
Setelah puas bercumbu, kami saling melepaskan. Aku pindah duduk di sebelah mas Arka. Memberinya kesempatan meminum teh yang aku buatkan tadi.
Tanpa berniat membuka kotak makanan, yang di berikan oleh tetangga seksi itu, aku menyingkirkannya. Aku gak mau suamiku memakan makanan dari perempuan itu.
Entar kalau ada peletnya gimana coba? Bisa-bisa suamiku akan ngejar-ngejar dia. Pikiran yang gak logis. Ya, namanya juga orang lagi kesel. Bebas.
"Kenapa di singkirin sayang?" tanya mas Arka, kelihatan bingung.
"Biarin. Nanti kita kasih ke satpam aja. Aku gak mau mas memakannya. Aku udah bikinin makanan sendiri" jawabku ketus.
"Uluh-uluuh, istriku lagi ngambek apa cemburu ini?" ledek mas Arka. Aku memanyunkan bibir. Mas Arka pun tertawa terbahak.
Malam ini, aku dan mas Arka berniat keluar. Aku mau membeli bedak. Walaupun aku jarang memakai bedak, apalagi sekarang sudah gak kerja, tapi namanya perempuan, kalau bedaknya tinggal sedikit, pasti uring-uringan.
Tak lupa, aku juga membawa kotak makanan pemberian tetangga sebelah tadi. Aku benar-benar akan memberikannya pada satpam yang berjaga di pos masuk komplek. Mas Arka hanya tersenyum melihat ulahku.
Sampai di depan pos jaga, aku panggil satpam yang berjaga disana. Lalu aku berikan kotak makanan itu.
Sekilas aku melihat dari spion, mobil si tetangga seksi itu, ada di belakang mobil kami. Ealah, mau ngapain dia? Mau mengikuti aku dan mas Arka?
Perempuan itu membunyikan klaksonnya dengan keras. Berkali-kali sampai aku merasa bising. Mungkin dia kesal, melihat aku memberikan kotak makanan itu, kepada satpam komplek.
Dalam hatiku, biar dia tau rasa. Kotak makanannya aku berikan ke satpam. Aku tersenyum menang. Ku lihat mas Arka hanya mengangkat bahunya. Lalu segera melajukan mobilnya.
Kami menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Sekalian aku mau belanja juga di supermarket, untuk mengisi kulkas. Mencari camilan juga, buat isi toples.
Tengah kami berjalan mencari kebutuhan dapur di supermarket, aku melihat si tetangga seksi itu lagi. Dia juga sedang memilih-milih belanjaan. Kami ada di lorong yang sama. Hanya beda arah.
Aku yang lebih dulu melihatnya, langsung membelokan troly kami. Aku gak akan kasih kesempatan sedikitpun, buat dia bertemu suamiku.
Mas Arka hanya geleng-geleng kepala. Rupanya dia juga melihatnya. Ya iyalah, mata lelaki pasti akan sangat sensitif lihat yang seksi-seksi.
__ADS_1
Aku buru-buru menyudahi belanjaku. Dan bergegas menuju ke kasir. Malas aku ketemu lagi dengan perempuan aneh itu.
"Sayang, kamu kenapa sih? Santai aja. Kan mas udah bilang, jangan terpengaruh oleh dia. Semakin kamu terpengaruh, dia akan semakin senang menggoda kamu" ucap mas Arka, saat kami ngantri di kasir.
"Dia gak menggodaku mas, tapi menggoda kamu. Masa jeruk makan jeruk sih? Jijik aku sama perempuan model gituan" jawabku sewot.
"Kamu aja jijik, apalagi mas?" ucap mas Arka santai.
Alhamdulillah. Ternyata suamiku juga jijik dengan perempuan itu. Tapi kalau tiap hari di goda dengan paha mulus dan dada seksi?
Ah, pahaku juga gak kalah mulus kok. Dan dadaku lumayan berisi. Walaupun aku akui, lebih besar miliknya.
Setelah membayar di kasir, kami menuju ke counter kosmetik. Aku membeli beberapa keperluanku di sana. Baru kami pulang. Gak terlalu lama juga kami belanja. Karena besok, mas Arka mesti kerja pagi.
