
Doni keluar dari kamar mandi. Dia kembali fokus dengan laptopnya. Sesekali saja dia melihat ke arahku.
Aku yang belum bisa tidur tak ingin memperlihatkan kegelisahanku. Biar Doni bisa fokus pada pekerjaannya. Karena biasanya kalau Doni sedang fokus artinya pekerjaannya sedang banyak.
"Kamu belum tidur?" tanya Doni.
"Belum ngantuk."
"Tidurlah. Sudah malam" ucap Doni.
"Iya. Kamu juga tidur dong. Besok kesiangan."
"Gampang. Nanti kalau sudah ngantuk pasti aku tidur" jawab Doni dan kembali serius dengan laptopnya.
Aku menatap lagi ke arah pintu. Tak ada apa-apa. Kenapa bayangan itu tidak muncul saat Doni ada?
Aku mencoba memejamkan mataku sebelum Doni tertidur. Tapi susah banget merem.
Aku melihat jam di hapeku. Sudah hampir jam dua malam. Doni sudah menguap dan menutup laptopnya.
Doni melihat ke arahku yang masih saja melek.
"Kenapa belum tidur? Sudah hampir pagi lho."
"Iya, ini mau tidur." Aku memejamkan mataku. Saat aku buka lagi mataku, Doni sudah meringkuk di sofa. Dia seperti kedinginan. Ingin rasanya menyelimutinya. Tapi apa dayaku. Aku tak bisa bangun dari tempat tidur.
Tiba-tiba bayangan itu datang lagi. Bayangan itu seolah menatap ke arahku. Aku memalingkan pandanganku.
Tapi mataku tak bisa diajak kompromi. Aku kembali melihat ke arah pintu itu. Bayangan itu masih ada di sana.
Jantungku makin berdegup dengan kencang. Keringat dingin sudah terasa di sekujur tubuhku.
"Don! Doni!" Berkali-kali aku mencoba memanggil tapi Doni tak mendengar. Malah aku mendengar suara dengkurannya.
Aku meraih hapeku. Aku berinisiatif mengaktifkan kamera. Dan mengambil gambar bayangan hitam itu.
Begitu kameraku on dan siap aku bidikan ke arah pintu, bayangan itu menghilang.
Kemana dia? Tak ada suara langkah kaki. Meski jarak antara ranjangku dan pintu agak jauh, tapi mestinya terdengar suara langkah kaki, karena tengah malam begini dan sangat sepi.
Aku mencoba memejamkan mataku. Sebisa mungkin aku merem. Entah berapa lama aku memaksa mataku terpejam.
Hingga aku mendengar suara langkah kaki yang cukup jauh. Mungkin di luar sana.
Dan tiba-tiba pintu kamarku dibuka perlahan. Aku membuka sedikit mataku. Belum terlihat apapun.
Aku melirik ke arah Doni walau mataku belum sepenuhnya terbuka. Doni masih meringkuk dengan nyaman. Suara dengkurannya malah semakin keras. Mungkin karena suasana makin sepi.
Pintu kamarku terbuka sedikit. Aku menunggu siapa yang akan masuk. Tapi tak kunjung terlihat.
__ADS_1
Aku meraih tombol untuk memanggil perawat. Dengan sebelah tangan aku pencet tombol itu. Tapi tak terdengar juga suaranya. Malah aku merasa tombol itu macet.
Pintu itu terbuka lagi sedikit. Dengan sekuat tenaga aku mencoba bersuara.
"Siapa itu?" Tapi suaraku seakan tercekat di tenggorokan. Dan yang terdengar oleh telingaku sangat pelan.
Aku tajamkan penglihatanku. Pintu berhenti tak bergerak lagi.
"Don! Doni!" Aku berusaha teriak memanggil Doni. Tapi suara yang keluar dari tenggorokanku sangat kecil.
Ingin rasanya aku lemparkan hape yang sedang aku pegang ke arah Doni agar terbangun. Tapi aku berfikir, kalau kena sih tidak masalah. Doni pasti akan bangun. Tapi bagaimana kalau tidak kena? Malah hapeku yang bakalan hancur.
Suara pintu berderik lagi. Terbuka sedikit lagi. Kali ini handlenya bergerak ke bawah. Itu artinya ada yang menggerakannya. Mustahil handle pintu yang terlihat sangat kuat bisa turun ke bawah sendiri.
"Siapa itu?" Aku kembali berteriak. Tapi seperti tadi, yang keluar hanya suara yang sangat pelan. Mungkin hanya aku sendiri yang mendengarnya.
Jantungku semakin berdetak dengan cepat. Keringat dingin benar-benar membanjiri tubuhku.
Sreekk!
