
Aku dan Yola sampai di rumah sudah agak sore. Karena tadi setelah kami makan, masih mencari beberapa barang yang belum sempat kebeli. Sekalian mumpung masih ada di sini.
Mas Arka dan Deni sedang menata beberapa barang belanjaan yang sudah diantar ke rumah.
Nanti kalau renovasi tempat sudah selesai tinggal di setting. Mungkin masih butuh waktu sekitar seminggu lagi. Jadi kemungkinan Yola masih di tanah air sampai dua minggu ke depan.
Mila menelponku, dia mengajak aku untuk cek darah besok pagi di rumah sakit. Aku mengiyakan meski aku bingung bagaimana cara keluarnya.
Karena pasti mas Arka akan banyak bertanya. Atau bahkan minta untuk ikut. Itu yang tidak mungkin.
Setelah aku dan mas Arka sampai di rumahku, aku semakin gelisah mencari alasan untuk bisa keluar besok pagi.
"Kamu kenapa, Ar?" tanya mas Arka.
"Mm. Tidak apa-apa, Mas." Aku berusaha menutupi kegelisahanku.
"Tapi kamu kayak orang yang sedang bingung?" tanya mas Arka lagi.
Sejak sembuh dari sakitnya, mas Arka jadi kayak cenayang. Dia bisa dengan mudah membaca pikiranku. Atau karena aku yang sering merasa gelisah?
Sampai malam pun aku tak bisa tidur. Aku sibuk memikirkan alasan untuk keluar besok pagi.
Ponselku berbunyi.
"Itu hape kamu bunyi. Angkat saja. Siapa tahu penting," ucap mas Arka.
Dengan malas, aku yang sudah rebahan meraih ponselku. Doni yang menelponku.
Aku menatap mas Arka sejenak. Mas Arka mengerti kalau aku butuh sendiri untuk mengangkatnya.
Dia pun berjalan keluar kamar. Aku menghela nafas lega.
"Hallo." Aku sengaja tak menyebutkan nama Doni. Takutnya kalau mas Arka mendengar. Karena rumahku sangat kecil. Kalau malam begini, suara sekecil apapun bisa terdengar.
"Ar. Tadi Mila menghubungiku. Dia bilang besok mau cek darah ke rumah sakit dengan kamu," ucap Doni dari seberang sana.
"Iya," jawabku singkat saja. Aku tak mau mas Arka mendengar pembicaraanku ini.
"Aku mau ikut sekalian. Aku juga butuh tahu kondisiku." Doni menjeda ucapannya.
"Iya," jawabku lagi.
"Besok aku jemput kamu jam berapa?" tanya Doni.
Aku bingung mau menjawab apa. Tak mungkin juga aku memberitahukannya lewat telpon.
"Nanti saja aku hubungi. Sudah malam, aku mau istirahat," ucapku agar Doni menyudahi panggilannya.
"Dengan suami kamu? Jangan, Ar. Tahan dulu. Jangan sampai...." Sebelum Doni melanjutkan omongannya, aku memutuskan panggilannya.
__ADS_1
Lalu menonaktifkan ponselku. Aku mau istirahat. Aku tak mau Doni kembali menelpon dan membuat mas Arka curiga.
Aku letakan kembali ponselku. Lalu aku menarik selimutku dan menutup badanku rapat-rapat.
Aku akan berpura-pura tidak enak badan agar mas Arka tak menyentuhku malam ini. Padahal kalau boleh jujur, malam ini cuacanya sangat panas. Tadi saja saat masuk ke kamar, aku menyalakan kipas angin.
Mas Arka masuk ke kamar.
"Kamu sakit?" Mas Arka menyentuh dahiku. Jelas saja panas badanku normal. Karena aku hanya berpura-pura.
"Enggak panas," ucap mas Arka.
"Badanku tidak enak, Mas," sahutku.
"Mau aku pijat?"
"Enggak, Mas." Jangan sampai mas Arka menyentuh tubuhku dan nanti kita sama-sama khilaf dan akhirnya...melakukan.
Aku tak mau melayani mas Arka dulu sebelum aku mengetahui keadaanku yang sebenarnya.
"Ya sudah. Kalau kamu kedinginan, aku matikan kipasnya, ya?"
Terpaksa aku menyetujuinya. Agar aksi pura-puraku tidak ketahuan.
Setelah mematikan kipas, dengan santai mas Arka membuka atasannya. Lalu merebahkan diri di sampingku.
