SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 58 MENCURIGAI BIMA


__ADS_3

Aku mendekati Yola yang sedang memeluk mas Arka sambil menangis tersedu-sedu. Aku pun ikut memeluk mereka.


Puas melepaskan kesedihan kami, aku dan Yola melepaskan pelukan. Yola menghapus air matanya sendiri, dan menghapus juga air mataku.


"Kenapa kamu tak pernah memberitahukannya padaku, Ar? Kamu biarkan hidup kalian menderita begini?" ucap Yola sambil kembali menangis.


Aku yang keluar air mata lagi, mengusap air mataku, dan bangkit dari lantai tempat kami terduduk. Lalu aku melangkah ke arah ruang tamu.


Aku memberikan kode pada Yola, agar mengikutiku. Aku gak mau mas Arka mendengar percakapan kami, dan ikutan sedih.


Aku menceritakan kejadian yang menimpa kami. Mulai dari aku yang kehabisan uang lalu menjual mobil. Sampai uang dan barang-barang berhargaku termasuk semua hape kami yang raib di ambil maling.


Aku menceritakan semua dengan terbata-bata dan air mata yang terus mengalir di pipiku.


Aku juga menceritakan bagaimana kami selama beberapa hari ini harus makan seadanya dari uang hasil menjual lemari.


Yola memelukku erat. Dia ikut menangis lagi. Sangat prihatin melihat kondisi kami.


"Ibu mertua kamu tau kondisi kalian?" tanya Yola.


Aku menggeleng. Lalu aku juga menceritakan kalau aku dengan uang pas-pasan pernah ke rumah ibu mertuaku, tapi gak ketemu.


Lalu ibu yang sepertinya datang ke sini dan meninggalkan satu paper bag roti kesukaanku di teras rumah. Dan sejak itu ibu tak pernah ke sini lagi.


Juga tentang bi Yati yang diminta menemani ibu selama bi Sumi ijin. Dan juga tentang Bima yang ijin pulang tapi terus menghilang bagaikan ditelan bumi.


Yola menyimak ceritaku dengan serius. Dahinya berkerut seperti memikirkan sesuatu.


"Kamu kenal Bima di mana?" tanya Yola.


"Dari seorang Perawat di Rumah Sakit. Dia yang merekomendasikan Bima" jawabku.


"Terus kamu begitu saja mempercayainya?" tanya Yola lagi.


Aku mengangguk. Tapi tak mengerti apa maksud pertanyaan Yola sebenarnya.


Yola menghela nafasnya.


"Sejak dia pamit pergi, Bima sama sekali tak pernah balik ke sini lagi?" tanya Yola lagi. Aku mengangguk lagi.

__ADS_1


"Dan Bima tau di mana kamu menyimpan uang dan barang-barang berhargamu?" Yola masih terus saja mencecarku dengan pertanyaan tentang Bima.


"Oke, di mana kamarnya?" tanya Yola. Aku menunjukan kamar yang di pakai oleh Bima.


Yola berdiri dan berjalan masuk ke kamar itu. Yola menyalakan lampu kamar, dan membongkar semua yang ada di kamar itu.


Aku yang mengikuti Yola hanya diam memperhatikan apa yang dilakukannya.


"Ar, kenapa kamu jadi orang terlalu polos? Terlalu gampang percaya oleh orang yang baru kamu kenal?"


Aku makin bingung dengan pertanyaan Yola.


"Coba kamu ingat-ingat lagi, barang apa saja yang ada di kamar ini, selain milik si Bima itu?"


Aku berusaha mengingat semuanya. Lalu aku membongkar meja kerja mas Arka. Laptop milik mas Arka gak ada.


Aku ingat, mas Arka memiliki beberapa koleksi jam tangan bermerk yang harganya gak murah, juga gak ada.


Aku terdiam melihat isi laci tempat menyimpan barang-barang itu yang kosong.


Kepalaku berdenyut. Apa mungkin Bima yang mengambil semuanya?


Aku duduk di tempat tidur, dengan kepala yang semakin berdenyut.


"Kamu tau di mana Bima tinggal?" tanya Yola lagi.


Aku semakin menyesali kebodohanku. Bahkan aku tak pernah tau di mana Bima tinggal.


