
Besoknya, aku tak mau menyapa mas Teguh sama sekali. Aku masih sakit hati dengan perkataannya.
Pagi-pagi aku sudah berangkat dengan memesan ojek online.
Hingga sampai di hotel masih terlalu pagi. Masih ada waktu satu jam lagi, hingga shif-ku mulai.
Iseng aku berjalan ke kamar Doni di lantai atas.
Tok.
Tok.
Tok.
Doni membuka pintunya dengan hanya memakai boxer yang dilapisi jubah mandi.
"Kamu, Ar. Tumben datang pagi-pagi. Berantem lagi sama satpam kamu?"
Aku masuk sambil cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong. Gitu-gitu kan juga kakak ipar kesayangan."
Doni masih saja menyindir. Sepertinya dia masih ingat perkataanku semalam.
Aku tak mau mendengarkan omongan Doni. Aku hanya duduk saja di sofa.
Doni pun seperti acuh saja. Dia langsung masuk ke kamar mandi.
Aku membuka sosmedku. Ada notifikasi di berandaku. Kalau Sarah menandaiku. Aku klik agar postingan itu masuk ke berandaku.
Aku lumayan terkejut melihat sebuah nama yang nge-like postingan itu. Teguh Setiawan.
Apa itu mas Teguh yang aku kenal? Karena aku tidak berteman dengannya di medsos.
Aku klik nama itu. Terpampang foto lelaki dengan pose menyamping di depan sebuah mobil.
Sekilas mirip mas Teguh. Aku zoom plat mobilnya yang tampak, dan benar saja. Itu plat mobilnya mas Teguh.
Rupanya dia berteman dengan Sarah. Dan dia sudah melihat foto-fotoku saat di puncak.
Pantas saja dia uring-uringan. Karena hampir semua foto diposting oleh Sarah.
Doni keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di perutnya. Aku memalingkan wajahku, agar tak melihat salah satu ciptaan Tuhan yang terindah.
Bukannya buru-buru memakai baju, Doni malah mendekatiku.
Aku agak salah tingkah.
"Pakai baju sana, Don." Aku mendorong tubuh Doni yang semakin dekat.
"Entar, baru juga jam segini. Masih lama."
Doni malah duduk di sebelahku dan langsung meraih wajahku.
Dan tanpa aba-aba, Doni ******* bibirku hingga aku terengah-engah.
__ADS_1
"Udah, Don. Kita mau kerja."
Aku berusaha melepaskan tangan Doni. Bukannya dilepaskan, Doni malah semakin memaksaku untuk menikmati ciumannya.
Doni terus saja mencumbuku hingga aku menyerah.
Rasa kesal pada mas Teguh bercampur dengan rasa kangen akan cumbuan Doni.
Aku pun menurut saja saat Doni merebahkanku di atas sofa.
Satu persatu, pakaianku ditanggalkan oleh Doni. Hingga tak tersisa satu pun.
Aku sudah gelap mata. Aku tak memikirkan lagi suami dan anakku. Yang ada di otakku kini hanya kenikmatan yang diberikan oleh Doni.
Setengah jam lebih kami menikmatinya. Hingga pintu kamar Doni diketuk dari luar. Kebetulan juga permainan kami sudah selesai.
Aku segera bangkit dan memunguti pakaianku. Lalu masuk ke kamar mandi.
Dari dalam kamar mandi, aku dengar Doni bicara dengan seseorang. Dan suara itu sangat aku kenal.
"Maaf, tidak bisa hari ini. Sebab Aryani akan menemaniku meeting ke puncak lagi."
Gila! Kenapa Doni menjawabnya seperti itu? Bisa semakin kebakaran jenggot dia.
"Tapi ini menyangkut kesehatan suaminya." suara mas Teguh kembali aku dengar.
"Kan anda bisa mengantarnya sendiri. Kenapa mesti dengan Aryani?"
Dan perdebatan itu terus berlanjut, hingga akhirnya Doni mengusir mas Teguh.
Kalimat usiran yang halus. Lalu aku dengar Doni menutup pintu. Itu berarti mas Teguh sudah pergi.
Aku keluar dari kamar mandi.
"Siapa, Don?" tanyaku pura-pura tidak tau.
