
Akhirnya dapat juga pembantu baru, seumuran bi Sumi. Itu lebih baik, untuk antisipasi jangan sampai mengganggu kestabilan rumah tanggaku. Walupun bisa jadi akan sulit jadi teman ngobrol, tapi minimal aku gak sendirian di rumah, saat mas Arka bekerja.
Setelah urusan pembantu selesai, kamipun pamit pulang. Karena besoknya mas Arka harus kembali bekerja. Dan ada rapat pagi-pagi.
Sampai di rumah kami, aku tunjukkan dimana kamar bi Yati. Ruangan-ruangan yang ada di rumah ini. Apa tugas untuknya. Termasuk tugas membersihkan rumah Yola. Biar Yola gak perlu mencari orang lagi untuk membersihkan rumahnya.
Sejak di rumah ada pembantu, mas Arka jadi semakin sibuk bekerja. Hampir tiap hari pulang telat, malah kadang sampai larut malam. Kalau aku protes, jawabannya selalu sama.
"Sebentar lagi anak kita akan lahir, kebutuhan akan makin banyak. Jadi mas harus makin rajin kerjanya."
Kalau udah urusan kebutuhan, aku mau bilang apa? Karena kenyataannya aku hanya seorang istri yang tidak punya penghasilan. Gak bisa meringankan beban suami.
Pernah suatu kali aku usul untuk bekerja, tapi mas Arka gak mengijinkan. Katanya, kamu cukup di rumah aja, jadi istri yang baik untuk suami dan nanti jadilah ibu yang baik untuk anak-anak kita.
Pagi ini mas Arka bilang, bakalan pulang telat lagi. Karena nanti sore ada pertemuan dengan klien di sebuah restauran. Jadi aku gak perlu menyediakan makan malam untuknya, karena pasti akan makan di sana.
Dan benar, tengah malam mas Arka baru pulang. Sampai ketiduran aku nungguinnya. Mas Arka selalu bilang, gak usah di tunggu, karena dia akan bawa kunci cadangan. Tapi udah kebiasaanku menunggu suamiku pulang, gak akan bisa tidur nyenyak kalau suamiku belum pulang, kecuali kebablasan.
Jam sebelas malam. Aku yang ketiduran di sofa ruang tamu, dibangunkan mas Arka. Dia baru saja datang. Aku segera bangun dan membuatkan teh hangat untuknya.
Setelah selesai membersihkan diri, mas Arka duduk di sebelahku, di ruang tengah. Dia menyeruput minumannya. Dia mengeluh kepalanya pusing lagi. Aku lihat juga wajahnya agak pucat.
"Mas sakit lagi?" Tanyaku. Mas Arka cuma menggeleng. Mengecup keningku sebentar, lalu tiduran di pangkuanku. Dia tiduran menghadap ke perutku. Awalnya dia menciumi perutku, lalu memeluk pinggangku. Aku mengelus kepalanya, tak lama dia tertidur.
Aku lihat dia sangat lelap. Tapi karena kakiku terasa kebas, aku bangunkan dia perlahan.
"Mas, bangun yuk. Tidurnya pindah ke kamar" mas Arka menggeliat. Dia membuka matanya, dan duduk. Dia memegangi kepalanya. Sambil memijitnya pelan. Aku membantu memijitnya.
__ADS_1
"Masih sakit, Mas?" Tanyaku. Dia mengangguk dan minta tolong aku mengambilkan obatnya.
Aku mengambilkan obat sekalian dengan air putih. Aku bantu meminumkannya. Aku menghela nafas. Lalu mengajaknya masuk ke kamar.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba mas Arka jatuh dan tak sadarkan diri. Aku berteriak memanggil bi Yati, pembantu baruku. Dia lari tergopoh-gopoh menghampiriku.
Bi Yati yang terbangun mendadak karena teriakanku, kelihatan masih bingung. Nyawanya belum kumpul.
"Bi, tolong bantu ini" ucapku panik. Karena dia masih saja terdiam.
Lalu bi Yati membantuku memindahkan mas Arka ke sofa tempat kami duduk tadi. Bi Yati aku suruh mencari minyak angin di kamarku.
