SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 37 UNTUNG ADA BI SUMI


__ADS_3

Mas Arka sudah menghubungi ibu, untuk mencarikan pembantu buatku. Setidaknya kalau ada pembantu di rumah, ada yang menjaga aku jika terjadi sesuatu.


Ibu juga sangat setuju dengan keinginan kami. Dan ibu janji akan segera mencarikannya.


Hari minggu ini, kami akan ke rumah ibu. Sekalian membawa pembantu baru. Kata ibu, sudah ada yang mau. Dia anak tetangganya ibu.


Aku gak menanyakan usia pembantu itu, karena aku pikir gak penting juga. Yang ada di pikiranku, dia seusia bi Sumi.


Saat kami dipertemukan dengan orang itu, aku dan mas Arka saling berpandangan. Mas Arka mengangkat bahunya. Menandakan dia tak tau menahu soal ini.


Bagaimana tidak, orang yang akan menjadi pembantu kami berpakaian sangat seksi. Walaupun tidak seseksi Yola, sahabatku.


Dalam hati aku bertanya, apa gak salah ibu mencarikan orang? Dan sejak kapan ibu mentolerir perempuan berpakaian seperti itu?


Pertama kali ibu bertemu Yola pun, ibu sempat kaget. Melihat Yola berpakaian minimalis. Untung Yola adalah istri dari mas Deni, keponakan almarhum bapak. Jadi ibu gak perlu khawatir dengan ulah tetangga seksi.


Walaupun lalu ibu tau apa yang pernah terjadi antara kita dengan Yola. Sebelum akhirnya kita bersahabat dekat, bahkan ternyata kita bersaudara.


Ibu memberi tanda padaku, untuk masuk ke dalam. Akupun beranjak dari dudukku dan mengikuti ibu.


"Maaf, Ar. Ibu benar-benar gak tau kalau orang yang mau kerja sama kamu ternyata dia. Ibu memang gak paham banget tentang anak-anaknya tetangga ibu itu. Karena dia banyak anak perempuan" ucap ibu panjang lebar. Aku diam saja mendengar ucapan ibu. Mau komen tapi gak enak. Nanti dikira menyalahkan ibu.


"Gimana kamu, setuju apa enggak? Kalau enggak, nanti ibu bisa carikan lagi yang lain" tanya ibu.


Aku menelan ludahku. Berat kalau harus hidup serumah dengan perempuan lain, apalagi pakaiannya sangat tidak sopan. Bukannya aku gak percaya pada suamiku. Tapi mas Arka sendiri pasti akan merasa tidak nyaman di rumah.


"Jawab, Ar. Kamu punya hak untuk menolak" ucap ibu lagi.


Aku menatap wajah ibu, berharap ibu akan mendukung jawabanku. Ibu menganggukkan kepala, memahami keraguanku.

__ADS_1


"Kalau ganti yang lain aja, gimana bu?" jawabku hati-hati. Aku juga gak mau ibu jadi tersinggung dengan penolakanku.


"Ya sudah. Nanti ibu akan bilang ke orang tuanya. Sekarang biar ibu suruh dia pulang dulu" ucap ibu lagi, lalu berjalan kembali ke depan. Aku mengikutinya.


Sampai di pintu ruang tamu, aku dan ibu tercengang melihat pemandangan di depan kami. Perempuan itu, sudah berpindah tempat duduk. Dia duduk persis di kursi sebelah kursinya mas Arka. Kursi yang tadi aku duduki.


Dan dia sedang berbicara dengan suara yang di buat seseksi mungkin. Bahkan lebih mirip suara *******.


Padahal mas Arka tak begitu menanggapinya. Tapi dia tetap aja berceloteh. Kayak burung beo.


"Eheemm..." suara deheman ibu yang agak keras, membuat perempuan itu terdiam dan menunduk.


Di depan ibu, dia berlagak sopan dan patuh. Hadeh, jangan-jangan nanti dia akan menggoda suamiku. Walaupun aku tau betul, mas Arka bukan type laki-laki gampangan. Tapi ibaratnya kucing, di sediain ikan asin ya disikat.


Ibu duduk di kursi panjang depan mas Arka. Karena kursiku dipakai duduk perempuan itu, aku duduk di sebelah ibu.


"Siapa tadi nama kamu?" tanya ibu pada perempuan itu.


