SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 149 SUPPORT DARI RONI


__ADS_3

Roni mengajakku sarapan di sebuah kedai makan tak jauh dari proyeknya.


"Kita makan di sini aja, ya?" ajak Roni.


"Iya, Ron. Santai aja. Di sini juga nyaman kok," jawabku.


Roni tidak seperti Doni yang royal dalam hal makanan dan terlalu pilih-pilih. Roni bisa makan di mana saja.


Mungkin karena Doni berasal dari keluarga berada. Sejak sekolah dulu, Doni selalu selektif kalau soal makan.


"Bagaimana hasil pemeriksaanmu kemarin? Jadi kan?" tanya Roni.


"Jadi, Ron. Dan Alhamdulillah hasilnya negatif. Tapi aku masih harus tes ulang minggu depan. Dan selama seminggu ini aku harus steril dulu. Biar hasil pemeriksaan nanti hasilnya tetap negatif."


"Mila bagaimana?" tanya Roni lagi.


Aku malas sekali menjawabnya. Aku lagi sangat membenci Mila. Sahabat tapi menusukku terang-terangan.


"Kenapa diam? Dia negatif juga kan?" Roni terlihat khawatir.


"Iya," jawabku singkat. Andai saja ada Sarah, aku bakal cerita soal kelakuan Mila pada mas Arka. Dengan Roni, aku masih sungkan.


Tapi rupanya Roni membaca kegelisahanku. Dia menatapku dalam-dalam.


"Ada masalah dengan Mila?" tanya Roni.


"Bisa kita bicarain hal lain aja, Ron?" pintaku.


"Kenapa? Bukankah dia sahabatmu?" tanya Roni lagi.


"Iya. Tapi..." Aku tidak sanggup menceritakannya. Dan entah mengapa, air mataku keluar begitu saja.


"Ar... Kamu kenapa?" Roni meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku menarik tanganku. Karena aku tahu itu tak baik kalau dilihat orang. Apalagi kalau Sarah sampai tahu.


Bagaimanapun, Sarah sahabatku. Aku tak mau Sarah salah sangka. Aku bukan Mila yang menghianati persahabatan demi ambisinya.


"Oh, maaf, Ar." Roni menjauhkan tangannya. Dia tahu aku tak nyaman dengan caranya tadi.


"Enggak apa-apa, Ron," ucapku berusaha menepis rasa tidak nyaman diantara kami.


"Ada apa dengan Mila? Dia menyakiti kamu?" tanya Roni. Dia seperti sangat mengkhawatirkanku dan seperti tahu kelakuan Mila.

__ADS_1


Aku hanya diam. Bukan aku mau menutupi kesalahan Mila tapi aku merasa enggak enak curhat pada Roni.


"Ya sudah kalau kamu enggak mau bilang. Aku cuma berharap, Mila tak membuat masalah denganmu," ucap Roni.


"Dia....dia menghianatiku, Ron," ucapku sambil menghapus air mata. Bukannya kering, air mataku malah kembali mengalir.


Roni menatapku tajam.


"Dengan Arka?" tebak Roni.


Ganti aku yang menatap Roni. Darimana dia tahu?


"Aku bisa menebaknya, Ar. Aku dan Sarah pernah memergoki mereka jalan bersama sehari sebelum kematian Doni," ucap Roni.


Hah? Bukankah itu saat kami mau periksa darah bersama? Saat itu memang aku lihat Mila malah mengajak mas Arka ke rumah sakit. Dan akhirnya aku lari bersembunyi dengan Doni.


"Dimana kalian bertemu?" tanyaku penasaran.


"Di sebuah rumah makan," jawab Roni.


Aku menceritakan kejadian sehari sebelum Doni meninggal pada Roni. Bisa jadi setelah dari rumah sakit, Mila mengajak mas Arka makan. Karena aku kabur dari rumah saat itu sebelum sempat makan pagi.


"Bisa jadi, Ar. Tapi yang aku dan Sarah lihat saat itu, sikap Mila sangat berbeda. Bukan seperti sikap seorang teman," sahut Roni menanggapi ceritaku.


"Gila! Dan lebih gila lagi si Arka. Enggak sadar apa kalau itu rumah kamu? Tidak ada hak buat dia berbuat semaunya. Apalagi berbuat seperti itu," ucap Roni. Matanya seperti penuh kebencian. Entah pada Mila atau pada mas Arka. Atau pada keduanya.


