SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 64 IBU MERTUAKU MENINGGAL DUNIA


__ADS_3

"Yol, maafin aku gak bisa nganterin kamu ke Bandara, ya?" ucapku saat Yola sudah siap dengan kopernya.


"Gak apa-apa, Ar. Kamu di rumah aja nungguin Arka. Jangan lupa kalau kamu melahirkan, kabari aku. Kalau bisa nanti aku kembali lagi ke sini."


"Pasti aku kabari, Yol. Tapi kamu jangan memaksakan diri kembali. Tak perlu memikirkan aku, selesaikan saja persoalan rumah tanggamu. Ambil keputusan terbaik, Yol."


Lalu aku memeluk erat Yola. Kami sama-sama menangis. Sedih karena harus berpisah lagi dengan sahabat terbaik.


Setelah taksi online yang dipesan Yola datang, dia memelukku lagi.


"Jaga diri baik-baik, Yol" ucapku.


"Kamu juga, Ar. Salam buat Arka ya" ucap Yola. Lalu dia melangkah keluar halaman. Aku hanya memandangnya dari teras.


Seperti ada yang hilang saat melepas Yola pergi. Dia satu-satunya sahabatku. Orang yang selalu siap mendengarkan keluh kesahku.


Setelah Yola pergi, aku ke kamarku. Aku berbaring di sisi mas Arka. Dia masih membuka matanya.


"Mas, kapan kamu sembuh? Aku kesepian, Mas" ucapku di telinga mas Arka.


Aku mengambil tangan mas Arka. Aku kecup lama. Tangan yang masih belum bertenaga. Masih lemas.


Sudah hampir tiga bulan mas Arka diam tak berdaya. Sebagian tubuhnya lemas seperti tak bertulang.


Tak bisa merespon apapun dengan baik. Kata Dokter ada penyumbatan aliran darah di otaknya.


Segala cara sudah dilakukan oleh dokter. Obat sudah banyak di berikan. Bahkan pengobatan alternatif juga sudah di jalani.


Tapi belum ada perkembangan yang berarti. Hanya kadang-kadang aja tangannya bergerak perlahan. Atau menggeser tubuhnya tanpa sepengetahuanku.


Kini aku sudah tak punya lagi biaya untuk pengobatan mas Arka. Walaupun aku sudah mengurus BPJS untuknya, tapi aku tak bisa membawanya ke Rumah Sakit.


Karena untuk ke Rumah Sakit juga harus menggunakan taksi online. Aku tak punya cukup biaya untuk membayar taksi online-nya.


Dan aku juga tak kuat mengangkatnya naik turun mobil. Bahkan untuk menaikannya di kursi roda pun, aku tak kuat.


Untuk kebutuhannya saja aku harus bisa berhemat. Entah bagaimana kalau nanti aku melahirkan.


Untung kemarin Yola sudah banyak membelikanku kebutuhan untuk calon anakku. Walaupun tak terlalu banyak, tapi cukuplah untuk bayiku saat lahir nanti.

__ADS_1


Hapeku berbunyi. Aku lihat ada panggilan dari nomor ibu mertuaku. Aku bernafas lega. Ibu sudah bisa menghubungiku, berarti sudah sehat.


"Hallo...ya, Waalaikumsalam...iya..iya...aku segera ke sana"


Suara bi Yati yang menelfonku. Mengabarkan kondisi ibu mertuaku. Kritis.


Aku bergegas ganti pakaian. Dan memesan taksi online, dengan uang yang di berikan oleh Yola, sebelum berangkat.


"Mas, aku ke Rumah Sakit dulu ya. Mau lihat kondisi Ibu" pamitku pada mas Arka.


Lalu aku bergegas keluar rumah menunggu taksi online pesananku datang.


Agak lama rasanya menunggu beberapa menit. Aku gelisah. Takut terjadi sesuatu dengan ibu mertuaku.


Akhirnya taksi pesananku datang. Aku buru-buru naik dan menyuruh pak sopirnya melajukan mobil agak kencang biar cepat sampai.


Hatiku ketar-ketir. Bagaimana kalau ibu mertuaku tak tertolong? Tak ada lagi orang tua. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Bapak mertuaku pun sudah berpulang.


Sampai di Rumah Sakit, aku buru-buru menuju kamar inap ibu mertuaku. Di depan kamar, bi Yati kelihatan sangat gelisah. Aku menghampirinya.


