
"Bagaimana hasil penyidikannya, Ar? Kamu enggak diapa-apain kan, di dalam? Mereka memperlakukan kamu dengan baik, kan?"
Mila langsung memberondong dengan banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin aku bisa menjawabnya sekarang, untuk bisa bernafas dengan lega pun rasanya sulit buatku.
"Ar! Jawab pertanyaanku. Aku berani memviralkan kalau mereka memperlakukan kamu dengan tidak baik. Aku punya banyak akun palsu yang bisa aku pakai."
Aku semakin terperangah lagi dengan pengakuan Mila. Apakah selama ini Mila menggunakan akun-akun palsunya untuk menjerat laki-laki yang dijadikan targetnya?
Ah. Entahlah. Aku tak ingin memikirkan itu dulu. Otakku belum bisa berfikir jauh, kecuali pernyataan dari dua polisi penyidik tadi.
Aku duduk di sebelah Mila. Ferdy berjalan melewati kami seperti tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Walaupun memang perkenalan kami baru berlangsung beberapa jam setelah kasus kematian Doni.
"Kita pulang sekarang!" Hanya itu yang bisa aku katakan pada Mila.
Mila pun tak bisa menolak ajakanku karena sepertinya dia juga tak nyaman berada di sini berlama-lama.
Aku dan Mila berjalan keluar dari kantor polisi yang membuat dadaku terasa sesak.
"Kita mau pulang kemana?" tanya Mila setelah kami berada di depan kantor polisi.
Aku pun terhenyak mendengar pertanyaan Mila. Iya betul, kami akan pulang kemana?
"Hubungi Roni atau Sarah!" Aku memberikan ponselku pada Mila. Biar dia yang menghubungi mereka. Karena aku belum siap bicara dengan siapapun.
Mila mulai menghubungi Sarah dengan ponselku.
"Hallo, Sarah. Ini aku, Mila. Kalian ada di mana?" tanya Mila.
"Pemakaman? Oh, oke. Kami segera ke sana. Tolong share lokasi kalian sekarang," ucap Mila lagi.
Mila menunggu beberapa saat pesan dari Sarah. Setelah bunyi kling dari ponselku, baru Mila membuka ponselku lagi.
Dan dia segera memesan taksi online dari aplikasi di ponselku.
"Kita langsung ke pemakaman. Mereka langsung mengebumikan Doni," ucap Mila. Aku hanya mengangguk.
__ADS_1
Kasihan sakali Doni, dia bahkan tak punya rumah duka untuk sekedar menyemayamkan sebentar jenazahnya setelah dari rumah sakit.
Tapi aku pun enggan berkomentar. Aku akan mengatakannya nanti setelah semua prosesnya selesai.
Di depan Roni dan juga Sarah.
Taksi online yang dipesan Mila, tiba. Dan segera membawa kami ke area pemakaman umum. Kami harus segera ke sana. Aku ingin menyaksikan proses pemakaman Doni. Dan melihat jasad Doni untuk terakhir kalinya.
Jasad orang yang pernah memberikanku dosa terindah. Jasad orang yang berambisi terlalu besar padaku selain...mas Teguh.
Sepanjang perjalanan Mila menggenggam tanganku dengan erat. Sepertinya dia paham kalau kondisiku sedang tidak baik-baik saja.
Ya, kematian Doni yang tiba-tiba membuatku sangat terpukul. Setelah sebelumnya, Mila dengan kebodohannya mengajak mas Arka, suamiku ke rumah sakit. Tempat di mana mestinya kami bisa segera mengetahui kondisi kami yang sebenarnya.
Dan mungkin seandainya Mila tak membawa mas Arka ke rumah sakit, semua ini tak harus terjadi. Doni tak akan mati di pelukanku. Meski pun mati sudah menjadi takdirnya. Tapi paling tidak, aku tak perlu menanggung beban seberat ini.
Dan juga tak perlu mrngetahui sebuah kebenaran tentang Doni yang sangat memukulku.
Sampai di pemakaman, aku melihat beberapa orang. Sarah dan Roni pastinya dengan beberapa anggota dari kepolisian.
Kenapa mesti ada suamiku lagi? Kenapa dia harus mengetahui kebenaran yang ingin aku sembunyikan darinya?
