
Tak lama, Mila menelponku. Dia menanyakan dimana aku dan mas Arka.
"Kami lagi makan siang, Mil. Kamu udah selesai?" tanyaku di telepon.
"Udah. Makan di mana?" tanya Mila.
"Di kantin rumah sakit. Kalau kamu mau makan, biar aku bungkuskan." Aku kasihan kalau Mila harus berjalan sendirian ke sini. Letaknya cukup jauh dari tempat periksa kami.
"Aku nyusul aja." Lalu Mila menutup telponnya.
Aku melihat mas Arka membuka hapenya. Dia seperti sedang berbalas pesan dengan seseorang.
Aku hanya menatapnya sekilas. Tak punya niat bertanya. Mending menikmati makananku meski aku tak begitu berselera.
Beberapa menit kemudian, Mila sampai ke kantin. Wajahnya cemberut. Aku menatapnya tak mengerti.
"Kenapa, Mil? Kok cemberut?" tanyaku.
Mas Arka hanya diam. Dia kelihatan asik dengan makanannya.
"Enggak apa-apa. Laper," jawab Mila. Lalu memesan makanan seperti yang di makan mas Arka.
"Kamu kok cepat sekali? Tadi konseling juga, kan?" tanyaku.
"Iya, mestinya. Tapi dokternya cuma nyuruh aku tanda tangan, terus aku di suruh menunggu di luar," jawab Mila.
"Oh ya? Tadi kok aku diajak sharing. Lumayan lama juga," sahutku.
"Boro-boro sharing. Wajahnya aja jutek banget. Suaranya juga ketus!"
Aku melongo. Tadi Yoga sangat care padaku. Ramah dan baik. Dia dengan telaten menjawab setiap pertanyaanku.
"Dokter Yoga, kan?" tanyaku memastikan.
Mila mengangguk.
"Memangnya sharing apa aja, kamu?" tanya mas Arka padaku. Nadanya ikutan jutek.
"Banyak." Aku enggan menjelaskan. Karena bakal lebih banyak lagi pertanyaan.
"Dia enggak nanya apa-apa padaku," ucap Mila.
"Baguslah. Enggak perlu juga sharing sama orang yang enggak kita kenal," ucap mas Arka.
Sepertinya dia sedang menyindirku. Tapi aku tak mau terpancing. Biarkan saja dia mau omong apa. Aku mau fokus dengan hasil cek darahku nanti.
Kami makan dalam diam. Aku sempat berkali-kali menangkap basah mas Arka memandang ke arah Mila. Demikian juga Mila. Seperti ada yang enggak biasa.
Aku berusaha menepis pikiran konyolku. Tak mungkin banget ada apa-apa dengan mereka. Sedang mereka belum lama kenal. Dan baru beberapa kali ketemu. Meski mereka pernah pergi berdua saat kami akan periksa darah waktu itu.
Selesai makan, kami kembali ke tempat kami cek darah. Suasana di sana sangat sepi. Tak ada lagi pasien.
"Coba kamu tanyakan, Ar. Udah keluar belum hasilnya," ucap mas Arka padaku.
Sementara dia duduk di kursi tunggu. Mila pun ikut duduk di sebelahnya.
"Iya." Aku ke tempat pendaftaran.
__ADS_1
"Suster. Apa hasil cek darah saya sudah keluar?" tanyaku.
"Sudah, Bu. Ini." Perawat itu memberikan selembar kertas putih padaku.
Aku tak begitu memahami isinya. Karena banyak istilah-istilah kedokterannya.
"Kalau Ibu ingin lebih jelas, silakan ketemu dokter Yoga di ruangannya," ucap perawat itu dengan ramah.
Mukanya tak sedingin tadi saat pendaftaran.
"Kalau punya teman saya, Mila, sudah selesai juga?" tanyaku. Enggak enak kan kalau hanya menanyakan hasilku saja.
"Sudah. Tapi biar dia ambil sendiri ke sini. Suaminya juga boleh ikut, biar tahu hasilnya," jawabnya.
"Suami? Suaminya siapa, Sus? Mila belum punya suami," sahutku.
"Lha itu?" Perawat itu menunjuk ke arah Mila dan mas Arka.
Aku pun menoleh ke arah mereka. Mereka terlihat sangat akrab bicara.
"Itu suami saya, Sus. Mila sahabat saya," sahutku menjelaskan.
"Ooh. Ya sudah. Maaf, saya kira bukan suami Ibu." Lalu perawat itu masuk.
Aku kembali ke tempat mas Arka dan Mila.
"Sudah keluar, Ar?" tanya Mila. Aku memperlihatkan lembaran kertas yang kupegang.
