SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 147 LELAKI MASA LALU MILA


__ADS_3

"Buat apa konseling lagi? Kan udah ketahuan hasilnya," sahut mas Arka. Nadanya seperti menyindirku.


Tapi aku tak peduli. Toh, konseling itu memang penting untukku. Aku ingin benar-benar sehat dan tak lagi mendekati bahaya.


"Pulang, yuk." Aku berjalan duluan. Kalau mereka tak mau pulang bareng, aku bisa pulang sendiri. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Sebelum sampai di parkiran mobil, aku menoleh dulu. Memastikan apa mereka juga mau pulang.


"Kamu mau pulang sendiri?" tanya mas Arka dengan nada ketus.


"Kalau kalian mau pulang berdua, silakan aja." Aku tak kalah ketus.


"Kamu apa-apaan sih? Kayak anak kecil aja!" Mas Arka menarik tanganku.


Aku terpaksa mengikutinya masuk ke mobil Mila.


"Kamu mau di depan apa belakang, Ar?" tanya Mila. Mestinya dia tak perlu bertanya. Tadi saat berangkat kan aku duduk di depan.


"Depan." Aku langsung membuka pintu depan mobil. Malas rasanya kalau harus melihat mereka akrab ngobrol, sementara aku duduk sendirian di belakang. Bisa jadi kayak obat nyamuk.


"Kamu tadi konseling dengan dokter jutek itu, kan?" tanya Mila sambil menyetir.


"Iyalah. Siapa lagi?"


"Ih, aku sih ogah. Ganteng sih ganteng. Tapi juteknya kayak mau makan orang," sahut Mila.


"Dia ramah banget, Mil. Mungkin perasaanmu aja kali, Mil." Aku mencoba meluruskan pendapat Mila.


"Apa kamu yang sok ramah sama dia?" tanya mas Arka. Dia ikutan nimbrung. Tapi kalimatnya menyudutkanku.


"Kenal aja enggak. Ngapain pake sok ramah!" sahutku dengan ketus. Aku kesal banget sama mas Arka. Dia jadi berubah jutek denganku. Sedangkan dengan Mila, dia sangat care.


"Nyatanya dia jutek sama Mila," sahut mas Arka. Sepertinya dia berniat menyerangku.


"Mana aku tau!" Aku hanya mengangkat bahuku.


Aku sempat melihat Mila menatap mas Arka dari kaca spion. Ada senyuman di bibir Mila. Aku benar-benar merasa penasaran. Ada apa dengan mereka?


Aku akan mencari tahu. Entah bagaimana caranya, tapi aku harus tahu.


Kami pulang ke rumahku. Tentunya Mila mengantarkan kami dulu sebelum nanti dia kembali ke kosannya.


"Mau mampir, Mil?" Aku menawari Mila. Walaupun sebenarnya aku sendiri capek. Pingin istirahat.


"Boleh deh. Ada kopi, kan?" tanya Mila.

__ADS_1


"Ada. Tenang aja." Aku berjalan duluan. Karena aku yang pegang kunci rumah.


"Duduk dulu, Mil. Aku mau ke kamar mandi dulu." Sengaja aku pancing Mila. Aku ingin menjebak mereka.


Aku masuk ke kamar mandi. Sengaja aku menunggu dulu beberapa saat, sebelum diam-diam aku akan mengintip mereka.


Lima menit rasanya cukup untuk memberi waktu pada mereka. Aku mengendap-endap dan bersembunyi di balik dinding. Mereka sedang bicara serius.


"Ka, apa kamu yakin akan melanjutkan rumah tanggamu dengan Aryani?" tanya Mila.


"Kenapa enggak? Dia istriku. Satu-satunya milikku selain anakku, Mil," sahut mas Arka.


"Istri yang telah menghianati kamu? Orang yang pernah berhianat, bukan tidak mungkin akan kembali berhianat!" ucap Mila.


Menyakitkan sekali ucapan Mila. Kenapa Mila berkata seperti itu? Bukankan selama ini dia baik padaku? Tak ada rahasia diantara kami. Kenapa tiba-tiba berubah?


"Sudahlah, Mil. Jangan mengatur hidupku. Kamu dari dulu tidak pernah berubah. Selalu mencela dengan siapapun aku berhubungan," sahut mas Arka.


Dari dulu, kata mas Arka? Jadi mereka sudah kenal dari dulu? Apa jangan-jangan?


