
Setelah bertemu dengan calon mertuaku kemarin, hubunganku dengan mas Arka semakin dekat. Bahkan dia menginginkan kita segera menikah saja.
Katanya, kedua orang tuanya pun setuju. Mau menunggu apa lagi, kata mereka. Mungkin karena melihat usia mas Arka yang sudah cukup, dan sudah mapan.
Pekerjaan bagus. Mas Arka mempunyai jabatan yang lumayan tinggi di kantor tempatnya bekerja. Rumah sudah punya, bukan rumah cicilan juga. Mobil pun sudah ada.
Aku setuju saja dengan permintaan mas Arka. Bukan karena materi, tapi karena aku ingin mempunyai keluarga lagi. Setelah ayah dan ibuku meninggal dunia, lalu tak lama nenek ku menyusul, aku hanya hidup sebatang kara.
Tak lagi ada keluarga. Keluarga ayahku, jauh tinggalnya. Itu pun aku tak terlalu dekat. Kami jarang ke sana. Karena mereka sempat tak setuju, kalau ayah menikahi ibu. Dan sepertinya mereka kurang bisa menerima ibu.
Makanya ayah memilih jarang mengunjungi mereka. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sementara ibu, seperti halnya aku, ibu anak tunggal. Kakek ku sudah lama meninggal. Kata ibu, sejak ibu masih remaja. Tinggalah nenek ku. Dan tak lama setelah ibu dan ayahku meninggal, nenek pun menyusul.
Itulah kenapa aku selalu menutup diri. Aku enggan mempunyai pacar. Karena nanti pasti akan di tanya-tanya soal keluarga. Dan ujung-ujungnya mungkin mereka akan meninggalkan aku, karena aku sebatang kara.
Tadinya aku berfikir, orang tuanya mas Arka akan begitu juga. Ternyata mereka tak pernah mempermasalahkannya. Bahkan meminta mas Arka untuk segera menikahiku.
Kami pun segera mempersiapkan semuanya. Karena aku sebatang kara, maka untuk tempat di adakannya di rumah orang tua mas Arka.
Dan kami hanya perlu mempersiapkan keperluan kami saja. Seperti pakaian pengantin dan segala pernak perniknya. Bahkan undangan pun sudah di handle oleh calon mertuaku.
Kami hanya perlu melihat desain nya, kalau gak setuju tinggal minta di revisi aja. Lalu mereka juga yang akan membagikan undangannya.
Aku dan mas Arka cukup membagikan yang untuk teman-teman kami saja. Kalau aku sih, tak banyak yang aku undang. Karena memang aku tak banyak memiliki teman.
Walaupun aku dulu sekolah di SMU favorit, tapi karena aku anak orang yang gak mampu, jadi jarang yang mau berteman denganku.
__ADS_1
Lagi pula aku tidak tau dimana rumah mereka. Tidak tau nomor hapenya. Dan tidak tau dimana sekarang mereka tinggal. Setahuku, banyak diantara mereka yang kuliah di luar kota.
Teman-temanku paling cuma teman kerja. Itu pun hanya beberapa orang saja. Karena memang di toko tempatku bekerja, tidak banyak karyawannya. Hanya lima orang, termasuk aku.
Kalau mas bos dan istrinya, pastilah mas Arka yang akan mengundangnya. Karena hubungan mereka memang sangat dekat.
Untuk pakaian pengantin, aku meminta tolong mba Siska, istri mas bos, untuk membantuku memilihnya. Dia merekomendasikan sebuah butik milik temannya. Katanya nanti dia yang akan memintakan discount khusus.
Aku pun kesana sepulang kerja. Di temani mba Siska, mas bos dan mas Arka tentunya.
Sesampainya di sana, aku terkesima melihat banyaknya gaun pengantin yang di pajang di butik itu. Semuanya terlihat sangat indah. Pasti mahal harganya, batinku.
Aku ragu-ragu saat mba Siska meminta aku untuk memilih modelnya. Aku khawatir mas Arka gak setuju, karena mahal.
