
Pagi ini kami bersiap kembali pulang. Aku yang masih trauma dengan kejadian saat berangkat, gak mau kalau sampai kemalaman dijalan lagi.
Aku menyetel alarmku jam empat pagi. Biar bisa mandi, sholat subuh dan bersiap-siap. Sementara mas Arka masih saja meringkuk dalam selimut.
Aku membangunkannya, setelah selesai sholat subuh. Tapi bukannya bangun, dia malah makin menyelusup dalam selimut.
Aku tarik selimutnya. Dia sempat ngomel-ngomel. Lalu tanpa aku sangka, dia menarik tubuhku. Hampir saja aku terjerembab ke atas tubuhnya.
Sepertinya dia lupa kalau sekarang aku berbadan dua. Jadi gak mikir resikonya, kalau aku terjerembab dengan posisi perutku di bawah.
"Mas! Perutku!" teriakku.
"Oh maaf sayang. Mas lupa. Kamu sih, ganggu mas tidur aja" jawab mas Arka. Lalu dia segera memeluk pingganggku dan mencium-cium perutku.
"Udah jam berapa ini mas? Katanya mau berangkat pagi-pagi" ucapku, sambil mengelus kepalanya.
"Tapi gak pagi banget juga kan sayang?" jawab mas Arka, lalu dia kembali tidur.
Aku menghela nafasku. Mas Arka memang kadang susah di bangunin, kalau sedang libur.
Ya udah, aku siap-siap aja dulu. Beresin barang bawaan kami. Oleh-oleh yang segambreng. Padahal nanti masih mau mampir ke toko oleh-oleh juga. Pasti akan makin penuh mobilnya.
Kami memang banyak membeli oleh-oleh. Karena ibu mertuaku minta di belikan kain dan baju batik. Belum lagi pesanan dari mantan bosku dulu. Istrinya, mba Siska minta di belikan daster batik.
Dia sudah hamil lagi aja. Padahal anak pertamanya, baru beberapa bulan yang lalu lahirnya. Katanya biar sekalian capeknya.
Ih, kalau aku sih gak mau. Aku mau fokus dengan satu anak dulu. Walaupun mas Arka kepingin punya anak yang banyak.
Aku setuju-setuju aja. Tapi gak kayak sinetron kejar tayang juga. Tiap tahun melahirkan.
Aku memilah-milah batik-batik itu. Biar nanti kalau sampai di rumah, tinggal nganter-nganterin aja.
Jam enam pagi. Mas Arka masih belum bergerak juga. Aku yang baru selesai dengan kegiatanku, menghampirinya lagi.
Aku goyang-goyang bahunya. Hanya suara heemm saja yang keluar dari mulutnya. Sementara matanya masih belum mau di buka.
"Mas, ayo bangun. Udah jam enam" ucapku agak kesal. Gimana enggak, dari jam lima aku bangunin. Masih ah uh, ah uh aja.
Aku goyangin lagi bahunya lebih kencang. Dia hanya membuka matanya sedikit. Haduh, mesti gimana lagi sih membangunkannya?
__ADS_1
Daripada aku kesel sendiri, aku keluar kamar aja. Aku raih dompetku, buat jaga-jaga kalau kepingin membeli sesuatu di luar. Sekali-kali jalan sendiri. Mumpung masih di Jogja. Aku kepingin menikmati udara Jogja di pagi hari.
Aku turun ke lantai bawah, dengan lift. Karena kata dokter, aku jangan dulu naik turun tangga. Gak baik buat kandunganku.
Di lantai bawah, masih terlihat sepi. Hanya beberapa pegawai hotel yang sibuk kesana kemari. Dan beberapa cleaning servis sedang melakukan tugasnya.
Aku berjalan menuju lobi. Seorang resepsionis, menyapaku ramah. Aku pun mengangguk sambil tersenyum.
Aku berjalan terus. Keluar dari area hotel. Aku berdiri di pinggiran jalan. Tiba-tiba ada seorang pengemudi becak menghampiriku.
Dia menawariku untuk jalan-jalan ke malioboro, dengan menaiki becaknya.
Dengan polosnya aku bertanya pada pengemudi becak itu.
"Memang pagi-pagi begini Malioboro sudah ramai pak?" tanyaku.
"Sampun bu. Banyak yang jalan-jalan pagi disana. Monggo" jawab pak becak, mempersilakan aku menaiki becaknya.
Dia sedikit mengangkat bagian belakang becaknya, agar bagian depan agak rendah. Dan aku pun lebih mudah menaikinya.
Setelah aku udah ada di atas jok penumpang, bapak tua itu pun mengayuh becaknya.
"Nggih bu" jawab pak becak sopan. Dia pun terus mengayuh becaknya perlahan.
Sepanjang jalan, bapak tua itu mengajak aku bercerita. Bagaikan seorang pemandu wisata, dia memberitahukan nama-nama jalan yang kami lewati.
