SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 9 BELUM SAATNYA


__ADS_3

Kami tertidur lagi hingga siang. Karena rasa lelah setelah kami bertarung.


Aku membuka mataku. Tak aku lihat mas Arka. Entah dimana dia. Aku segera beranjak dari tidurku, dan bergegas ke kamar mandi. Terpaksa keramas lagi.


Tak lupa aku mencari handuk yang tadi pagi di lepaskan oleh mas Arka. Rupanya handuk itu telah di singkirkan. Dia meletakkannya di atas kursi kecil yang ada di kamar itu.


Dan aku melihat tas yang berisi pakaianku telah ada di sisi tempat tidur. Aku segera mengambil pakaian untuk ganti dan handuk, lalu masuk ke kamar mandi.


Selesai mandi, aku masih tak melihat mas Arka. Perlahan-lahan aku berjalan ke luar kamar. Karena belum terbiasa di rumah ini, aku masih merasa canggung.


Setelah berada di luar kamar, aku edarkan pandanganku, ke beberapa arah. Ternyata mas Arka ada di ruang tengah. Dia sedang menonton televisi.


Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Mas Arka merangkul bahuku.


"Kok gak bangunin aku sih mas?" tanyaku.


"Kamu lelap banget tidurnya sayang. Mas gak tega banguninnya" jawab mas Arka. Aku tersanjung dengan panggilan sayangnya. Dan dia tidak lagi menyebut 'aku' untuk dirinya sendiri. Tapi 'mas' seperti panggilanku untuknya.


"Kita makan yuk. Mas udah pesankan makanan untuk kita" ajak mas Arka. Aku mengangguk. Lalu kami pun menuju ke meja makan.


Tak banyak makanan yang di pesan, karena nanti sore kita udah janji mau ke rumah orang tua mas Arka.


Aku menata makanan itu di piring, dan membawanya ke meja makan. Karena lapar dan memang waktu sudah menuju jam makan siang, kami pun menyantapnya tanpa sisa.


Setelah kami sadar bahwa kami makan sangat banyak, kami sama-sama tertawa.


----------------------------------------


Sore harinya sesuai janji kami, kami pun meluncur menuju rumah orang tua mas Agung. Ibu yang sudah menunggu kedatangan kami pun, menyambut kami di teras depan.


"Sebentar lagi tamu dari bekas teman kerja bapakmu akan datang. Masuklah kalian, lalu siap-siap. Aryani bantu ibu menyiapkan makanannya ya?" ucap ibunya mas Arka, yang sekarang sudah menjadi ibuku.


Aku mengangguk, lalu berjalan mengikutinya. Sementara mas Arka bergabung dengan bapak di ruang tamu.

__ADS_1


Aku senang di libatkan dalam kesibukan ibu. Jadi aku tidak hanya duduk-duduk aja.


Tak lama, tamu-tamu bapak pun datang. Aku di ajak ibu, untuk ikut menyambut mereka, sekalian di perkenalkan. Setelah acara perkenalan selesai, ibu mengajakku ke belakang lagi. Kami segera mempersiapkan hidangan di meja makan.


Meja makan di rumah ibu, cukup besar. Bisa menampung lima orang tamu bapak dan kami, untuk makan bersama.


Setelah semuanya siap, ibu pun mempersilakan mereka untuk makan bersama.


Sebelum maghrib, para tamu sudah berpamitan. Kami pun bersiap melaksanakan sholat maghrib berjamaah.


Menjelang malam, aku dan mas Arka pamit pulang ke rumah kami. Karena besok pagi, mas Arka sudah harus masuk kerja lagi.


Kalau aku sudah resign. Mas Arka tidak mengijinkan aku bekerja lagi.


----------‐-----------------------------


Pagi ini, pertama kali tugasku sebagai istri, mempersiapkan kebutuhan suamiku berangkat kerja. Ada perasaan bangga, karena akhirnya aku bisa menjadi istri dari seorang manager perusahaan.


Aku pun berusaha menjalankan tugasku sebaik mungkin. Mengantarkan suamiku ke teras depan. Mencium punggung tangannya, sebagai tanda baktiku.


