SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 150 MILA MENGGILA


__ADS_3

Sampai sore aku baru pulang dari proyeknya Roni. Dia mengantarkanku sampai depan gang rumah.


Ada rasa malas saat melangkah menyusuri gang yang tak terlalu besar itu. Memandang rumah peninggalan orang tuaku, kini seolah ada luka di hatiku.


Suasana rumah sepi seperti biasanya. Tapi pintu rumah terbuka. Mungkin mas Arka ada di dalamnya. Ya, mau kemana lagi dia, rumahnya dan rumah peninggalan orang tuanya sudah raib.


Kecuali dia nekat ikut Mila, tinggal di sebuah kamar kost. Ah, menyebalkan sekali mengingat tentang itu.


Aku masuk ke rumahku tanpa mengucapkan salam. Malas sekali mulut ini untuk mengeluarkan suara.


Dan telingaku mendengar suara pertengkaran dari arah dapur yang merangkap ruang makan.


Aku tajamkan lagi pendengaranku. Itu suara mas Arka dan Mila. Mereka sedang berdebat.


Seperti kemarin, aku pun memilih bersembunyi dulu. Aku kepingin tahu apa yang sedang mereka perdebatkan.


"Mil! Mestinya kamu sadar, sekarang aku sudah berkeluarga. Bagaimana pun keadaan rumah tanggaku, aku tetap akan mempertahankannya!" ucap mas Arka.


"Rumah tangga yang telah dinodai oleh Aryani, yang akan kamu pertahankan? Kamu lihat sendiri kan, sekarang dia sedang menggoda Roni! Suami sahabatnya sendiri, saat Sarah sedang tak ada di rumah!" sahut Mila.


Oh, jadi dia mengikutiku dan Roni? Bagus sekali kerjaannya. Dasar perempuan licik! Dia selalu mencari celah untuk menjatuhkanku di depan mas Arka.


"Tidak, Mil. Aku tidak percaya dengan foto-foto kamu itu! Bisa saja itu kamu rekayasa!" sahut mas Arka.


"Rekayasa apanya? Jelas-jelas di foto itu ada tanggal dan jamnya. Tadi siang, Arka! Dan sampai sekarang dia belum kembali. Pasti dia sedang tidur dengan Roni!" ucap Mila.


Emosiku tak bisa dibendung lagi. Dulu saat aku dekat dengan Doni, dia pun selalu berusaha mendekati Doni. Meski tak sampai menjelek-jelekanku, karena Doni tak pernah memberikan kesempatan.


Kenapa Mila selalu iri dengan semua yang aku miliki? Bukankah dia lebih segalanya daripada aku? Dia bisa saja mencari lelaki lain yang lebih dari Doni dan mas Arka.


Aku jadi ingat dengan mas Teguh. Dulu saat dia berfikir kalau mas Teguh adalah suamiku, dia seolah ingin menggodanya. Tapi setelah tahu kalau mas Teguh hanya saudara iparku, dia tak lagi menghiraukan.


Apa memang Mila terlahir untuk jadi pelakor di hidupku? Dia selalu ingin memiliki apa yang aku miliki.


"Ya! Aku seharian ini bersama Roni. Dan apakah kamu seharian ini juga terus mengikutiku?" Aku yang tak bisa menahan diri lagi, muncul dari persembunyianku.


Mas Arka dan Mila sama-sama terkejut.


"Aryani....!" desis mas Arka.


Sementara Mila hanya bisa diam.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam, Mil? Ayo pengaruhi suamiku lagi! Atau kamu akan membawanya sekarang? Bawa saja kalau dianya mau!" seruku.


"Aryani!" seru mas Arka.


"Kenapa, Mas? Kamu juga menginginkannya, kan?" tanyaku pada mas Arka.


"Tidak! Aku tak pernah menginginkannya! Demi apapun, aku tak pernah mempedulikannya!" jawab mas Arka.


"Arka!" seru Mila.


Mas Arka menatap tajam ke arah Mila. Entah apa maksudnya. Mila juga balas menatapnya.


"Tolong kamu keluar dari rumah ini! Ini rumah istriku!" geram mas Arka.


"Tidak! Aku hanya mau keluar bersama kamu, Arka!" sahut Mila.


"Kamu sudah gila, Mila! Aku tak akan pernah meninggalkan istriku hanya untuk perempuan macam kamu!" sahut mas Arka.