"Udahlah, Ron. Aku enggak mau peduli lagi. Terserah apa maunya mereka. Sekarang aku mau fokus pada diriku sendiri dulu. Aku mau memastikan kalau aku baik-baik saja. Aku capek, Ron."


Roni memberikan tissue padaku. Air mataku keluar tak henti-henti. Meski mulutku mengatakan terserah, tapi hatiku terasa sangat sakit.


Apalagi mas Arka sepertinya sengaja ingin membalas kan dendamnya padaku. Dendam karena aku pernah menghianatinya.


"Apa mereka pernah berhubungan sebelumnya? Setahuku, mereka baru saja saling kenal," tanya Roni.


"Mila pernah mencintai lelaki. Tapi lelaki itu tak pernah mau membalas cintanya. Apalagi keluarga lelaki itu, mereka menolak Mila. Karena Mila berasal dari keluarga yang enggak beres. Hidupnya pun enggak beres," kataku seperti yang pernah diceritakan Mila padaku.


"Lalu apa hubungannya dengan Arka?" tanya Roni.


"Lelaki itu adalah....mas Arka." Aku menundukan kepala.


Aku mencoba mencari oksigen sebanyak-banyaknya, karena dadaku terasa sesak.

__ADS_1


Roni memberikan minumanku. Makanan yang sudah kami pesan, tak aku sentuh sedikitpun. Rasanya mulutku tak bisa aku masukin makanan. Untuk mengunyahnya pun malas, apalagi menelannya.


Roni manggut-manggut.


"Makanlah dulu, Ar. Kalau kamu mau sehat, kamu harus makan. Kamu harus menjaga kesehatanmu. Buktikan pada mereka bahwa kamu baik-baik saja, meski yang mereka lakukan sangat menyakitkan." Roni mendekatkan piring makananku.


Aku hanya mengaduk-aduk isinya saja. Tak lagi terasa lapar, atau bernafsu melihat makanan yang sebenarnya sangat aku sukai.


"Makan, Ar. Kamu tidak boleh sakit. Kamu tidak boleh lemah. Kalau kamu butuh bantuan, ada aku dan Sarah yang siap membantumu. Kamu enggak sendiri, Ar," ucap Roni.


Aku mengangguk, lalu aku hapus air mataku. Aku coba memasukan sedikit makanan ke mulutku.


Seperti orang sedang sakit, makanan itu terasa sangat tidak enak. Pahit terasa di lidahku.


Roni terus memaksaku makan. Bahkan dia mengancam tak akan mengajakku keluar dari kedai ini kalau aku tak menghabiskan makananku.


"Udah, Ron. Perutku terasa mual. Kalau terus dipaksa, nanti malah keluar semua," ucapku menyudahi makan yang tak sampai setengahnya.


"Ya sudah. Yang penting perutmu terisi. Kalau sampai kosong, kamu bisa masuk angin," ucap Roni penuh pengertian.


"Kapan Sarah pulang, Ron?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Kan tadi aku sudah bilang, kalau urusannya di Jogja udah selesai, dia pasti akan pulang," jawab Roni.


Aku mengangguk malu. Karena aku lupa kalau tadi Roni sudah mengatakannya, malah aku menanyakan lagi.


"Kita ke proyek, yuk," ajak Roni. Lalu dia membayar semua makanan kami.


"Ron, aku serius soal pekerjaan. Tolong beri aku pekerjaan. Aku sangat membutuhkannya," ucapku saat Roni sudah melajukan mobilnya.


"Iya, nanti aku pikirkan. Atau nanti saja kalau Sarah udah pulang. Kalian bisa membicarakan soal bisnis baru. Oh iya, bagaimana soal butik yang akan kamu lakukan dengan Yola dulu?" tanya Roni.


"Lha, orangnya aja di kantor polisi, gimana mau dilanjutkan?" jawabku.


"Iya sih. Nah, bagaimana kalau kalian usaha butik saja? Apaan kek. Baju-baju muslim, atau baju bayi. Atau apalah. Biar sedikit, kamu pasti sudah belajar dari Yola," ucap Roni.


"Baiklah, Ron. Nanti kalau Sarah udah kembali, aku akan membicarakannya."


Roni mengacungkan jempolnya.


"Gitu dong. Ayo semangat lagi. Jangan terlalu larut dengan masalah."

__ADS_1


"Iya, Ron. Makasih ya, support-nya," ucapku. Ingin sekali aku peluk Roni sebagai ucapan terima kasihku. Tapi....dia kan suami sahabatku.


Aku enggak mau dikatakan menusuk dari belakang seperti yang dilakukan Mila padaku.


__ADS_2