SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 148 MULAI MERASA TAK NYAMAN


__ADS_3

Mas Arka tidak menyusulku masuk ke kamar. Entah dia masih di ruang tamu atau pergi menyusul Mila.


Tak aku kira, Mila yang aku anggap teman baik, menusukku terang-terangan. Dia benar-benar perempuan murahan yang tak punya perasaan.


Aku terngiang pertanyaan mas Arka tadi. Jelas banget kalau dia ingin balas dendam padaku. Tapi kenapa harus dengan Mila? Seperti tak ada perempuan lain saja.


Hatiku terasa sangat sakit. Bukan cuma karena penghianatan mas Arka, tapi juga penghianatan Mila yang aku anggap sahabat baik.


Pantas saja dulu Doni tak suka terhadap Mila. Sebagai perempuan dia sangat gampangan.


Aku tidak merasa sok suci. Karena aku pun pernah menghianati mas Arka. Tapi posisiku saat itu berbeda.


Ini bukan soal pembenaran atau pembelaan diri. Tapi...ah sudahlah. Mungkin memang perjalanan pernikahanku dengan mas Arka harus berakhir sampai di sini.


Aku akan belajar ikhlas. Menerima kenyataan kalau mas Arka sudah tak mencintaiku lagi.


Dia pasti akan lebih memilih Mila. Dia lebih segalanya dari aku. Lebih cantik. Lebih menarik. Lebih kaya dan yang pasti lebih murahan.


Kesal sekali aku membayangkan saat tadi Mila menyosor mas Arka. Kejadian yang tak akan bisa disangkalnya lagi.


Aku memilih untuk tidur saja. Besok pagi aku akan berkunjung ke rumah Sarah. Aku akan menghabiskan waktu dengan anakku seharian di sana.


Sambil ngobrol juga dengan Roni. Siapa tahu ada lowongan pekerjaan buatku. Dia kan sedang membangun hotel baru yang sedang dirintisnya dengan Doni.


Pagi setelah lelap tertidur, aku terbangun. Saat aku keluar dari kamar, mas Arka sedang menyiapkan makan pagi. Entah untuk siapa. Aku tak mau berharap dia menyiapkannya untukku.


Aku lalui dia begitu saja. Mas Arka pun tak menyapaku sama sekali. Bahkan melihatku pun tidak.


Apa dia marah? Aneh! Mestinya aku yang marah. Aku yang dihianatinya.


Aku langsung masuk ke kamar mandi. Aku masih dengan rencanaku berkunjung ke rumah Sarah. Walaupun aku belum mengabari Sarah.


Aku ingat pesan dari dokter Yoga, kalau aku sebaiknya jangan dekat-dekat anakku dulu. Sebelum hasil cek darah yang kedua.


Tapi aku mau ngapain di rumah? Melihat mas Arka seharian? Tidak! Pasti hanya akan membuat kami sama-sama tidak nyaman.


Bahkan bisa jadi malah akan menimbulkan percekcokan. Biarlah aku yang menjauh. Kalau pun mas Arka ingin ketemuan dengan Mila, aku tak peduli.


Asal saja mereka tak melakukannya lagi di rumahku. Rasanya aku tak sudi kalau rumahku dijadikan tempat mereka bercinta.


Selesai mandi, aku segera bersiap. Tak perlu terlalu rapi, paling juga seharian cuma ngobrol saja dengan Sarah.

__ADS_1


Aku menghubungi nomor Sarah. Tapi hapenya enggak aktif. Apa Sarah belum mengaktifkan hapenya? Atau Sarah tak punya kuota? Enggak mungkin, di rumahnya kan ada wifi.


Aku mau menghubungi Roni, tapi tidak enak. Akhirnya aku putuskan tetap ke rumah Sarah. Siapa tahu, memang Sarah lupa mengaktifkan hapenya.


"Mau kemana kamu?" tanya mas Arka saat melihatku keluar dari kamar.


"Ke rumah Sarah," jawabku tanpa berniat menyalami tangannya seperti yang biasa aku lakukan.


"Kamu enggak makan dulu?" tanya mas Arka lagi.


Aku hanya menoleh, lalu menggeleng. Dan berjalan keluar tanpa menghiraukan tatapan mas Arka tadi.


Aku menunggu ojek online yang akan mengantarku ke rumah Sarah. Kalau naik angkot, pagi-pagi begini biasanya penuh.