Aku mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai. Menyapunya, walaupun hampir tak ada debu ataupun kotoran.


Setelah selesai menyapu, aku mengepelnya. Terus saja aku mengerjakan pekerjaan rumah. Karena aku menganggapnya rumah sendiri, maka akupun harus mengerjakannya sendiri.


Selesai dengan pekerjaanku, aku duduk santai di ruang tengah. Aku akan memasak nanti sore aja, menjelang suamiku pulang kerja.


Semalam ibu membawakan kami bahan-bahan untuk memasak. Kata ibu, itu sisa dari hajatan kemarin.


Sambil duduk santai, aku membuka-buka album foto yang ada di bawah meja. Aku perhatikan satu persatu. Foto-foto lama milik suamiku.


Ada juga foto jaman dia masih kecil. Lucu sekali wajahnya. Tapi sudah kelihatan ganteng.


---------------------------------------

__ADS_1


Menjelang sore aku segera ke dapur. Menyiapkan makanan untuk suamiku tercinta. Aku yang sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah, tidak merasa keberatan dengan semua kesibukan ini.


Aku menikmatinya. Apalagi perkakas di rumah ini modern, tidak seperti di rumahku yang sebagian masih konvensional.


Tak butuh waktu lama untuk aku memasak. Karena kami hanya berdua saja, tak perlu masak banyak-banyak. Sayang kalau gak abis.


Selesai memasak, aku menuju ke kamar untuk mandi. Lalu sholat ashar.


Aku lihat jam di dinding, masih jam empat, artinya masih satu jam lagi menunggu suamiku pulang kerja. Aku memutuskan untuk menunggu di teras depan. Aku tadi ada beberapa buku disana. Mungkin nanti ada yang bisa aku baca.


Aku pun bergegas ke teras depan. Aku mulai melihat-lihat buku itu. Tiba-tiba ada satu buku yang menarik perhatianku. Buku tentang kesehatan jantung.


Aku mulai membukanya. Tiba-tiba ada sehelai kertas yang terjatuh dari buku itu. Aku mengambil dan membacanya. Kertas salinan resep dokter.


Aku gak paham dengan tulisannya. Tapi aku bisa membaca nama dokter yang tertera di bagian atas kertas itu. Dokter spesialis jantung. Dan tercantum nama pasiennya. Arka Putranto.


Degh.


Ada apa dengan suamiku? Apa dia punya riwayat penyakit jantung? Kenapa dia tidak pernah mengatakannya padaku? Bahkan bapak atau pun ibu tidak mengatakan apapun padaku. Atau mereka juga tidak tau?


Aku lihat lagi kertas itu. Aku ingin tahu tanggal pembuatannya.


Degh.


Sebulan yang lalu. Bukankah sebulan yang lalu kami mulai sibuk dengan persiapan pernikahan kami?


Saat itu, aku melihat mas Arka baik-baik saja. Aku tak pernah mendengar dia mengeluh sakit. Bahkan aku tak pernah melihat dia membawa atau meminum obat.


Padahal aku lihat di kertas resep itu, ada lima macam obat yang harus di konsumsi setiap hari.


Karena penasaran, mumpung masih ada waktu, aku bergegas masuk ke kamar. Aku bongkar laci dan lemari. Aku mau mencari bukti lagi. Mungkin aku bisa mendapatkan sesuatu yang semakin menguatkan perkiraanku. Tak ada. Aku tak menemukan apapun.


Aku berlari ke kamar yang dijadikan ruang kerja. Aku bongkar-bongkar semuanya. Tak ada yang aku temukan. Di laci meja, hanya ada berkas-berkas pekerjaan. Di lemari hanya berjejer buku-buku. Lalu dimana dia sembunyikan obat-obatannya?

__ADS_1


Begitu pandainya kamu menyimpan penyakitmu mas? Kenapa selama ini tak pernah memberitahukan aku? Atau aku mesti menanyakannya langsung? Sepertinya belum saatnya.


__ADS_2