SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 128 AKU BELUM SIAP


__ADS_3

Aku meminum teh dengan jantung yang berdetak dengan cepat. Rasa yang sudah lama sekali aku rindukan.


Mas Arka menciumku dengan penuh perasaan. Entah cuma perasaanku saja, atau mas Arka juga merasakannya.


Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam hatiku, apa ini berarti mas Arka sudah kembali normal? Lalu bagaimana kalau dia meminta haknya sebagai suami?


Bukan aku tak mau melayaninya. Tapi aku belum memastikan diriku tentang virus itu.


Bagaimana kalau aku benar-benar terjangkit virus itu? Lalu akan menular pada mas Arka.


Tidak! Aku tak mau mas Arka juga akan mengidap virus ini. Tapi bagaimana menolaknya nanti? Aku tak mungkin menjelaskan juga pada mas Arka tentang kondisiku saat ini.


Ah, kepalaku terasa mau pecah. Aku berperang sendiri dengan perasaanku.


Hingga tak sengaja, gelas yang aku pegang terjatuh.


"Auwh!" Teriakku karena kakiku tertimpa gelas dan teh yang masih agak panas menyiram kakiku.


Mas Arka berlari keluar kamar. Dia baru mengenakan celana pendek. Bagian atas tubuhnya masih terbuka.


"Ada apa, Ar?" tanya mas Arka. Lalu memakai kaosnya.


"Enggak apa-apa, Mas. Gelasnya terjatuh. Aku enggak sengaja tadi," sahutku.


"Kamu enggak hati-hati sih. Sini aku beresin. Kamu cuci kakimu dulu sana. Biar enggak lengket."


Aku menurut saja. Karena otakku sedang tidak konek. Takutnya nanti pecahan gelasnya malah melukai tanganku.


Dengan telaten mas Arka membersihkan semua. Aku sangat terharu melihatnya.


"Sudah Mas, biar aku saja yang membersihkan." Aku mengambil alat pel. Tapi malah diambil sama mas Arka.


"Kamu istirahat saja. Biar aku yang mengepel."


Aku masih terpukau dengan yang dilakukan mas Arka. Tak terlihat sama sekali kalau dia baru saja sembuh dari stroke. Penyakit yang sangat ditakuti oleh semua orang. Karena akan mengganggu sistem kerja otak.


Dan sepertinya penyakit itu tak mampu mengoyak habis mas Arka. Meski dia pernah terpuruk sampai ke titik terbawah. Dia mampu bangkit lagi dengan semangat yang dimilikinya.


Aku masuk ke kamar dengan perasaan haru dan bangga atas semua kemajuan mas Arka.


Aku naik ke tempat tidur. Merebahkan tubuhku yang lelah. Lelah karena seharian dipaksa memikirkan masalah yang sangat berat.


Aku teringat lagi pada Doni. Orang yang ingin sekali aku lupakan. Tapi kenangan bersama Doni tidak semudah itu hilang. Apalagi Doni meninggalkan bekas yang tak mungkin hilang seumur hidupku.

__ADS_1


Ya, virus mematikan yang mungkin sekarang sedang sibuk memggerogoti tubuhku dari dalam.


Kembali aku dihantui rasa penyesalan yang dalam dan dosa yang tak mungkin aku hapus. Bahkan akan mengantarkanku terjun ke neraka jahanam di kehidupanku setelah aku mati nanti.


Aku bergidig ngeri. Tak ada yang bisa menolongku lagi. Jangankan di akherat nanti, di dunia pun aku tak bisa menolong diriku sendiri.


Aku tak bisa menghilangkan virus itu dari dalam tubuhku. Jika memang virus itu ada dan bersemayam dalam tubuhku.


Mas Arka masuk dan menutup pintu kamar. Bertepatan dengan tertutupnya pintu, jantungku rasanya mencelos.


Seperti berhenti berdetak untuk sekian detik.


Lalu mas Arka pun mengganti lampu terang dengan lampu yang temaram. Jantungku semakin seperti hilang dari tempatnya.


Dengan santai mas Arka membaringkan tubuhnya di sebelahku. Aku berusaha mengatur detak jantung juga nafasku.


Tubuhku tiba-tiba terasa sangat tegang. Aku memejamkan mataku sesaat.


Dan bagai disengat aliran listrik saat tangan mas Arka menyentuh tanganku. Tanganku terasa sangat dingin.


