SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 22 KEJUTAN APALAGI?


__ADS_3

Sejak suaminya pulang, Yola jadi jarang mengunjungiku. Mungkin dia sibuk melayani suaminya. Aku pun jadi tidak enak kalau sering-sering main kesana.


Untung kebiasaanku, numpang makan siang di rumahnya, udah berkurang. Jadi aku bisa maksain diriku sendiri buat makan siang di rumah.


Seperti siang ini, aku berniat makan siang sendiri. Aku sengaja memesan makanannya dari aplikasi. Karena hari ini aku lagi gak mood masak. Tukang sayur juga tidak lewat. Sepertinya libur.


Saat sedang menunggu pesanan makananku datang, pintu rumahku ada yang mengetuk. Aku pun segera beranjak membukanya. Ternyata Yola dan suaminya yang datang.


Mereka datang membawakan aku makan siang. Dan mereka pun berniat makan siang bersamaku di rumahku. Rasanya seperti dapat rejeki nomplok.


Aku segera menyiapkan piring untuk memindahkan makanan-makanan itu. Di bantu oleh Yola. Kemudian Yola menata empat piring di atas meja.


Lho bukannya kita cuma bertiga? Kenapa Yola menata piringnya empat?


Belum sempat aku bertanya, tau-tau mas Arka muncul dari depan. Aku terkejut, karena gak biasanya mas Arka pulang di jam makan siang.


Dia yang gila kerja, pasti akan memilih memesan makanan via online, daripada harus keluar kantor, mencari makan. Apalagi makan siang di rumah, gak akan mungkin.


Tapi sekarang, dia sudah berdiri di hadapanku. Dengan alis yang diangkat berkali-kali, menggodaku.


Kenapa sih sejak kepulangan mas Deni, suami Yola, aku jadi merasa hidup penuh dengan kejutan? Sepertinya, mas Deni suka sekali membuat orang lain terkejut.


Bukan cuma mas Deni, tapi juga mas Arka, suamiku. Kenapa dia terus jadi ikut-ikutan? Sebelumnya, kalau mau melakukan apa-apa pasti bilang dulu sama aku.


"Kok udah pulang mas?" tanyaku polos.


"Kenapa? Gak suka mas pulang cepat? Mas balik lagi nih" ancam mas Arka. Aku cemberut. Bukan gitu juga kali, maksudku.


Lalu kami pun mengambil posisi duduk masing-masing. Aku mengambil piring yang ada di depan mas Arka, dan mengisinya dengan nasi dan beberapa makanan.


Saat kami sedang asik berbincang, sambil menikmati makanan, pesanan makananku tadi datang. Jadi makin bertambah banyak makanan kami. Mas Arka sendiri tadi juga membawa makanan, yang dia beli drive thrue.


Benar-benar puas aku makan siang ini. Di temani suami dan sahabatku.


Selesai makan, mas Deni mengajak kami honeymoon. Lho mau honeymoon kok ngajak-ngajak aku dan mas Arka?

__ADS_1


"Double honeymoon. Gimana, setuju kan ladies?" tanya mas Deni pada Yola dan aku.


Kenapa cuma aku dan Yola yang di tanya? Atau jangan-jangan, mas Deni dan mas Arka sudah merencanakannya? Mereka mau membuat surprise lagi?


Aku dan Yola saling berpandangan. Kami sama-sama tersenyum. Siapa sih yang menolak di ajak honeymoon?


Kami dipersilakan memilih mau dimana honeymoonnya. Aku, karena mengingat kandunganku yang masih beberapa bulan, belum berani bepergian terlalu jauh. Maka, aku memilih ke jogja saja.


Selain tidak terlalu jauh, di sana juga tak terlalu ramai. Kotanya masih asri. Penduduknya ramah-ramah. Itu yang sering aku baca di internet. Karena aku pun belum pernah ke sana.


Sebenarnya ada sih, keluarga dari ayahku yang tinggal di sana. Tapi karena hubungan kami tidak terlalu baik, jadi kami tak pernah mengunjunginya.


Bahkan saat kedua orang tuaku meninggal, tak ada satu keluarga pun dari pihak ayahku, yang datang. Ayahku seperti terbuang.


