
Setelah kejadian itu, mas Teguh jarang mengajak aku bicara. Dia hanya mengurusi mas Arka saja.
Aku berangkat dan pulang kerja sendiri. Bagiku tak masalah. Malah bikin aku nyaman.
Aku biasa pesan ojek online untuk sampai ke hotel. Kalau pulangnya, kadang aku nebeng Mila.
Sejak kejadian di vila itu antara aku dan Doni, jarang ketemu lagi.
Katanya dia sedang sibuk. Ada proyek dengan Roni. Rencananya Roni akan membuka sebuah hotel di kota kami. Dan dia mempercayakannya pada Doni. Itu yang aku tau dari Sarah.
Hubunganku dengan Sarah semakin dekat. Dia yang tidak punya teman di kota ini, merasa nyaman denganku.
Sore ini Sarah mengajakku jalan-jalan ke mal. Katanya dia bosan di kamar terus.
Walaupun sebenarnya aku capek, tapi karena tidak tega dengan Sarah, aku menurut saja.
Mila yang aku tawari juga mau ikut dengan kami. Jadilah kita pergi bertiga.
Sore itu benar-benar kita habiskan untuk bersenang-senang. Jalan, makan dan belanja.
Aku membeli beberapa baju untuk anakku.
"Nah, gitu dong ingat anak!" Mila meledekku.
"Ingatlah. Masa sama anak lupa". Aku masih sibuk memilih sepatu kecil yang lucu.
Sarah ikut memilihkan. Bahkan dia membelikan untuk anakku.
"Jangan, Sar. Biar aku saja yang membelikan." Aku berusaha menolak.
"Sudah, tidak apa-apa. Sekali-kali" sahut Sarah.
Ya sudah, karena Sarah memaksa. Aku terima juga pemberiannya.
Tak terasa kami jalan sampai jam delapan malam.
"Udah malam,pulang yuk." Aku mengajak Mila dan Sarah pulang.
Mila katanya mau pulang sendiri. Dia ada janji lagi dengan temannya.
Heran sama temanku satu ini, tak ada capeknya. Siang kerja, sore jalan-jalan. Malam masih ketemuan dengan temannya lagi.
Entah benar-benar teman atau teman tapi mesra. Karena setahuku teman kencan Mila tak hanya satu.
Mila selalu cerita padaku kalau dapat teman kencan baru lagi. Aku tidak pernah ketemu sih, cuma dengar ceritanya dari Mila saja.
"Itu teman kamu, kayaknya tinggi jam terbangnya ya, Ar?" Kata Sarah saat kami sedang menunggu taksi online di depan mal.
"Ya begitulah. Katanya mumpung masih laku." Aku tertawa sendiri dengan jawabanku.
"Dia kira barang dagangan kali tubuhnya." Sarah pun ikut tertawa.
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu dekat dengan dia, Ar. Tar lama-lama bisa dijual juga lho." Sarah mengingatkanku.
Dalam hatiku bilang, udah pernah. Dulu saat Mila mengajakku ke cafe dan aku hampir dijebak oleh teman lelakinya.
Untung waktu itu Doni melihatku, dan menolong di waktu yang tepat.
Tapi aku tak mau cerita sama Sarah. Aku hanya tak ingin Sarah jadi tidak menyukai Mila.
Cukup aku dan Doni saja yang tau. Itu pun membuat Doni jadi bete sama Mila.
Mobil pesanan Sarah tiba duluan. Kami memang pesan dua mobil yang berbeda, karena tujuan kami juga berbeda.
"Aku duluan tidak apa-apa, Ar?" Sarah merasa tidak enak denganku.
"Gak apa-apa. Paling pesananku sebentar lagi datang." Aku mempersilakan Sarah untuk duluan.
Saat Sarah sudah pergi, tiba-tiba sebuah mobil mendekatiku. Itu bukan mobil online yang aku pesan, karena plat nomornya berbeda dengan yang ada di aplikasi.
Mobil itu berhenti tepat di depanku. Lalu sopirnya membuka jendela. Doni.
"Kamu ngapain di sini sendirian, malam-malam juga?" tanya Doni.
Aku menjelaskan kalau aku tadi pergi dengan Sarah dan Mila. Mereka sudah pulang duluan. Sementara aku sendiri sedang menunggu taksi online.
