SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 34 AKU MASUK RUMAH SAKIT


__ADS_3

Setelah aku duduk, ibu memanggil bi Sumi untuk mencarikan orang yang bisa membawaku ke rumah sakit. Dan bi Sumi di minta menemaniku ke rumah sakit.


Ibu gak mungkin memanggil mas Arka yang sedang menggotong keranda bapak. Takutnya nanti malah mas Arka panik.


Setelah mendapatkan orang yang bisa membawa mobil mas Arka, aku pun di bawa ke rumah sakit, dengan ditemani bi Sumi.


Sementara ibu akan mengantarkan jenazah bapak dulu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Nanti setelah acara pemakaman selesai, ibu dan mas Arka akan menyusulku.


Keinginanku untuk bisa melihat bapak di kebumikan, pupus sudah. Karena aku harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, aku meringis menahan rasa kram di perutku. Aku juga sangat khawatir terjadi sesuatu dengan kandunganku.


Bi Sumi terus saja mengelus-elus perutku, untuk mengurangi rasa sakitku. Untung jarak rumah sakit tak terlalu jauh.


Sampai di rumah sakit, aku segera di naikkan ke atas brankar oleh petugas, dan langsung masuk ruang IGD. Dengan sigap, para perawat dan dokter menanganiku.


Setelah penangananku selesai, dokter menanyaiku siapa yang bertanggung jawab untuk mengurus administrasinya. Karena aku akan di pindahkan ke ruang rawat inap.


Sementara aku harus opname dulu, sampai kondisiku membaik. Aku juga butuh bedrest selama beberapa hari.


Aku meminta perawat untuk memanggilkan bi Sumi. Biar bi Sumi yang akan mengurusnya. Soal pembayaran mungkin bisa menunggu mas Arka atau ibu datang. Karena aku tak membawa apapun. Bahkan ponselpun aku tak sempat bawa.


Setelah aku mendapatkan kamar, aku segera di pindahkan. Bi Sumi masih setia menemani aku.


Kebetulan bi Sumi membawa ponselnya. Aku minta bi Sumi memberi kabar pada ibu, dimana aku dirawat.


Beberapa jam kemudian, mas Arka dan ibu datang. Aku baru saja terbangun dari tidurku.


Mas Arka langsung memelukku. Aku lihat wajahnya begitu sedih.


"Aku gak apa-apa mas. Bayi kita baik-baik saja. Aku hanya kecapean," ucapku berusaha menenangkan mas Arka.


Mas Arka melepaskan pelukannya, dan berganti menciumi perutku. Dia berkali-kali mengucapkan maaf pada anak dalam kandunganku.


Dia merasa sangat bersalah karena tadi pagi sempat memarahiku. Aku membelai kepalanya dengan lembut. Tak terasa air mata mengalir dari sudut mataku.

__ADS_1


Melihat aku menangis, mas Arka menghapus air mataku dengan ibu jarinya.


"Maafkan mas, Sayang," ucapnya lagi. Dan mengecup mataku dengan lembut.


Ibu ikut merasa lega, mendengar calon cucunya baik-baik saja. Diapun aku lihat ikut meneteskan air mata.


Tak lama kemudian, ibu pamit pada kami untuk pulang. Karena ibu akan mempersiapkan untuk acara tahlilan nanti malam.


Aku merasa sedih, karena di saat seperti ini, aku malah harus menginap di rumah sakit.


"Ka, jaga istrimu baik-baik di sini. Jangan pikirkan ibu dulu. Ada bi Sumi yang akan menjaga ibu," ucap ibu, lalu segera pergi, diikuti bi Sumi.


Mas Arka duduk di sebelahku. Dia terus saja membelai rambutku. Dia benar-benar menyesal telah memarahiku tadi pagi.


Malam ini, mas Arka akan menemaniku tidur di rumah sakit. Sebenarnya aku sudah menyuruhnya pulang ke rumah ibu, untuk mengikuti tahlilan. Tapi mas Arka menolaknya. Sedetikpun dia tak mau meninggalkan aku.


Aku berfikir, kenapa masalah datang beruntun. Kenapa di saat bapak meninggal justru aku yang gantian masuk rumah sakit?


