
Selesai makan pagi dan mengurusi mas Arka, aku dan Yola pergi ke rumah ibu mertuaku. Karena nomor whatsapp bi Yati tak juga aktif. Bahkan nomor ponselnya juga tak bisa di hubungi.
"Mas, aku dan Yola pamit ke rumah ibu sebentar ya...Mas Arka tunggu saja dulu di rumah." Pamitku pada mas Arka.
Bagaimana pun kondisinya, mas Arka adalah suamiku. Sejauh ini aku masih memegang teguh ajaran ibuku. Bahwa kemana pun istri pergi harus ijin pada suami.
Kami memang tak mungkin mengajak mas Arka, karena kondisinya yang belum memungkinkan.
Kami khawatir kalau terjadi sesuatu pada mas Arka di jalan. Tenaga kami tak akan kuat untuk mengangkatnya.
Kami berangkat dengan taksi online yang dipesan Yola lewat aplikasi ponselnya. Dan Yola juga bilang mau membelikan aku sebuah ponsel baru untuk komunikasiku.
Itu makanya kami tak bisa membawa serta mas Arka. Kami nanti akan mampir ke sebuah pusat perbelanjaan.
Sesampainya di rumah ibu, kami mendapati rumah ibu yang sepi. Pintu rumah tertutup rapat. Kami berpandangan, dan sama-sama mengangkat bahu.
Aku mengetuk pintu dan mengucap salam. Berkali-kali aku dan Yola bergantian melakukannya, tapi pintu rumah tak juga terbuka.
Aku berinisiatif menanyakan pada tetangga sebelah. Mungkin akan ada informasi tentang ibu mertuaku.
"Assalamualaikum..." Aku mengucap salam ke rumah sebelah. Tak lama seorang wanita tua keluar. Aku mengenalinya karena dia sering membantu bi Sumi di dapur.
"Waalaikumsalam..." jawab bu Tuti. Lalu kami menanyakan keberadaan ibu mertuaku.
Aku dan Yola sangat terkejut mendengar penuturan bu Tuti. Kalau ternyata ibu mertuaku sudah hampir seminggu di rawat di rumah sakit.
Aku menayakan di Rumah Sakit mana ibu mertuaku di rawat. Setelah mendapatkan jawaban, aku dan Yola bergegas menuju ke sana.
Sepanjang perjalanan, aku dan Yola hanya saling diam. Aku dengan perasaan bersalahku sendiri. Menyesali diri kenapa di saat seperti ini, aku malah tak tau sama sekali tentang kondisi ibu mertuaku.
Tak sadar aku terisak. Dan isakanku rupanya didengar oleh Yola. Dia meraih pundakku dan memelukku erat.
"Sudahlah, Ar. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua tak ada yang menginginkan keadaan ini. Sabar...ikhlas, ya?" ucap Yola sambil tangannya menepuk-nepuk bahuku pelan.
__ADS_1
Yola sepertinya paham apa yang aku rasakan. Yola memang sangat bisa memahami perasaanku. Itu salah satu hal yang membuat aku sangat merasa nyaman berteman dengan Yola.
Aku mengangguk pelan. Aku usap air mataku yang mengalir perlahan di pipiku. Sekuat hati aku mencoba untuk kuat menghadapi semuanya.
Tak lama kami pun sampai di Rumah Sakit di mana ibu mertuaku dirawat. Dan kami segera mencari informasi di mana kamar ibu mertuaku dirawat, sesuai informasi dari bu Tuti tadi.
Sesampainya di ruang rawat ibu, aku benar-benar terkejut melihat kondisinya. Begitu juga Yola yang hanya diam mematung di pintu masuk.
Ibu mertuaku terbaring lemah di ranjang kecil. Kondisinya mirip sekali dengan mas Arka saat awal dirawat dan juga bapak mertuaku saat di rawat dulu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Di sekujur tubuhnya banyak dipasang alat-alat medis. Dan beberapa selang terhubung dengan layar monitor.
Suara dari layar monitor itu sangat membuat bulu kudukku meremang. Aku menatap layar itu. Detak jantung ibu masih terdengar stabil.
Di sebuah kursi sofa kecil, bi Yati tertidur meringkuk. Sepertinya dia sangat kelelahan.
Aku dan Yola menghampiri ranjang tempat ibu mertuaku berbaring. Aku meraih tangan tua yang sudah mulai keriput itu.