Aku olesi hidung mas Arka dengan minyak angin. Juga seluruh badannya. Aku panik. Aku tak tau mesti bagaimana.
Bi Yati memijit-mijit jempol kaki mas Arka. Sambil dia mengolesinya dengan minyak angin.
Aku mengiyakan. Tapi mau naik apa? Sedangkan aku gak bisa bawa mobil sendiri. Malam-malam begini pasti sulit mencari mobil online. Walaupun tetap aku coba.
Lumayan lama aku baru bisa mendapatkan driver. Itu pun setelah mas Arka siuman. Aku menawarkan mas Arka untuk ke rumah sakit, tapi mas Arka menolaknya. Katanya, nanti juga membaik lagi. Dia hanya butuh tidur.
Akhirnya aku cancel orderan mobil online ku. Akupun mengabarkan pada ibu, mas Arka sudah siuman dan kondisinya baik-baik saja, kami tak jadi ke rumah sakit.
Ternyata ibu sudah bersiap menyusul ke rumah sakit. Tinggal menunggu kabar dariku. Akhirnya ibu janji besok pagi-pagi akan ke rumah. Ibu juga berpesan, mas Arka jangan berangkat kerja dulu.
Pagi harinya, mas Arka tetap ngotot berangkat kerja. Katanya ada meeting penting pagi ini. Makanya dia buru-buru berangkat dan melewatkan makan pagi.
__ADS_1
Di pintu depan kami berpapasan dengan ibu, yang baru saja sampai di rumah kami. Ibu yang khawatir kondisi kesehatan mas Arka pun berusaha melarangnya berangkat kerja. Tapi mas Arka menjawab ada rapat penting hari ini. Lalu bergegas meninggalkan rumah.
Ibu pun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Lalu ibu masuk ke dalam. Aku mengikutinya.
"Arka gak sarapan, Ar?" Tanya ibu melihat sarapan di meja masih utuh. Aku menggeleng lemah.
Ibu yang kebetulan belum sarapan, akhirnya ikut makan denganku. Sambil makan, aku mulai bertanya soal kesehatan mas Arka. Karena aku berfikir ini saat yang tepat untuk aku bertanya.
Awalnya ibu seperti enggan menceritakannya. Setelah aku terus mendesak, akhirnya ibu mau bercerita.
Ternyata mas Arka dari kecil memang sudah kurang baik kesehatannya. Dia anak yang pasif. Sampai saat menginjak remajapun ibu dan bapak melarang mas Arka terlalu banyak kegiatan. Karena kondisi fisiknya yang kurang baik. Dia sering sekali sakit.
Tapi mas Arka sering mencuri-curi kesempatan. Dia sering melakukan aktifitas tanpa sepengetahuan bapak dan ibu. Alasannya dia malu kalau teman-temannya tau tentang kondisinya yang sering sakit-sakitan. Akibatnya kesehatan mas Arka semakin tak bisa dikontrol.
Sampai dewasa kesehatan mas Arka sering naik turun. Bahkan sempat di rawat juga di rumah sakit. Hingga sekarang, hidup mas Arka ketergantungan obat.
Tapi ibu gak bilang apa penyakit mas Arka. Ibu hanya bilang kesehatan mas Arka yang sering drop kalau terlalu capek atau banyak pikiran.
Ibu meminta aku untuk selalu mengingatkan mas Arka tentang kesehatannya. Biar gak drop. Jangan banyak membebani pikirannya. Aku mengangguk.
Toh selama ini aku gak pernah neko-neko. Aku gak pernah menuntut macam-macam.
Selesai makan pagi bersamaku, ibu pamit pulang. Dan kembali mengingatkan aku. Termasuk juga aku untuk selalu menjaga kandunganku. Aku gak boleh kecapean. Gak boleh stres. Dan ini itu yang bikin aku pusing.
Bi Yati pun tak luput dari nasehat ibu. Banyak yang ibu tugaskan ke bi Yati selain tugas pokoknya mengerjakan pekerjaan rumah.
Setelah ibu pulang, aku mendapat panggilan dari mas Arka. Dia bilang obat-obatnya tertinggal. Kasihan sekali suamiku yang ketergantungan pada obat.
__ADS_1