SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 99 HAMPIR SAJA


__ADS_3

Kami pulang kembali ke kota. Roni meninggalkan moblnya di proyek. Katanya biar dipakai buat anak-anak buahnya.


"Kamu mau ikut kami ke hotel,Ar?" tanya Sarah.


"Enggaklah. Kasihan anakku sudah dua hari aku tinggal."


Lagian aku juga capek banget. Dua hari menegangkan di vila membuat badanku seakan remuk semua.


Doni hanya melirikku sekilas. Doni memang kurang suka kalau aku pulang ke rumah mertuaku. Bukan tak suka aku bertemu suami dan anakku, tapi Doni tak suka kalau aku berhubungan dengan mas Teguh lagi.


"Bilang saja kamu kangen sama Teguh." Sarah tertawa dan di sambut tawa yang lainnya.


"Enggaklah. Kalau bisa aku usir, udah aku usir dia, Sar." sahutku.


"Ya udah, usir saja. Kamu kan lebih berkuasa di rumah itu. Itu kan rumah mertuamu, artinya rumah kamu juga,Ar."


"Terus kalau dia pergi, siapa yang akan mengurus suamiku? Sewa baby Sitter gak murah, Sar. Belum tentu juga dapat yang baik, telaten dan jujur."


Aku jadi ingat Bima. Awalnya dia baik-baik saja. Ujung-ujungnya dia embat semua hartaku.


"Heh! Malah bengong!" Sarah mendorong bahuku dari belakang.


"Aku jadi ingat dengan Bima, Sar." ucapku tanpa menyadari bakal ada yang bete saat aku menyebutkan nama lelaki lain.


"Siapa itu Bima?" Doni langsung nyamber.


"Dia dulu baby Sitter yang aku sewa buat merawat suamiku. Waktu di rumah lama." Lalu aku menceritakan kejadian yang membuat aku dan suamiku sengsara.


"Aku benar-benar jadi miskin, Sar."


"Kenapa kamu tak lapor polisi saja?" tanya Doni.


"Masalahnya aku tak punya bukti apa pun. Aku juga tak punya alamat Bima. Bahkan nama aslinya saja aku tak tau." sahutku.


"Sebegitu teledornya kamu, Ar." Sarah menyalahkanku.


"Iya. Bima mampu menghipnotisku dengan sikapnya. Sebulan bahkan dua bulan tak ada tanda-tanda apa pun. Semua berjalan baik-baik saja."


"Makanya jangan gampang percaya sama orang lain." Doni menimpali. Aku hanya mrliriknya sekilas.


Komentar sih enak. Tapi coba kita di posisi sangat terbuai dengan kebaikan orang lain.


"Sekarang kejadian lagi." ucap Sarah.


"Kejadian apa, Sar?" tanyaku tak mengerti.


"Lha itu, terbuai oleh kebaikan Teguh. Belum saja kamu dimanfaatkan sama dia." sahut Sarah.


"Biasa, Sar. Penyesalan itu datangnya belakangan. Kalau di awal itu namanya pendaftaran." Pedas sekali ucapan Doni.


"Audisi!" Sarah tergelak lagi. Kalau Roni hanya diam saja menahan senyum. Mungkin dia tidak enak kalau menertawaiku seperti dua manusia ini.


Aku cemberut mendengar tawa Doni dan Sarah. Sepertinya mereka berdua puas sekali.

__ADS_1


"Kok udah ketawanya?" tanyaku saat Doni dan Sarah diam lagi.


"Ar. Kami menertawai kamu bukan meledek. Tapi biar kamu sadar yang kamu lakukan itu konyol banget. Kamu akan menyesal nantinya. Percaya deh sama aku." Sarah juga menjelaskan kalau dulu Teguh pernah melakukan itu padanya.


"Untung saja aku gak sampai menerima dia sebagai pacarku. Coba kalau iya, betapa ruginya aku." kata Sarah.


"Salah kamu sendiri gak bilang ke kita-kita. Coba kalau bilang, udah abis tuh manusia satu." Kali ini Roni yang bersuara.


Terpancing juga emosinya saat istrinya pernah berhubungan dengan orang yang menurut mereka rumit.


Kalau aku melihat mas Teguh lebih ke perlakuannya pada mas Arka. Apalagi dia datang di saat aku terjatuh.


Tanpa dia mungkin hidupku dan mas Arka makin tak karuan. Tak ada yang bisa kami mintai bantuan saat itu.


"Semua kembali pada kamu, Ar. Yang menjalani kan kamu. Kalau kamu memang yakin, ya jalani saja." Roni lebih peka dengan sikapku.


"Tapi tolong beri tahu kami secepatnya kalau ada kejanggalan dari sikap Teguh." lanjut Roni.


"Iya. Jangan sampai kayak Sarah. Ngadunya saat sudah jadi korbannya." sahut Doni.


"Ar, kamu pernah enggak di rayu-rayu sama Teguh?"


Pertanyaan Sarah membuatku terdiam. Doni melirikku lagi. Pasti Doni sudah berfikir begitu.