"Ah, iya. Ira Sumirah. Kamu sekarang pulang dulu ya. Nanti aku akan kabari bapakmu, kalau anak-anakku ini setuju mempekerjakanmu" ucap ibu menjelaskan.


Lebih banyak basa basinya sih. Karena kalau langsung menolak kan kesannya kurang etis.


"Lho, kata bapak saya, saya bisa langsung bekerja sekarang, Bu?" elaknya. Ibu agak kelagapan juga. Karena ibu tadi sempat bilang ke bapaknya Ira Sumirah itu, kalau hari ini aku dan mas Arka akan menjemputnya. Dan dia sudah bisa mulai bekerja.


"Iya benar. Tapi hari ini, anak-anakku mau tidur di sini. Masa iya kamu juga mau ikut tidur di sini?" ibu berusaha ngeles. Aku dan mas Arka hanya saling pandang dan sebisa mungkin menahan tawa.


"Tapi saya sudah bawa barang-barang saya, Bu. Itu koper saya sudah di teras. Dan saya juga sudah berpamitan sama keluarga, kalau hari ini saya akan mulai kerja" si Ira Sumirah masih saja mencoba bertahan. Ibu semakin kebingungan menjawab. Ibu menghela nafas panjang.


"Ya sudah. Kamu tunggu dulu sebentar, biar si Sumi memanggilkan bapakmu. Nanti kamu bisa pulang dulu dengan bapakmu" ujar ibu.

__ADS_1


"Atau saya bisa tidur malam ini bersama bi Sumi, Bu. Saya kan jadi bisa berkenalan lebih akrab dulu sama mas Arka," ucap si Ira Sumirah, nekat.


Gila nih orang. Gak punya malu banget. Diusir dengan cara halus gak mempan. Nyosor terus. Dan apa maksudnya bisa berkenalan akrab dengan mas Arka?


Aku mulai meradang. Sekarang bukan lagi menahan tawa, tapi menahan emosi. Benar-benar bikin emosi ini perempuan.


Sementara ibu kelihatan masih berusaha mencari kalimat yang baik, untuk mengusir perempuan ini. Ibu menengok ke arahku. Bukan meminta persetujuanku, tapi lebih tepatnya minta bantuanku, untuk mengusirnya.


Beruntung bi Sumi datang ke ruang tamu. Sepertinya dari tadi bi Sumi menguping dari dalam.


"Rah, kamu gak denger ibu bilang apa? Kamu di suruh pulang sekarang. Tinggal berdiri dan angkat koper kamu, susah amat sih!" ucap bi Sumi ketus, tanpa tedeng aling-aling.


Ira Sumirah memandang tak suka ke arah bi Sumi. Dia segera berdiri, melengos sambil menghentakkan kakinya. Dan berlalu begitu saja tanpa berpamitan.


Setelah si Ira Sumirah itu tidak kelihatan lagi, kami tertawa bareng. Emosiku yang tadi sempat mencuat, hilang begitu saja, saat melihat tingkahnya.


Benar-benar orang gak punya aturan. Bisa kacau rumah tanggaku kalau dia ada di dalamnya.


Bi Sumi menceritakan, kalau si Ira Sumirah ini adalah anak pertama dari pak Jono, tetangganya bi Sumi. Dia janda beranak banyak. Gak keitung, kata bi Sumi.


Dia beberapa kali menikah dan setiap kali menikah dapat tambahan anak. Semua suaminya kabur, karena si Ira Sumirah itu selalu ganjen dengan laki-laki lain.


Walaupun sudah punya suami, tapi hobinya menggoda suami orang. Udah pernah dilabrak oleh istri dari laki-laki yang di godanya, gak juga kapok.


Makanya pak Jono yang sudah pusing memikirkan anaknya ini, minta tolong bi Sumi untuk mencarikannya pekerjaan. Siapa tau kalau sudah bekerja terus sembuh penyakit ganjennya.


Bi Sumi bilang, padahal sudah diingatkan, untuk berpakaian yang sopan, eh masih aja pakai pakaian ketat. Alasannya dia gak punya baju longgar.


"Memang susah ngasih tau anak itu, Bu. Gak bisa dengan cara halus atau menyindir-nyindir kayak ibu tadi. Harus langsung. Tanpa tedeng aling-aling, Bu" ucap bi Sumi pada ibu.

__ADS_1


Hhh...untung ada bi Sumi.


__ADS_2