"Tapi aku harus ke ruangan dokter Yoga dulu. Minta penjelasan padanya?"
"Biarin saja sih, Mas. Biar lebih jelas," ucap Mila.
Mas Arka tak mempedulikan omongan Mila. Dia tetap membacanya.
"Kamu negatif. Terus mau apa lagi ketemu dokter?" tanya mas Arka dengan ketus.
"Benarkah?" tanyaku tak percaya. Entah darimana mas Arka bisa menyimpulkan hasilnya.
"Lihat aja! Makanya belajar tahu bahasa kedokteran!" sahut mas Arka.
Aku mengambil kertas itu lagi. Tapi tak ada keterangan yang menyatakan aku negatif ataupun positif.
Aku sangat senang. Tapi juga penasaran. Tanpa mempedulikan larangan mas Arka ketemu dokter Yoga, aku berlari ke ruangan dokter itu. Aku ingin dapat kepastian yang jelas.
"Ar! Aryani!" teriak mas Arka. Tapi aku tak mempedulikannya.
Aku masuk ke ruangan dokter Yoga setelah mengetuk pintunya.
"Selamat siang, Dok," sapaku. Dokter Yoga tersenyum padaku.
"Masuk. Duduklah, Ar." Dengan ramah dan bersahabat, dokter Yoga menyuruhku duduk. Sangat bertentangan dengan pendapat Mila yang mengatakan dokter ganteng ini jutek.
Aku menyerahkan hasil cek darahku. Dia membacanya dengan seksama. Lalu manggut-manggut.
"Hasil sementara negatif. Tapi kami perlu observasi lebih lanjut. Seminggu lagi kamu datang ke sini. Kita cek lagi. Kalau memang hasilnya masih negatif, berarti kamu tidak tertular virus itu," ucap Yoga.
"Iya, Dok. Lalu apa yang harus saya lakukan selama seminggu ini untuk mempertahankan hasilnya biar tetap negatif?" tanyaku.
__ADS_1
"Yang pasti jauhi hal-hal yang jadi pemicunya," jawabnya.
"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Jangan melakukan kegiatan seksual dulu. Dengan siapa pun. Jangan memakai jarum suntik dulu, kecuali penanganan dokter."
"Meski dengan suami saya?" tanyaku memastikan.
"Kita kan tidak tahu kondisi suami kamu."
Aku mengangguk mengerti.
"Pokoknya sterilkan dulu tubuhmu. Biar nanti hasilnya bisa lebih akurat," lanjutnya.
"Baik, Dok. Apa ada obat yang harus dikonsumsi?" tanyaku.
Lalu Yoga mengeluarkan beberapa obat. Lalu memberikannya padaku. Dan menjelaskan padaku aturan minumnya.
"Jangan sampai terlambat ya. Walau cuma sehari," ucap Yoga.
"Siap, Dok." Aku merasa duniaku kembali cerah. Semoga di cek kedua, hasilnya negatif.
"Oh, iya. Kamu punya anak, kan?" tanya Yoga. Aku mengangguk. Tadi memang aku sudah menjelaskan sial anak padanya.
"Jangan kontak langsung dulu dengan anakmu, ya? Kasihan dia masih kecil. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruknya."
Aku mengangguk. Meski ada rasa kecewa. Karena aku sudah sangat ingin kembali dekat dengan anakku. Aku harus bersabar menunggu seminggu lagi.
"Kalau ada pertanyaan lain, kamu bisa chat di nomorku tadi," ucap Yoga.
Aku mengangguk. Aku paham, ini caranya dia menyuruhku keluar dari ruangannya.
"Baiklah, aku permisi dulu. Terima kasih atas semua penjelasannya," ucapku.
Lalu Yoga mengulurkan tangannya padaku. Mau tidak mau, aku menjabatnya.
"Sampai ketemu minggu depan,Ar."
"Iya, Dok. Doakan aku semoga semua baik-baik saja ya. Dan berjalan seperti yang aku harapkan," ucapku.
"Iya, tentu."
Yoga masih saja menggenggam tanganku. Aku berdehem, dan dia melepaskan tanganku.
"Ooh, maaf," ucapnya malu-malu.
Aku hanya tersenyum, dan keluar dari ruangannya.
Sampai di luar, aku lihat Mila sudah memegangi kertas yang sama dengan milikku.
"Bagaimana hasilmu, Mil?" tanyaku.
"Kata perawat itu, hasilnya negatif," jawab Mila.
"Alhamdulillah. Kamu tidak konsultasi dengan dokter Yoga dulu?" tanyaku.
"Ogah! Dokter jutek!"
__ADS_1