
"Sudah hampir maghrib, Dek. Kita pulang yuk" ajak mas Teguh. Aku yang masih terkejut dengan omongan mas Teguh tadi, sampai lupa kalau hari sudah semakin gelap.
"Iya, Mas" sahutku. Lalu aku beranjak dari dudukku dan berjalan meninggalkan saung. Mas Teguh berjalan di belakangku.
Setelah beberapa saat berjalan, aku melihat rumah mas Teguh yang sudah semakin dekat.
"Mas Teguh pulanglah dulu. Aku bisa pulang sendiri" ucapku.
"Ngaco aja kamu, Dek. Masa maghrib-maghrib begini kamu jalan sendirian" sahut mas Teguh.
"Rumah ibu kan gak jauh lagi mas. Aku berani kok." ucapku. Walau sebenarnya agak ngeri juga karena jalanan sudah mulai sepi.
"Yakin berani sendirian?" tanya mas Teguh. Aku mengangguk.
"Jalanannya sudah sepi lho. Dan melewati pemakaman juga" ucap mas Teguh. Malah membuat aku merinding.
"Ih, mas Teguh malah nakut-nakutin aku" ucapku sambil bergeser mendekat ke arah mas Teguh.
Mas Teguh malah ketawa. Lalu berjalan mendahuluiku. Aku mengikutinya dari belakang.
"Sini jalannya di sebelahku. Entar ilang di bawa wewe lho" ucap mas Teguh menakutiku lagi.
Aku yang udah kepalang takut, langsung mensejajari langkah mas Teguh. Bahkan aku memepetkan tubuhku.
"Gak usah takut, aku tadi cuma becanda kok" ucap mas Teguh.
"Ih mas Teguh jahat! Becandanya gak lucu!" Aku mempercepat langkahku. Meninggalkan mas Teguh.
Tiba-tiba di depan pintu sebuah pemakaman, aku mendengar suara benda terjatuh. Spontan aku berteriak dan menutup wajahku dengan telapak tangan.
Mas Teguh berlari ke arahku dan reflek memelukku yang ketakutan. Tanpa pikir panjang, aku merekatkan tubuhku dengan telapak tangan masih menutupi wajahku.
"Tenang, Dek. Itu hanya suara ranting pohon yang terjatuh" ucap mas Teguh sambil menepuk pelan punggungku.
Lalu aku mendengar suara langkah mendekatiku. Aku semakin merapatkan tubuhku dan telapak tanganku semakin rapat juga di wajahku.
Mas Teguh melepaskan pelukannya. Aku malah menjerit ketakutan. Mas Teguh memelukku lagi.
"Maaf, Pak. Adekku ini ketakutan." Suara mas Teguh berbicara pada seseorang. Tapi aku tak berani membuka wajahku. Aku benar-benar merasa ketakutan.
"Tenang, Dek. Itu bapak penjaga makam ini" ucap mas Teguh pelan di telingaku.
Aku memberanikan diri membuka wajahku. Saat mataku menatap bapak-bapak yang kata mas Teguh penjaga makam, aku berteriak histeris.
__ADS_1
Karena wajah bapak-bapak itu persis seperti wajah laki-laki berjas hujan, yang dulu pernah aku temui saat aku dan suamiku juga Yola dan suaminya ke Jogja. Bedanya yang ini tak memakai jas hujan.
Tapi tatapan mata dan wajahnya sangat mirip. Atau itu hanya halusinasiku saja.
Aku merasa tubuhku lemas seketika. Dan pandangan mataku kabur.
Aku terbangun dan mendapati diriku sudah ada di tempat tidur sebuah kamar. Aku tak tahu ini di kamar siapa.
Aku hanya melihat ada mas Teguh duduk tak jauh dari ranjang tempatku berbaring. Aku membaui minyak angin dari hidungku.
Lalu mas Teguh mendekatiku. Dia membelai kepalaku dan menggenggam tanganku.
"Kamu sudah siuman, Dek?" tanya mas Teguh. Aku bingung dengan pertanyaan mas Teguh. Apa aku tadi pingsan?
Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Samar-samar aku mengingat kembali wajah bapak tua yang aku temui di depan makam tadi. Aku memejamkan mataku lagi.
"Kamu kenapa, Dek? Kenapa kamu begitu ketakutan melihat bapak-bapak tadi?" tanya mas Teguh.
Aku menggelengkan kepalaku, sambil terus memejamkan mataku. Bahkan dengan telapak tanganku.
"Tenangkan dirimu, Dek. Jangan takut, di sini aman. Ada aku, ya?" ucap mas Teguh sambil menepuk-nepuk bahuku.