"Kamu kenapa? Kok tangan kamu dingin?" tanya mas Arka.


"Tidak apa-apa, Mas. Mungkin karena cuacanya dingin," sahutku asal. Padahal jelas-jelas di kamar ini cuma ada sebuah kipas kecil.


"Apa aku matikan saja kipasnya?" tanya mas Arka lagi.


"Tidak usah, Mas. Biarkan saja. Nanti mas Arka malah gerah," sahutku. Aku merasakan suaraku sangat tegang.


"Tidak masalah. Kan tinggal lepas baju. Enggak ada orang lain kan?" sahut mas Arka. Semakin keluarlah keringat dinginku. Tapi bagian dalam tubuhku terasa panas.


"Enggak usah, Mas. Biarkan saja." Aku hanya tak ingin mas Arka membuka kaosnya lagi. Bisa-bisa aku khilaf oleh aroma tubuhnya.


"Ya sudah. Tidur yuk," ajak mas Arka.


Aku segera memejamkan mataku. Aku ingin menarik tanganku, tapi pegangan mas Arka sangat kuat.


Lalu sesuatu yang tidak aku duga terjadi. Mas Arka memiringkan tubuhnya. Dan menghadap ke arahku.


Aku bisa merasakan hembusan nafasnya di telingaku. Dan aromanya sangat aku suka.


Mas Arka membelai rambutku dengan lembut. Menyisipkan rambut kecil-kecil ke telingaku. Lalu mengecup telingaku.


Merinding dan makin panas dingin. Itu yang aku rasakan.

__ADS_1


"Ar." Suara mas Arka tepat di telingaku.


"Sudah tidur?" tanya mas Arka.


"Belum," sahutku pelan.


"Ar." Mas Arka memanggilku lagi.


"Mmm."


"Boleh enggak kalau aku...." Mas Arka menahan kalimatnya. Tanpa perlu dilanjutkan pun aku paham maksudnya. Tapi aku diam saja. Pura-pura tak tahu.


"Aku menginginkannya, Ar," ucap mas Arka sambil menggigit kecil telingaku.


"Mas. Kamu baru saja sembuh." Aku berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menolaknya.


"Kenapa?" tanya mas Arka.


"Jangan memaksakan diri, Mas."


"Kita coba dulu, Ar. Mungkin belum maksimal. Tapi tidak salah kan kalau dicoba," ucap mas Arka lagi.


Aku hanya terdiam. Mas Arka sepertinya tahu.


"Ya sudah kalau kamu masih meragukanku. Lain kali saja." Ucapan mas Arka sangat membuatku merasa bersalah. Seolah aku hanya mencari sebuah kepuasan saja.


"Bukan begitu, Mas. Aku hanya belum siap," sahutku.


"Belum siap kenapa? Kamu tak memginginkannya lagi? Setahun lebih kita tak melakukannya, Ar. Apa kamu sama sekali tak pernah menginginkannya?"


Aku benar-benar merasa terpojok. Seperti tak bisa lagi mengelak.


Aku bisa saja melakukannya sekarang. Karena jujur aku juga menginginkannya. Bahkan sangat menginginkannya.


Tapi aku berusaha keras untuk menepisnya. Aku takut. Aku takut kalau virus itu bersarang di tubuhku, akan mengalir ke tubuh mas Arka.


Lalu apa jadinya kalau aku dan mas Arka sama-sama mengidap virus itu? Bagaimana nasib anak kami kalau kedua orang tuanya menunggu mati.


"Maafkan aku ya, Mas. Lain kali kalau aku sudah siap, kita akan melakukannya lagi."


Mas Arka mengangguk lalu memelukku. Aku pun memeluknya. Dan kami tertidur sambil berpelukan erat.


Aku bisa tidur dengan tenang. Setidaknya aku tidak punya beban. Aku tak takut mas Arka nekat menyentuhku. Karena aku tahu kalau mas Arka bukan orang yang suka memaksa.

__ADS_1


Dia akan benar-benar menunggu sampai aku siap. Entah kapan aku siapnya.


Semoga akan ada kesempatan aku ke rumah sakit untuk memeriksakan diriku, tanpa ketahuan mas Arka atau yang lainnya. Karena kalau sampai ada yang tahu, habislah aku.


__ADS_2