Jarak antara hotel tempatku menginap dengan Malioboro memang lumayan jauh. Dan bapak tua itu sengaja membawa aku melewati jalanan yang agak memutar. Katanya biar puas naik becaknya.
Aku menurut saja. Karena selain jalanan belum terlalu ramai, udaranya juga masih cukup segar.
Sayang sekali aku lupa membawa ponselku. Jadi aku gak bisa mengabadikan beberapa tempat bersejarah, yang aku lewati.
Sampai di Malioboro, bapak tua itu menawariku, untuk terus naik becaknya, atau mau jalan aja.
Karena banyak orang yang berjalan, akupun memilih berjalan kaki. Setelah aku membayar ongkosnya, aku segera berjalan menyusuri jalanan Malioboro.
Sebelumnya, bapak tua itu bilang, nanti pulangnya balik lagi ke tempatnya berhenti. Biar dia bisa mengantarkan aku kembali ke hotel. Aku pun mengangguk, mengiyakan.
Aku mulai berbaur dengan pejalan kaki yang lain. Kata orang yang kebetulan berjalan di sebelahku, ini memang kawasan pedestrian. Khusus pejalan kaki. Jadi kita lebih nyaman berjalan kaki, tanpa terganggu kendaraan bermotor. Pada jam-jam tertentu, memang kendaraan bermotor dilarang melewati jalan Malioboro.
__ADS_1
Agak capek berjalan, aku duduk di bangku yang disediakan di sepanjang jalanan. Aku melihat, beberapa andong yang sudah mulai beroperasi.
Sungguh pemandangan yang sangat menyejukan mata. Para pengemudi andong yang mengenakan blangkon. Rasanya seperti hidup di jaman kerajaan.
Sebenarnya, aku kepingin naik andong juga. Tapi gak tau mau kemana. Aku kan masih buta soal Jogja.
Aku berjalan lagi. Masih menyusuri jalanan Malioboro. Hingga tak terasa, aku sampai di depan pasar Beringharjo. Lho, udah jauh juga rupanya aku berjalan.
Karena haus dan lapar, aku duduk di sebuah bangku milik pedagang gudeg. Aku pun memesan satu porsi nasi gudeg suwir.
Selama beberapa hari di Jogja, kami selalu sarapan nasi gudeg. Rasanya gak membosankan. Nagih banget. Apalagi suwiran ayam kampungnya yang super empuk. Rasa manisnya. Pas banget di lidahku.
Selesai dengan sarapanku, aku berniat balik lagi ke tempat semula. Tapi aku melihat ada mainan sejenis lonceng sapi yang lucu. Aku pun menghampiri pedagangnya.
Karena tertarik dengan bentuknya, aku berniat membeli beberapa buah. Nanti bisa buat oleh-oleh juga pikirku.
Setelah itu, aku buru-buru berjalan lagi. Karena aku gak mau nanti di cariin suamiku. Aku kan tadi gak sempat pamit. Dan aku juga gak bawa hape.
Lumayan jauh juga berjalan balik lagi ke tempat semula. Pinginnya sih aku naik andong saja, tapi tadi aku udah janji sama bapak pengemudi becak, untuk balik lagi. Takutnya dia menungguku.
Di depan sebuah mall, kakiku terasa kram. Aku mencari bangku kosong, buat istirahat. Perutku juga terasa begah. Mungkin karena tadi selesai makan, langsung jalan lagi.
Aku pun memilih duduk-duduk dulu. Biar kaki dan perutku normal lagi. Setelah itu, baru aku berjalan lagi.
Sampai di tempat tadi aku turun dari becak, aku mencari-cari bapak tua itu. Tapi gak menemukannya.
Akhirnya, aku mencari becak lain untuk mengantarkanku ke hotel. Di jalan, aku bertanya pada pengemudinya, jam berapa sekarang. Ternyata sudah jam delapan.
Waduh, pasti mereka sudah bersiap-siap. Atau mungkin mereka bingung mencariku. Aku minta si pengemudi, agak cepat mengayuhnya.
Sampai di depan hotel, aku segera turun dan membayar ongkosnya. Aku pun bergegas menuju ke kamarku.
Sampai di depan kamar, aku berniat membuka pintunya. Tapi pintu terkunci. Aku coba mengetuknya, tak ada jawaban.
Aku beralih ke kamar Yola. Aku mengetuknya, sama aja. Gak ada yang membukakan. Pada kemana mereka? Masa aku di tinggal? Pikirku.
Aku pun turun lagi. Menuju ke resepsionis. Siapa tau ada pesan untuk aku.
Sampai di sana, aku di beritahu oleh mba resepsionis, kalau rombonganku, sedang mencariku. Aku di kira menghilang.
__ADS_1
Aku bilang ke resepsionisnya. Aku cuma jalan-jalan sebentar mba. Aku tidak hilang.