SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 101 MENERJANG PORTAL


__ADS_3

Aku berlari hingga ke pintu lift. Setelah sampai di lantai satu, aku berjalan biasa.


Aku menghampiri Mila sebentar. Dia kelihatan salah tingkah. Tidak biasanya Mila bersikap seperti itu.


"Eh, Ar. Ada...apa?" tanya Mila terbata-bata. Aku menatapnya dengan heran.


"Gak ada. Aku cuma mau pamit pulang. Kamu gak apa-apa kan sendirian?" tanyaku.


"Gak apa-apa, Ar. Pulanglah."


Aneh. Biasanya Mila akan merengek memintaku menemaninya.


"Pulanglah, Ar. Sebelum...." Mila tak melanjutkan kalimatnya.


"Sebelum apa?" Aku malah jadi penasaran.


"Nanti aku jelaskan. Sekarang kamu pulanglah. Atau kamu mau menungguku hingga jam istirahat nanti di cafe depan sana?"


Aku semakin tak mengerti maksud Mila.


"Satu jam lagi, aku istirahat. Kalau kamu mau, tunggulah di sana" ucap Mila lagi.


"Oke. Aku tunggu kamu di sana." Lalu aku berjalan ke cafe yang tak jauh dari hotel.


Apa yang akan dikatakan oleh Mila? Apa ini ada kaitannya dengan istri Doni? Tapi kenapa Mila kelihatan sangat ketakutan?


Aku mencari tempat yang agak tersembunyi. Aku pingin menyendiri sebentar, sebelum Mila datang.


Setelah memesan minuman, Doni menelponku. Dia merasa sangat bersalah padaku.


"Aku baik-baik saja kok, Don. Gak usah khawatir. Urus saja istrimu" sahutku di telpon.


"Ar, jangan bilang seperti itu. Dia tak pernah serius dengan omongannya. Dia lebih sibuk dengan dirinya sendiri daripada aku. Dan sekarang dia sudah pergi lagi. Kamu dimana sekarang? Aku jemput ya?"


Panjang lebar Doni menjelaskan padaku lewat telpon, membuatku makin pusing.


Aku memilih menutup telponku dari pada mendengarkan alasan Doni.


Bukan aku marah sama Doni, tapi aku hanya ingin memberi waktu pada Doni dan juga pada diriku sendiri. Agar kami bisa lebih bijak lagi dalam menghadapi masalah.


Tak lama setelah aku menutup telpon, Doni menghampiriku. Aku terkejut melihatnya yang tiba-tiba sudah ada di depanku.


"Dari mana kamu tau aku ada di sini?" tanyaku. Aku berfikir mungkin Mila yang mengatakannya.


"Kamu tak tau kalau cafe ini milik temanku?" tanya Doni sambil menunjuk dengan wajahnya ke arah seorang lelaki seusiaku juga.


Oh. Rupanya dia yang mengatakan kalau aku ada di sini. Pantas saja dari tadi dia menatapku terus.


Doni menarik kursi lalu duduk di depanku.

__ADS_1


"Kamu marah sama aku?" tanya Doni. Aku menggeleng.


Aku tak berhak marah pada Doni. Apalagi marah pada istrinya. Dia lebih berhak atas Doni dari pada aku.


"Ikut aku." Doni menarik tanganku dan membawaku pergi dari cafe itu.


"Aku bayar minumanku dulu." Aku berusaha melepaskan diri.


"Sudah. Nanti aku yang bayar." Lalu Doni membukakan pintu mobilnya untukku.


Aku menurut saja kemana Doni akan membawaku. Aku memang sangat membutuhkan Doni. Karena hanya dia yang bisa memahamiku saat ini.


Aku kecewa dengan hidupku. Dengan takdirku. Aku seakan tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.


Suami yang aku harapkan bisa menemaniku, malah seperti mayat hidup yang tak bisa lagi diajak komunikasi.


Mertua yang sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri, dua-duanya pergi mendahului kami.


Bahkan mas Teguh yang sudah aku anggap kakakku, malah mengecewakanku dengan hampir melakukan hal yang tak senonoh padaku.


"Aku kabari Mila dulu. Tadi dia janji akan menemuiku di cafe itu."


Doni tak menjawab, hanya menganggukan kepalanya.


