
Pagi ini aku sudah bersiap berangkat kerja. Sesuai rencana, hari ini aku akan pamit pada Doni.
"Mas. Aku berangkat dulu."
Mas Arka menatapku, lalu dia yang lebih dulu mengulurkan tangannya.
Sampai di depan gang, aku tak melihat mobil Doni seperti biasanya.
Hhmm. Aku menghela nafasku, lalu membuka aplikasi ojek online. Ribet kalau naik angkot. Jam segini biasanya angkot penuh. Belum lagi rokku yang pendek membuat tak percaya diri duduk berdesakan dengan orang banyak.
Sampai di hotel, suasana terlihat ramai. Sepertinya ada rombongan yang menginap di hotel.
Mila sampai tak melihatku lewat di depannya. Aku pun berlalu tanpa berniat menyapanya.
Ruangan Doni sepi. Aku langsung duduk di kursiku dan mulai mengaktifkan laptop. Di atas mejaku sudah banyak berkas-berkas yang sepertinya harus aku selesaikan.
Aku memandangi laptop yang sudah on. Bingung harus bagaimana.
Hari ini aku akan resign. Apa perlu aku selesaikan pekerjaan hari ini?
Aku membuka hape. Aku buka aplikasi chatku. Doni sedang online.
Aku telpon Doni, tapi malah ditolak panggilanku. Lagi sibuk kah dia?
Aku mengirim pesan saja, kalau aku mau bicara penting. Semoga Doni mau membacanya.
Satu jam kemudian Doni datang. Wajahnya datar-datar saja.
"Don, aku mau bicara."
"Hotel lagi banyak kerjaan. Bicaranya dipending saja dulu. Mana berkasnya?"
"Berkas apa?"
Doni hanya melihatku sekilas, lalu mengambil tumpukan berkas yang belum aku sentuh satupun.
Doni memindahkannya dari mejaku tanpa bicara sedikitpun.
"Don. Hari ini aku mau resign."
Doni terdiam sesaat lalu menatapku lekat.
"Kenapa?"
"Aku....Aku mau mengelola butik milik temanku."
"Oh. Baguslah. Di mana?" tanya Doni. Dari nada bicaranya Doni seperti tak keberatan dengan keputusanku.
"Di rumah temanku. Nanti kami juga akan sekalian pindah ke sana."
"Kami?" Doni masih menatapku. Membuat aku jadi tidak enak hati.
__ADS_1
"Iya. Aku dan...suamiku."
Doni menghampiriku. Tangannya menyangga di atas meja.
"Semudah itu?"
Aku mengerutkan dahi.
"Maksudnya?"
"Aku yang mestinya bertanya apa maksud kamu!" seru Doni. Aku sampai terkesiap. Tak biasanya Doni berkata dengan nada keras.
"Don...."
"Oke. Tak perlu kamu lanjutkan omonganmu. Aku sudah paham maksudmu. Kamu akan begitu saja meninggalkanku setelah apa yang terjadi selama ini! Setelah suami kamu yang lumpuh itu sehat lagi!"
Doni menghela nafasnya yang terdengar memburu. Aku hanya bisa diam.
"Bagus sekali kelakuanmu, Ar. Kamu manfaatkan kami dengan segala keluguanmu. Dan setelah kamu bosan, dengan mudahnya kamu hengkang!"
"Don!"
"Pergilah! Aku bisa mencari perempuan seperti kamu di luar sana. Tidak akan kehabisan stock!"
Aku menundukan wajahku. Ingin rasanya menangis. Doni menganggapku begitu rendahnya.
Aku sadar, pengorbanan Doni untukku tidak sedikit. Dia yang selalu punya waktu untukku. Dia yang selama ini menanggung kebutuhan hidupku.
"Untuk apa menangis? Kamu pikir dengan menangis bisa merubah pendapatku tentang kamu? Tidak lagi!"
Aku menghapus air mataku. Bukan maksudku menjual air mata untuk meminta simpati.
Aku pun tak pernah rela meninggalkan Doni. Doni yang sudah mengisi hari-hariku selama ini.
Tapi saat ini aku harus memilih. Aku tak mungkin menjalani keduanya. Meski ada hati yang akan terluka karenanya.
Doni, bukan pilihan yang tepat untukku saat ini. Meski sebagai lelaki, Doni nyaris sempurna. Tapi status kami tak memungkinkan kami untuk menyatu selamanya.