"Karena aku dari dulu mencintai kamu, Arka! Aku tak suka kamu berhubungan dengan perempuan lain. Aku pikir, dulu kamu menolakku dan mendapatkan perempuan yang jauh lebih hebat dari aku. Ternyata?"


Mila sangat merendahkanku. Jadi mereka sudah saling mengenal dari dulu? Dan dari dulu juga, Mila mencintai mas Arka?


Jadi lelaki yang diceritakan Mila tadi pagi, adalah mas Arka?


"Sudahlah, Mil. Lebih baik kamu pulang. Aku akan memulai lagi lembaran baru dengan Aryani," ucap mas Arka.


"Enggak! Kali ini aku tidak akan mengalah. Aku akan mendapatkanmu lagi, Ka. Apa hebatnya Aryani dibandingkan aku? Kita sama-sama pernah melakukan hal yang kotor. Aku masih sangat mencintai kamu, Arka!"


Mila bergeser dan mendekat ke mas Arka. Duduk mereka tak berjarak lagi.


Jantungku berdegup sangat kencang. Ingin sekali aku mendatangi mereka. Tapi bakal gagal jebakanku. Mereka pasti akan berkilah.


Mila meraih tangan mas Arka.


"Ka. Beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu," ucap Mila. Lalu dia mencium tangan mas Arka.


Aku mendengus kesal. Tapi masih berusaha menahan diri.


"Tidak bisa, Mil. Aku sudah menikah. Walaupun Aryani pernah menodai pernikahan kita, tapi aku bisa memakluminya. Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama kalau berada di posisinya," sahut mas Arka.


Mila malah mendekatkan wajahnya. Sebelumnya dia menoleh ke pintu tengah dulu. Sepertinya memastikan aku tak melihatnya.


Untungnya tempatku berdiri cukup tersembunyi. Tak terlihat dari ruang tamu.

__ADS_1


Tangan Mila meraih wajah mas Arka. Dan dengan rakus dia ******* bibir mas Arka.


Mas Arka terlihat berusaha mengelak. Tapi tangan Mila menahan kepala mas Arka, hingga mas Arka tak bisa lagi menjauh.


Mendapatkan kesempatan emas, Mila semakin buas. Bahkan suara sesapannya sampai ke telingaku. Membuat hatiku sangat panas.


Aku tak bisa lagi menahan diri. Aku melangkah mendekat.


"Apa yang kalian lakukan?" teriakku.


Spontan mas Arka menjauhkan wajah Mila. Mila menundukkan kepalanya. Dia terlihat sangat malu.


"Mil! Kenapa kamu lakukan itu? Tega sekali kamu!" seruku.


Tanpa menjawab pertanyaanku, Mila berdiri dan berlari keluar dari rumahku.


Aku menatap tajam mata mas Arka.


"Kenapa tidak kamu kejar, Mas?" tanyaku menyindirnya.


Mas Arka menghela nafasnya.


"Maafkan aku, Ar," ucap mas Arka.


"Maaf untuk apa?" tanyaku sinis.


"Untuk yang tadi. Aku tak pernah menginginkannya," jawab mas Arka.


"Tapi tak menolaknya?" sindirku.


"Kamu juga tak menolak kan, saat lelaki itu menyentuhmu?"


"Ooh. Jadi kamu mau membalasku? Membalas istri yang pernah menghianatimu?" Aku sudah tak bisa menahan emosiku.


"Sakit kan, Ar?" Jelas sekali pertanyaan mas Arka kalau dia berniat membalasku.


"Ya. Sekarang apa mau kamu, Mas? Mau memilih Mila? Silakan. Kalau kalian menilai orang yang telah berkhianat akan melakukan lagi pengkhianatan, aku juga boleh dong menilai orang yang gampang bercinta dengan banyak lelaki akan selalu melakukan dengan lelaki manapun."


Mas Arka diam saja.


"Silakan kalau kamu mau dengan perempuan yang sudah menjual dirinya untuk sebuah mobil dan kemewahan. Kamu kan enggak punya penghasilan, lumayan kan bisa makan dari hasil dia menjual diri!"


"Aryani! Jaga mulut kamu!" bentak mas Arka.


"Yang harusnya dijaga itu mulut kamu, Mas. Biar enggak gampang disosor perempuan lain!" Aku masuk ke kamarku dengan kesal.

__ADS_1


Tak aku kira, mas Arka mau saja disosor Mila.


__ADS_2