Kasihan mas Arka yang akan menungguiku, selama aku di sini. Aku berharap, semoga besok pagi kondisiku pulih. Dan aku bisa kembali pulang.


Aku khawatir, sakit kepalanya akan kambuh lagi. Aku coba menghilangkan perasaan cemasku. Semoga semua baik-baik saja. Akupun mulai memejamkan mataku.


Kami tertidur hingga pagi. Saat para perawat melakukan visit pertama ke ruanganku. Aku terbangun karena suara langkah-langkah kaki mereka.


Sementara mas Arka masih terlelap di sofa. Baik aku maupun para perawat, tak ada yang berani membangunkannya. Mas Arka kelihatan sangat lelah.


Perawat membersihkan badanku. Tadinya menawariku, siapa yang akan membersihkan badanku. Daripada aku mesti menunggu mas Arka bangun, mending sekarang aja. Di bersihkan oleh salah satu perawat.


Aku juga gak mau merepotkan mas Arka. Dia pasti masih capek. Dan lagi nanti malah ribet, karena ada selang infusnya juga.


"Visit dokternya jam berapa sus?" tanyaku, saat perawat itu membersihkan badanku.


"Nanti sekitar jam delapan pagi, Bu" jawab perawat itu, sambil terus membersihkan badanku.


"Apa saya bisa pulang hari ini, Sus?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Tergantung pemeriksaan dokter nanti ya, Bu" jawabnya. Aku pun mengangguk. Semoga aku bisa pulang hari ini, harapku.


Belum selesai perawat itu membersihkan aku, mas Arka sudah terbangun. Dia melihatku sebentar, lalu masuk ke kamar mandi.


"Sebentar lagi makan pagi dan obat untuk ibu diantar. Habiskan semuanya ya, Bu," ucap perawat itu, setelah selesai membersihkanku. Aku mengangguk.


"Terima kasih, Sus" ucapku. Dan setelah menjawab ucapan terima kasihku, perawat itu keluar dari kamarku.


Sampai beberapa menit kemudian, mas Arka tak juga keluar dari kamar mandi. Karena khawatir, aku memanggilnya. Tak ada jawaban.


Aku memanggilnya lagi, masih tak ada jawaban. Aku panik. Apa yang terjadi dengan mas Arka di dalam kamar mandi? Kenapa tak menjawab panggilanku? Atau dia gak denger? Padahal aku memanggilnya cukup keras.


Aku mau bangun dan menghampiri, tidak berani. Sebab dokter sudah mengingatkan aku untuk tidak banyak bergerak dulu.


Akhirnya aku memencet tombol untuk memanggil perawat. Belum sempat perawat datang, mas Arka sudah keluar dengan wajah sedikit pucat.


"Ada apa mas? Kok aku panggil-panggil tadi gak menjawab?" tanyaku.


"Gak apa-apa, Sayang. Mas cuma sedikit pusing tadi. Mungkin karena posisi tidur yang kurang nyaman aja" jawab mas Arka.


"Tapi wajahmu pucat, Mas?" tanyaku lagi. Mas Arka mencoba tersenyum. Lalu dia meyakinkan aku, kalau dia hanya sedikit pusing.


Begitu makan pagi dan obatku datang, aku bersemangat sekali untuk menghabiskannya. Biar kondisiku segera pulih, dan aku bisa segera pulang.


Aku gak mau lama-lama di sini. Aku kasihan pada suamiku yang akan menjagaku. Takut kalau nanti sakitnya kambuh lagi.


Melihatku yang bersemangat makan dan minum obat, mas Arka tersenyum.


"Istriku pintar. Ini doyan apa laper?" tanyanya menggodaku. Padahal aku paksa makan, hanya agar bisa segera pulang.


Aku menjawab candaannya. Aku ingin dia juga sehat. Gak stress memikirkan aku. Gak sakit gara-gara tidur meringkuk di sofa.


Jam tujuh pagi, ibu sudah sampai di kamar inapku. Dia membawakan makan pagi untuk mas Arka.


Ibu menawarkan mas Arka untuk bergantian berjaga. Tapi mas Arka menolaknya. Biar ibu juga bisa istirahat di rumah. Dan pastinya di rumah masih banyak tamu yang akan melayat.

__ADS_1


__ADS_2