Mila tertawa terbahak-bahak. Suaranya mirip orang yang kesurupan.


"Oh ya? Perempuan macam dia yang akan kamu pertahankan?" teriak Mila, lalu kembali tertawa. Dia seperti menertawakanku.


Ingin sekali aku menamparnya. Tanganku sudah mengepal. Tapi mas Arka yang ada di sebelahku, menahanku untuk tidak maju.


"Kalau begitu, aku juga tak akan meninggalkan rumah ini!" Mila tetap bertahan dengan kekonyolannya.


Ya, Mila terlihat sangat konyol. Dia ngeyel tetap berada di rumahku sendiri. Rumah peninggalan kedua orang tuaku.


Mas Arka menggenggam tanganku sebentar, lalu mengecup keningku. Wajah Mila semakin merah membara.


Lalu mas Arka melepaskan genggamannya dan mendekati Mila.


Plak!


Mas Arka menampar pipi Mila dengan keras.


"Auwh!" teriak Mila lalu memegangi pipinya yang memerah.


Lalu mas Arka menarik tangan Mila dengan kuat. Bukan menarik, lebih tepatnya menyeret Mila untuk keluar dari ruangan.


"Arka! Lepaskan! Sakit!" teriak Mila.

__ADS_1


Tapi mas Arka tak peduli. Dia tetap menyeret Mila hingga sampai di ruang tamu. Di sana Mila berhasil melepaskan diri.


Aku mengikuti mereka dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Tak pernah aku lihat mas Arka bersikap sekasar itu.


Tiba-tiba Mila mendekat ke arahku. Dan dengan gerakan yang cepat, dia mencengkeram leherku dengan keras.


"Kalau kamu tidak bisa aku miliki, dia juga tak akan pernah bisa kamu miliki, Arka!" ancam Mila.


Aku amat sangat terkejut. Tak mengira Mila akan senekat ini. Aku sampai merasa tercekik dan tak bisa bernafas.


Tapi aku tak mau mati konyol di tangan Mila. Aku tak mau lagi memandangnya sebagai sahabat lagi.


Dia sudah menyakitiku. Bukan hanya perasaanku, tapi kini dia hendak membunuhku.


Aku berusaha mencari celah untuk bisa melepaskan diri. Bahkan kalau bisa melumpuhkan Mila. Karena bukan tidak mungkin, Mila akan tetap menyerangku meski aku sudah bisa melepaskan diri.


Mas Arka terlihat sangat emosi. Matanya merah dengan tatapan sangat membunuh.


Aku memberi kode agar mas Arka mengalihkan perhatian Mila. Dan sepertinya mas Arka paham.


"Oke. Kita bicarakan baik-baik." Mas Arka mengangkat tangannya agar Mila bisa mereda.


Dan saat Mila lengah, aku langsung menendangkan kaki ke belakang. Otomatis cengkeraman Mila terlepas.


Aku sampai terbatuk-batuk. Lalu aku membalikan badan. Kalau harus duel aku tak akan takut. Apalagi Mila yang badannya terlalu cungkring.


Dengan gerakan cepat, aku jenggut rambut Mila. Lalu aku seret dengan cepat sampai pintu depan.


Mila menjerit-jerit karena merasa kesakitan. Aku sudah seperti kerasukan setan. Tak peduli lagi dengan teriakan Mila. Seperti saat Mila tadi tak peduli saat mencekikku hingga aku hampir kehabisan nafas.


Sampai di depan pintu, aku hempaskan tubuh Mila seperti orang membuang bangkai tikus.


Lalu dengan jijik aku menepuk-nepuk tanganku yang bekas menjenggut rambut Mila. Aku merasakan ada helai-helai rambut di telapak tanganku.


Mila jatuh terjerembab. Dia menjerit, mengaduh dan menangis. Tiba-tiba tangannya hendak meraih sebuah batu.


Untung aku melihatnya. Aku segera berlari mendekat dan aku tendang batu itu hingga menjauh.


Dan entah setan mana yang merasukiku, kakiku begitu saja menendang kepala Mila dengan keras.


Bugh!

__ADS_1


Mila menggelepar. Aku terkejut sendiri dan menutup mulut dengan kedua tangan.


Mila tak sadarkan diri.


__ADS_2