SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 122 ISTRI DONI POSITIF HIV


__ADS_3

Sepertinya keinginan mas Arka untuk sembuh, sangat tinggi. Dia berusaha keras untuk bisa pulih kembali.


Aku jadi ingat, dulu sebelum kami pindah ke rumah orang tuanya, dia sudah banyak perkembangan. Meski masih sedikit.


Tapi begitu kami pindah ke rumah orang tuanya dan dirawat oleh kakak sepupunya, tak ada perkembangan sama sekali. Bahkan nyaris memburuk.


Padahal setahuku, setiap pagi mas Teguh rajin memandikannya. Kadang membawanya keluar, berjalan-jalan diseputaran kampung.


Makan pun dia rajin menyuapi. Memberikan obat.


Astaga! Aku baru kepikiran. Dulu obat apa yang diberikan untuk mas Arka? Sedangkan mas Arka enggak pernah dibawa ke rumah sakit atau didatangkan dokter khusus ke rumah.


Atau jangan-jangan mas Teguh punya niatan jelek pada mas Arka? Memberinya obat untuk membunuh mas Arka secara perlahan?


Aku enggak berani berspekulasi sendiri. Biar sajalah. Toh orangnya sudah mati. Dan suamiku sekarang semakin membaik.


Sejak kejadian mas Teguh nyaris membunuhku dan mas Arka, kondisi mas Arka malah semakin membaik.


Entah apa yang dilakukan dokter di rumah sakit waktu itu, aku sendiri juga enggak tahu. Karena kondisiku waktu itu sama-sama tak berdaya.


Sore itu sepulang kami dari rumah Yola, aku sudah masuk kamar mandi lebih dahulu. Karena udah menahan pipis sejak di jalan tadi.


Selesai mandi, pintu rumahku di ketuk. Padahal pintu dalam keadaan terbuka.


"Ada tamu kayaknya, Mas."


"Iya. Biar aku saja yang melihatnya. Kamu pakai baju dulu sana." Aku masih cuma pakai handuk saja.


Dari kamarku, aku bisa mendengar suara orang yang datang. Karena rumahku ini kecil. Dan ruangannya berdekatan.


"Benar ini rumahnya Aryani?" suara perempuan yang bertanya. Aku merasa kenal suaranya.


Aku coba tajamkan pendengaranku.


"Aryaninya ada?" tanyanya lagi.


"Ada. Tunggu sebentar ya? Aryani baru saja mandi. Silakan masuk."


Aku buru-buru memakai bajuku. Tidak salah, ini suaranya Mila.


Aku segera keluar dari kamar.


"Mila!"


"Aryani!"


Mila langsung memelukku. Mas Arka memilih menyingkir dan masuk kamar.


"Ayo duduk, Mil. Tumben kamu ke sini. Ada apa?" Aku enggak pernah mengira Mila akan datang ke rumahku.


Terakhir hubunganku dengan Mila kurang baik. Karena Doni melarangku dekat-dekat dengan Mila.


Alasannya karena Mila sering merayu untuk mengencaninya dan peristiwa waktu itu saat Mila mengajakku ke tempat nongkrongnya.

__ADS_1


"Itu tadi siapa?" tanya Mila.


"Suamiku, Mil?"


Mila sangat terkejut. Karena setahunya suamiku sakit stroke dan hampir mati.


"Suamiku sudah membaik, Mil. Kamu lihat sendiri kan?" Mila mengangguk.


"Ar, bisa enggak kita keluar sebentar. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Penting," ucap Mila pelan.


Sepertinya dia tahu kalau rumahku terlalu kecil untuk membicarakan sesuatu yang penting. Pasti akan kedengeran yang lainnya.


"Kemana? Jangan jauh-jauh. Aku enggak enak sama suamiku." Aku khawatir mas Arka akan mencurigaiku.


"Kita cari tempat ngopi yang deket-deket aja. Sebentar kok," sahut Mila.


"Oke deh. Aku bilang suamiku dulu ya?" Mila mengangguk. Aku masuk ke kamar.


"Pergilah. Tapi jangan jauh-jauh. Ini sudah sore, sebentar lagi malam," ucap mas Arka. Padahal aku belum sempat bicara.


Bukan karena dia yang menguping pembicaraan kami, tapi rumah ini saja yang terlalu kecil.


"Enggak apa-apa aku pergi sendiri, Mas?" tanyaku meminta kepastian.


"Enggak apa-apa. Aku nunggu di sini. Oh iya, dia temanmu di mana?"


Aku sampai lupa mengenalkan Mila pada mas Arka.