Pintu terbuka lebar. Mataku juga terbuka lebar. Bayangan hitam itu berjalan menghampiriku.
Aku menatapnya dengan posisi terlentang. Wajahnya tertutup masker hitam. Kepalanya juga tertutup penutup kepala dari jaket yang dikenakannya.
Dia terus mendekat. Aku menahan nafasku. Ya, nafasku seakan berhenti. Tenggorokanku rasanya kering kerontang.
"Siapa kamu?" teriakku, meski dengan suara yang sulit sekali aku dengar.
Dia mengangkat kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam.
"Mau apa, kamu?" Aku terus berusah bersuara.
Kedua tangannya semakin mendekat ke arahku. Ke arah leherku.
Aku sudah membayangkan leherku bakalan patah kalau dia menyentuhnya. Apalagi sampai menariknya.
Kedua tangan kekar itu meraih rahangku. Kepalaku terangkat ke atas.
Dia mencekik rahangku dengan kuat. Aku berusaha menggerakan kedua tangan dan kakiku. Tapi sulit sekali. Malah yang terdengar suara hapeku yang jatuh.
Mungkin sudah pecah berkeping-keping. Sekuat tenaga aku mencoba berteriak meski leherku terasa tercekik.
"Aaakkhh...!"
Kakiku berusaha menendang ke arahnya, tapi susah karena terhalang selimut yang membungkus tubuhku.
Tanganku aku angkat dan....bugh! Bukan dia yang kena pukulanku. Tapi tanganku yang jatuh mengenai pinggiran tempat tidur. Aku mencoba berteriak lagi.
"Aaakkhhh...!"
__ADS_1
Tiba-tiba bayangan itu menghilang dan berganti tubuh Doni yang sudah berdiri di samping tempat tidurku.
"Ar! Aryani! Bangun!"
Aku merasa Doni menepuk-nepuk pipiku. Aku membuka mata. Kali ini benar-benar aku merasa membuka mataku dan melihat Doni yang sedang panik.
"Ar! Bangun!" Doni terus menepuk pipiku. Aku bisa merasakannya.
Doni terus memanggilku dan memintaku bangun. Padahal aku merasa sudah membuka mataku. Tapi kenapa Doni masih saja membangunkanku.
Aku berusaha mengangkat tanganku untuk menggapai Doni. Tapi tanganku terasa berat. Apalagi tangan kanan yang tadi jatuh mengenai besi di sisi tempat tidur. Terasa sangat sakit.
Aku bertanya pada diriku sendiri. Apa aku masih hidup? Atau sudah mati?
Kenapa Doni tak melihatku yang sudah membuka mata? Kenapa tangan dan kakiku sulit sekali digerakan?
Dan kenapa tak ada suara yang keluar dari mulutku?
Aku mencoba menggerakan kepalaku. Malah semakin tak mampu. Karena leherku masih dipasangi penyangga.
Dan aku merasa penyangga itu seakan membelengguku.
"Don! Doni!" Suaraku seakan tercekat di tenggorokan. Tapi telingaku masih bisa mendengar panggilan Doni.
Bahkan ketika beberapa perawat datang, aku masih bisa mendengar suara langkah kaki mereka.
Aku bisa melihat mereka memakai pakaian seragam putih. Aku juga masih melihat warna kemeja yang dipakai Doni.
Doni terus memanggil-manggil namaku. Tapi tiba-tiba pandanganku kabur. Pendengaranku pun memudar saat aku melihat dua orang perawat itu menyuntikan cairan ke selang infus yang menempel di telapak tanganku.
Aku merasa badanku terkulai lemah. Dan duniaku gelap.
Mungkin aku sudah mati. Mungkin malaikat sedang membawaku terbang ke langit.
Karena yang aku lihat kemudian warna putih bersih di sekitarku. Tak ada sekat apapun. Hanya warna putih tempat aku melayang.
Entah berapa lama aku berada di sana. Aku seperti tidak ada capeknya terus melayang. Tapi sendirian.
Hingga suatu saat, aku merasa bisa menggerakan lagi jemariku. Lalu aku bisa mengangkat tanganku dan menggerakan lagi kakiku.
"Ar! Kamu sudah sadar?" Aku bisa mengenali suaranya. Itu suara Doni. Dan juga suara Sarah yang ikut memanggilku.
Aku membuka mataku perlahan. Tak ada lagi tempat berwarna putih tanpa sekat. Yang ada dinding berwarna putih dengan televisi yang menempel di sana.
Ada Doni, Sarah dan Roni. Ada juga dua perawat yang masih aku kenali wajahnya.
Spontan aku melirik ke arah pintu ketika sudut mataku menangkap sebuah bayangan hitam.
"Aaahhhkkk...!"
__ADS_1