Aku sedang malas berdesak-desakan dengan orang. Belum lagi nanti harus ganti angkot lagi. Itu bikin malas lagi.


Mending pakai ojek online, mahal sedikit tapi bisa lebih cepat sampai.


Tak butuh waktu lama, ojek online pesananku sudah menelpon. Dia sudah ada di jalan depan gang.


Aku bergegas ke sana. Karena aku sudah malas bertemu mas Arka. Rasanya pingin muntah kalau ingat kejadian kemarin.


Seorang lelaki muda sudah siap di atas motor. Dia menyerahkan helmnya.


Setelah aku memakai helm dengan benar, aku segera naik ke atas motor.


"Alamatnya sudah sesuai ya, Bu?" tanyanya.


"Iya," jawabku singkat. Aku memang sedang malas berbicara, apalagi dengan orang asing.


Dia melajukan motornya dengan santai, karena aku sudah bilang agar tidak perlu ngebut-ngebut.


Hingga akhirnya kami sampai di alamat rumah Sarah. Lumayan capek juga membelah jalanan yang macet. Untungnya masih pagi, udara belum terlalu panas.


Aku melihat rumah Sarah yang sepi. Pintu rumahpun tertutup. Aku berharap Sarah ada di dalam, karena mobil mereka ada di carport.


Sambil mengucap salam, aku mengetuk pintu rumah Sarah. Aku merasa lega saat mendengar suara orang menjawab salamku. Sepertinya suara Roni.


"Hey, Ar. Sama siapa?" tanya Roni sambil melihat ke sekitarku.


"Sendirian. Sarah mana?" tanyaku, juga berusaha melihat ke bagian dalam rumah mereka.

__ADS_1


"Sarah sedang ke Jogja. Dari kemarin. Memangnya dia enggak ngabari kamu?" tanya Roni. Lalu mempersilakan aku masuk.


Aku menggeleng. Ada rasa kecewa mendengarnya. Apalagi saat Roni bilang kalau Aryaka juga ikut.


"Berapa lama mereka di sana, Ron?" tanyaku, berharap secepatnya


"Belum tau, Ar. Tenang aja, nanti kalau urusan Sarah di sana udah selesai juga bakal pulang. Coba aja kamu hubungi Sarah," ucap Roni.


"Aku udah hubungi Sarah tadi sebelum ke sini. Tapi nomornya enggak aktif," sahutku penuh kekecewaan.


"Oh ya? Aku juga belum menghubungi dia sih, pagi ini. Mungkin dia lupa ngechas hapenya. Oh iya, kamu mau minum apa?" Roni bangkit dari duduknya.


"Enggak usah repot-repot, Ron. Lagipula kamu mau ke proyek kan?" tolakku. Enggak enak rasanya dibuatkan minum oleh lelaki, kasihan aja.


"Enggak apa-apa. Atau kamu mau ikut aku aja ke proyek? Kamu enggak ada kerjaan kan?"


Tahu aja Roni, kalau aku tidak ada kerjaan.


"Enggak ah, Ron. Nanti malah ngerepotin kamu," tolakku lagi.


"Enggak lah. Kamu enggak rewel kan?" ledek Roni.


Aku tersenyum. Bisa aja dia.


"Udah, ikut aja yuk. Nanti sekalian kita cari sarapan di jalan. Aku juga belum sarapan."


Aku yang sudah terbiasa datang ke proyek Roni, merasa lebih nyaman di sana daripada pulang lagi ke rumah.


"Ayo!" ajak Roni. Aku pun bangun dan mengikuti Roni keluar.


Setelah mengunci pintu rumahnya, Roni mengajakku naik ke mobilnya.


"Kamu enggak usah bilang sama Sarah ya, kalau ikut aku ke proyek," ucap Roni saat mobilnya mulai melaju.


"Kenapa, Ron?" tanyaku tak mengerti. Meski aku juga berfikir tak perlu juga aku memberitahukan pada Sarah.


"Enggak apa-apa. Cuma enggak enak aja," jawab Roni.


"Oke. Lagian kita juga enggak ngapa-ngapain. Aku cuma ikut aja daripada bete di rumah," sahutku.


Aku belum berniat menceritakan alasanku bete di rumah. Rasanya enggak enak juga curhat pada Roni. Meskipun dia banyak tahu permasalahanku.

__ADS_1


Roni menatapku sekilas. Lalu pandangannya kembali fokus ke jalanan yang masih macet.


__ADS_2