
Malam ini Yola menginap di rumahku. Aku senang sekali karena ada teman untuk ngobrol semalaman. Apalgi dengan Yola. Sahabat yang sangat aku rindukan.
Kami bercerita sepanjang malam. Yola banyak menceritakan keseruan-keseruannya selama tinggal di luar negeri.
Dia menceritakan kalau selama di sana sering berkunjung ke negara-negara lain. Karena memang pekerjaan suaminya mengharuskannya sering ke luar negeri.
"Apa kabarnya mas Deni?" tanyaku, di sela-sela cerita Yola.
Tiba-tiba wajah Yola murung. Dia menundukan wajahnya, seperti berusaha menyembunyikan perasaannya.
Aku yang sudah cukup mengenal Yola, walaupun persahabatan kami belum lama, merasakan perubahan itu. Aku jadi merasa gak enak sendiri.
"Maaf, Yol. Maaf kalau pertanyaanku membuat kamu jadi gak nyaman" ujarku sambil menepuk tangan Yola.
"Enggak, Ar. Aku baik-baik saja kok. Aku yang minta maaf sama kamu, belum bisa menjawab pertanyaanmu" ucap Yola.
Aku jadi tak mengerti apa maksud ucapan Yola. Kenapa dia belum bisa menjawabnya. Pertanyaanku kan enggak sulit. Aku cuma menanyakan kabar mas Deni, suami Yola.
Tak biasanya Yola menyembunyikan sesuatu dariku. Yola adalah pribadi yang terbuka. Apalagi padaku, dia selalu blak-blakan.
Aku hanya mengangguk saja. Mau memaksanya bercerita gak enak juga. Aku takut Yola malah jadi sedih dan tertekan oleh pertanyaanku.
"Yol, kamu menyimpan nomor hape ibu mertuaku?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Yola menggeleng.
"Aku tak pernah menyimpan nomor hape mertua kamu, Ar. Tapi kalau nomor hape bi Yati, aku menyimpannya. Karena aku kan sering menghubunginya untuk menanyakan tentang rumah" jawab Yola.
Dari jawaban dan raut wajahnya, sepertinya dia sudah melupakan tentang pertanyaanku tadi.
Ya, Yola memang pribadi yang selalu ceria. Dia bukan orang yang selalu larut dalam permasalahannya.
Dia selalu bisa mengatasi masalahnya dengan cepat. Bukan seperti aku yang gampang baper kalau lagi banyak masalah.
Lalu Yola menyerahkan hape-nya padaku. Aku mencoba menghubungi nomor bi Yati. Berkali-kali aku men-dial nomornya tapi gak aktif.
"Nomornya gak aktif" ucapku, sambil menyerahkan kembali hape Yola.
"Aku juga sudah lama tak menghubunginya. Lihat terakhir kali aku menge-chatnya. Aku hanya menanyakan keadaan rumahku dan juga keadaanmu" ujar Yola sambil memperlihatkan percakapannya di whatsapp dengan bi Yati.
Aku membacanya sekilas. Itu saat bi Yati masih ada di rumahku. Bi Yati tidak memberitahukan kepada Yola tentang dia yang sementara ikut ibu mertuaku.
"Ya udah, kita tunggu sampai besok pagi. Kalau belum bisa juga di hubungi, besok kita ke rumah mertuamu saja" ucap Yola.
__ADS_1
Aku mengangguk. Aku juga bisa sekalian ketemu ibu mertuaku, dan melihat keadaannya. Sudah lama juga aku tak mendengar kabarnya.
Akhirnya aku dan Yola menghabiskan malam dengan bercerita hal lain. Hingga malam semakin larut, baru kami baru berhenti karena mulai mengantuk.
Yola memilih tidur di kamar yang pernah di tempati Bima. Sebelumnya aku mengganti spreinya dan Yola membersihkan lantainya.
Setelah Yola masuk ke dalam kamarnya, aku pun masuk ke dalam kamarku. Aku lihat mas Arka yang sudah terlelap di atas tempat tidur.
Damai sekali tidurnya. Beberapa hari tidur di lantai yang hanya beralaskan selimut, membuatnya nyaman kembali lagi tidur di kasur yang empuk.
Aku merebahkan tubuhku di sebelahnya. Aku memiringkan badanku. Aku tatap wajah mas Arka. Aku belai wajahnya yang semakin kelihatan rahangnya.
Suamiku terlihat sangat kurus. Pipinya tak lagi berisi. Banyak jambang yang sudah mulai tumbuh.
Dulu Bima yang selalu membersihkannya. Ya, Bima memang sangat telaten dan sabar merawat mas Arka.
