
Doni mengantarkan istrinya pulang. Mungkin untuk memastikan agar istrinya tidak kembali lagi ke proyek. Atau memang mau menyelesaikan urusan mereka berdua.
Aku sudah tak peduli. Aku sudah terlanjur sakit hati dengan ucapan kasar dari istrinya Doni.
"Ron, aku mau pulang." Aku ambil tasku dan berdiri.
"Aku antar, Ar." Roni pun ikut berdiri.
"Enggak usah, Ron. Aku bisa pulang sendiri," sahutku yang masih kesal.
"Jauh, Ar. Biar aku antar, enggak apa-apa." Roni tetap memaksa mengantar.
Aku pun menurut dan naik ke mobilnya Roni.
Sepanjang perjalanan, aku tak banyak bicara. Aku sudah sangat kesal pada istrinya Doni. Walaupun sadar aku salah.
"Omongan Maya jangan diambil hati, Ar," ucap Roni.
"Dia memang begitu orangnya. Suka seenaknya saja kalau ngomong," lanjut Roni.
"Kamu tahu enggak, dulu Maya pun pernah memaki papanya Doni. Itu makanya papanya Doni sangat marah. Dan akhirnya merelakan Doni mengambil keputusannya sendiri." Roni mulai membuka kartu tentang Maya.
"Memaki bagaimana?"
"Saat papanya Doni marah gara-gara Doni menghamili Maya. Maya malah memaki papanya Doni habis-habisan."
"Dan Doninya malah membela Maya?" tanyaku tak mengerti dengan sikap Doni.
"Doni serba salah, Ar. Meski dia juga sangat marah pada sikap Maya, tapi Doni tak bisa meninggalkan perempuan yang sedang mengandung anaknya."
"Dan akhirnya Doni tetap memilih menikahi perempuan yang telah memaki papanya sendiri?" tanyaku lagi.
"Itulah kesalahan Doni yang paling besar. Dia rela meninggalkan keluarganya demi perempuan yang enggak bener kayak Maya."
"Enggak bener bagaimana?" Aku menatap wajah Roni yang kelihatan kecewa dengan sikap Doni waktu itu.
"Kami, maksudnya aku dan Sarah enggak yakin kalau anak yang dikandung Maya adalah hasil perbuatannya dengan Doni."
Aku makin tertarik dengan cerita Roni.
"Maya pernah punya hubungan juga dengan...." Roni menatapku sekilas.
"Siapa?" Aku makin penasaran.
"Teguh!"
Seketika aku melongo. Saking terkejutnya.
"Mas Teguh?"
Roni mengangguk.
__ADS_1
Ini gila! Kenapa semua orang pernah berhubungan dengan mas Teguh?
Maya, Sarah dan juga aku.
"Doni tau?"
"Tau. Tapi Doni berfikir kalau hubungan mereka sudah berakhir. Dan saat itu Doni tidak begitu mengenal siapa Teguh. Bahkan saat Sarah tersangkut hubungan dengan Teguh."
Jadi makin rumit masalahnya. Mas Teguh jadi nyangkut kemana-mana.
"Kalian curiga kalau waktu itu Maya mengandung anaknya mas Teguh?"
Roni mengangguk. Aku bergidig ngeri.
"Tapi kami tidak bisa membuktikan. Karena Maya akhirnya harus kehilangan bayinya sebelum dilahirkan. Susah kan membuktikannya?"
"Iya sih. Yang paling tahu ya Maya sendiri," jawabku.
"Itulah. Dan Maya selalu mengatakan kalau dia mengandung anaknya Doni. Dan dia selalu minta pertanggungjawaban Doni sampai sekarang."
"Tapi kan anaknya Maya meninggal? Minta tanggung jawab apa lagi?" tanyaku makin tak mengerti.
"Saat Doni diusir oleh keluarganya, keluarga Maya yang menanggung hidup Doni. Termasuk biaya kuliahnya. Meskipun akhirnya Doni mencari kerja sampingan untuk membiayai kuliahnya sendiri."
"Dan itu selalu diungkit-ungkit oleh Maya?" tanyaku lagi.
"Iya. Seakan-akan itu hutang Doni pada keluarganya Maya yang tak pernah lunas."
"Itu bukannya Doni, Ron?" Aku menunjuk ke arah minimarket di seberang jalan.
Roni pun memperhatikan ke arah yang aku tunjuk.
"Iya. Maya pasti lagi menguras uang Doni."
"Menguras cuma untuk belanja di minimarket?" tanyaku heran.
"Di sana kan ada mesin ATM-nya," jawab Roni.
"Bukannya Doni ada m-banking?"