Setelah merasa lebih tenang, aku membuka wajahku yang aku tutupi dengan telapak tanganku perlahan.
"Jangan takut ya. Gak ada apa-apa di sini" ucap mas Teguh lagi.
Aku mengangguk dan berusaha beranjak dari tempat tidur. Mas Teguh membantuku untuk duduk, lalu memberikan aku segelas air putih.
Setelah meneguknya, aku mulai berfikir. Bagaimana caraku pulang ke rumah mertuaku tanpa melewati pemakaman itu? Aku masih takut kalau bertemu dengan laki-laki itu lagi.
"Kok diam?" tanya mas Teguh.
"Mas, ada tidak jalan lain ke rumah ibuku tanpa melewati pemakaman itu?" tanyaku.
Mas Teguh mengerutkan dahinya. Pasti dia bingung dengan pertanyaanku.
"Ada. Tapi agak jauh. Melewati jalan raya" jawab mas Teguh.
"Mas Teguh mau kan mengantar aku pulang lewat jalan itu?" tanyaku setengah memohon.
"Bisa. Tapi kita naik motor ya? Mobilku sedang dipinjam teman" jawab mas Teguh. Aku mengangguk setuju. Yang penting aku bisa pulang tanpa melewati pemakaman itu lagi.
"Sebentar, aku siapkan motornya dulu." Lalu mas Teguh berjalan keluar dari kamar. Lalu meraih jaket dan kunci motornya.
__ADS_1
Aku langsung turun dari tempat tidur dan mengekori mas Teguh. Mas Teguh menengok ke arahku.
Tanpa berkomentar mas Teguh kembali melanjutkan langkahnya. Dan aku masih terus saja mengikutinya. Kayak anak ayam yang mengekori induknya.
Mas Teguh mengeluarkan motor dari garasi rumahnya. Lalu menyalakan untuk memanaskan mesinnya.
"Aku mengunci pintu rumah dulu" ucap mas Teguh. Aku tak mengikutinya karena jaraknya dekat.
"Ayo naik, Dek. Hati-hati. Kalau masih takut, berpegangan ya?" ujar mas Teguh. Aku mengangguk.
Lalu mas Teguh melajukan motornya perlahan. Jantungku masih dag-dig-dug. Aku tak berani menatap ke arah belakang.
Aku hanya menatap ke depan dan berpegangan pada jaket yang dikenakan mas Teguh. Sepanjang perjalanan aku sangat tegang.
Mas Teguh tak berani mempercepat laju motornya. Karena aku sangat tegang di boncengannya.
Tangan mas Teguh menggenggam erat tanganku. Sementara aku tak berani menoleh. Tatapanku fokus ke depan bahkan kadang aku memejamkan mataku.
"Rileks, Dek. Jangan tegang. Gak ada apa-apa" ucap mas Teguh sambil menepuk-nepuk tanganku.
Aku sudah berusaha rileks, tapi wajah laki-laki itu terus saja menghantuiku. Hingga aku tak sadar kami sudah sampai di depan rumah mertuaku.
"Sudah sampai, Dek" ucap mas Teguh. Aku terkejut karena masih larut dalam lamunan.
"Iya, Mas." Lalu aku turun dari boncengan motor dan berjalan memasuki rumah mertuaku.
Mas Teguh mengikutiku sampai ke ruang tamu. Suasana rumah sepi. Kelihatannya acara tahlilan sudah selesai. Aku baru tersadar, aku pergi terlalu lama.
"Mau di buatkan minum, Mas?" tanyaku setelah mas Teguh duduk.
"Boleh. Kopi aja, Dek" jawab mas Teguh.
Lalu aku berjalan ke dapur, membuatkan kopi untuk mas Teguh. Aku lihat bi Yati sedang membersihkan dapur.
"Acara tahlilannya sudah selesai, Bi?" tanyaku.
"Sudah, Bu. Tadi jam delapan. Ibu dari mana saja?" tanya bi Yati. Aku terkejut dan langsung melihat jam dinding.
Jam sembilan. Berarti hampir lima jam aku pergi. Dan hampir tiga jam aku pingsan di rumah mas Teguh.
"Dari saung tadi sore, terus...." Aku tak sanggup melanjutkan ucapanku. Wajah laki-laki itu kembali datang di ingatanku.
Tanpa sadar aku menjatuhkan gelas yang berisi kopi panas yang baru saja aku seduh. Dan aku berteriak histeris.
__ADS_1
"Aaahhhkkk....!"