Dulu memang Bima pernah memberikan KTP nya padaku. Aku yang terlalu mudah percaya, hanya membacanya sekilas. Tanpa meminta foto copy-annya ataupun memfoto-nya.


Bahkan ibu mertuaku tak pernah sedikit pun mencurigai Bima. Karena selama dua bulan bekerja, dia sangat sopan. Kecuali saat dia selalu menggodaku, dan aku larut dalam cumbuannya.


Aku jadi malu pada diriku sendiri. Aku begitu mudahnya tergoda oleh seorang penipu seperti Bima.


"Dia sangat baik, sopan. Orangnya sabar, telaten dan cekatan. Dia sangat profesional. Itu makanya aku dan ibu sangat percaya padanya" ucapku dengan mata masih berkaca-kaca.


"Iya, pastinya dia akan membuat kalian percaya dulu padanya. Dia mempelajari semua isi rumah ini perlahan-lahan. Bahkan mungkin rumah ibu mertuamu" ujar Yola.


Oh, ya ampun. Aku menepuk dahiku.

__ADS_1


"Lalu apa kira-kira yang dilakukannya di rumah ibuku?" tanyaku. Yola mengangkat bahunya.


"Coba saja tanyakan pada ibu mertuamu" jawab Yola.


Kalau benar Bima yang melakukan semua ini, lalu apa yang harus aku lakukan?


Melaporkannya ke Polisi? Sedangkan aku saja tak punya bukti. Identitas aslinya juga aku tak tau. Karena aku terlalu menggampangkannya.


Pantas saja Bima sering lama berada di kamarku. Alasannya mas Arka BAB, sehingga dia mesti membersihkannya.


Aku membiarkannya karena itu memang tugas Bima. Dan aku lebih suka menunggu sambil menonton televisi.


Aku jadi ingat bi Yati. Dia kelihatan tak begitu menyukai Bima. Dan bodohnya aku, tak pernah mencari tau kenapa bi Yati tak menyukainya.


Oh iya, bi Yati juga tak pernah mengijinkan Bima memasuki rumah Yola. Kunci rumah Yola selalu disimpan sendiri oleh bi Yati.


Misalnya Bima aku suruh membersihkan rumah Yola pun, bi Yati hanya mengijinkan memebersihkan bagian luarnya saja. Seperti merawat tanaman-tanaman Yola yang ada di halaman.


Pasti bi Yati bilang, bagian dalam sudah bersih. Karena memang dua atau tiga kali hari sekali bi Yati membersihkannya.


Bahkan ketika bi Yati bilang padaku keran kamar mandi di rumah Yola macet, bi Yati lebih memilih menyuruh satpam komplek yang membetulkannya.


"Sekarang, apa yang bisa kita lakukan?" tanyaku pada Yola.


Yola diam. Dia tampak berfikir keras. Dia bahkan sampai berjalan mondar-mandir di depanku.


"Kita tanyakan ke satpam, apakah pada malam kejadian itu Bima datang ke sini" jawab Yola.


Iya juga, kalau orang asing yang datang malam-malam, biasanya akan di tanya identitasnya oleh mereka.


Apalagi kalau rampok, yang membawa banyak barang. Pasti akan dicurigai.


Barang-barangku yang hilang, jika dimasukan ke dalam tas, tak akan membuat curiga mereka.


Aku lalu membuka kembali lemari kecil tempat pakaian Bima. Aku ingat, setelah Bima pergi, aku sempat membuka lemari itu.


Baju Bima hanya beberapa saja yang di tinggal. Tapi sekarang lebih banyak.


"Apa mungkin malam itu dia datang. Lalu melihatku yang terlelap di sofa, lalu dia menggasak uang dan barang-barangku? Dan dia membawanya dengan tas ranselnya dan semua isi ranselnya dia masukan dulu ke dalam lemari ini?" Yola menjentikan jarinya.

__ADS_1


"Tepat! Dia melihat peluang terbuka lebar. Kamu yang tidak menutup pintu rumah. Dia bisa masuk ke dalam komplek ini, bahkan ke rumahmu tanpa di curigai. Lalu dia menyelesaikan semuanya dengan cepat. Karena dia sudah hafal tempat-tempat barang yang diincarnya" ujar Yola panjang lebar.


Aku mengangguk lemah. Seandainya memang Bima yang melakukan semua ini...tega sekali dia padaku.


__ADS_2