SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 129 GAGAL MENANYAKANNYA


__ADS_3

Setelah melewati malam yang penuh ketegangan, aku bangun dengan perasaan yang lebih kalut lagi.


Mestinya hari ini aku janjian dengan Mila untuk cek darah di rumah sakit. Tapi bagaimana cara berpamitannya pada mas Arka?


Aku tak mungkin terus terang. Atau memakai alasan tidak enak badan dan harus periksa ke dokter. Pasti mas Arka akan mengantarkanku.


Setelah mandi dan menyiapkan makan pagi, kami makan bersama. Aku tidak bisa menyembunyikan kegelisahanku.


"Kamu kenapa, Ar?" tanya mas Arka di sela-sela makannya.


"Tidak apa-apa, Mas." Aku melanjutkan makanku.


Hari ini jadwal kami akan ke rumah Yola dan berbelanja perlengkapan butik.


Beberapa hari lagi Deni akan berangkat lagi ke luar negeri, jadi nanti mas Arka akan dioptimalkan dalam membantu kami.


"Kalau kamu tidak enak badan, diundur saja dulu belanjanya," ucap mas Arka.


"Aku tidak apa-apa, Mas." Aku meyakinkan mas Arka dan memintanya untuk melihat ke arahku.


"Tapi kamu agak pucat. Nanti kita mampir ke apotek. Cari vitamin. Kamu masih pegang uang kan?" tanya mas Arka. Dia memang tak pernah pegang uang lagi. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan kami, berasal dari uangku. Uang hasil kerjaku.


"Masih, Mas. Iya nanti kita ke apotek." Aku berfikir seandainya ada kesempatan akan bertanya pada pegawai apotek. Siapa tahu ada alat untuk mengecek darah yang terkontaminasi virus HIV.


Selesai makan, aku mulai memesan taksi online. Kami tak memiliki kenderaan sendiri. Semuanya habis untuk biaya pengobatan mas Arka dan sisanya di curi oleh sepupu mas Arka.


"Pak. Bisa tidak kalau nanti mampir ke apotek sebentar?" tanya mas Arka.


"Masih pagi, apa sudah ada apotek yang buka?" sopir taksi online-nya malah balik bertanya.


"Ya kita lihat sambil jalan saja, Pak," sahut mas Arka.


Pak sopirnya mengangguk mengerti. Dia pun melajukan mobilnya perlahan, agar tak terlewat.


"Nah, di seberang itu apotek dua puluh empat jam. Apa Bapak mau menyeberang?" tanya pak sopirnya.


"Iya, Pak. Tidak masalah. Biar saya yang menyeberang," jawab mas Arka.


"Ar. Kamu tunggu di sini saja. Biar aku yang menyeberang. Mana uangnya?"


"Biar aku saja, Mas. Kamu tunggu di sini." Dan tanpa menunggu persetujuan mas Arka, aku membuka pintu mobil dan langsung meluncur ke seberang.


Selain karena kondisi mas Arka yang aku khawatirkan belum stabil, aku juga punya tujuan sendiri.


Sampai di dalam apotek aku malah bingung. Aku mau beli obat apa? Karena aku sebenarnya baik-baik saja, bikin otakku nge-blank.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya pegawai apotek.

__ADS_1


"Mm. Sebentar, Mbak." Aku mengingat-ingat dulu tujuan utamaku selain menanyakan alat tes itu.


"Oh iya. Aku mau cari vitamin penambah darah mungkin," ucapku.


"Lho kok mungkin. Ibu butuhnya apa?" tanya pegawai itu lagi. Akhirnya aku menanyakan vitamin buat menambah stamina dulu.


Dan pegawai itu memberikan beberapa pilihan vitamin. Karena aku memang lagi nge-blank, aku asal ambil saja. Yang penting dapat vitamin penambah stamina.


"Ini saja, Mbak. Oh iya, saya mau tanya. Apa ada alat buat tes...mm." Aku ragu-ragu menanyakannya.


"Tes urine?" tanya pegawai itu.


"Bukan, tapi tes..." Belum sempat aku bertanya, mas Arka sudah ada di belakangku.


"Tes apa, Ar?"


Aku terjengit. Kaget setengah mati. Untung saja aku belum sempat mengatakannya.