Untung ayah memiliki ibu dan aku yang sangat menyayanginya. Tapi sayangnya, aku tak bisa lagi bersama ayah dan ibuku. Allah lebih sayang mereka.


"Hey, kok ngelamun?" suara Yola mengagetkanku.


"Enggak kok, aku cuma lagi membayangkan kita sampai di sana. Pasti sangat menyenangkan" jawabku asal.


Nanti sore? Kenapa mendadak banget? tanyaku dalam hati. Gak berani nanya langsung. Ntar di kira menolak.


Aku dan mas Arka segera masuk ke kamar untuk bersiap-siap, setelah Yola dan suaminya pulang.


Mas Arka menurunkan koper dari atas lemari. Lalu kami pun menyiapkan keperluan kami nanti, selama disana.


Rencananya tiga hari kami disana. Karena mas Arka gak bisa lama-lama ninggalin kerjaannya.


Gak banyak pakaian yang kami bawa, kata mas Arka, nanti kita bisa beli baju-baju batik disana. Jadi jangan terlalu banyak bawaan. Biar pulangnya gak repot.


Kami berencana bawa mobil sendiri. Mobilnya mas Arka. Karena jarak yang tidak terlalu jauh juga. Dan semua bisa nyetir, kecuali aku, jadi bisa gantian.


Aku bertanya pada mas Arka, tentang acara ini. Ternyata ini ide dari mas Deni. Mas Arka hanya menurut saja. Toh, selama menikah, kami belum pernah honeymoon. Jadi gak ada salahnya menurut.


Soal tempat juga mereka sudah menentukan. Kebetulan keinginanku pas dengan rencana mereka. Kalau gak pas gimana? Tanyaku.

__ADS_1


"Ya di pas-pasin lah. Kan kita juga udah reservasi tempat disana" jawab mas Arka.


Owalah, ternyata bapak-bapak ini udah mempersiapkan semuanya. Curang. Mereka sukanya main belakang.


Kita gak di kasih kesempatan merencanakan. Kata mas Arka, kalian tinggal menikmati aja. Yang penting pada seneng kan?


Ya senenglah, siapa juga yang gak seneng diajak jalan-jalan.


Karena kekenyangan, aku berkali-kali menguap. Ngantuk banget. Aku pun merebahkan diri di tempat tidur. Mas Arka membiarkan saja aku istirahat.


Sementara dia, bilang mau mempersiapkan mobilnya dulu. Sekalian membawa koper kami ke dalam mobil.


Sore jam empat, kami semua sudah siap berangkat. Aku lihat, Yola sangat antusias dengan acara ini.


Aku menatap sekilas wajah mas Deni, ada sedikit kemiripan dengan mas Arka. Mungkin karena mereka saudara, walau cuma sepupu. Tapi masih darah yang sama.


Aku tatap lagi sekilas wajah mas Deni. Dia tersenyum padaku. Melihat senyumnya, aku merasa akan banyak kejutan yang terjadi nanti. Orang ini menyenangkan, tapi penuh misteri.


Mungkin karena aku belum terlalu mengenalnya. Baru beberapa hari saja, sejak kepulangannya.


Tapi saat aku pertama kali melihat fotonya yang di bingkai besar, di ruang tamu mereka, aku juga merasa seperti ada misteri di balik wajahnya.


Ah, tidak. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Buktinya, baik Yola maupun mas Arka, merasa baik-baik saja.


Ya, seandainya saja ada apa-apa, toh ada mas Arka, yang akan selalu melindungi aku.


Mobil kami mulai berjalan membelah jalanan kota. Mas Deni dan Yola duduk di depan. Mas Deni yang menyetir.


Sementara aku dan mas Arka, di jok tengah. Jok bagian belakang untuk tempat keperluan kami.


Menjelang maghrib, perjalanan baru sampai di jalan yang berkelok-kelok. Sepi. Mas Arka juga bilang, kok tumben jalanannya sepi. Biasanya ramai oleh bus antar provinsi yang mulai keluar.


Di sebuah tikungan, tiba-tiba mobil kami mogok. Berkali-kali coba di stater, tetap gak nyala.


Kata mas Arka, tadi siang sudah di cek semuanya. Gak ada masalah. Kenapa sekarang tiba-tiba mogok? Di jalanan tikungan juga? Dan saat menjelang maghrib pula.

__ADS_1


__ADS_2