SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 121 MAS ARKA SUDAH LANCAR BICARANYA


__ADS_3

Aku sudah bertekad untuk melupakan Doni. Bukan karena Doni jahat atau memperlakukanku dengan tidak baik.


Doni selalu baik padaku. Aku juga tak pernah melupakan semua kebaikannya padaku selama ini. Terlebih dosa-dosa yang pernah kami lakukan. Itu akan jadi catatan dosa terbesarku.


Aku hanya tak mau lagi berurusan dengan istrinya Doni. Seburuk apapun sikapnya sebagai istri, dia pasti tak ingin kehilangan suaminya.


Dan pasti akan memusuhiku sebagai perempuan yang merusak rumah tangganya, meski sebenarnya rumah tangga mereka sudah rusak sebelum aku hadir.


Aku juga ingin menebus semua kesalahan dan dosaku pada mas Arka. Aku akan memperbaiki semuanya.


Aku tak ingin membuat mas Arka sakit lagi kalau tahu kelakuanku selama ini. Biarlah itu jadi catatan hitam dalam lembar hidupku.


Aku akan memulainya dari sekarang. Kapan lagi ada kesempatan untuk bisa bangkit lagi. Di saat mas Arka juga sudah semakin membaik.


Hari ini Yola mengajakku dan mas Arka ke rumahnya. Kami mulai merancang konsep butik yang akan kita bangun.


Aku antusias sekali dengan proyek ini. Yola sengaja mengajak mas Arka untuk ikut berfikir. Kata Yola untuk mengasah otaknya.


Dan benar saja. Meski masih banyak keterbatasan, tapi mas Arka masih bisa memberikan saran.


Mas Arka punya pengalaman kerja sebagai marketing, meski beda produk. Dan pastinya beda pasarnya juga.


"Ar. Kamu bisa belajar dari Arka. Dia ahli dalam pemasaran. Kasih kesempatan Arka untuk memberikan idenya. Kamu yang menjalankan," ucap Deni.


"Iya, Ar. Aku juga belajar dari nol. Kamu tahu aku dulu bagaimana kan? Aku tak punya pengalaman apa-apa. Tapi setelah aku belajar langsung, aku bisa kok mengikuti. Yang penting kamu serius menjalankannya." Yola menambahkan.


"Iya, Yol. Aku akan belajar."


Dalam hati, aku sudah paham sedikit soal marketing dan akuntansi. Doni banyak mengajariku saat aku dipaksa menjadi asistennya.


"Oh iya, Yol. Nanti aku boleh enggak melibatkan temanku. Buat membantuku."


"Siapa?" tanya Yola.


"Sarah. Dia yang sekarang merawat anakku. Dia lulusan fakultas ekonomi kalau enggak salah. Dia juga pernah bekerja sebagai marketing."


"Boleh. Kalau kamu mengenalnya dengan baik, silakan saja," jawab Yola.


"Bagus juga Ar, kalau kamu melibatkan teman yang berpengalaman. Apalagi dia perempuan. Mungkin dia punya banyak teman. Kan nantinya dia bisa promosi ke teman-temannya." Deni ikut menambahkan.


Oke. Berarti aku bisa melibatkan Sarah. Tinggal nanti bagaimana Roni, apa dia bisa merayu Sarah untuk membantuku apa tidak.

__ADS_1


"Untuk konsepnya nanti biar aku pikirkan sambil jalan. Yang penting kamu sudah tau poin-poinnya."


Yola yang dulu hanya bisa berdandan dan memakai baju seksi, kini berubah layaknya seorang wanita karier yang sukses. Aku jadi iri dengan Yola. Aku harus bisa seperti Yola.


"Kita keluar yuk, cari makan." Deni rupanya sudah kelaparan. Hari ini Yola bilang tidak masak. Karena akan sibuk dengan urusan butik.


"Apa enggak kita pesan online saja. Kita makan di sini?"


Ideku rupanya tidak diterima oleh Deni. Dia maunya makan di sana. Dan dia maunya makan di restauran padang dengan aneka makanan yang disajikan di meja.


"Memang apa bedanya dengan kita pesan online dengan beberapa macam lauknya?" usulku.


Tetap saja Deni tak mau terima usulanku. Yola hanya mengangkat bahunya saja.


Akhirnya kita menuruti kemauan Deni. Itung-itung mengajak mas Arka jalan-jalan juga. Biar dia enggak sumpek di rumah terus.


Sampai di restauran padang, Deni begitu berbinar melihat aneka makanan yang disajikan di meja.


Dia mengambil beberapa lauk yang diinginkannya. Aku sampai berfikir, apa dia akan menghabiskannya sendiri?