"Ah, tidak, Mas. Hanya tes darah. Ya, tes darah. Aku pingin mengukur tekanan darahku saja."


"Oh. Kalau itu tidak perlu alat tes, Bu. Ibu bisa ke sebelah sana, nanti rekan saya akan mengukur tekanan darah Ibu. Mari saya antar."


Pegawai itu berjalan menuju ke satu ruangan. Aku dan mas Arka mengikuti.


"Silakan, Bu." Pegawai itu mempersilakan aku duduk.


"Mari, Bu. Tunggu sebentar ya." Lelaki itu mempersiapkan alat ukurnya.


Jantungku masih berdegup kencang gara-gara kaget tadi.


"Tekanan darah Ibu normal. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap pegawai lelaki itu setelah mengukur tekanan darahku.


"Tapi istri saya ini seperti lesu kurang energi begitu Pak?" tanya mas Arka.


"Mungkin karena kecapean saja, Pak. Atau karena pikiran. Relaks saja, Bu."


"Sebaiknya istri saya mengkonsumsi vitamin apa, Pak?"tanya mas Arka dengan serius.


"Cukup multivitamin saja. Dan banyak istirahat. Jangan banyak pikiran dulu ya, Bu?" saran pegawai itu.


"Iya, Pak," sahutku.


Meski aku tak berhasil mencari tahu soal alat tes itu, paling tidak mas Arka tidak jadi mencurigaiku.


"Udah yuk, Mas. Kita pulang. Yola pasti sudah nungguin," ajakku. Karena sepertinya masih banyak yang ingin mas Arka tanyakan.


"Ya sudah, Pak. Terima kasih penjelasannya," ucap mas Arka yang di jawab dengan senyuman hangat pegawai itu.

__ADS_1


Setelah membayar multivitamin yang aku pilih tadi, kami kembali ke mobil.


"Maaf ya, Pak. Menunggu lama," ucap mas Arka pada sopir taksi online.


"Iya, Pak. Tidak apa-apa."


Untung sopirnya baik hati. Dia tidak ngomel karena harus lama menunggu. Aku janji nanti akan memberikan uang tambahan. Anggap saja uang tunggu.


Sampai di rumah Yola, dia sudah siap dari tadi katanya.


"Kenapa kalian sampai siang begini?" tanya Yola.


Lalu mas Arka menjelaskan alasannya. Dan bagaimana tadi aku di cek tekanan darahnya.


"Tapi kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Yola dengan khawatir.


"Enggak. Aryani baik-baik saja. Cuma lagi banyak pikiran saja sepertinya," jawab mas Arka.


Aku menghela nafasku. Sepertinya mas Arka mencurigai aku yang masih banyak pikiran.


"Ya sudah. Kalian sudah pada makan pagi?" tanya Yola.


"Sudah tadi di rumah," jawabku.


"Oke. Kita berangkat sekarang," ajak Yola.


Sesuai rencana, hari ini aku pergi berdua dengan Yola. Seperti tadi, kami pun naik taksi online. Karena Yola juga tidak punya mobil lagi. Mobilnya yang lama sudah dijual.


"Kamu lagi banyak pikiran?" tanya Yola di mobil.


"Enggak. Biasa saja," jawabku.


"Enggak usah bohong deh, Ar. Jujur saja sama aku," ucap Yola.


Sebenarnya aku ingin sekali bicara jujur pada Yola. Tapi aku takut Yola membocorkannya pada mas Arka.


Bagaimana pun suami Yola sepupuan dengan mas Arka. Rasanya tak mungkin masalah seperti ini, mereka tak menyampaikannya pada mas Arka.


"Aku enggak bohong, Yol." Aku berusaha meyakinkan Yola. Tapi Yola yang pernah begitu dekat denganku, tidak begitu saja percaya.


Dia berusaha terus memaksaku bicara. Sampai akhirnya aku memberi kode pada Yola kalau ada sopir taksi online yang akan mendengar kalau aku bilang masalahku.


Yola mengangguk mengerti.


"Selesai kita belanja, kamu harus mau menceritakannya padaku!" ucap Yola dengan ketus sebelum kami turun dari mobil.


Aku hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


__ADS_2