
Setelah seharian melewati rangkaian acara yang sangat melelahkan, mas Arka memilih untuk kembali ke rumahnya sendiri. Bersamaku tentunya.
Sebenarnya mertuaku tidak setuju. Mereka menginginkan kami menginap barang satu malam. Tapi mas Arka memberikan alasan yang tepat.
Karena acara yang diadakan di rumah, pasti sampai malam rumah akan ramai oleh orang-orang, yang masih sibuk membereskan rumah.
Akhirnya, dengan berat hati, mereka menyetujuinya. Asal sorenya harus datang lagi. Karena kemungkinan masih ada tamu yang akan datang.
Daripada berdebat yang gak akan ada ujungnya, akhirnya kami menyetujuinya. Dan malam itu pun kami meluncur menuju rumah kami.
Rumah mas Arka sih, tapi sejak aku resmi menjadi istrinya, jadilah rumah kami. Rumah yang akan menemani perjalanan rumah tangga kami. Rumah yang akan jadi tempat anak-anak kami. Begitu kata suamiku.
Selama berpacaran dengan mas Arka, suamiku, aku baru sekali di ajak ke rumah ini. Itu juga gak lama. Hanya mengambil barangnya aja yang ketinggalan.
Kami takut tak bisa menjaga diri kalau berduaan di dalam rumah. Makanya kami menghindari itu.
Di rumahku pun kalau mas Arka datang, pintu selalu kami buka lebar. Takut ada godaan syetan yang terkutuk.
Setelah sampai, kami pun segera masuk. Aku duduk di sofa ruang tamu. Aku belum berani masuk sampai dalam.
"Kok duduk di situ. Masuk ke dalam dong. Ini kan sekarang rumah kamu juga" ajak mas Arka.
Lalu membimbingku masuk. Aku masih canggung. Aku perhatikan ruang demi ruang. Semua tertata rapi.
Rumah kami tak sebesar rumah mertuaku. Tapi cukup luas untuk tempat tinggal kami berdua.
Ada tiga kamar. Satu kamar yang paling besar, itu kamar mas Arka. Yang akan jadi kamar kami.
Satu kamar dijadikan mas Arka sebagai ruang kerja. Dan satu kamar lagi di biarkan kosong. Hanya ada tempat tidur kecil. Jaga-jaga kalau ada tamu yang akan menginap. Walaupun selama ini belum pernah ada yang menginap.
Mas Arka terbiasa membereskan dan membersihkan rumah sendiri. Semua pekerjaan rumah dia kerjakan sendiri. Untuk pakaian, dia biasa menggunakan jasa loundry. Hanya pakaian dalam yang dia cuci sendiri, dengan mesin cuci.
__ADS_1
Aku masuk ke bagian dapur. Bersih. Karena mas Arka tidak suka dengan dapur yang kotor. Dan dia juga jarang memanfaatkannya. Paling banter bikin mie instan kalau terpaksa tengah malam lapar.
Di ruang tengah, ada sebuah televisi dengan ukuran tak terlalu besar. Karena ruangan itu juga tak lebih besar dari ruang tamu.
Barang-barang di rumah ini juga tak terlalu banyak. Kata mas Arka, ribet bersihinnya kalau terlalu banyak barang. Aku hanya manggut-manggut aja.
Lalu mas Arka menarik tanganku pelan, untuk masuk ke dalam kamarnya. Aku mulai memasukinya. Kamar yang cukup luas. Dua kali lipat dari kamarku di rumah orang tuaku.
Kamar itu pun sangat rapi. Dengan cat berwarna putih bersih. Satu tempat tidur ukuran besar. Satu lemari pakaian juga berukuran cukup besar. Dan sebuah televisi yang menempel di dinding kamar.
Ada kamar mandi juga di dalamnya. Hmm...benar-benar kamar yang ideal. Minimalis tapi modern.
Aku hanya berdiri di samping lemari. Di dekat pintu kamar. Sementara mas Arka duduk di tepi tempat tidurnya.
"Sini dong sayang" ajak mas Arka, sambil menepuk sebelahnya. Aku terkejut mendengar panggilan sayang dari mas Arka. Biasanya dia hanya memanggil namaku saja.