Mila menarik tanganku agar segera mendekat. Karena jenasah Doni akan segera diturunkan ke liang lahat. Ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Sampai di dekat liang lahat Doni, aku hanya menatap mas Arka dari seberang. Dia berdiri di sisi lain bersama Yola dan Deni.
Sarah langsung memelukku. Para pekerja pemakaman siap menurunkan jasad Doni. Tak ada keluarga yang biasanya akan menerima jasad di dalam lubang sebagai tanda penghormatan perakhirnya.
Setelah jasad Doni ditutup dengan beberapa kayu, para pekerja naik lagi ke atas. Untuk selanjutnya menurunkan tanah bekas galian. Hingga jasad Doni tak terlihat lagi.
Aku masih diam membeku. Tak ada suara jerit tangis dari bibirku. Hanya air mata saja yang mengalir tiada henti tanpa bisa aku bendung lagi.
Bagaimana pun Doni pernah memberikan arti dalam hidupku. Di saat aku merasa tak kuat menghadapi cobaan hidup yang terlalu berat.
Meski Doni juga yang akhirnya menyelesaikan hampir seluruh masalah hidupku dengan caranya. Tanpa seorang pun yang tahu, andai Doni masih hidup.
Setelah makam Doni tertutup sempurna, Sarah melepaskan pelukannya dan mengambil sebuah keranjang yang berisi bunga tabur.
__ADS_1
Dengan diiringi air mata dan isak tangis Sarah, bunga tabur itu mulai memenuhi gundukan tanah yang ada di depanku.
Aku tak menyentuh sama sekali bunga itu. Entah mengapa, tak ada sedikitpun niatku untuk menaburi makam Doni.
Padahal mas Arka pun mengambil satu keranjang kecil, lalu menyebarkan isinya di atas pusara Doni.
Lalu mas Arka duduk bersimpuh di depan gundukan tanah itu. Matanya terpejam, seolah dia sedang khusyu mendoakan Doni.
Orang yang telah merebut hati istrinya. Bahkan orang yang telah belasan kali meniduri aku, istrinya.
Tak ada dendam sedikitpun terpancar dari mata sayunya. Yang aku lihat justru pancaran kesedihan yang mendalam.
Deni membimbing mas Arka untuk kembali berdiri dan meninggalkan area pemakaman. Mereka bertiga berjalan menjauh. Tanpa ada yang berniat menyapaku.
Mungkin kebencian sangat dalam kepadaku. Manusia paling terkutuk di dunia ini.
Berselingkuh di saat suaminya sedang menghadapi kenyataan antara hidup dan mati. Sedang dalam keadaan hidup tapi seperti mati.
Mas Arka hanya melirikku sekilas saat melewatiku. Lalu pergi begitu saja.
Dua orang anggota kepolisian yang ikut dalam prosesi pemakaman Doni juga ikut pergi bersama beberapa orang petugas dari pemakaman.
Di sini hanya menyisakan empat orang saja. Sarah, Roni dan Mila. Termasuk aku.
Aku masih bisa berdiri tegak sampai tiba-tiba sesak dalam dadaku serasa meledak.
Dan aku luruh dan bersimpuh di depan pusara Doni. Bahkan bukan hanya diam dalam tangis. Aku histeris. Tak bisa menahan lagi semua perasaanku yang coba aku pendam dalam-dalam.
Aku merasa duniaku hancur, bersama perginya Doni untuk selamanya. Aku merasa tak akan ada lagi orang yang melindungiku. Setelah mas Arka melewatiku dan tak menyapa sedikitpun.
Aku tak bisa mengartikan tatapan mata mas Arka terhadapku tadi.
Pastinya penuh kebencian. Atau bahkan rasa jijik. Karena istri yang dianggapnya setia menemani saat-saat terburuknya, malah lebih memilih bersenang-senang dengan laki-laki lain.
Aku meraup banyak bunga tabur di atas pusara Doni. Lalu aku taburkan kembali. Hanya iringan doa dan air mata yang bisa aku berikan pada Doni sekarang.
Selamat jalan Doni. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk tidak bersama di dunia ini. Entah di akherat nanti. Tunggu aku jika kau masih menginginkanku.
__ADS_1