Deni makan dengan lahap. Kami bertiga hanya menatapnya sambil geleng-geleng kepala.


"Den, kamu doyan apa lapar?" tanya Yola.


"Sudah biarin saja, Yol. Sebentar lagi dia kan mau balik, di sana enggak bakalan nemu yang kayak begini," komentarku.


Yola pun membiarkan saja suaminya makan sepuasnya. Apalagi kehidupan ekonomi mereka sekarang semakin baik, mau dihabiskan semua pun mereka masih mampu bayar.


Beda denganku. Yang harus membagi uang gajianku yang tidak seberapa biar cukup untuk kebutuhan sebulan.


Meskipun aku tidak pernah kekurangan, karena Doni selalu menambah uang gajiku. Dia juga membelikan semua kebutuhan pribadiku.


Itu salah satu cara Doni untuk mengikatku. Dia bantu semua kebutuhanku, hingga aku menjadi ketergantungan padanya. Dan yang lebih parah, aku akan merasa berhutang budi pada Doni.


Tapi sekarang aku akan berhenti bergantung pada Doni. Aku akan berdiri sendiri. Aku akan bangun lagi rumah tanggaku yang hampir saja kandas akibat terjangan badai yang dahsyat.


"Heh! Malah melamun!" Yola mengagetkanku. Bayangan Doni langsung hilang dari kepalaku.


"Enggak. Cuma lagi heran sama suami kamu saja. Makannya keren banget." Lalu kami tertawa bersama.


"Kenapa kalian enggak makan?" tanya Deni.

__ADS_1


"Kenyang lihat kamu makan, Den." Mas Arka tiba-tiba berkomentar dengan lancar. Padahal biasanya kalimatnya acak dan suaranya kurang jelas. Hingga lawan bicaranya harus bisa mengartikannya sendiri.


Kadang aku suka kesal juga. Dia yang bicara, aku yang harus mikir. Mikir apa maksud bicaranya.


Kami bertiga langsung bengong mendengarnya.


"Coba kamu bilang lagi, Ka." Deni meminta mas Arka mengulangnya.


Mas Arka malah bingung. Atau lupa dia barusan ngomong apa? Karena setahuku, orang yang sembuh dari stroke akan mengalami penurunan berfikir. Mudah lupa dan mudah emosi.


"Aku bilang, aku jadi kenyang lihat cara makan kamu." Mas Arka mengulangnya dengan jelas. Sangat jelas malah.


Aku sangat terharu mendengarnya. Apalagi Yola, dia sampai meneteskan air matanya.


"Ka. Kamu sudah sembuh beneran?" tanya Deni.


"Coba kamu ngomong lagi, Ka. Kami senang sekali mendengarnya." Yola menambahkan.


Mas Arka hanya tersenyum saja. Memang mas Arka bukan type orang yang banyak omong. Kecuali lagi keluar isengnya.


Akhirnya kami kembali menikmati makanan yang tinggal beberapa saja. Karena sudah dibabat habis oleh Deni.


"Ar, bagaimana soal anakmu? Apa jadi kamu ambil?" tanya Yola. Kelihatannya malah Yola dan Deni yang lebih semangat untuk mengambil anakku kembali.


"Jadi. Aku kemarin sudah bicara dengan Roni, suaminya Sarah. Dia nanti yang akan bicara sama Sarah."


"Maksud kamu, Sarah akan keberatan kalau menyerahkan anakmu kembali?" Yola kelihatan kesal.


"Bukan keberatan, Yol. Cuma saat ini kan Sarah sedang sayang-sayangnya nih sama anakku, kalau tahu-tahu diambil kan dia pasti akan sangat kecewa. Makanya Roni akan bicara pelan-pelan."


"Kecewa enggak kecewa ya mereka harus menyerahkannya pada kamu, Ar. Lagi pula kamu baru saja mengenalnya. Hati-hati lho." Yola mengingatkan.


Bukannya aku tak mau diingatkan. Tapi aku sangat mengenal Sarah. Lebih dari yang mereka kira.


"Aku ke toilet dulu ya?" Deni langsung lari mencari toilet. Kami bertiga ketawa.


Deni kembali dengan wajah pucat.


"Kamu kenapa, Den." Deni hanya diam saja. Yola yang duduk bersebelahan dengan Deni membaui bekas muntahan di baju Deni.


"Kamu habis muntah, Den?" Deni hanya mengangguk dengan lemas.

__ADS_1


"Makanya kalau makan, kira-kira dong. Jangan semuanya diembat," ucap mas Arka dengan lancar.


__ADS_2