
Hari ini aku pindah ke rumah almarhum orang tuaku. Untungnya aku belum menjualnya, jadi masih bisa aku tempati meski rumahnya kecil. Sangat jauh bedanya dengan rumah mertuaku yang sangat besar.
Doni membantuku pindahan membawa barang-barangku dan suamiku. Anakku dan bi Yati juga sudah dibawa Sarah ke rumahnya.
Aku bersyukur pada saat seperti ini, masih ada teman-teman yang mau membantuku.
Doni pun tidak lepas tangan meski harus melibatkan suamiku. Dia begitu baik. Bukan cuma terhadapku, tapi juga pada mas Arka.
Kalau lelaki lain, mungkin akan mengabaikan suamiku. Tapi tidak dengan Doni.
Aku pun masih diijinkan bekerja oleh Doni. Tapi tidak sebagai resepsionis lagi, karena posisiku sudah digantikan oleh orang lain sejak aku dirawat di rumah sakit.
Aku ditempatkan sebagai asistennya Doni. Karena Doni sering harus keluar kantor untuk urusan proyeknya dengan Roni.
Pagi ini aku akan mulai kembali bekerja. Aku bersyukur letak hotel tidak jauh dari rumahku. Aku hanya perlu naik angkot sekali saja. Itu pun tidak terlalu jauh.
Aku membantu mas Arka membersihkan diri dulu sebelum pergi. Juga mempersiapkan makan untuk mas Arka makan siang nanti.
Meski masih harus duduk di kursi roda, mas Arka sudah bisa mengambil makanan sendiri juga makan sendiri. Walaupun masih belepotan.
"Aku berangkat kerja dulu ya, Mas."
Aku meraih tangan mas Arka dan menciumnya sebentar. Mas Arka menatapku dengan sedih.
Aku langsung melangkah keluar rumah tanpa mempedulikan mas Arka yang masih sedih. Bukan aku tidak peduli, tapi aku tidak mau ikutan baper.
Sejujurnya aku sangat kasihan dengan kondisinya. Walaupun aku lelah menghadapinya. Hampir satu tahun dia hanya bisa duduk di kursi roda.
Lebih lama dari waktu kami bersenang-senang sebagai suami istri.
Tapi aku tak bisa meninggalkannya saat kondisinya belum pulih. Apalagi sekarang, dia sudah tak memiliki apapun lagi.
Kedua orang tuanya meninggal. Hartanya hilang diambil semua oleh sepupunya.
Aku berjalan sebentar keluar gang sampai ke tempat menunggu angkot. Ternyata Doni sudah ada di sana menungguku.
Doni membunyikan klaksonnya untuk memanggilku. Aku menghampiri mobilnya.
Doni membukakan pintu mobil untukku dari dalam.
"Masuklah." Doni mempersilakan aku masuk.
"Kok gak bilang-bilang kalau mau menjemputku?" tanyaku saat mobil Doni sudah melaju dan aku sudah memasang sabuk pengaman.
__ADS_1
"Biasanya juga begini. Kenapa mesti nanya. Kamu juga semalam sudah bilang kan, kalau hari ini mau mulai bekerja lagi?" sahut Doni.
Memang aku semalam sudah memberitahukan pada Doni kalau hari ini aku akan mulai bekerja.
Karena aku tidak mau terlalu lama menganggur. Disamping karena aku membutuhkan uang, aku juga bosan dan capek menghadapi suamiku.
Dosa banget sebenarnya. Seorang istri yang mengeluh mengurus suami. Tapi kenyataannya memang begitu.
Setahun bukan waktu yang sebentar untuk menjalani hidup bersama yang penuh kepahitan dan tragedi.
Kalau boleh aku menyerah, aku akan menyerah. Kalau boleh aku mundur, aku akan mundur.
Bukan karena ada Doni, tapi karena aku sudah tidak kuat lagi. Sampai aku harus merelakan anakku diasuh oleh orang lain. Meski Sarah sudah aku anggap saudara.
Semua karena aku harus fokus mengurus suamiku dan hanya mengandalkan penghasilanku saja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.
Kalau Sarah tidak mengambil alih anakku, entah bagaimana aku menafkahi anakku dengan penghasilanku yang tidak seberapa.
"Kok melamun?" tanya Doni.