Jantungku berdebar kencang. Aku takut kalau mas Arka mendekatiku dan aku tak bisa menahan diri. Karena jujur aku sangat merindukan sentuhan mas Arka.
"Iya," jawabku memegangi selimutku dengan erat.
"Aku ingin bertemu dengan anak kita. Dia pasti sudah besar, ya?"
"Iya, Mas. Aku juga kangen sama Aryaka. Tapi sekarang kan dia sedang diajak keluar kota sama Sarah," sahutku.
"Kamu percaya sama Sarah?" tanya mas Arka.
"Maksud kamu?"
"Kamu percaya merawat anak kita dengan baik?" tanya mas Arka lagi.
"Ada bik Yati, Mas. Dia tetap yang merawat dan mengasuh Aryaka. Sarah hanya memfasilitasi saja," sahutku lagi.
"Oh. Kamu harus janji setelah butik kita jalan, kita ambil Aryaka ya?"
"Iya, Mas. Aku janji. Aku sudah bilang sama Roni. Dan dia sudah menyetujuinya," ucapku.
"Kamu sudah bilang ke Sarah?" tanya mas Arka.
"Belum, Mas. Aku belum sempat menemuinya. Kalau ngomong lewat telpon kan enggak enak," jawabku lagi.
__ADS_1
"Ya sudah. Nanti kalau Sarah sudah kembali lagi, kita temui dia bareng-bareng, ya?" pinta mas Arka.
"Iya. Kita tidur yuk, Mas," ajakku.
"Kamu sudah ngantuk?" tanya mas Arka.
"He em." Lalu aku mencoba memejamkan mataku. Tapi aku tak juga bisa tidur, karena badanku terasa sangat gerah.
Aku tak mungkin melepaskan selimutku, karena resikonya mas Arka bisa saja menyentuhku.
Setengah mati aku mencoba untuk terlelap. Aku paksa mataku terpejam.
Aku merasakan berkali-kali mas Arka membolak balikan tubuhnya. Dia pasti juga merasakan gerah.
Aku tak bisa mengalah dan memintanya menyalakan kipas angin. Akhirnya entah jam berapa, mas Arka keluar dari kamar. Sepertinya dia tak bisa lagi menahan gerah.
Akupun menyingkap sedikit selimutku agar badanku mendapatkan sedikit udara. Baru setelah itu aku bisa tidur.
Pagi harinya aku bangun kesiangan. Jam tujuh aku baru membuka mataku. Mas Arka sudah tak ada di sampingku. Atau mungkin dia memang tidak tidur di kamar?
Aku turun dari tempat tidur, dan menyingkap korden jendela kamar. Matahari pagi sudah menampakan sinarnya.
Setelahnya aku berjalan keluar kamar. Aku mau langsung mandi. Semalaman tertutup selimut, membuat badanku terasa lengket.
Sampai di luar kamar, aku lihat mas Arka masih meringkuk di kursi panjang ruang tamu. Sepertinya benar dugaanku, dia tidur di luar karena tak tahan gerah.
Aku tak berniat membangunkannya. Biar saja dia tidur dulu. Siapa tahu dia masih ngantuk karena semalam susah tidur.
Aku masuk ke kamar mandi. Guyuran air membuat badanku terasa sangat segar.
Dengan handuk yang melilit di tubuhku, aku keluar dari kamar mandi.
Aku sangat terkejut melihat mas Arka yang sudah ada di depan pintu kamar mandi.
"Badanmu sudah enakan?" tanya mas Arka dengan khawatir.
"Sudah, Mas. Aku pakai baju dulu." Aku segera masuk ke kamarku dan menutup pintunya. Aku tak mau mas Arka mengikutiku.
Setelah aku berpakaian rapi, aku mengaktifkan ponselku.
Ada banyak notifikasi. Pesan dari Mila yang mengingatkanku ketemu di rumah sakit jam sembilan. Juga pesan dan banyak panggilan tak terjawab dari Doni.
Aku tak berniat menelpon balik. Aku hanya membuka pesannya. Dia akan menungguku di tempat biasa jam setengah delapan.
Reflek aku melihat ke arah jam dinding di kamarku. Jam tujuh lewat dua puluh lima menit. Itu artinya lima menit lagi Doni sudah sampai di depan gang.
Aku membuka pintu kamar. Mas Arka baru akan masuk ke kamar mandi.
"Aku mandi dulu, Ar," ucap mas Arka.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Begitu mas Arka masuk ke kamar mandi, tanpa pikir panjang, aku kemasi tasku dan aku melesat keluar rumah.