Sesampainya di rumah, aku lihat mobil si perempuan itu sudah ada di rumahnya. Kapan dia pulangnya? Sedang tadi, saat aku buru-buru ke kasir, dia masih ada di dalam supermarket.
Apa jangan-jangan dia punya pintu ajaib, kayak doraemon ya? Otak ku masih berfikir tentang perempuan aneh itu. Tiba-tiba mas Arka menyentil dahiku.
"Udah di bilangin gak usah di pikirin" ucapnya. Lalu segera turun dari mobil. Aku pun mengikutinya. Tak lupa mas Arka membawa belanjaan kami, yang ada di jok tengah.
"Mau tidur apa mau olah raga malam?" tanya mas Arka menggodaku. Aku melotot ke arahnya. Lalu segera bersembunyi di balik selimut tebal.
Mas Arka pun menyusul masuk ke dalam selimut. Dan tak lama, selimut beserta pakaian kami berhamburan ke lantai.
🍄🍄
Pagi ini, seusai sholat subuh, mas Arka gak keluar rumah. Dia hanya duduk di ruang tengah sambil membuka-buka ponselnya. Segelas teh hangat aku siapkan, dan beberapa camilan yang kami beli kemarin, di supermarket.
Sepertinya dia malas berurusan dengan si seksi itu. Dan yang pasti malas melihat aku uring-uringan terus.
Aku menyibukan diri di dapur, menyiapkan sarapan. Kalau pagi, mas Arka makan gak terlalu banyak. Dan gak harus yang ribet-ribet. Seadanya aja. Yang penting perut terisi.
__ADS_1
Setelah mas Arka berangkat, seperti kemarin, aku menunggu tukang sayur lewat. Gara-gara perempuan aneh itu, aku jadi buru-buru keluar dari supermarket. Akibatnya, banyak yang gak kebeli.
Tak lama, tukang sayur lewat. Aku segera menghampiri. Di ikuti beberapa pembeli lain.
Dan perempuan aneh itu pun ikut nimbrung lagi. Mau apa sih nih orang? Selalu mengikuti aku.
Aku masih pura-pura anteng memilih beberapa sayuran dan ikan segar. Aku membeli dua ikat kangkung.
"Melihara kelinci ya mba?" tanya perempuan itu. Aku mengangkat wajahku.
"Nanya ke aku?" tanyaku, sambil menunjuk diriku sendiri. Dia pun mengangguk senang.
"Iya. Kelinci ganteng dan sangat menurut" jawabku santai.
"Kasihan amat, ganteng-ganteng cuma di kasih makan kangkung?" ucapnya lagi. Makin panas aku mendengarnya.
"Kangkung kan bikin makin hot" ucapku asal.
"Wow, boleh dong nyobain. Sebentar aja juga gapapa" ucapnya tanpa malu-malu.
Kayaknya ini perempuan gatel, yang urat malunya udah putus. Aku segera membayar belanjaanku.
"Boleh aja. Tapi kita duel dulu. Kalau situ menang, silakan pake sepuasnya. Dan semoga kelinciku gak muntah-muntah main ama situ" jawabku sambil berlalu.
Bener-bener ngajak berantem ini perempuan. Awas aja kalau berani godain suamiku. Ancamku dalam hati.
Sore hari, saat mas Arka baru dateng dan baru turun dari mobil, si perempuan gila itu sudah berdiri di halaman depan rumahnya.
Dia kelihatan sedang pura-pura menyiram tanaman. Tangannya memegang selang yang di arahkan ke tanaman-tanaman di halaman itu.
Pakaiannya jangan di tanya, mirip lingerie berbahan satin. Super mini. Dan sepertinya dia tak mengenakan bra. Terlihat puncak gunungnya mencuat.
__ADS_1
Sebagai perempuan aku merasa sangat risi. Aku perhatikan, ada beberapa laki-laki menoleh ke arahnya. Tapi tidak dengan suamiku.
Mas Arka yang mengenakan kaca mata hitam, berjalan lurus ke arahku. Aku menyambutnya dengan kecupan di bibir. Sambil mataku menatap, meledek ke arah si perempuan aneh itu.