"Mungkin Maya maunya uang cash."
Bisa jadi. Tapi kenapa Doni begitu bodohnya selalu menuruti kemauan Maya yang jelas-jelas tak pernah bisa menjadi istri yang baik?
Aku jadi curiga, Doni menyimpan rahasia yang orang lain tidak tahu. Hingga mudah bagi Maya untuk memeras Doni.
Dengan hati-hati aku sampaikan kecurigaanku pada Roni. Roni sempat tertawa.
"Kamu membacanya begitu?" tanya Roni.
Aku mengangguk. Karena sangat tidak mungkin orang secerdas Doni mudah sekali dimanfaatkan oleh Maya.
__ADS_1
"Aku dan Sarah juga menebak seperti itu. Tapi sampai sekarang, kami belum tahu jawabannya. Sarah sering memancing-mancing. Tapi sepertinya Doni bisa menyimpannya rapat-rapat dari kami."
"Kira-kira apa itu ya, Ron?"
Roni tetap menggeleng. Aku yakin Roni pun benar-benar tidak tahu soal itu.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan. Sekarang pikirkan saja rencana kamu yang lain. Soal kamu yang mau dibukakan butik oleh teman kamu itu."
"Iya, Ron. Aku mau fokus ke sana dulu. Dan sepertinya untuk sementara aku menjauh dulu dari Doni. Menurutmu bagaimana?" Aku mencoba mencari pertimbangan dari Roni.
"Waduh, kalau soal itu aku tidak mau ikut campur. Itu masalah kalian berdua. Tapi jujur, aku lebih mendukung kamu usaha sendiri saja. Sarah juga pasti akan mendukungmu."
"Iya, Ron. Terima kasih atas dukunganmu."
"Oh iya, Ar. Sarah pernah punya pengalaman di bidang marketing lho. Dia dulu sebelum menikah denganku, sempat bekerja sebagai marketing. Mungkin kamu bisa belajar nanti pada Sarah."
"Iya, Ron. Kapan-kapan ajak Sarah ke rumahku. Sekalian ajak juga anakku. Aku sudah sangat kangen," ucapku. Aku sampai hampir menangis saat ingat dengan anakku.
"Gampang, Ar. Sekarang kamu bereskan dulu urusan butiknya. Nanti kalau sudah beres, aku pasti akan datang bersama Sarah dan anakmu. Nanti sekalian kita bicarakan tentang kelanjutan anakmu."
"Kelanjutan yang bagaimana, Ron?"
"Maksudku, anakmu mau tetap kamu percayakan pada kami atau...kamu mau rawat sendiri. Masalahnya begini, Ar. Kamu baru merintis usaha. Suami kamu pun belum sehat banget, takutnya kalau ada anakmu nanti malah kamu enggak fokus pada semuanya. Kan malah berantakan jadinya."
"Tapi seandainya aku tetap mengambil anakku, kalian jangan tersinggung ya? Bukan berarti aku tidak percaya lagi pada kalian."
Roni melirikku sekilas.
"Enggaklah, Ar. Itu kan hakmu mutlak sebagai orang tuanya. Kami kan hanya sekedar menolong saja. Daripada waktu itu anakmu terlantar karena, maaf, kondisi ekonomi dan psikis kamu yang belum stabil akibat perbuatan Teguh."
Aku mengangguk. Mencoba memahami perkataan Roni.
"Oh iya, kalau boleh tahu dimana kamu akan buka butiknya?
"Di rumah Yola. Dia kan sekarang tinggal di Australi bersama suaminya. Rumah itu sudah lama ditinggal. Rumah Yola sebelahan dengan rumah suamiku yang diambil alih juga oleh mas Teguh."
"Oh. Yang di komplek perumahan elit itu ya?" tanya Roni.
Aku mengangguk.
"Bagaimana kabar rumah itu selanjutnya, Ar?" tanya Roni.
"Entahlah, Ron. Aku belum begitu paham. Nanti kalau suamiku sudah sehat,biar dia yang mengurusnya. Mungkin masih ada celah bagi kami untuk mengambilnya kembali."
"Iya, Ar. Semoga rumah itu masih jadi rejeki kalian. Jangan patah semangat. Aku dan Sarah pasti akan selalu mendukungmu."
"Terima kasih banyak atas dukunganmu, Ron. Aku berhutang banyak padamu."
"Jangan bilang begitu, Ar. Kami ikhlas kok melakukannya. Semangat terus ya."
Aku sangat terharu dengan dukungan dari Roni. Ternyata masih banyak orang-orang baik di sekelilingku. Meski kadang ada juga orang yang berhati busuk.
__ADS_1