
Selesai acara tujuh hari tahlilan bapak, aku dan mas Arka pamit untuk kembali ke rumah kami. Ibu terlihat sangat keberatan. Dia menginginkan kami untuk tetap tinggal di rumahnya. Karena kini tak ada lagi bapak.
Mas Arka berusaha memberi pengertian ke ibu. Agar ibu bisa menerima keputusan kami. Dan kami berjanji akan sering datang menengok ibu.
Akhirnya dengan berat hati, ibu melepaskan kepulangan kami. Dan seperti biasanya, mobil akan penuh dengan aneka bahan-bahan makanan.
Ibu tak pernah sekalipun membiarkan mobil kami kosong. Selalu akan mengisinya dengan macam-macam kebutuhan pokok.
Karena selain di kebun belakang rumah ibu banyak tanaman-tanaman yang bisa di manfaatkan buat memasak, ibu juga punya sawah. Sawah ibu di sewakan dengan perjanjian bagi hasil.
Petani penggarap akan mengirimkan hasil panennya kepada ibu. Jadi kami selalu kecipratan jatah beras, dari hasil panen itu.
Sesampainya di rumah kami, aku melihat bagitu banyaknya debu. Maklum kita meninggalkannya selama seminggu. Jadi deh kita bersih-bersih rumah dulu.
"Kamu jangan kecapean, Sayang. Ingat dokter bilang gimana?" ucap mas Arka.
"Iya, Mas. Cuma bersih-bersih aja kok" jawabku. Karena gak mungkin semua dikerjakan oleh mas Arka. Sedang aku tau sendiri kalau mas Arka juga bisa drop kalau terlalu capek.
Setelah rumah bersih, barulah kita membongkar bawaan yang dikasih ibu. Kulkas dan lemari dapur full bahan makanan.
Aku kembali teringat kehidupan orang tuaku dulu. Boro-boro mau menyimpan bahan makanan sebanyak ini, buat makan besoknya aja ibu mesti ngirit belanjanya.
Makan kami sehari-haripun seadanya. Ibu selalu memasak dengan jumlah yang pas untuk kami bertiga. Jadi gak ada yang namanya laper lagi. Udah makan, ya udah. Makanan langsung habis, karena memang ibu memasaknya tak pernah lebih. Dan bagusnya, tak pernah sekalipun ibu membuang makanan.
Jauh berbeda dengan kehidupanku saat ini. Bahan makanan di dapur sangat berlimpah. Kadang aku sudah masak, malah mas Arka pulang dengan membawa makanan. Atau tiba-tiba dia mengajakku makan di luar. Akibatnya bukan sekali dua kali kami membuang makanan karena tak kemakan.
Seandainya ayah dan ibuku masih ada, pasti akan bisa juga menikmati sebagian dari kehidupanku kini. Aku menghapus genangan bening di ujung mataku.
"Udah yuk, kita istirahat. Jangan melamun di situ" ujar mas Arka. Aku yang sebenarnya sudah selesai dengan beres-beresku, mengikuti mas Arka ke ruang tengah.
Dia sudah duduk di sofa, dan merentangkan tangannya. Memberi tanda agar aku mendekat ke pelukannya.
__ADS_1
Ayah...ibu...Aku sudah bahagia dengan suamiku. Kami sedang menunggu kehadiran anak kami. Cucu kalian. Ucapku dalam hati.
Aku merasakan mataku mengembun dan tenggorokanku sedikit tercekat.
"Kok melamun lagi sih? Ada apa, Sayang?" tanya mas Arka. Aku tak menjawabnya, hanya semakin mengeratkan pelukanku. Dan menciumi dada bidang suamiku. Mas Arka pun menciumi rambutku.
"Sepi ya, Mas. Gak ada Yola lagi?" ucapku yang lebih mirip pertanyaan.
"Kan ada mas di sini, Sayang" ujar mas Arka.
"Tapi nanti kalau mas kerja, aku gak ada temannya" ucapku sedikit merajuk.
"Kamu mau dicarikan teman? Nanti biar mas bilang ke ibu. Biar ibu mencarikan pembantu, untuk menemani kamu" ujar mas Arka lagi.