"Namanya Mila. Dia temanku kerja di hotel. Resepsionis juga."


"Aku pergi dulu, Mas."


Mas Arka mengecup keningku dengan lembut. Aku jadi terharu. Sudah lama sekali aku tak merasakannya. Aku menyalami tangannya lalu segera keluar menghampiri Mila.


"Ayo, Mil." Aku langsung mengajak Mila keluar biar nanti pulangnya tak terlalu malam.


"Udah pamit suami kamu?" Aku mengangguk, lalu mengikuti Mila menuju mobilnya.


Keren. Mobilnya Mila baru lagi. Mila memang begitu. Suka sekali ganti-ganti mobil.


Kayaknya kalau ganti teman kencan, dia akan ganti mobil.


"Mobil baru lagi, Mil?" tanyaku penasaran.


"Iya, dong." Mila menjawab dengan percaya diri.


"Kayaknya dapat mangsa baru nih?" Mila malah ketawa. Mungkin kalau orang lain akan marah dikatain seperti itu.


"Ya begitulah, Ar. Teman kencan baru, mobil ganti yang baru. Jadi ada imbal baliknya. Ada keuntungannya. Take and give, gitu lho."


Aku tersenyum kecut. Pasti Mila sedang menyindirku yang tak pernah meminta apapun pada Doni. Bahkan saat Doni membelikan apartemen untukku saja aku tolak. Aku kembalikan kunci dan surat-suratnya.


Mila membelokan mobilnya ke sebuah cafe kecil. Lalu kami mencari meja kosong.

__ADS_1


Setelah memesan minuman, aku baru bertanya maksud Mila mengajakku keluar.


"Tadi pagi istrinya Doni ke hotel," jawab Mila.


"Ngapain?"


"Dia mencari kamu. Dia pikir kamu masih di bagian resepsionis. Makanya dia mendatangiku."


"Dia ngomong apa?"


"Dia marah-marah. Ngatain kamu yang enggak enak. Kamu enggak perlu tahu lah. Nanti malah sakit hati."


Aku menghela nafasku.


"Kamu masih punya hubungan dengan Doni?" tanya Mila.


"Enggak lagi, Mil. Aku ingin membangun kembali rumah tanggaku. Aku sadar yang aku lakukan salah besar. Aku hanya mencari kesenangan sesaat saja. Aku telah menyakiti perasaan suamiku dan juga perasaan istrinya Doni."


"Kalau yang terakhir sih enggak usah dipikir, Ar," ucap Mila.


"Kok kamu bilang begitu?"


"Semua orang yang suka nongkrong kayak aku juga tahu, siapa Maya itu. Kasihan Doni cuma diperalat saja," sahut Mila.


"Terus sekarang maksud kamu mengajakku kesini itu apa?" Kalau cuma membahas soal Doni atau Maya, buatku cuma membuang waktu saja. Karena aku sudah putuskan untuk menjauhi Doni.


"Begini, Ar. Setelah si Maya dateng dan ngomel-ngomel enggak jelas. Aku bete dong. Apalagi aku ikut diomelin juga. Katanya, kamu juga sama saja, perempuan enggak bener. Kalau enggak inget dia istri atasanku, sudah aku gamparin dia." Mila mengaduk minumannya dengan kesal.


"Terus?"


"Terus, pas istirahat siang aku ketemu temenku. Temen nongkrong yang kenal Maya juga. Aku cerita ke dia soal Maya. Gara-garanya aku kesel banget." Mila mengaduk minumannya lagi, lalu meminumnya.


"Terus gimana, Mila."


"Terus temenku bilang, kalau Maya positif terinfeksi HIV."


Glek! Mati aku! Aku diam seribu bahasa. Syok dan terasa dunia berhenti berputar.


"Menurutmu apa Doni tahu kalau Maya terkena HIV?" tanya Mila.


Aku menggeleng. Kepalaku terasa sangat berat. Bagaimana kalau ternyata Doni pernah melakukan dengan istrinya?


Bisa dipastikan virus itu akan bersarang di tubuhku. Dan aku akan menjadi pengidap HIV juga.


"Mil, apa yang sekarang harus aku lakukan?" Air mataku keluar tanpa bisa aku bendung lagi.


Mila menggenggam tanganku.


"Coba kamu tanyakan ke Doni, apa dia tahu kalau Maya terkena HIV? Lalu periksakan diri kamu, Ar. Pastikan kalau kamu tidak terinveksi."


Aku sudah tak bisa mendengar omongan Mila dengan jelas. Otakku terasa berhenti berfikir.


"Ar. Kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Antarkan aku pulang, Mil."


__ADS_2