Yola mendekatiku dan memelukku erat. Aku terus saja menangis. Air mata tak bisa lagi aku bendung.
Suara tangisanku membuat bi Yati terbangun dari tidurnya. Dia buru-buru beranjak dari sofa kecil itu.
"Bu Aryani...kapan ibu datang? Ibu baik-baik saja? Bagaimana keadaan pak Arka, Bu?" tanya bi Yati bertubi-tubi.
Lalu mata bi Yati menatap Yola. Walaupun bi Yati yang aku tugaskan membersihkan rumah Yola, dan Yola juga membayarnya, tapi mereka belum pernah ketemu.
Mereka hanya berkomunikasi via hape. Itu pun karena Yola aku berikan nomor bi Yati. Agar Yola bisa memberikan tugas langsung ke bi Yati.
"Ini bu Yola. Dia baru pulang kemarin sore" jawabku mencoba memberitahukan pada bi Yati.
Bi Yati langsung mendekati Yola dan memberikan salam. Aku tak menyangka jika Yola langsung meraih tubuh bi Yati dan memeluknya erat.
Aku tak pernah berfikir kedekatan mereka sampai sebegitunya. Yola memang orang yang baik. Dia tak pernah membedakan siapa pun dalam bergaul.
__ADS_1
Lalu Yola membawa bi Yati duduk kembali ke sofa. Aku masih berdiri di sisi ranjang ibu mertuaku.
"Bi, tolong jelaskan pada kami bagaimana kondisi ibu. Dan kenapa ibu bisa sampai di rawat dan kenapa juga tak ada yang memberitahukannya pada Aryani" tanya Yola bertubi-tubi.
Bukannya menjawab, bi Yati malah menangis sesenggukan. Aku mendekati mereka. Yola mengalah, memberikan tempatnya duduk padaku.
"Ceritakan, Bi. Kami tak akan menyalahkan atau memarahi Bibi" ucapku sambil menepuk bahu bi Yati.
Bi Yati menghapus air matanya, dan mulai menghentikan tangisnya. Lalu bi Yati mulai menceritakan semuanya dengan detail.
Beberapa hari yang lalu, ibu terjatuh di kamar mandi dan pingsan. Bi Yati dengan dibantu beberapa tetangga, memindahkan ibu ke kamar, dan mencoba membangunkan ibu dari pingsannya.
Setelah ibu siuman, tak lama ibu merasa sangat lemas. Lalu bi Yati dan para tetangga berinisiatif membawa ibu ke Rumah Sakit.
Bi Yati tak dapat menghubungi aku karena ponselnya hilang. Menurut bi Yati, ponselnya dia letakan di kamarnya malam itu, tapi besok paginya sudah tak ada, ketika di tinggal bi Yati memasak di dapur.
Bi Yati pernah mendatangi rumahku, tapi katanya rumahku terkunci. Dan kelihatan sepi. Mungkin aku sedang kewarung.
Karena sejak kejadian kemalingan waktu itu, aku selalu mengunci pintu walaupun cuma pergi sebentar.
"Waktu itu, aku juga pernah ke rumah ibu. Tapi kata tetangga, ibu ke Rumah Sakit. Aku cari di Rumah Sakit ini, tapi gak ketemu. Lalu pas aku sampai di rumah lagi, ada satu paper bag berisi Roti di meja teras. Apa itu ibu yang meletakannya?" tanyaku.
Bi Yati mengangguk mengiyakan. Hari itu bi Yati mengantar ibu mertuaku ke Rumah Sakit untuk check-up.
Pulangnya, ibu pingin mampir ke rumahku. Tapi rumahku terkunci. Karena sudah menunggu cukup lama, dan sudah mulai sore, akhirnya ibu meninggalkan roti yang sengaja dibeli untukku di meja teras.
Ibu mertuaku dan bi Yati sudah berkali-kali menelfonku, tapi nomorku tak bisa di hubungi. Nomor Bima pun tak aktif.
Aku tercengang mendengar tentang Bima. Kenapa nomor Bima juga tak bisa di hubungi? Atau mungkin setelah peristiwa itu, Bima menonaktifkan ponselnya?
Aku dan Yola kembali berpandangan. Sejenak kami saling diam, mencoba memikirkan apa dugaan kami tentang Bima benar.
"Fix! Pasti dia yang melakukan itu semua!" ujar Yola mengagetkanku dan bi Yati.
__ADS_1