Aku berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. Karena sebentar lagi perutku membesar, pasti akan sangat repot kalau aku mesti mengerjakan semuanya sendiri.
Belum lagi, Yola juga menitipkan rumahnya pada kami. Mau gak mau, aku harus sering-sering mengunjungi rumahnya. Bahkan membersihkannya. Minimal halaman depan. Biar gak seperti hutan. Karena di halaman rumah Yola banyak sekali tanaman-tanamannya.
"Ya udah, nanti mas minta tolong ke ibu, untuk mencarikan kamu teman. Sekarang kita bobok yuk" ajak mas Arka dengan kerlingan nakalnya.
Aku tau yang diinginkannya. Sudah seminggu lebih kita cuti. Dokter juga melarangku beraktifitas yang berat-berat dulu. Termasuk berhubungan suami-istri.
"Mas aja duluan. Aku mau melihat rumah Yola sebentar," jawabku. Mencoba menghindari ajakan suamiku untuk 'bobok'.
Karena jujur, aku masih khawatir dengan kandunganku. Aku masih takut kalau nanti keluar darah lagi.
Mas Arka kalau 'main' gak cukup sekali. Dan kecepatannya kayak pembalap Rossi lagi di arena. Aku kadang sampai kerepotan mengimbanginya.
Apalagi sekarang, lama cuti. Bisa di hajar habis-habisan aku.
"Sayang, ingat pesan dokter, kamu gak boleh terlalu capek" ucap mas Arka.
__ADS_1
Nah itu tau kalau aku belum boleh terlalu capek. Tapi nanti kalau sudah di 'arena', dia lupa dengan nasehat dokter.
Aku tak bisa mengelak lagi. Tak ada lagi alasan aku menghindar. Semua pekerjaan sudah beres. Kalau aku alasan mau memasak, pasti akan menjawab beli aja nanti. Atau kita makan di luar aja. Fix. Aku pasrah.
Akupun beranjak mengikutinya ke kamar. Tapi aku mengunci pintu rumah dulu. Karena biasanya kami akan sama-sama terkapar dan terlelap.
Dan benar dugaanku. Begitu aku sampai di kamar, mas Arka sudah melepas kaosnya. Alasannya gerah. Aku jawab, kan ac nya bisa di turunkan suhunya. Eh, dia bilang kaosnya yang tadi dipakainya udah kotor. Takut bau. Hadeh, udah kayak orang gak punya kaos lagi aja.
Untuk mengulur waktu, aku pamit ke kamar mandi dulu. Aku berharap, setelah aku keluar dari kamar mandi, mas Arka sudah tertidur. Karena aku mau agak lama di dalam kamar mandi.
Benar juga, setelah aku keluar dari kamar mandi, aku lihat mas Arka sudah merem sambil memeluk guling. Selamat, batinku. Aku tersenyum menang.
Aku merebahkan diriku di sampingnya. Sengaja memberi jarak agar tidak mengusik tidurnya.
Baru aja aku memejamkan mata, tau-tau tangan mas Arka sudah ada di atas perutku. Jantungku berdetak cepat. Aku buka mataku lagi, perlahan. Aku melirik ke arahnya. Memastikan dia masih tidur atau....
Eh, dia tersenyum menatapku. Hhhh...bakal di gempur habis-habisan ini. Akupun membalas senyumannya.
Bagaimanapun aku sadar, kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya. Dan akan berdosa jika istri menolak keinginan suami. Aku juga gak mau dong menambah dosaku.
Tangan mas Arka mulai beraksi. Dari sekedar mengelus perutku, sampai akhirnya traveling ke puncak gunung kembarku.
"Katanya capek?" tanyaku iseng. Aku kepingin tau apa jawabannya.
"Iya. Tapi mas haus, Sayang" jawab mas Arka.
"Aku ambilkan minum ya?" tawarku pura-pura bodoh.
"Mas maunya mimik ini" jawabnya sambil memelintir 'puncaknya'.
"Mas...masih ingat nasehat dokter kan?" aku masih berusaha ngeles.
__ADS_1
"Kan cuma mimik aja, Sayang" jawabnya. Dan tanpa perlu aba-aba lagi, langsung self-service.