakin panik saat aku sadar, kalau aku sedang hamil. Ada apa dengan kandunganku?


Aku memakai kembali celana dalamku yang bernoda darah. Aku berjalan keluar mendekati mas Arka. Ternyata dia sedang berbicara pada tamu.

__ADS_1


Aku memilih duduk menunggu mereka selesai bicara. Karena aku takut darahku akan keluar lagi, kalau aku berdiri.


Saat aku melihat mas Arka selesai berbicara, aku memanggilnya. Mas Arka pun mendekatiku. Aku menjelaskan, kalau ada bercak darah di celana dalamku.


"Serius kamu, sayang?" tanya mas Arka. Dia kelihatan semakin khawatir. Lalu mas Arka mendekati ibu. Dia berbisik ke telinga ibu.


Ibu menoleh ke arahku. Dan segera mendekatiku. Tangannya mengelus perutku.


"Arka, bawa istrimu masuk ke kamar. Biar Aryani bisa istirahat" perintah ibu, pada mas Arka.


Aku membisikkan pada ibu, kalau aku tak membawa ganti atau pun pembalut.


Lalu ibu menyuruh bi Sumi untuk memcarikan kebutuhanku. Dan mas Arka memapahku ke kamarnya.


Setelah aku berganti dalaman yang di berikan oleh bi Sumi, aku membaringkan tubuhku sejenak. Aku memang capek banget. Kakiku juga pegal. Karena dari tadi di rumah sakit, aku berjalan kesana kemari.


Aku minta di tinggal sendiri aja. Karena mas Arka dan bi Sumi pasti akan sangat sibuk. Aku hanya bilang, nanti kalau jenazah bapak mau di berangkatkan, tolong kasih tau aku.


Sejenak aku langsung terlelap. Mungkin karena aku terlalu capek. Sampai beberapa saat kemudian, mas Arka membangunkan aku.


Katanya jenazah bapak akan segera di berangkatkan. Tapi akan di sholatkan dulu di masjid dekat rumah.


"Kalau perutmu masih sakit, sebaiknya kamu di rumah aja, Sayang," ucap mas Arka.


Aku gak mau. Aku ingin melihat bapak di makamkan. Aku ingin melihat bapak untuk terakhir kalinya.Dengan berat hati, mas Arka akhirnya mengijinkan.


Kami berjalan keluar kamar. Upacara pelepasan jenazah, sedang di lakukan. Kami berdiri di samping keranda dengan khikmad.


Sampai kemudian, jenazah di bawa ke masjid untuk di sholatkan. Mas Arka ikut menggotong keranda itu sampai ke masjid.


Aku masih belum beranjak dari tempatku berdiri. Sementara yang lain sudah membubarkan diri. Mereka menuju ke masjid.


"Kamu kenapa Ar?" tanya ibu, saat melihatku tak juga bergerak.

__ADS_1


Aku melihat ke bagian bawahku. Di betisku sudah terlihat aliran darah. Ibu pun ikut melihatnya. Aku memejamkan mata sejenak. Tak kuasa aku melihat darah yang terus mengalir.


"Astaghfirullah...jangan-jangan, kamu..." ibu tak melanjutkan kata-katanya. Dia memapahku untuk duduk.


__ADS_2