Doni berstatus sebagai suami orang yang sampai saat ini masih sah secara hukum dan agama. Meski Doni bilang mereka tak lagi pernah melakukannya, tapi secara finansial Doni masih bertanggung jawab.
Sedangkan aku, tak mungkin aku meninggalkan suamiku setelah semua ujian yang telah kami jalani.
Meski dalam perjalanannya, aku tidak setia. Aku membagi hatiku bahkan tubuhku pada lelaki lain.
Tapi suamiku, dialah harapanku satu-satunya untuk meneruskan kehidupanku. Dan juga anakku.
Sebagai perempuan, aku pun ingin memiliki lagi sebuah keluarga yang utuh. Dan itu tak akan aku dapatkan kalau bersama Doni.
Aku akan tetap jadi yang kedua. Aku akan tetap bersembunyi-sembunyi di depan banyak orang. Dengan resiko dicap sebagai perusak rumah tangga orang. Atau bahkan perempuan yang tak puas dengan satu lelaki.
"Kenapa belum pergi? Pesangonnya nanti aku transfer ke rekeningmu!"
__ADS_1
Sakit sekali mendengarnya. Aku tidak mengharapkan pesangon atau apapun dari Doni. Masa kerjaku juga belum lama. Aku tak berhak memintanya.
"Maafkan aku, Don."
Aku berdiri dan meraih tasku.
Doni menarikku hingga aku jatuh ke pelukannya. Aku pasrah apapun yang akan Doni lakukan padaku. Meski aku sudah tak menginginkannya.
Apalagi dengan perkataan Doni yang menusuk hati. Aku semakin ingin menjauhinya.
Sangat tak adil sekali bagi Doni kalau saat ini aku menolaknya mentah-mentah.
Tapi bagaimana kalau Doni menginginkannya lagi? Apa aku harus melayaninya?
Sementara semalaman aku berusaha menata hatiku untuk menjauhi Doni. Aku akan menjalani lagi kehidupanku dengan suamiku dan juga anakku yang nantinya akan aku ambil kembali.
Dan Doni benar-benar mencumbuiku. Aku tak menolaknya meski aku tak meresponnya.
Doni terus saja mencumbuku sampai akhirnya kami melakukannya lagi di sini. Di dalam ruangannya dengan pintu yang tidak dikunci.
Setelah puas, Doni melepaskanku. Aku pun merapikan kembali pakaianku. Ada perasaan sangat bersalah pada suamiku. Disaat kami akan memulai kehidupan baru, aku kembali mencorengnya dengan perbuatan bejad.
Aku merasa diriku sangat kotor. Aku merasa tidak pantas lagi untuk suamiku.
Mas Arka sebelum sakit, tak pernah sedikitpun menyakitiku. Apalagi menghianatiku. Dia sudah memutuskan memilihku, perempuan biasa yang tak memiliki apapun.
Tapi di saat dia sakit dan jatuh, dengan mudahnya aku meyerahkan tubuhku pada lelaki lain.
Aku merutuki diri. Jijik dengan tubuhku sendiri. Tubuh yang mungkin tak akan bisa dibanggakan lagi kalau aku sakit seperti mas Arka.
"Kamu menyesal melakukannya lagi?" tanya Doni setelah dia pun merapikan pakaiannya.
Aku hanya bisa diam. Duduk di sofa sambil menekuri lantai.
"Maafkan aku, Ar. Aku egois telah memaksamu. Aku tahu kamu tidak nyaman. Aku tahu kamu tidak menikmatinya. Aku tak bisa jauh dari kamu, Ar. Aku tak bisa berpisah denganmu."
Aku memberanikan diri menatap wajah Doni. Tak ada kebohongan di sana. Wajah Doni begitu tulus. Setulus wajah mas Arka saat menatapku.
Aku meraih tubuh Doni dan memeluknya erat.
"Aku juga minta maaf, Don. Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini."
"Kenapa?" Doni melepaskan pelukanku dan menatap wajahku.
"Kehidupanku ada di sana dengan suamiku, Don. Bukan di sini denganmu." Benar-benar aku beranikan diri mengatakan hal yang pasti sangat menyakitkan buat Doni.
Doni menghela nafasnya.
"Aku akan tetap menantimu meski kamu tak lagi menginginkanku. Datanglah kapanpun kamu mau."
Hatiku hancur mendengar kebesaran hati Doni. Dia begitu tulus mencintaiku.
__ADS_1