Dengan malu-malu aku mendekatinya. Lalu mas Arka menarik pelan tanganku, agar aku duduk di sebelahnya. Aku pun menurutinya.
Mas Arka duduk menyamping, menghadap ke arahku. Dia arahkan juga wajahku untuk menghadap ke arahnya. Dia semakin mendekatkan wajahnya. Sampai tak ada jarak lagi.
Aku memejamkan mataku. Pasrah. Aku harus siap dengan semua yang akan mas Arka lakukan kepadaku. Karena kini, dia adalah suamiku. Dia punya hak penuh atas diriku.
Dan aku sebagai istri, berkewajiban memberikan haknya. Malam ini, aku akan mempersembahkan milikku yang paling berharga. Yang selalu aku jaga.
Aku merasakan aroma nafas mas Arka, yang berada tepat di depan wajahku. Lalu bibirnya ******* lembut bibirku. Selembut ciumannya sewaktu di pinggir pantai dulu.
Aku sangat menikmatinya. Lama kami saling memagut, sampai kami kehabisan nafas. Lalu saling melepaskan. Aku tertunduk malu.
Mas Arka mengangkat lagi wajahku. Dia memulainya lagi. Semakin lama, semakin menuntut. Dan tangannya mulai menjelajah. Aku pasrah dan menikmatinya.
Menikmati semua sentuhannya. Di setiap jengkal tubuhku. Menikmati cumbuannya. Sampai aku tak menyadari kalau pakaianku sudah terlepas semua.
__ADS_1
Mas Arka membaringkanku. Làlu mengungkungku di bawahnya. Dan...dia mengajakku terbang melayang ke awang-awang.
Hingga kita sama-sama lelah. Sama-sama terkapar. Sama-sama puas. Sama-sama tertidur lelap. Dalam pelukan hangat, tubuh-tubuh polos.
Pagi menjelang, aku mulai membuka mataku. Ku lihat di sebelahku, suamiku masih terlelap dengan tangan yang masih memelukku.
Aku singkirkan tangannya perlahan. Aku ingin membersihkan diri ke kamar mandi. Dengan tertatih, karena sedikit terasa perih di area intiku, aku berjalan menuju kamar mandi.
Aku menyalakan air dari shower. Guyuran air membuatku merasa segar kembali. Walau sedikit dingin. Aku memang tak terbiasa mandi dengan air hangat.
Selesai dengan mandiku, aku melangkah keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk yang ada di sana.
Aku baru ingat, kalau aku belum sempat membawa masuk tas pakaianku ke kamar. Aku membangunkan mas Arka perlahan. Untuk meminta bantuannya mengambilkan pakaianku, yang masih di ruang tamu.
Mas Arka menggeliat perlahan. Dia mulai membuka matanya. Menatapku yang berdiri di samping tempat tidur, dengan hanya mengenakan handuk.
Matanya fokus menatapku. Spontan tanganku menutupi bagian depanku. Aku pun menunduk malu.
Mas Arka kemudian bangkit lalu tiba-tiba meraihku lagi. Aku yang belum siap pun terjatuh ke atas tubuhnya. Dengan sekali tarikan tangan, handuk yang aku pakai pun terlepas.
Dan mas Arka memulainya lagi. Mulai menjelajah lagi. Mulai membawaku terbang melayang lagi.
Walau masih ada sedikit rasa perih, tapi rasa nikmat itu bisa menutupinya. Aku begitu menikmatinya. Menikmati keindahan rasa itu.
Tak cukup satu kali. Mas Arka memulainya lagi, ketika aku sudah terkapar. Seperti tak ada puasnya.
Sampai akhirnya aku menyerah. Tenagaku habis. Lemas. Tak berdaya. Peluh membasahi sekujur tubuhku.
Mas Arka pun membiarkan aku kembali tertidur. Dia menyelimuti tubuh kami. Dan kami kembali berpelukan, menuju ke alam mimpi.
Sebelum memejamkan mataku, aku sempatkan menatap wajah suamiku. Wajah orang yang mengambil mahkotaku. Di malam pertama.
__ADS_1