"Kalau dia tidak menyukai Aryani, ngapain mau-maunya dia tiap hari antar jemput?"


Aku menelan ludahku. Benar banget apa yang dikatakan oleh Doni.


Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah mertuaku.


"Hati-hati. Terutama dengan dia. Bilang padaku kalau dia macam-macam sama kamu." ucap Doni.


Aku hanya mengangguk lalu keluar dari mobil Doni.


Sampai di dalam rumah, mas Teguh sudah menungguku di ruang tamu.


"Aku perhatikan kamu sekarang semakin sering tidak pulang." ucap mas Teguh.


Aku hanya menatapnya sekilas. Lalu masuk ke dalam kamarku.


"Aku bicara pada kamu, Ar!" mas Teguh mengejarku sampai ke pintu kamarku.


"Apa pedulimu?" tanyaku sinis.


"Apa peduliku, kamu bilang? Kamu tinggal di sini! Jelas aku jadi peduli!" seru mas Teguh.


"Oke. Kalau begitu aku akan pindah dari sini!" Lalu aku hendak menutup pintu kamar. Tapi pintu ditahan oleh tangan mas Teguh.


"Silakan kalau kamu mau pindah! Tapi jangan harap kamu bisa bawa Arka dan Aryaka!"


Aku tersentak mendengar jawaban mas Teguh.


"Mereka suami dan anakku! Aku lebih berhak atas mereka!" sahutku tak kalah keras.

__ADS_1


"Berhak untuk menelantarkan mereka maksudmu? Tidak! Selama aku masih hidup, tak akan aku biarkan kamu melakukannya!" Suara mas Teguh semakin keras.


Aku menghela nafasku yang tiba-tiba terasa sesak.


"Terus apa mau kamu?" tanyaku.


"Tinggalkan Arka dan Aryaka kalau kamu kepingin pergi dari sini!" jawab mas Teguh tegas.


Ingin rasanya aku tampar wajahnya. Tapi apa daya, tenagaku tak akan mungkin kuat melawan mas Teguh yang tenaganya tentu lebih kuat.


Aku membanting pintu kamarku tepat di depan wajah mas Teguh. Saking kencangnya sampai tembok kamar bergetar.


Aku sangat marah dengan sikap mas Teguh. Tak ada yang salah dengan pendapat teman-temanku tentang mas Teguh.


Dia memang orang yang seenaknya sendiri. Merasa sok berkuasa di rumah mertuaku.


Kembali aku menyesali kenapa suamiku tak kunjung sembuh. Seandainya mas Arka sembuh pasti dia akan ditendang dari rumah ini.


Tapi apalah dayaku, aku hanya anak mantu yang sebelumnya tak mengerti apa pun tentang harta mertuaku.


Menjelang malam aku baru keuar dari kamarku. Perutku terasa sangat lapar. Karena aku baru makan sekali tadi pagi saat masih di daerah puncak.


Mas Teguh melihatku sedang makan. Tak ada yang dikatakannya selain hanya menatapku. Aku pun tak mau mempedulikannya.


Baru setelah aku selesai makan, dia menghampiriku. Aku menatapnya sekilas, lalu meninggalkannya dan masuk kembali ke kamarku.


Dan seperti tadi, mas Teguh mengejarku hingga ke kamar. Dan setelah dia berhasil masuk, dia mengunci kamarku dari dalam.


Aku menatapnya ketakutan. Mas Teguh semakin mendekatiku dan...dia hendak memperkosaku.


Tanpa perasaan dia mencumbuiku. Aku berusaha memberontak. Tapi tenagaku kalah kuat dengan tenaganya.


Dengan brutal dia mencabik-cabik pakaianku hingga berserakan di lantai. Dia terus membekap mulutku dengan mulutnya.


Lalu menarik tubuh polosku hingga sampai ke tempat tidur. Aku meronta. Tapi tubuhku tak berdaya di bawah kungkungannya. Dan...


Srett!


Dia membuka retsleting celananya, hingga tersembulah senjatanya yang sudah tegak menantang.


Tanpa ampun dia berusaha memasukan senjatanya ke bagian intiku. Aku terus berusaha menghimpit milikku dengan kedua kakiku.


Tangannya berusaha membuka selangkanganku. Dan saat selangkanganku terbuka lebar, dia hendak memaksa masuk miliknya.


Beruntung, suara bi Yati yang menggedor-gedor pintu kamarku menghentikan aksinya.


Dia bergegas bangun dan membenahi celananya. Aku langsung meraih selimut untuk menutupi tubuhku yang tak mengenakan sehelai benang pun.


Dia keluar tanpa memperhatikan bi Yati yang berdiri di depan pintu.


"Bi...!" panggilku sambil menangis tersedu.


Bi Yati menghampiriku yang hanya berbalut selimut. Mata bi Yati melihat pakaianku yang berceceran di lantai.

__ADS_1


"Astaghfirullah. Apa yang sudah dilakukannya?" Bi Yati memelukku. Aku terus saja menangis.


__ADS_2