"Kamu sudah dengar, kan? Pake pura-pura nanya."
Doni mengacak rambutku.
"Hari ini kamu jangan ke loby dulu. Tunggu di sini sampai kerjaanku selesai. Paling satu atau dua jam. Nanti kita keluar. Itu si kutu kupret paling sedang mengintaimu."
Aku pingin ketawa mendengar julukan dari Doni untuk mas Teguh.
"Kenapa aku mesti menunggu di sini? Di loby kan bisa?"
Doni malah menatapku seakan tidak suka dengan jawabanku.
Dari pada ribut, aku mengalah saja. Aku duduk kembali di sofa. Melihat Doni yang sedang berganti pakaian.
"Jangan ngeliatin terus. Entar kepingin lagi, lho."
Aku hanya memalingkan muka. Lalu memejamkan mataku karena capek.
"Kalau mau tidur, di sini saja Ar." Doni menunjuk ke arah ranjangnya.
__ADS_1
"Nanti saja." Aku sudah malas bangun. Rasanya sudah nyaman di sofa.
Tiba-tiba Doni mengangkat tubuhku dan memindahkanku ke ranjang.
"Aku ke ruanganku dulu. Ada beberapa berkas yang mesti aku tanda tangani. Kamu tidur saja di sini. Aku kunci dari luar, ya? Tunggu aku kembali."
Aku yang sudah hampir melayang ke alam mimpi, tak begitu mendengarkan omongan Doni.
Doni mengecup keningku sebelum dia keluar dan menutup pintu. Aku semakin terlelap.
Aku terbangun karena lapar. Aku lihat Doni sedang duduk di sofa dengan layar laptop di depannya.
"Kenapa? Lapar?" tanya Doni. Tau saja kalau aku memang kelaparan. Tadi pagi aku tak sempat sarapan, karena buru-buru berangkat.
"Ini, aku sudah memesankan makanan buat kamu."
Doni menunjuk sebuah bungkusan makanan. Aku bergegas mendekati Doni.
"Kamu sudah makan, Don?" tanyaku sambil membuka bungkusan itu. Ternyata ada dua. Berarti Doni belum makan.
"Kamu dulu saja. Aku nunggu ini selesai dulu."
Aku melihat ke arah layar laptopnya Doni. Itu sih bisa sampai siang selesainya.
Lalu aku membuka salah satu bungkusan itu, dan menyuapi Doni. Doni menurut saja aku suapi sampai makanannya habis.
"Makasih ya, Ar." Doni masih saja menyelesaikan pekerjaannya.
"Iya, Don."
Aku pun gantian makan. Sambil sesekali melihat ke arah layar laptop Doni.
Andai saja aku bisa mengerjakannya, pasti akan aku bantu dia. Tapi apa daya. Aku hanya lulusan SMA, yang hanya paham sedikit tentang akuntansi.
Hingga menjelang jam dua belas, Doni baru selesai.
"Kamu ikut aku ke proyek ya? Nanti Sarah juga akan ikut."
Aku baru ingat kalau Sarah dan suaminya juga tinggal di hotel ini. Coba aku ingat dari tadi, pasti aku memilih ke kamar Sarah.
"Kamu nanti bisa menemani Sarah. Kasihan dia kalau seharian hanya di kamar terus" ucap Doni.
"Coba kamu hubungi Sarah, biar dia siap-siap dulu. Nanti kita berangkat bareng. Kalau Roni sih sudah di lokasi dari pagi tadi" lanjutnya.
Aku pun menghubungi Sarah. Dia nampak senang sekali bisa pergi lagi bersamaku.
Setelah Sarah selesai bersiap, dia mengabari aku. Aku dan Doni pun segera menjemputnya, kamar Sarah ada di seberang kamar Doni.
Kami turun bersamaan. Hingga melewati meja resepsionis. Di sana hanya ada Mila. Aku jadi tidak enak hati dengan Mila.
"Mil, aku temani pak bos dulu ya?" ucapku pelan.
Mila malah tersenyum senang. Aku pikir dia akan kesal padaku dan mengabaikanku.
"Sip!" ucap Sarah sambil mengacungkan jempol dan telunjuknya membentuk bundaran.
__ADS_1