Aku menoleh ke arah Doni.
"Enggak, kok" sahutku menatap lurus ke jalanan di depanku.
"Suami kamu aman kan ditinggal?" tanya Doni.
"Baguslah. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."
Doni melajukan mobilnya hingga sampai di parkiran hotel.
"Siang aku ke proyek lagi, ya? Nanti kamu aku kasih tahu apa saja yang harus kamu kerjakan."
Aku mengangguk. Lalu turun dari mobil dan mengikuti langkah Doni masuk ke hotel dan langsung ke ruangannya.
Di meja resepsionis, aku melihat Mila dengan teman barunya. Sepertinya dia yang menggantikan aku.
"Hay, Mil." Aku menyapa Mila sambil terus berjalan mengikuti Doni.
Aku berencana nanti setelah Doni pergi, akan menemui Mila.
"Tuh, udah aku siapkan meja buat kamu."
Doni menunjukan meja tambahan untuk tempat kerjaku. Aku berjalan menuju meja itu.
__ADS_1
Lalu Doni mulai mengajariku apa saja yang harus aku kerjakan. Hampir semua pekerjaan Doni aku handle. Kecuali kalau harus tanda tangan.
"Sudah paham, kan?" tanya Doni setelah mengajariku.
Aku mengangguk. Semoga saja aku tidak lupa lagi. Karena basikku bukan sebagai sekretaris atau pun asisten bos.
Aku hanya lulusan SMA yang tak punya skill apapun. Sebagai resepsionis saja masih harus dibimbing oleh Mila.
Untung Mila baik. Meski orangnya agak semrawut dalam pergaulan, tapi kalau soal pekerjaan dia profesional. Makanya Doni masih mempertahankannya.
Dia juga mau mengajariku sampai aku mampu kalau ditinggal sendirian.
Sebenarnya otak Mila lumayan cerdas. Dia pernah dipromosikan naik jabatan. Tapi ditolaknya. Katanya malas kalau harus duduk berjam-jam dibelakang meja.
Lebih enak jadi resepsionis. Ketemu banyak orang buat cuci mata. Biasanya Mila akan tebar pesona kalau orangnya menarik perhatiannya.
Memang Mila suka bermain dengan banyak lelaki yang disukainya. Dia penganut aliran free-***. Dia biasa melakukan cinta satu malam.
Mengerikan sih. Tapi diluar itu semua, Mila seorang teman yang sangat baik.
Dia berkali-kali menghubungiku saat di rumah sakit. Tapi Doni melarangku memberitahukannya pada Mila.
Alasannya karena Doni malas ketemu Mila yang masih selalu mengejarnya, di luar jam kerja.
Makanya nanti aku akan menemui Mila. Sekalian janjian ketemu biar aku bisa cerita semua kejadian yang aku alami akhir-akhir ini.
Doni bersiap pergi ke proyek. Diambilnya beberapa berkas dari laci mejanya. Entah berkas apa.
Doni menghampiriku yang masih duduk di kursi. Lalu mengecup keningku dengan lembut.
Sikapnya seperti seorang suami yang berpamitan pada istrinya.
Aku menatap wajah Doni sambil tersenyum. Doni yang selalu baik padaku. Selalu bersikap lembut dan masih bertahta di hatiku menggantikan posisi suamiku sepertinya.
Doni mencium bibirku lalu ********** sesaat. Aku sempat memejamkan mataku sebentar. Tapi Doni telah melepaskan pagutannya.
Ada rasa kecewa. Tapi aku sadar kalau ini di kantor. Aku juga tak mau kepergok orang lain.
"Nanti kita lanjutkan sepulang kerja. Di apartemen. Aku sudah sangat merindukanmu, Ar" bisik Doni yang membuatku seperti melayang.
"Aku juga, Don" sahutku. Kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini membuat aku dan Doni tak pernah melakukan hubungan lagi.
Doni mengecup bibirku lagi sesaat lalu mengacak rambutku dan bergegas keluar.
__ADS_1
Aku menatapnya hingga Doni menutup kembali pintunya. Doni telah membuatku ketagihan melakukan dosa. Doni membuatku tak peduli dengan dosa lagi.
Doni benar-benar telah mengalihkan duniaku. Mengalihkan perhatianku dari beban hidupku yang sangat berat.