"Bagaimana kondisi ibu, Bi?" tanyaku dengan nafas ngos-ngosan karena berjalan agak cepat.


"Dokter sedang memeriksanya, Bu. Tadi ibu sempat siuman sebentar. Tapi terus koma" jawab bi Yati.


Aku tak sanggup melihatnya. Apalagi mendengar suara monitor yang hilang timbul.


Aku agak menjauh, sambil menyeka air mataku yang tak bisa aku bendung lagi.


Tak lama, aku melihat beberapa tetangga ibu mertuaku berdatangan. Ada juga pak RT yang masih keponakan ibu mertuaku.


Aku pun berjalan mendekat ke kamar ibu lagi. Mereka satu per satu menyalamiku.


Pak RT menanyakan kondisi mas Arka. Dia berumur beberapa tahun lebih tua dari mas Arka.


"Bagaimana kondisi Arka, dek Aryani?" tanya pak RT yang kalau aku gak salah ingat, namanya mas Teguh.


"Masih belum ada perkembangan, Mas" jawabku.


"Maaf ya, aku belum bisa menengok ke sana. Pekerjaanku lagi banyak. Hampir tiap hari pulang malam terus. Ini tadi kebetulan aku lagi cuti" ucap mas Teguh.

__ADS_1


Mas Teguh pernah membezuk mas Arka waktu masih dirawat di Rumah Sakit dulu. Tapi setelah pulang ke rumah malah tak ada satu pun saudara mas Arka yang datang.


"Iya, gak apa-apa mas" jawabku. Lalu kami terlibat pembicaraan ringan seputar penyakit mas Arka.


Ternyata mas Arka memang sudah sering sakit dari masih kecil. Semua saudaranya sudah tau. Tapi tak ada yang mengira kalau suatu saat mas Arka akan mengalami stroke seperti sekarang.


"Dek, boleh saya minta nomor hapenya dek Aryani? Buat jaga-jaga kalau nanti dek Aryani mau melahirkan, bisa menghubungi saya. Semoga pas saya lagi off jadi bisa mengantar ke Rumah Sakit" ucap mas Teguh.


Aku memberikan nomor baruku. Ya siapa tau nanti ada gunanya saat aku mau melahirkan.


"Makasih, dek. Aku misscall ya? Kalau perlu bantuan jangan segan-segan menghubungiku" ucap mas Teguh. Lalu dia memanggil nomorku.


"Save, dek. Itu nomorku" ucap mas Teguh.


Aku melihat ada fotonya dan seorang perempuan di foto profil whatsapp nya.


"Itu foto almarhumah istriku, dek. Dia meninggal setahun yang lalu, saat melahirkan anak pertama kami."


Aku mengangguk dan ikut prihatin mendengarkannya. Ternyata mas Teguh seorang duda.


Dokter yang tadi memeriksa ibu mertuaku, keluar. Dia menanyakan keluarga pasien.


Aku dan mas Teguh menghampiri. Karena memang hanya kami keluarganya. Selebihnya mereka tetangga ibu mertuaku yang tadi ikut mas Teguh.


"Bagaimana kondisi ibu mertua saya, Dok?" tanyaku dengan perasaan was-was.


Dokter menghela nafas, lalu memandang kami satu per satu.


"Maaf sebelumnya. Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi Allah berkehendak lain. Ibu mertua anda tidak bisa tertolong lagi. Penyakit beliau sudah kritis saat di bawa kemari" ujar Dokter itu.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun" ucap mas Teguh.


Seketika kepalaku berdenyut. Bumi seakan berputar. Aku sedikit limbung dan hampir jatuh.


Untung mas Teguh dengan sigap menangkap tubuhku. Aku terjatuh di pelukan mas Teguh.


Lalu mas Teguh membimbingku ke sebuah kursi, dan mendudukan aku di sana.


Tubuhku terasa lemas semua. Pikiranku kacau. Di saat suamiku belum sehat, ibu mertuaku meninggal dunia.

__ADS_1


Bagaimana caraku menyampaikan kabar ini ke mas Arka? Sedang dia tak bisa merespon.


"Yang sabar, dek. Jangan panik. Saya yang akan mengurus semuanya. Jangan khawatir ya?" ucap mas Teguh. Aku hanya mengangguk pasrah.


__ADS_2