"Hallo, Mil. Maaf aku pulang saja ya? Besok aja kita ketemu lagi di hotel" ucapku di telpon.


Mila nampak sangat kecewa. Mungkin memang ada hal penting yang akan disampaikannya.


"Kalian janjian?" tanya Doni. Aku mengangguk.


"Ada yang mau kalian bicarakan?" tanya Doni lagi.


"Entahlah. Mila hanya memintaku menunggunya di sana. Tapi tadi Mila kelihatan sangat khawatir. Ada apa ya?"


"Besok saja kamu tanyakan pada Mila. Sekarang kita bersenang-senang saja. Biar enggak pusing" sahut Doni.


"Bersenang-senang?"


"Iya. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat" sahut Doni sambil melirikku.


"Tempat apa?" tanyaku tak mengerti.


"Nanti juga kamu akan tau." Lalu Doni mempercepat laju mobilnya, hingga sampai ke sebuah apartemen.


Doni mengajakku masuk ke dalam apartemen itu. Dan menuju sebuah unit yang ada dilantai sepuluh.


"Tempat siapa ini, Don?" tanyaku. Karena setahuku Doni selain tinggal di hotel, dia juga tinggal di rumah yang dikontraknya.


"Tempatku. Tapi akan jadi tempat kita. Aku sudah tak lagi mengontrak rumah. Buat apa, kalau tak pernah ditinggali. Kamu juga gak mau kan kalau aku bawa ke sana?"

__ADS_1


Ya jelas tidak mau lah. Di sana kan tempat Doni dan istrinya pernah tinggal bersama. Meski pada akhirnya, istrinya lebih memilih tinggal dengan orang tuanya.


"Kok tempat kita, Don?" tanyaku.


Doni membuka pintu sebuah unit yang tak terlalu besar. Tapi cukuplah kalau ditinggali sebuah keluarga kecil.


"Ini akan jadi tempat kita, Ar. Aku membelinya untuk kamu" sahut Doni.


"Untuk aku?"


"Iya. Untuk kamu."


"Banyak sekali uangmu, sampai membelikan apartemen untukku?"


Aku memang tahu berapa gaji Doni per bulannya. Aku pernah tak sengaja membaca laporan di laptopnya Doni.


"Bos kasih bonus karena peningkatan jumlah tamu di hotel kita. Aku juga dapat bagian dari proyeknya Roni. Daripada aku berikan untuk istriku, mending aku belikan apartemen ini buat kamu."


Aku tertawa mendengar penuturan Doni. Aneh, punya uang malah diberikan untuk aku yang kata istrinya perempuan murahan.


"Kenapa ketawa? Apa aku lucu?" tanya Doni.


"Iya. Kamu sangat lucu, Doni. Dimana-mana suami punya rejeki itu buat istrinya. Kamu malah buat orang lain."


"Kamu bukan orang lain lagi buat aku, Ar. Hubungan kita hanya terhalang status secara resmi saja kan? Aku mencintai kamu. Dan aku yakin, kamu juga mencintaiku."


Doni mendekat padaku dan langsung ******* bibirku dengan rakus.


Aku mendorong tubuh Doni, agar menjauh dariku.


"Kenapa? Kamu tidak merindukan aku?" tanya Doni yang malah mengungkungku.


Jangan tanya kalau soal rindu. Meski baru saja berpisah beberapa jam, aku sudah sangat merindukan Doni.


"Bukan begitu, Don." sahutku.


"Lalu kenapa?" Tanya Doni sambil berusaha mendekati bibirku.


Aku memalingkan mukaku. Tak mau terbawa suasana. Dan tak bisa menahan hasratku pada Doni.


Karena aku akui, pesona Doni telah membuatku melupakan suamiku yang lumpuh dan tak berdaya.


"Aku..." Aku sengaja menggantung kalimatku biar Doni penasaran.


"Kamu kenapa?" Doni semakin mengungkungku, hingga membuatku tak bisa lagi memalingkan wajahku.


"Aku...sedang datang bulan."


Dasar Doni, meski jawabanku sudah jelas tapi masih saja nyosor.

__ADS_1


Sekuat mungkin aku menahan diri agar tak terhanyut pada permainan Doni.


Tapi Doni tetaplah Doni. Tak pernah puas dengan hanya memandang saja. Portal pun akan diterjangnya kalau sudah ada maunya.


__ADS_2