Makanya aku tak pernah berfikir kalau Bima tega melakukan perampokan itu.
Aku menghela nafasku. Lalu aku mencoba memejamkan mataku. Hingga akhirnya aku pun terlelap karena sudah terlalu capek ngobrol berdua dengan Yola.
Dini hari aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan ada yang menindih perutku. Aku segera membuka mataku.
Ternyata tangan mas Arka yang ada di atas perutku. Dia sedang memelukku. Memeluk perutku dengan posisi tubuhnya agak menyamping.
Aku memiringkan tubuhku. Aku tatap wajahnya. Benarkah mas Arka sudah bisa menggerakan tangannya dan memiringkan tubuhnya?
Aku terus saja menatap wajahnya. Hingga tiba-tiba matanya terbuka perlahan-lahan. Aku tatap mata itu.
Mata mas Arka hanya menatap ke depan. Masih terlihat kosong. Tapi aku merasa dia menatapku.
"Mas..." panggilku lirih. Tak ada reaksi.
"Kamu bisa melihatku, Mas?" tanyaku. Tetap tak ada reaksi.
Aku terus saja memanggil namanya lirih. Mencoba merangsang pendengarannya.
Dan aku merasakan tangan mas Arka yang berada di atas perutku, bergerak perlahan. Tangan itu seperti sedang membelai perutku.
Aku tak mau mengganggunya dengan menyentuh tangannya. Aku biarkan saja jari-jari tangannya bergerak.
Sangat pelan. Tapi aku bisa merasakannya karena pakaian tidur yang aku kenakan berbahan tipis.
__ADS_1
Tak terasa buliran bening mengalir dari pipiku.Aku bahagia dan sangat terharu. Suamiku sudah mulai menggerakan tubuhnya.
"Teruslah gerakan jari-jarimu, Mas. Aku dan anakmu merindukan belaianmu" ucapku pelan di telinganya.
Mas Arka masih terus menggerakan jari-jarinya. Hingga akhirnya kami tertidur kembali.
Pagi hari jam enam, aku terbangun. Aku melihat mas Arka masih tertidur. Tangannya sudah tak ada lagi di atas perutku. Dia sudah pada posisi terlentang.
Aku bersyukur, karena mas Arka sudah mulai ada perkembangan. Walaupun masih sangat sedikit.
Aku beranjak dari tempat tidur. Aku akan membersihkan mukaku di kamar mandi dan menyiapkan sarapan sederhana dengan bahan-bahan seadanya untuk kami dan Yola.
Aku melangkahkan kakiku ke dapur. Aku melihat Yola sedang asik memasak di sana. Aku melihat juga banyak sekali bahan-bahan masakan di meja dapur.
"Pagi Nyonya besar" sapa Yola dengan senyuman menggodaku.
"Kamu masak apa, Yol? Dan dari mana kamu dapatkan bahan-bahan belanjaan ini?" tanyaku.
Lalu Yola menceritakan, kalau dia sudah bangun sejak subuh tadi. Dan setelah melakukan sholat shubuh, dia keluar sebentar untuk berbelanja.
Ah, aku malah sering melalaikan kewajibanku pada Tuhanku. Aku terlalu larut dalam permasalahanku, hingga aku lupa pada yang Maha Memberi Hidup. Aku jadi malu sendiri.
"Arka sudah bangun, Ar?" tanya Yola sambil terus melakukan aktifitas memasaknya.
Aku menggeleng. Dan aku menceritakan tentang kejadian semalam, saat mas Arka tiba-tiba memeluk perutku.
"Kami menikmatinya hingga menjelang pagi. Makanya kami bangun kesiangan" ucapku membela diri. Malu sama Yola yang lebih dulu bangun.
"Syukurlah kalau begitu. Berarti sudah ada perkambangan yang baik. Kapan jadwal kontrolnya ke Rumah Sakit?" tanya Yola.
Aku gelagapan menjawabnya. Sudah lama juga aku tak membawa mas Arka berobat ke dokter. Bahkan obat-obatannya habis pun tak pernah aku belikan lagi.
Yola menatapku tajam.
"Kenapa?" tanya Yola.
"Aku tak punya uang lagi untuk ke Rumah Sakit, Yol" jawabku sambil menundukan wajahku.
"Ar, bukannya kamu bisa mengajukan BPJS untuk pengobatan suamimu?" ujar Yola.
Degh.
__ADS_1
Iya juga. Kenapa tak pernah terpikirkan olehku untuk membuat kartu BPJS?
"Nanti kita urus ya, Ar. Kan kita bisa mengurusnya dengan cara online. Nanti juga akan bermanfaat buat kamu saat melahirkan" ujar Yola lagi.