Aku menatap ke arah mas Arka. Meminta persetujuannya. Dia pun mengangguk mengerti keraguanku.
"Terserah kamu aja Ar, yang penting cocok buat kamu dan kamu suka. Soal harga gak usah khawatir. Ada bos kamu yang siap membayar" ucap mas Arka santai.
Mas bos yang mendengarnya, langsung menoyor kepala mas Arka. Mereka pun tertawa ngakak.
Setelah mendapatkan persetujuan dari mas Arka, kini giliran mas Arka yang memilih jas untuknya. Kalau untuk mempelai laki-laki sih tinggal menyesuaikan aja dengan mempelai perempuannya, gak ribet, kata desainernya.
Selesai dari butik, kami mampir ke sebuah rumah makan siap saji. Karena tadi kami langsung pergi sepulang kerja. Tanpa sempat makan lebih dahulu.
Jam sembilan malam, kami selesai makan, dan pulang ke rumah masing-masing. Mas Arka mengantarkan aku, hanya sampai depan rumah. Gak enak sama tetangga, kalau masuk ke rumah, karena sudah malam.
----------------------------------------
__ADS_1
Dua minggu ini kami benar-benar sangat sibuk. Walaupun gak banyak yang kami persiapkan, tapi karena pagi sampai sore kami harus bekerja, jadi gak punya banyak waktu. Akibatnya kami sering pulang sampai larut malam.
Hari minggu ini, mas Arka mengajak aku ke rumah orang tuanya lagi. Untuk melihat persiapan di sana. Siapa tau aku menginginkan ada perubahan, nanti bisa di sampaikan ke panitia acara.
Kami gak memakai jasa weding organizer. Karena saudara mas Arka dan beberapa temannya bersedia membantu. Mereka membentuk sebuah panitia. Dan memang calon ibu mertuaku, ingin mengurus sendiri pernikahan anak satu-satunya.
Gak seru katanya kalau memakai jasa WO. Nanti bukan kita yang punya acara, tapi mereka yang mengatur acaranya. Kita jadi kayak bintang tamu aja, yang harus menurut apa kata mereka.
Aku sih terserah apa maunya calon mertuaku. Karena toh semua biaya juga dari mereka. Dan aku juga gak begitu faham urusan begituan.
Calon mertuaku berpesan padaku, agar mulai banyak istirahat menjelang hari H, yang tinggal seminggu lagi. Kalau perlu aku berhenti bekerja. Kata mas Arka.
Mas Arka memang menginginkan aku berhenti bekerja setelah menikah nanti. Dia mau aku di rumah saja, mengurus rumah dan suami.
Tadinya aku sempat gak setuju, tapi setelah aku pikir-pikir, seorang istri kan harus menurut apa kata suami. Jadi ya aku setuju dengan permintaannya.
---------------------------------------
Hari pernikahanku telah tiba. Karena aku hanya sebatang kara, sejak kemarin aku sudah di boyong ke rumah orang tua mas Arka. Sedang mas Arka ada di rumahnya sendiri.
Hari ini aku di sulap menjadi ratu sehari. Dengan gaun pengantin indah pilihanku. Bersanding dengan pangeran pujaan hati.
Aku sangat bahagia. Akhirnya keinginanku memiliki keluarga, terwujud. Aku akan memiliki suami. Akan memiliki mertua yang baik, yang nantinya akan menjadi seperti orang tuaku sendiri.
Tapi ada kesedihan yang hadir di antara kebahagiaan ini. Sedih karena di hari bahagiaku ini, kedua orang tua dan nenek ku, tidak bisa menemaniku. Walaupun aku yakin, mereka menyaksikannya dari alam sana.
Mereka pasti sedang tersenyum, melihat aku akan menikah. Melihat aku yang mengenakan gaun pengantin yang indah, dan di rias dengan sangat cantik. Melihat aku akan hidup bahagia dengan pasanganku.
__ADS_1
Ayah...ibu...nenek, aku akan menikah, bisikku perlahan, dan hanya aku yang bisa mendengarnya.