Doni menyuruhku naik ke mobilnya. Dan mengcancel pesananku. Untung saja, taksi online nya juga masih jauh. Jadi aku gak perlu diomelin drivernya karena mengcancel.
"Kasihan kan, Don. Udah jalan drivernya, malah dicancel." Aku tidak tega.
"Apa mau ditunggu? Terus kita bayar ongkosnya, sesuai aplikasi?"
"Ya sudah. Kamu mau pulang kemana?"
"Ya pulang ke rumahlah. Emang mau pulang kemana?" tanyaku heran dengan pertanyaan Doni.
"Kirain mau pulang ke hotel. Jadi besok berangkatnya gampang."
"Ish. Aku kan punya anak Don" sahutku.
"Dan suami. Dan kakak ipar yang selalu perhatian sama kamu." Doni kelihatan kurang suka.
"Don..." Aku belum sempat melanjutkan kalimatku. Tapi Doni sudah memotong.
"Sudahlah, gak usah dibahas." Doni melajukan mobilnya dengan diam.
Sampai di jalan depan rumahku, Doni masih diam.
"Terima kasih, Don. Aku turun dulu, ya."
Doni tak menjawab apapun. Dan begitu aku turun dari mobil, tidak seperti biasanya. Doni langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi.
Apa dia marah, karena aku tidak mau pulang ke kamarnya?
__ADS_1
Aku melangkah masuk ke rumah. Karena sudah malam, rumah sepi. Anak dan suamiku pasti sudah tidur.
Hanya bi Yati yang masih melek. Dia tadi yang membukakan pintu untukku.
"Bi. Ini pakaian dan sepatu baru untuk Aryaka. Besok dipakaikan saja."
Aku menyerahkan belanjaan untuk anakku yang aku beli tadi di mal.
Saat aku hendak masuk ke kamarku, aku melihat mas Teguh yang sedang duduk di ruang tengah.
Aku tau, dia melihat aku pulang. Tapi pura-pura tidak tau. Seperti itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Dia tak lagi peduli padaku.
Aku melangkah masuk ke kamarku. Selesai membersihkan mukaku, aku keluar kamar. Mau ambil minum putih. Kebiasaanku kalau malam sering terbangun karena haus.
Aku melewati mas Teguh yang sudah pindah ke ruang makan. Aku mengambil gelas, dan menuangkan air putih hangat dari dispenser.
"Aku mau bicara sama kamu." Suara mas Teguh mengagetkanku. Karena aku pikir dia tidak akan bicara lagi padaku.
"Bicara apa?" tanyaku, masih berdiri di tempatku.
"Duduklah. Aku mau bicara serius."
Aku mengernyitkan dahi. Lalu duduk di seberangnya.
Aku memilih untuk diam, menunggu apa yang akan diucapkannya.
"Besok, aku akan membawa Arka berobat ke luar kota. Kasihan dia kalau harus tersiksa terus seperti itu."
"Oh. Terus?" tanyaku.
"Kamu bisa ambil cuti dulu? Biar bisa mengantar."
What? Cuti? Kerja saja baru jalan dua bulan, sudah cuti. Mana boleh?
"Aku gak bisa!" jawabku tegas.
"Kenapa? Bukannya bosmu adalah mantan pacarmu? Tidak susah kan minta cuti padanya?"
Glek. Darimana dia tau kalau Doni adalah mantan pacarku?
"Aku kerja baru jalan dua bulan. Gak enaklah kalau sudah mengajukan cuti."
Aku meminum air putih yang aku bawa. Karena tiba-tiba tenggorokanku kering.
"Kalau kamu tidak berani, biar aku yang mengajukannya. Besok pagi aku akan ke ruangannya."
Aku tetap menolak permintaan mas Teguh.
"Apa kamu memang lebih suka suami kamu seperti ini terus? Jadi kamu bisa bebas bergaul dengan siapa saja, termasuk bosmu itu!"
Aku meradang mendengar omongan mas Teguh yang nylekit. Ingin rasanya aku siramkan air putih di depanku.
__ADS_1
"Jangan asal bicara!"
Lalu aku kembali masuk ke kamarku dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.